
Citra tidak peduli dengan apa yang bibinya katakan. Dia tetap akan melakukan berbagai cara agar Addrian bisa menjadi miliknya.
"Kamu dengar aku bicara, wanita tidak berguna. Kamu jangan sampai membuka mulut atau bicara apapun pada Aira tentang ini semua. Suatu hari aku akan mempertemukan kamu dengan Aira, tapi kamu harus mengatakan jika suami kamu sangat jahat padaku, bahkan aku sering dipukul olehnya, seperti apa yang pernah kita bicarakan. Apa kamu mengerti?"
Wanita kalem itu menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang Citra katakan.
"Kamu sangat tega, Citra. Bukannya paman kamu itu sangat menyayangimu dan dia bahkan tidak pernah mengangkat tangannya padamu sampai akhir hidupnya, tapi kenapa kamu malah menuduhkan hal yang buruk padanya. Andai dulu aku tau jika kamu akan seperti saat ini. Kita tidak akan peduli denganmu, bahkan tidak akan menganggap kamu seperti anak kami."
Citra malah tersenyum miring seolah meremehkan ucapan wanita yang juga sudah berjasa merawatnya.
"Kamu lupa? Walaupun aku ikut kamu dan kamu merawatku, tapi uangnya sedikit banyak dapat dari kedua orang tuaku. Jadi, kamu jangan sok di sini."
"Ibu ...!" Gadis kecil yang baru pulang sekolah itu tampak berlari menghampiri ibunya. Dia khawatir karena ada Citra di sana.
"Kamu sudah pulang, Sayang? Bukannya hari ini kamu ada les tambahan?"
"Tadi Bu guru sedang tidak enak badan, makannya aku disuruh pulang dan tidak ada les tambahan."
"Bagus kalau kamu pulang cepat karena aku juga ada urusan dengan setan kecil sepertimu." Tangan Citra mencengkeram dagu kecil Nadin. Seketika Nadin meringis kesakitan mencoba melepaskan tangan Citra.
"Citra sayang, jangan seperti ini. Kasihan Nadin. Dia itu masih kecil." Anna berusaha melepaskan tangan Citra.
"Jangan sekali-kali kamu memanggilku Sayang karena aku tidak suka mendengarnya." Tangan Citra menepis tangan bibinya.
"Kak Citra jangan kasar sama ibuku atau aku akan mengatakan pada Kak Aira jika Kak Citra itu sebenarnya orang jahat yang suka menyiksa ibuku dan aku."
Citra malah tertawa dengan kerasnya mendengar apa yang baru saja Nadin katakan.
"Bocah kecil seperti kamu berani mengancamku? Apa kamu sedang sakit?"
"Tentu saja aku berani kalau Kak Citra menyakiti ibuku terus."
"Oh ... jadi berani?" Citra menunjukan tatapan tajamnya. Dia pun seperti tidak memiliki hati dengan tega menjambak rambut Nadin yang dikuncir ekor kuda.
"Kak Citra, sakit!" seru Nadin sampai menangis.
"Citra, hentikan! Kamu benar-benar keterlaluan! Nadin itu masih kecil."
__ADS_1
"Dia memang masih kecil, tapi dia bocah yang kurang ajar! Dengar, ya setan kecil! Mulai sekarang kamu tidak boleh bermain di rumah teman kamu yang dekat dengan rumah Aira. Kamu juga jangan menunjukan batang hidungmu kepada Aira dan suaminya karena aku tidak suka kamu dekat dengan mereka. Eh, satu lagi. Jangan pernah kamu berani mengatakan apapun pada Aira jika bertemu dengannya."
"Citra, dia tidak pernah bicara apapun pada Aira. Dia hanya menyapa Aira seperti biasanya."
"Setan kecil, kalau kamu sampai berani membuat masalah untukku, aku akan membuat ibumu menderita. Kamu dengar?" Nadin yang mendapat ancaman mengenai ibunya langsung menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Bagus kalau begitu. Aku mau pergi dulu, dan kalian ingat kata-kataku."
"Citra, kenapa kamu tidak tinggal di sini saja? Bukannya ini juga adalah rumahmu?"
"Kalau aku tinggal di sini, sama saja aku merusak rencanaku."
Citra melangkah keluar dari rumahnya. Nadin kecil segera memeluk ibunya dengan wajah takut.
***
Di rumah Aira. Addrian yang baru sampai belum turun dari mobilnya. Dia masih memikirkan apa yang harus dia katakan? Tapi kata Rico sebaiknya tidak perlu memberitahu Aira jika dia sedang diincar seseorang untuk disakiti karena hal itu nanti bisa membuat Aira takut dan kepikiran.
"Aku ikuti kata Rico saja. Sebaiknya aku diam-diam menyuruh orang menjaga Aira di manapun dia berada, tanpa harus memberitahu Aira jika dia diawasi oleh orang suruhanku."
Addrian masuk ke dalam rumah dan melihat istrinya sudah berada di ruang tamu seolah sedang menunggu Addrian.
"Mas, kenapa lama sekali pulangnya?"
"Apa sih, Mas! Aku itu cemas memikirkan kamu, tapi kamu malah bercanda?"
"Kenapa aku kamu pikirkan? Memangnya kenapa denganku?"
"Tentu saja memikirkan, siapa tau kamu belum pulang karena pergi mengantar Citra. Di kantor, kamu dan dia sudah terlibat masalah salah paham, jangan menambahi lagi, Mas, yang ada nanti tambah besar maslahatnya."
"Aku tau akan hal itu, kamu jangan khawatir."
"Memangnya kamu dan Kak Rico ada urusan apa, Mas?"
Addrian seperti biasa menggendong tubuh istrinya dan membawanya masuk ke ruang tengah.
"Aku mau menawarkan dia pekerjaan di perusahaanku. Aku membutuhkan staf baru untuk membantuku, Sayang."
"Kamu serius? Tidak ada hal lainnya?"
__ADS_1
"Hal lain apa maksud kamu?"
"Hal lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan kamu. Tadi kenapa Mas tanya soal aku yang di jaga oleh seorang pengawal?"
"Soal itu?"
"Aku juga bicara soal masalah kamu di kampus Citra, dan Rico mengatakan agar aku meminta tolong bantuan seorang pengawal untuk menjaga kamu saat aku di kantor."
"Pengawal? Tidak mau, Mas, untuk apa memakai pengawal? Aku bukan orang penting atau artis besar yang harus dikawal kalau mau keluar rumah, Mas."
"Kamu itu orang penting bagiku, Aira. Ini hanya untuk menjaga kamu saja, agar kejadian yang waktu itu tidak terulang."
Aira beranjak dari tempat duduknya, saat tadi dia malah diletakkan di atas sofa ruang tengah.
"Mas, aku tidak apa-apa, dan aku akan lebih berhati-hati kalau di tempat yang agak sepi. Setidaknya tidak akan sendiri kalau di sana."
Addrian tidak mau berdebat dengan Aira, daripada nanti Aira tau tentang wanita yang sedang Addrian cari.
"Ya sudah kalau tidak mau. Sebenarnya aku selalu khawatir saat harus meninggalkan kamu bekerja."
"Jangan khawatir berlebihan, nanti malah membuat aku yang kepikiran."
Addrian mengangguk dan mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar karena dia mau mandi dan bersiap-siap untuk pergi makan malam dengan tuan Andreas.
Malam ini Addrian dan Aira menggunakan baju dengan warna yang sama, yaitu putih.
"Mas, apa kamu sudah menghubungi Tuan Andreas?"
"Sudah, dia bilang akan sedikit terlambat datang karena masih ada urusan sedikit."
"Tidak apa-apa, kita saja yang menunggu daripada klien baru kamu yang menunggu."
"Ya sudah! Sekarang kita berangkat saja dan aku akan menggendong kamu."
"Mas, jangan menggendongku, nanti baju kamu malah kusut.
Addrian sudah memindahkan Aira pada gendongannya. "Lebih baik bajuku kusut, daripada istriku kecapekan karena harus berjalan."
__ADS_1
"Kamu ini bisa saja." Aira mengecup kecil hidung Addrian.