Kamu Milikku

Kamu Milikku
Stempel


__ADS_3

Reva terbangun.


Mengejap-ngejapkan matanya.


Lalu berbaring miring.


Nafasnya tersentak kaget.


Wajah Sandy hanya berjarak lima belas Senti darinya.


Reva berkedip.


Dia kembali diam. Tidak berani bergerak takut membangunkan Sandy.


Tapi dia tidak bisa kembali tidur.


Akhirnya..dia hanya menatap Sandy.


Memperhatikan alis tebal dan lebar yang menjadi daya tarik di wajah Sandy.


Hidung mancung dengan bibir kecil tapi penuh.


Lekukan di bawah hidung memberi bentuk indah pada bibir atasnya.


Ah..tidak heran Cindy tidak mau melepaskan Sandy.


Angin berhembus.


Rambut Sandy jatuh menutupi matanya.


Reva ragu-ragu.


Tapi akhirnya dia mengangkat tangan nya.


Merapikan kembali rambut yang menutupi mata.


Reva kembali ke posisi telentang.


Dia menatap cakrawala.


Mengatur nafas, menikmati bau rumput dan tanah.


Matanya terpejam.


Satu pikiran berkelebat di benaknya.


Ini pacar orang !


Reva kembali membuka mata, menoleh pada Sandy lalu bergerak bangun.


Tangan Sandy terangkat menahan dahinya.


Lalu kembali diletakkan di atas perutnya.


Reva menoleh.


Lalu kembali bergerak hendak bangun.


Kembali tangan Sandy bergerak.


Kali ini telapak tangannya menutupi mata Reva.


"Om !" tegur Reva.


"Sebentar lagi Va." jawab Sandy dengan suara malas.


"Om...!!"


"Hmm.."


Reva menatap Sandy.


Mata Sandy masih terpejam.


Terlihat sangat tenang.


Damai.


Reva berkedip.


Belum pernah sebelumnya dia melihat wajah Sandy setenang dan sedamai ini.


Mungkin masalah kantor dan kehidupan percintaan nya membuatnya stres.


Mungkin itu sebabnya dia disuruh mengambil libur oleh kedua sahabatnya.


"Udah puas liatinnya?"


Reva tersenyum.


"Belum.


Lagi kepikir..


Emang segitu dahsyatnya ya patah hati sampe disuruh libur panjang ?"


"Hmm...


Enggak juga.


Kan ada kamu Va."


"Menurut Om, Cindy mau diputusin ?"


"Menurut kamu ?"


"Kalo aku jadi Cindy?


Enggak.


Aku bakal tetep mempertahankan Om."


"Kalo itu kamu, kamu gak bakal tidur sama cowok lain pas lagi pacaran sama aku, Va." jawab Sandy malas.


Masih memejamkan matanya.


Tangannya lalu meraih ponsel.


Disodorkannya pada Reva.


"Tuh..dia ngirim pesen.


Kamu aja yang jawab.


Kamu kan pinter ngatur kata-kata." katanya.


"Ah..jangan Om..


gak enak."


"Apanya yang gak enak ?


Pokoknya tolong jawab-in.


Yang penting jangan ada tanda-tanda aku mau putus sama dia.


Aku masih belum yakin kalo dia gak bakal jebak aku."


Sandy meletakkan ponselnya di perut Reva.

__ADS_1


Reva mengambil ponsel Sandy.


Jari mereka bersentuhan.


Sandy tersenyum tipis.


Matanya masih terpejam.


Reva membuka ponsel Sandy.


Mengklik nama Cindy.


Dia mengerutkan kening.


"Aku pikir, orang pacaran itu punya panggilan sendiri buat pacarnya.


Honey, my darling, my sweetie.


Tapi ini cuma nama aja." cetusnya.


"Masih untung aku kasih nama aja.


Tadinya aku ganti jadi si jalang." jawab Sandy dengan nada biasa.


Reva cekikikan.


"Aku mau jawab apa Om ?


'Aku kangen..' katanya..


Aku jawab.. aku juga.


Gitu ya ?"


Kepala Reva bergerak di lengan Sandy.


Tangan Sandy sudah gatal ingin menarik Reva mendekat.


Dia menahan diri.


"Hmm..." jawabnya.


"Kalo yang ini..


'Kapan sih kamu pulang?'


Aku jawab apa Om ?"


"Bentar lagi.


Sabar ya..." jawab Sandy.


"Hmm..'bentar lagi. Sabar ya sayang.."


aku tambahin sayang ya Om..


Biar mesra..." senyum Reva.


"Jangan terlalu mesra Va.


Nanti dia gak mau putus sama aku." jawab Sandy.


"Hmm...yang ini gawat Om


'Sebentar lagi syutingku selesai.aku susul kamu ya..?'"


"Hah ?!"


Sandy menoleh. Menatap Reva dengan was-was.


Reva cekikikan.


Jari Sandy bergerak menjitak dahi Reva.


"Aduh !!"


"Yang bener ah !!"


"'Sebentar lagi syutingku selesai.


Aku harap Kamu udah disini ya..'


Jawabnya apa ya?" sambung Reva.


"Mudah-mudahan." jawab Sandy.


Reva mengetik.


"Satu lagi nih Om.


'Kamu lagi sama keponakan Tia ?'"


Sandy menoleh.


"Darimana dia tau ?" kernyitnya.


"Dari Instagram ku Om.


Aku kan foto-foto.


Ada foto Om disitu.


Tapi bukan sama aku."


Reva mengambil ponselnya lalu membuka instagramnya.


Dia menunjukkan foto-foto yang diunggahnya.


Ada satu foto Sandy sedang bersama Tito dan Andi sedang bercakap-cakap di depan tumpukan gabah.


"Jawab...


'Iya. Aku lagi panen padi.'"


"Udah cuma gitu doang ?"


"Hmm... berarti dia memata-matai aku ya ?


dia curiga, aku lagi sama kamu." kata Sandy sambil merenung.


"Kok bisa Om ?" tanya Reva bingung.


"Dia...


Berarti dia tau kalo aku suka sama kamu, Va !"


Reva menyikut pinggang Sandy.


"Om jangan bercanda ah !"


"Penjelasan apa lagi, Va ?


Ngapain dia stalkingin Instagram kamu buat nyari aku ?"


"Maksudku..." Reva tidak berani meneruskan kata-kata nya untuk mempertanyakan kata-kata Sandy untuknya.


"Apa ?"


"Enggak."

__ADS_1


Mereka kembali diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Pesan kembali masuk.


'Kamu lagi dimana sekarang ?'


Reva membacakan pesan Cindy.


"Bilang, baru makan siang, udah mau meeting.


Udah dulu ya."


"Tulis begitu ?


'Udah dulu ya ?'" tanya Reva.


"Iya.


Kan kita juga mau turun, Va." jawab Sandy kembali menutup mata.


Dia masih menikmati semilir angin yang berhembus sepoi-sepoi.


"Nih Om.. ponselnya." kata Reva menyodorkan ponsel Sandy.


"Kamu pegang aja dulu Va.


Sambil dibalas kalo dia ngirim pesen."


"Percaya banget Om sama aku.


Kalo...hmm...aku balasnya aneh-aneh gimana?"


"Aneh-aneh gimana ?"


"Kayak gini...'Aku pacar nya Sandy sekarang.


kamu gak usah ganggu Sandy lagi.'


gimana kalo aku iseng kayak gitu ?"


"Beneran kamu mau nulis kayak gitu ?"


Reva tidak menanggapi, dia meneruskan ucapannya.


"Aku udah hamil anaknya Sandy.


Kamu jauhin Sandy !" tawanya.


Sandy memiringkan tubuhnya.


Dia menolehkan kepalanya pada Reva.


"Aku lamar kamu beneran Va..sekarang.


Biar kita bisa kawin. Jadi hamilnya juga beneran." senyumnya.


Reva menengok Sandy.


"Becanda Om..becanda..."


"Aku serius."


"Om !!" Reva memerah.


"Aku serius.


Aku lamar kamu sekarang.


Kita tunangan.


Langsung kawin juga boleh.


Aku juga pingin punya Jason kecil."


"Om..ihhh.."


Sandy tersenyum.


Lengannya ditekuk, membelai puncak kepala Reva.


"Kalo masalah ini udah beres, kamu..."


"Kalo masalah Om udah beres, kita tetap Om dan keponakan.


Aku masih ada tugas jadi sarjana.


Ada penelitian di depan mata.


Ada target-target yang pingin aku raih." potong Reva tegas.


"Ya...pokoknya kamu jadi tau kan.."


"Kalo masalah Om udah beres, Om bisa bebas cari pengganti Cindy.


yang lebih cantik, lebih seksi."


"Aku gak mau mereka.


Aku mau kamu Va.


Kamu paket lengkap.


Cantik, pinter, setia.


Dan aku gak mau kemana-mana." Sandy akhirnya bicara terang-terangan.


"Om...ihh..


Kita liat aja nanti..


Gak perlu taruhan.


Dalam waktu tiga bulan, Om udah punya gandengan baru." kata Reva.


"Iya.


Kamu."


"Ihh..


Udah ah..Om.


Yuk..pulang..


Om kebawa suasana." Reva akan bangkit dari posisinya.


Pundaknya di tahan oleh Sandy.


Reva menoleh.


Sandy menunduk mengecup pipi Reva.


Lalu mengangkat wajahnya.


"Nah..udah aku stempel jadi milikku." senyumnya.


Reva memerah.


Sandy lalu bangun dan membantu Reva berdiri.

__ADS_1


...⛰️🍎🎋...


__ADS_2