Kamu Milikku

Kamu Milikku
Tolong Bantu Dia


__ADS_3

Adegan suap-suapan membuat semua orang terdiam.


Bahkan Robert dan Michael tidak berani bersuara.


Suasana begitu canggung.


"Yang ini..Mas..." tunjuk Reva pada sepotong jamur.


Hanya suara mereka berdua yang memecah keheningan.


Sandy menoleh.


"Tadi Om..sekarang Mas...


Kamu mau ngerayu apa lagi ?"


Reva tersenyum manja.


"Beliin laptop, Mas."


"Kenapa laptop kamu ?"


"Udah lama..


Pingin ganti."


"Ya udah Ntar sekalian kita beli..


Mau ?"


"Em..heeh." Reva mengangguk.


"Mau apalagi ?


Aaa.." tanya Sandy sambil menyodorkan satu sendok penuh ke mulut Reva.


Reva menggeleng.


"Mas aja.


Dari tadi Mas gak nyuap.


Aku mau Mas makan juga.


Aaa..."


Reva mendorong sendok itu kembali ke mulut Sandy.


Sandy langsung membuka mulutnya.


"Berasa ciuman enggak langsung." komennya.


Reva memerah.


Sandy tertawa melihat reaksi Reva.


Lucu sekali.


Padahal waktu di club sama sekali tidak malu menunjukkan kemesraan padanya.


"Tumben nih minta laptop." kata Sandy setelah menelan makanannya.


"Tumben apanya?


Mas gak mau beliin ?" tantang Reva.


"Bukan gitu..


Tapi biasanya, kamu kan mandiri banget.


Apa-apa gak mau nyusahin orang lain."


"Ehm..


Mas kan bakal jadi suami aku..


Jadi aku harus belajar ngabisin uangnya Mas."


Sandy tertawa.


"Bagus.


Habisin aja uang suami kamu.


Kan emang itu tujuannya suami nyari duit."


"Suami aku itu, Mas.


Kok ngomong nya kayak orang lain.."


Sandy kembali tertawa kecil.


Setelah itu dia memandang sekeliling.


Heran.


"Kalian gak ngobrol ya ?" tanyanya.


Michael menatapnya.


"Enggak..


Asik ngeliatin calon pengantin berinteraksi."


"Astagaaa..." kata Sandy menepuk dahinya.


"Lu bikin jomblo ngiri aja.." sahut Robert.


"Lu kan bukan jomblo " balas Sandy.


"Gue bukan.


Tapi ada yang lain." kata Robert.


Sandy terdiam.


Dia lupa.


Ada Steven disana.


Lengannya dicolek, Sandy menoleh.


Reva membuka mulutnya.


Bibirnya yang merah mengundang Sandy untuk menciumnya.


Untung Sandy menyadari situasi.


Dia kembali menunduk, menyendok nasi dan lauknya lalu membawa nya ke mulut Reva.


"Makan yang banyak.


Biar cepat gede " kata Sandy.


"Udah gede, Mas.


Buktinya udah di lamar orang." balas Reva.


Sandy tertawa.


Lalu dia teringat.


"Josh..nanti kamu aja yang rapat ya..


Aku bolos.


Mau nganterin Reva nyari laptop.' katanya.


Josh mengerang.


"Adduuuuuhh....


Boss !!.


Jangan..!


Si Mr. Li udah suka banget sama Boss.


Kalo sama aku, dia cemberut terus.


Gak tau kenapa .."


"Kamu sih...

__ADS_1


Masa dikit-dikit gak berani ambil keputusan.


Nanya aku terus." omel Sandy.


"Bodo ah..aku mau pacaran dulu hari ini..!" kata Sandy.


Josh ternganga.


"Boss..!" Katanya memperingatkan.


Sandy terkekeh.


Di kantor memang cuma dia yang bisa mempersuasi klien untuk menuruti keinginan mereka.


Sandy punya temperamen yang halus gaya membujuk yang menyenangkan sehingga orang bisa menuruti keinginannya.


Wajahnya yang tampan dan senyum kekanakan turut berperan dalam usahanya.


Jarang ada yang mampu menolak pesonanya.


Tidak heran bila Reva yang keras kepala pun jatuh juga dalam pelukannya.


"Memang jam berapa sih ?" tanyanya.


"Jam tiga."


Sandy mengerang.


"Duuh..Va...


Gimana dong ?"


Reva tertawa heran.


"Om...


Kerjaan dulu lah yang di duluin.


nyari laptop mah gampang.


Lagian..aku kan butuh nafkah dari Om !


Jadi Om perlu rajin bekerja.." katanya sambil tertawa.


"Aku udah rajin bekerja, Va.


udah kayak budaknya Michael sama Robert noh. " tunjuk Sandy.


"Ish... jangan percaya, Va !


Budak apaan ?!


Siapa yang dulu suka ninggalin kerjaan gara-gara ditelpon cewek ?!" sindir Robert.


Wajah Sandy langsung berubah.


Dia melirik Reva.


Topik tentang Cindy masih menjadi hal yang rentan bagi keduanya untuk diangkat.


Sementara Reva mengernyit.


"Gue udah enggak ya.." kata Sandy mengernyitkan dahinya.


Robert menampar dirinya sendiri dalam hati.


Dia lupa.. Reva masih sensitif dengan Cindy.


"Lho..lu kalo di telpon Reva bukannya langsung ngacir ?" kata Robert berusaha memperbaiki perkataannya.


Reva tersenyum tipis.


"Saya gak pernah telpon Om Sandy untuk minta dia ninggalin kerjaan kantor." katanya.


Steven mengangkat wajah.


Dia menatap Reva.


"Reva bukan tipe perempuan yang suka nyusahin pacar nya seperti itu." katanya.


Lalu kembali menekuri piringnya.


Reva memerah.


Wajah Sandy kembali berubah.


Tangannya mengepal.


"Ya..aku beruntung punya calon istri yang pengertian seperti dia." katanya menekankan kata calon istri.


Suasana kembali hening.


Andrew berdehem.


"Kamu mau cari laptop kayak apa, Va ?"


"Ee..


Gak jadi deh.


Aku cuma...emm...gak terlalu perlu banget kok.


Kalo dipikir-pikir laptopku masih bagus kok." sahut Reva.


"Gak papa, Va..


Nanti malam kita cari." kata Sandy.


"Nanti-nanti aja, Mas.


Aku...emm..


Kita jalan-jalan santai aja nanti malam ya..


Mumpung di sana, aku pingin ke shilin." jawab Reva.


"Oke..nanti kita kencan ke shilin.." kata Sandy kembali menekankan kata kencan.


Reva kembali berdehem.


"Iya." jawabnya.


Sementara Steven meneruskan makannya.


Sampai makan siang berakhir, suasana masih tetap canggung.


Walaupun semua orang berusaha menghidupkan percakapan.


Termasuk Sandy.


Reva hanya sedikit menyahut.


Sementara Steven sama sekali tidak mengatakan apapun.


...🎀🍇☘️...


Dua hari kemudian.


"Josh..


Aku ke toilet dulu." kata Steven.


"Ya udah..


Aku duluan ke mobil."


Mereka lalu berpisah.


Reva baru saja keluar dari mobilnya yang tanpa di sengaja berdampingan dengan mobil Josh.


Dia mengangkat kepalanya.


"Josh..." sapa Reva.


"Reva..." jawab Josh dingin.


Reva menghembuskan nafas.


Dia melanjutkan langkahnya.


"Apa kamu enggak terlalu kejam, Va ?"


Reva menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Dia berbalik.


"Apa kamu tau yang aku rasakan Josh ?"


"Kamu sengaja memamerkan kemesraan kamu di hadapan Steven, Va !"


"Aku bakal lebih kejam lagi kalau membiarkan Steven untuk enggak move on dari aku !"


Josh diam.


"Tapi cara kamu kemarin, Va !"


"Aku harus bisa membuat Steven melupakan aku supaya akupun juga bisa melupakan dia."


"Tapi kamu bertunangan dengan Sandy."


Reva diam.


"Ada hal-hal yang kamu enggak tau.


Dan aku gak perlu sebutin alasannya." katanya setelah beberapa saat.


Josh memandang Reva.


"Jadi kamu butuh Steven unyuk melupakan kamu supaya kamu juga bisa melupakan dia ?"


Reva tidak menjawab.


Dia hanya memandang Josh.


"Kamu belum bisa melupakan dia, Va ?"


Kali ini Josh bertanya dengan nada ingin tau.


Reva tidak menjawab pertanyaan Josh.


sebaliknya...


"Kamu teman dia kan ?


Bantu dia melupakan aku !"


"Supaya kamu bisa melupakan dia ?" tanya Josh menegaskan.


Reva kembali tidak menjawab.


Dia memalingkan muka.


"Aku gak masalah kalo kamu marah sama aku.


Tapi tolong..bantu dia !" katanya.


Reva lalu berbalik.


Dia berjalan cepat masuk ke dalam gedung.


Saat Reva menghilang, Steven muncul dari balik dinding.


Dengan mantap dia berjalan ke arah Josh.


Berdua mereka masuk ke mobil.


Di mobil.


"Kamu lebih baik melupakan dia, Steve.


Mereka sebentar lagi menikah." kata Josh memecah keheningan di mobil.


"Dia masih mencintai ku." jawab Steven.


"Terus ?


Dia mau kawin Steve !!


Dan kalo kamu belum lupa...


Bukan dia yang ninggalin kamu.


Ibu kamu yang nyuruh !" bentak Josh.


"Kami masih saling mencintai.


Kenapa kami gak boleh bersama ?!"


"Karena ibu kamu enggak mengijinkan, Steve !!"


"Itu bukan alasan !


Kami berdua sudah dewasa.


Bukan anak kecil lagi.


Gak ada alasan Reva harus ninggalin aku."


Josh menghela nafas.


Berusaha sabar.


"Terus kamu maunya Reva setiap hari harus diteror sama ibu kamu ?" katanya menyindir.


"Aku akan melindunginya."


"Bullshit !!


Kapan kamu pernah melindungi dia dari serangan ibu kamu ?


Sudahlah...kamu sekarang ikhlaskan dia.


Dia sebentar lagi akan menikah.


Biarkan dia bahagia." bujuk Josh.


"Dia bahagia sama aku Josh.


Dia gak perlu khawatir setiap saat sama mantannya Sandy kalo dia sama aku."


"Tapi dia lebih khawatir lagi sama ibu kamu."


"Gak perlu !


Aku sama dia bisa ke suatu tempat baru.


Kami bisa memulai sesuatu yang baru." jawab Steven.


"Lepaskan dia Steven !


Biarkan dia bahagia."


"Dia gak akan bahagia sama Sandy.


Cindy terus menerus bikin ulah buat misahin mereka berdua."


"Biarkan Sandy yang mengurusnya."


"Tapi Reva bisa sakit !"


"Kamu mau sampe kapan begini terus ?"


"Sampai kami bisa bersatu kembali." jawab Steven kalem.


"Gilak kamu !


Kamu harus hargai Sandy."


"Kami partner sekarang.


Dia bukan Boss aku lagi."


"Bukan..


Tapi dia PARTNER !!


Kamu harus hargai dia.." kata Josh geram.


Steven tidak menjawab.


Dia menatap ke depan.


Rahangnya mengeras.


Josh tidak tau .


Tadi dia mendengar semua percakapan antara Reva dan Josh.

__ADS_1


...☘️🍇🎀...


__ADS_2