
"Mama ?!"
Reva membuka maskernya, memanggil nama Mama dan kemudian terbatuk-batuk.
"Oalaah...nduuuk...nduuk..."
Mama mendekat dengan cepat, mengelus kepala lalu mencium kening Reva dengan sayang.
"Mana anak Papa ? Katanya sakit ?" suara Papa terdengar dari belakang Mama.
"Papa !"
Papa terkekeh, menggeser Mama ke samping lalu menangkup wajah Reva, memperhatikan baik-baik.
"Hmm....udah segeran.." ucap Papa.
"Papa..!!"
Reva memeluk Papa erat-erat. Air matanya mengalir deras
"Papa...maafin Reva. Reva bikin Papa malu. Reva gagalin pernikahan Reva sendiri dan bikin Papa Mama malu... Papa..maafin Reva !" ucap Reva tersedu-sedu.
"Siapa yang bilang gagal ?" terdengar satu suara dibelakang Papa.
Tapi Reva yang sibuk menangis nyaris tidak mendengar suara itu.
"Papa...gimana ini Pa ? Reva takut Mas Sandy marah. Papa sama Mama juga pasti malu sama Papi Maminya mas Sandy."
Reva mengeluarkan semua kerisauan dalam hatinya pada Papa sambil terus menangis. Bercampur dengan suara batuknya.
Papa masih memeluk Reva lalu menoleh ke belakang.
"Memang Mas Sandy marah ?" tanya Papa mengedipkan mata.
"Hu..hu...hu...pasti Pa. Semua udah disiapin tapi Reva bikin kacau semuanya...uhuk...uhuk..."
Tersedak dengan isak tangisnya, Reva mulai batuk-batuk tak terkendali.
"Ssst....sst..."
Punggungnya ditepuk-tepuk pelan.
"Sudah...sudah....Mas gak marah kok." jawab satu suara yang terdengar akrab di telinganya.
Tapi Reva tidak mendengar. Dia terlalu sibuk dengan tangis dan batuk-batuknya.
"Marah ! Pasti marah. Terus Papi sama Mami.." Reva berkeras.
"Aduh..aduh...basah deh baju Papa.."
Papa mendorong tubuh Reva menjauh sedikit.
"Papa ! Bukannya bantuin mikir ! uhuk..uhuk...malah...malah mikirin baju ! uhuk...uhukk..."
Reva menjadi kesal saat dirinya didorong menjauh.
"Emang Papa harus mikir apaan ?"
Reva tertegun sejenak saat mendengar pertanyaan itu. Matanya yang basah masih tertuju tidak fokus pada kancing jas yang dipakai Papa.
Jas ? Ngapain Papa pake jas ? Apa karena musim dingin ?
Reva lalu mengangkat kepala. Matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kamarnya. Kamarnya penuh orang.
Dan Papa....Papa memakai peci. Peci ?
Reva memerhatikan bahwa beberapa pria memakai jas dan peci.
Mama memakai kebaya. Kebaya?
Mau apa Mama memakai kebaya di sini ?
"Mami ! Papi ! Lho...Mas Tito juga ada ? Kalian ngapain ke sini ? Njenguk aku ?" katanya bingung.
Mas Tito juga nampak tampan memakai peci.
"Kan tadi katanya kamu khawatir acara nikahnya gagal. Makanya kami bawa calon pengantin nya ke sini.." senyum Papi sambil menunjuk laki-laki yang berdiri di sebelah Papa.
__ADS_1
"Hah ?!"
Mata Reva berpindah mengikuti arah telunjuk Papi.
Dilihatnya Sandy sedang tertawa menatapnya.
"Mas Sandy !"
Tawa Sandy makin lebar.
"Hmmm...jangan khawatir lagi ya. Udah nangisnya, nanti fotonya jelek lhoo...Hari ini kita nikah ya. Tuh.. Mas Tito udah bawa penghulu kesini."
"Penghulu ? Nikah ? Di sini ?"
"Hmm.." Sandy mengangguk.
Reva menatap sekeliling. Matanya menyiratkan kebingungan.
"Baik Bapak-Ibu...Dek Reva dan mas Sandy..apa sudah bisa dimulai ?" sapa satu suara berat di samping Mas Tito.
"Iya Pak..kita mulai saja." kata Papi.
Meja diatur, Pak penghulu mengeluarkan berkas-berkas dari koper yang dibawanya. Dua orang lainnya yang berpakaian rapi berjas juga mengeluarkan kopernya.
Sandy duduk di hadapan mereka.
Surat-surat dikeluarkan, diparaf.
Sandy membaca sebagian, mengangguk lalu membubuhkan tanda tangannya.
Dia lalu bangkit berdiri, menghampiri tempat tidur Reva sambil membawa beberapa berkas.
"Va...tanda tangan disini." bujuknya dengan suara manis pada Reva yang masih tercengang.
"Apa ini, Mas ?"
"Cuma beberapa dokumen aja. Kan kamu bakal jadi istriku. Ayo Sayang...tanda tangan dulu." kata Sandy sambil tersenyum. Tangannya mendorong ballpoint ke jari Reva.
Reva ragu sejenak. Dia menatap namanya di samping nama Sandy serta saksi Michael dan Robert.
Michael mengangguk. Tia, istrinya yang sedang hamil tua juga nampak tersenyum.
"Tanda tangan aja, Va. Om udah cek isinya." senyum Michael menenangkan.
Reva kembali menunduk, menatap kolom tanda tangan yang kosong. Dia lalu membalik kertas, melihat halaman depan membaca Judul dari berkas penting yang akan ditanda tanganinya.
Reva tersedak. Suara batuk kembali terdengar.
Reva kembali membalik ke halaman terakhir dimana kolom tanda tangan berisi nama dirinya masih kosong.
Dia mengangkat ballpoint nya. Ragu sejenak lalu meletakkan kembali.
Sandy menatapnya tegang.
"Ayo, Va..Biar bisa segera kita mulai." desak Sandy.
Reva mengangkat matanya, menatap Sandy dalam.
"Mas yakin ?" tanyanya menegaskan.
Sandy mengangguk tegas.
"Tanda tangan ! Supaya kita bisa resmi menikah !" perintahnya.
Reva tidak berkata apa-apa. Kepalanya kembali menunduk, tangannya mengangkat ballpoint lalu menggoreskan tanda tangan.
"Disini juga." tunjuk notaris.
Reva mengangguk.
Setelah menggoreskan tanda tangannya, Reva mengangkat kepala.
Matanya bertemu dengan mata Sandy.
Bibir Sandy menyunggingkan senyuman.
Rasa bersalah kembali menerpa batin Reva.
__ADS_1
"Baik Bapak-Ibu, sementara kita tinggalkan dulu kamar ananda Reva, supaya calon pengantin bisa berdandan sedikit sebelum kita lanjutkan dengan acara akad nikah."
Akad nikah ?
Reva bergumam sendiri. Masih belum percaya pada apa yang terjadi dihadapannya.
"Va..."
"Va..."
"Hah ?! Eh...iya Ma ?"
"Bengong aja ! Ayo Mama temenin ke kamar mandi biar kamu bisa cuci muka." kata Mama menggesa Reva.
Reva tidak menjawab. Dia bangun dari tempat tidurnya, Mama sendiri sudah mendorong tiang penyangga botol infus mengikuti Reva.
Lima belas menit kemudian, Biliyan, Tia dan asistennya sudah merias wajah Reva. Riasan tipis-tipis tapi tetap membuat wajah Reva terlihat berkilau dan tidak tampak bahwa dia sedang sakit.
Kebaya pengantin juga sudah dikenakan. Rambutnya ditata.
Semuanya dilakukan diatas tempat tidur karena tubuh Reva yang masih lemah dan membutuhkan masker oksigen untuk pernafasannya.
Reva duduk tegak di sandaran tempat tidur saat Sandy masuk ke kamar. Mata Sandy bersinar melihat perubahan penampilan Reva.
"Kamu cantik." bisiknya saat duduk di samping tempat tidur Reva.
Reva merona.
Senyum Sandy melebar melihatnya.
Papa, Papi, penghulu dan semua orang lalu mengambil tempat.
"Baik...sudah siap semua ? Calon Pengantin pria sudah siap ?"tanya penghulu.
"Siap."jawab Papa.
"Siap pak " jawab Papi sambil melirik Sandy.
Sandy yang dilirik tersenyum sambil mengangguk.
"Siap banget Pak. Udah dari semalem sampe gak bisa tidur !." jawab Michael nyengir.
Semua tertawa.
"Baik kita mulai.
Pak Widodo Joyodiningrat...apakah Bapak sudah siap menikahkan anak Bapak kepada ananda Sandy Gunawan ?
Tidak perlu wali hakim ?" tanya Pak Penghulu.
"Siap Pak." jawab Papa mantab.
Reva menatap Papanya.
"Eh..sebentar... selendangnya belum dipake." sela Mami.
Penghulu menoleh sebentar.
"Baik..silakan ibunda ananda Reva dan ibunda ananda Sandy untuk memakaikan selendang sebagai tanda penyatuan dua insan ini." katanya sambil tersenyum.
Mami lalu memberikan ujung selendang kepada Mama yang lalu bersama-sama meletakkannya di kepala calon menantu masing-masing.
...🌹🌳🌹...
Beberapa kilometer dari sana.
Steven mengerutkan kening. Matanya tajam menatap Mike dan beberapa monitor dihadapannya.
Mike tidak berani menoleh. Hawa dingin mengalir di punggungnya.
"Aku pergi dulu." kata Steven kemudian.
Mike menoleh dengan cepat.
"Tapi..." kata-kata nya menggantung.
Steven sudah menghilang.
__ADS_1