Kamu Milikku

Kamu Milikku
Launching


__ADS_3

Sandy setengah menyeret Cindy meninggalkan karpet merah sebelum pertanyaan-pertanyaan reporter menyudutkannya.


Dia tidak ingin memiliki hubungan asmara lagi dengan Cindy tapi bukan berarti dia harus menjelekkan nama Cindy bukan ?


Saat mereka akhirnya sampai didalam, beberapa teman berjalan menghampiri mereka.


Sandy menoleh pada Cindy.


"Cin..aku tinggal ya..


Aku mau gabung dengan teman-teman ku." kata Sandy.


Cindy membuka mulutnya tapi Sandy sudah melepaskan tangannya dan melangkah meninggalkan Cindy.


Cindy menghela nafas.


Matanya mengikuti Sandy yang beberapa saat kemudian menghilang dibalik para tamu lainnya. Penuh kerinduan.


Aaron datang.


Senyumnya mengembang di wajahnya yang tampan.


Senyum yang dulu mempesona Cindy tapi sekarang tidak ada apa-apanya dibanding senyum Sandy padanya tadi.


"Cindy...


Baru datang.


Sama Sandy ?


Udah balikan ?"


Cindy cemberut.


Dia menggeleng.


Aaron tertawa.


"Kamu udah liat saingan kamu ?"


Cindy mengerutkan keningnya


"Siapa sainganku ?"


"Itu..Reva.. keponakan Tia.


Cantik sekali dia hari ini."


Cindy makin cemberut.


Dia menonjok bahu Aaron.


"Kamu ini bikin aku bad mood !" katanya.


"Aneh ya..?"


"Apa ?"


"Si Cupid."


"Emang kenapa ?"


"Dia malah menembakkan panahnya ke kamu di saat yang enggak tepat.


Saat Sandy udah ninggalin kamu."


Aaron kembali mendapat tonjokan di bahu.


"Kamu sebaiknya move on.


Dia udah ilang rasa sama kamu.


Aku ini kan laki-laki.


Aku tau." katanya.


"Aku udah berusaha Aaron..


Tapi gak bisa."


Aaron menatap Cindy kasihan.


Dia menggeleng kan kepalanya.


"Tapi aku gak heran kenapa Sandy jatuh cinta sama gadis itu. " katanya.


"Kenapa ?" tanya Cindy dengan marah tapi juga ingin tau.


"Matanya...


Matanya hangat."


"Sementara aku enggak ?"


"Mata kamu penuh dosa Cin..


Dosa kenikmatan." jawab Aaron terkekeh.


Aaron kembali ditonjok.


Sementara itu di sisi lain.


Reva sedang berkumpul bersama-sama teman-temannya.


Mereka sedang menenangkan diri.


Giliran mereka masih hampir satu jam lagi.


Tapi satu jam itu akan berjalan dengan cepat.


Jim bersama mereka.


Fokus Jim sedang pada grup baru ini yang nantinya akan menyanyikan lagu ciptaannya.


Mereka sedang tertawa saat Reva menangkap sosok seorang wanita setengah baya yang sedang bercakap-cakap dengan kumpulan sosialita lainnya.


Deg.


Ibu Steven.


Reva menunduk.


Ibu Steven ada di sini.


Berarti Steven pun ada di sini.


Ya.. Steven pasti ada di sini, kau bodoh Reva !

__ADS_1


Elle berteman dengan Steven.


Aduuh.. bagaimana ini ?


Reva tidak mau bertemu Steven.


Dia masih belum siap.


Apalagi ada ibunya di sini.


Gelas yang dipegangnya bergetar.


Jim menangkap tangannya.


"Kenapa, Va ?


Grogi ?"


Reva mengangkat wajahnya.


"Eh...ee..iy iya Jim." katanya tersenyum mencoba menutupi gugupnya.


Lima belas menit sebelum tampil mereka ke ruang ganti.


Membenahi make-up dan kostum mereka.


Reva membelai kalung zamrud dari Tia.


Memsugesti dirinya bahwa Tia memberi kalung itu sebagai dukungan dan berharap dia dapat tampil dengan baik.


Esse menatap dengan iri.


"Enak banget sih punya Tante tajir !" katanya menatap kalung lalu turun ke gelang yang dipakai Reva.


Reva menoleh.


"Mau tukeran ?"


Esse tertawa.


"Enggak.


Buat kamu aja.


Kamu udah gak gugup kan ?" tanyanya menatap Reva dalam-dalam.


Reva menggeleng.


"Aku tadi liat ibunya Steven." kata Mini.


"Itu kan yang bikin kamu gemetaran ?"


Reva menoleh menatap Mini.


Lalu mengangguk.


"Kenapa sih aku harus ketemu dia disini ?


Di hari aku launching sama kalian ?" keluhnya.


Teman-temannya mengerumuninya.


Menepuk-nepuk punggung dan pundaknya.


Memberinya dukungan.


Reva sudah berhasil memenangkan dirinya.


Tiga menit.


Mereka bersiap.


Akhirnya mereka dipanggil.


Pembawa acara mengenalkan mereka sebagai band baru yang akan launching tiga lagu.


Bintang baru besutan Maxx Entertainment.


Saru persatu diperkenalkan nama dan posisi mereka di band.


"Reva....sebagai drummer !!"


"Selina...lead vokal."


Reva dan teman-temannya mengambil posisi.


Penonton mengerumuni mereka.


Penasaran dengan penampilan girl band yang benar-benar memainkan alat musiknya sendiri.


Reva mulai menginjak pedal.


Lalu musik menghentak.


Reva melupakan segalanya.


Hanyut dengan musiknya.


Tangannya bergerak lincah di antara set drumnya.


Kakinya menghentak pedal dengan semangat.


Telinga ditutupi oleh headphone.


Adrenalin mengalir.


Reva juga memberikan pertunjukan dengan memutar-mutar stiknya berkali-kali.


Beberapa kali juga melempar stiknya ke atas lalu dengan sigap menangkap nya kembali.


Penonton bertepuk tangan.


Mengagumi drummer cewek yang rupanya sama jagonya dengan drummer cowok.


Lingkaran penonton semakin banyak.


Lagu kedua.


Lagu ketiga.


Semua orang hanyut dalam permainan mereka.


Ketiga lagu itu memang enak.


Sebab itu satu lagu dijadikan soundtrack drama terbaru yang dibintangi Cindy.


Akhirnya mereka selesai.

__ADS_1


Tepukan membahana.


Reva dan teman-temannya saling bertatapan.


Pipi mereka memerah.


Senang dan bersemangat.


Mereka berdiri.


Membungkuk lalu meninggalkan tempat pertunjukan.


Wawancara akan dilakukan di lain tempat.


Mereka mencari tempat yang agak kosong lalu membentuk lingkaran.


"Yeaaay...."


Reva dan teman-temannya tos, berpelukan.


Semuanya tertawa gembira.


Lagu mereka diterima oleh penonton.


Tinggal melihat ratingnya.


Video clipnya diluncurkan bersamaan dengan penampilan mereka tadi.


Mereka tertawa gembira dan tidak menyadari seseorang datang menghampiri.


Pinggang Reva di peluk dari belakang.


Dirapatkan ke tubuh orang itu.


"Halo semua...


Selamat ya.... launching nya sukses.


Lagunya enak-enak." sapa Steven.


Reva membeku.


Teman-temannya pun ikut membeku.


"Oh... Steven..


Apa kabar ?" sapa Esse.


"Aku ?


Baik...


ehmm.. ngomong-ngomong...


Aku pinjam teman kalian sebentar ya..


Ada perlu sedikit." kata Steven tetap menyunggingkan senyum ramah pada teman-teman Reva.


Teman-teman Reva saling berpandangan.


Di sini ada ibu Steven.


Apa Steven tidak tau apa yang dilakukan ibunya pada Reva ?


"Steve !" Reva berusaha melepaskan tangan kekar Steven yang memeluk pinggangnya dengan erat.


Steven tidak bergeming.


"Ayo..." katanya.


Bibirnya tetap tersenyum, tapi tangannya mengeratkan pelukannya di pinggang Reva.


Memaksa Reva untuk berbalik dan mengikuti langkahnya.


Setelah teman-teman Reva tidak lagi melihatnya, senyum Steven menghilang dari bibirnya.


Dia menyeret Reva keluar dari ballroom dan menuju lift.


Mereka tidak bicara.


Reva melirik Steven.


Dia menelan ludah.


Steven terlihat menyeramkan baginya.


Steven berhenti di sembarang lantai.


Dia menyeret Reva keluar.


Dia hanya ingin mencari tempat untuk bisa berdua dengan Reva.


Ahh..ada cleaning servis.


Steven menghampiri.


"Hai...bisa aku pinjam kamarnya sebentar.


Aku perlu bicara private dengan gadisku." senyumnya pada si cleaning servis.


Dia menyelipkan tiga lembar pecahan dua ribu dolar ke tangannya.


Si cleaning servis melirik uang di tangannya.


Lalu mengangguk.


"Aku akan biarkan listriknya tetap menyala." katanya.


"Bagus !"


Steven mendorong Reva masuk lalu menutup pintu.


Reva tetap berdiri.


Steven berbalik.


Menatap Reva dalam-dalam.


Matanya menunjukkan bahwa dia marah tapi juga sekaligus terluka.


Reva memalingkan muka.


Dia tidak ingin melihat Steven seperti ini.


"Kamu mau apa Steve ?" tanyanya pelan.


...🌴🎀🌴...

__ADS_1


__ADS_2