
Aira menjelaskan pada suaminya jika mas Dewa hanya ingin menjadi sahabatnya dan membuktikan jika mereka memang sudah tidak memiliki rasa apapun.
"Apa yang kamu rasakan?"
"Aku tidak merasakan apapun karena aku memang sudah tidak mencintainya."
"Tapi dia masih mencintai kamu."
"Mas, itu urusan dia. Mas Dewa mengatakan jika dia juga butuh waktu untuk melupakan cintanya padaku, tapi mas Dewa akan berusaha untuk mencintai Shelomitha."
"Bagus kalau dia memiliki pemikiran seperti itu, tapi jujur saja aku tidak yakin jika dia bisa melupakan kamu."
Aira menarik lengan tangan suaminya dan menyandarkan kepalanya pada dada Addrian. "Jangan cemburu sama mas Dewa, Mas. Dia sudah menikah sekarang dan siapa tau dia akan mencintai lagi Mitha dan Langit."
"Semoga."
"Jangan seperti itu. Aku dulu juga tidak yakin bisa mencintai kamu karena aku sangat membencimu, tapi ternyata aku sekarang malah sangat mencintaimu."
"Benarkah?" Addrian melirik pada istrinya.
"Tentu saja, apa kamu mau bukti. Ini di perutku ada cinta kita." Aira menunjuk pada perutnya. Addrian seketika tersenyum kecil.
Sekarang Addrian tidak merasa sakit lagi pada hatinya karena dia tau jika Aira memang sangat mencintainya.
Mereka melanjutkan perjalanan setelah ciuman mesra Addrian mendarat pada bibir Aira.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah. Kenzo ternyata tertidur di sofa dan ada Citra sedang menonton televisi.
"Kalian sudah pulang? Aku kira kalian akan masih di sana sampai acara selesai."
"Tidak mungkin Citra, kami pulang cepat karena kita harus tidur cepat agar besok bisa mengantarkan kamu pindah ke tempat tinggal baru kamu," terang Aira.
"Apa?" Citra tampak kaget dengan apa yang dikatakan oleh Aira.
Bahkan Addrian juga agak terkejut. "Sayang, maksud kamu apa?"
"Iya. Tempat tinggal baruku? Bukannya rumah yang akan disewa oleh Addrian tidak jadi untuk disewakan? Lantas, maksud kamu apa?"
"Mas, aku tadi mengirim pesan pada mama dan besok Citra bisa menempati rumah di mana Tanteku tinggal. Bukannya tanteku tinggal sendiri dan Citra bisa menemaninya." Aira tersenyum pada suaminya.
"Oh ... yang waktu itu mama bercerita sama kita?" Aira mengangguk dengan cepat. "Kenapa kamu tidak bilang jika Citra besok bisa menepati rumah itu?"
"Aku juga baru mendapat kabar dari mama dan semua sudah disiapkan oleh mama. Lagi pula benar apa kata mama kalau tidak baik Citra terlalu lama di rumah kita. Pamali ada wanita lain tinggal dengan pasangan suami istri karena takutnya nanti dia bisa menjadi pelakor." Aira melirik pada Citra.
__ADS_1
"Pelakor? Perebut Lelaki Orang maksud kamu, Aira?"
"Iya, mamaku mengatakan hal itu. Pokoknya tidak boleh ada orang lain. Pembantu rumah tangga yang masih muda pun tidak boleh. Aku menurut saja apa kata mama."
"Ck! Aku tidak mungkin merebut suami kamu, Aira. Aku itu tau bagaimana membalas kebaikan seseorang yang sudah orang itu lakukan untukku. Lagi pula perselingkuhan itu terjadi tidak hanya dari wanitanya, kalau prianya juga terpancing, pasti akan terjadi perselingkuhan."
"Sayang, kamu kenapa berpikir seperti itu? Kamu tidak percaya akan kesetiaanku?"
"Aku percaya sama kamu, Mas. Ini itu hanya perkataan dan ketakutan yang mama rasakan. Aku menurut saja, daripada aku nanti dipecat jadi anaknya mama Tatiana."
Addrian malah terkekeh mendengar ucapan istrinya.
"Jadi, aku besok akan tinggal dengan Tante kamu?"
"Kamu tenang saja karena kamu akan diberi tempat tinggal sendiri. Jadi, kamu akan memiliki privasi sendiri. Bukannya kamu senang bisa mandiri dan tidak menyusahkan aku dan suamiku? Kamu yang mengatakan itu, Citra."
Citra harus menelan kata-katanya sendiri. "Iya, aku memang ingin sekali tinggal di rumahku sendiri dan tidak menyusahkan kalian."Citra tampak tersenyum manis.
"Ya sudah, sekarang kita istirahat sendiri dulu agar besok pagi akan lebih baik."
"Aku akan bangunkan Kenzo."
"Mas, tidak perlu membangunkan Kenzo. Biarkan saja dia tidur di sini. Bukannya besok dia bisa membantu kita."
"Citra, kita pergi ke kamar dulu. Kamu juga jangan tidur larut malam."
"Iya, aku juga mau tidur setelah membereskan tasku untuk besok."
Aira dan Addrian berjalan masuk ke dalam kamar tidurnya. Citra seketika menunjukkan wajah marah dan kesalnya melihat Aira.
"Kenapa aku tidak tau dia sudah mencarikan tempat untukku? Usahaku jadi sia-sia membayar pemilik rumah itu untuk membatalkan sewanya." Citra melihat ke arah Kenzo yang tertidur.
"Tapi sebelum aku keluar dari rumah ini. Aku sudah menyiapkan kejutan untuk kamu dan pastinya kamu akan menderita dalam beberapa hari." Citra tersenyum miring.
Aira di dalam kamarnya izin ke kamar mandi untuk berganti baju tidur.
"Kenapa harus ke kamar mandi? Kamu berganti baju saja di sini."
"Di sini?"
"Iya. Kenapa? Apa kamu masih malu denganku?"
"Bukan malu, hanya saja aku ingin memberi mas kejutan malam ini."
__ADS_1
"Kejutan? Kejutan apa?"
"Baju tidur baru yang aku pesan online."
"Apa? Kamu memesan lingerie?"
"Kenapa otaknya langsung mengarah pada baju aneh itu?"
Addrian menarik tangan istrinya sampai tubuh Aira masuk ke dalam dekapannya. "Daripada aku membeli lingerie, lebih baik telanjang sekalian."
"Aku suka," Addrian berbisik lembut pada telinga istrinya.
"Lebih menghemat, dari pada aku membeli lingerie."
Addrian menunduk mengigit bibir Aira dengan gigitan manis. Aira mencubit perut kotak-kotak suaminya.
"Lalu, baju tidur apa yang kamu beli? Apa aku boleh melihatnya sekarang?"
Aira mengangguk dan dia melepaskan pelukan suaminya agar bisa berjalan ke arah lemari bajunya.
Aira mengeluarkan piyama tidurnya dan menumpuknya. Addrian yang melihatnya tampak heran.
"Aku akan mengeluarkan dulu baju tidur yang tidak aku pakai, agar lemariku muat untuk aku letakkan baju tidur baruku."
"Kamu mau apakan baju tidur lama kamu itu, semua itu masih bagus? Eh, tunggu! Apa mau kamu buang semua baju itu?"
Aira tampak berpikir sejenak. "Kalau aku berikan pada orang apa kamu akan marah, Mas?"
"Tentu saja tidak, tapi mau kamu berikan pada siapa?"
"Aku berikan pada Citra saja. Bagaimana? Dia akan pindah dan pasti membutuhkan baju juga. Piyama tidur ini bisa dia gunakan di sana." Aira tersenyum manis.
"Benar juga. Nanti juga akan aku tanya apa saja yang dia butuhkan."
"Aku berikan sekarang saja supaya bisa dia masukkan ke dalam tasnya atau siapa tau dia membutuhkan bantuanku untuk berkemas?"
Addrian mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang ngambek.
"Kamu kenapa, Mas?"
"Lalu, kapan aku melihat baju tidur kamu. Apa kamu sengaja mengulur waktu, atau sebenarnya kamu belum membeli baju tidur itu?"
Aira terkekeh mendengar gerutuan suaminya itu. "Kamu tenang saja, aku pasti akan membuat kamu lebih dan lebih mencintaiku." Aira mengedipkan salah satu matanya.
__ADS_1