Kamu Milikku

Kamu Milikku
Tawar Menawar


__ADS_3

Reva sedang main band bersama teman-temannya.


Perasaan nya sekarang lebih baik.


Musik membawa ketenangan padanya di saat gundah.


Tapi kebingungan masih melanda dirinya.


Rasa marah membuat dirinya ingin melepaskan diri dari Sandy.


Tapi..itu hanya akan membuat dirinya lebih marah lagi.


Karena itu berarti tujuan Cindy akhirnya tercapai.


Reva kalah.


Padahal..Reva tidak suka kalah.


Cindy sudah menyakitinya.


Dia ingin membalas agar Cindy merasakan sakitnya.


Bagaimana caranya memberi pelajaran pada Sandy sekaligus membalas Cindy ?


Dia sedang tenggelam dalam pikirannya saat ponselnya berbunyi.


Tante Tia.


Reva mengangkat.


...🌴...


Di ruang duduk yang privat.


"Gimana ?


Jadi manggil Reva sekarang ?


Atau..lu mau mikir-mikir dulu..


Belum terlambat, San.


Masih dua bulan lagi.


Undangan belum disebar.


Kalo sekedar batal tunangan gak bakal bikin heboh.


Itu hal biasa." kata Robert.


"Ya..


Panggil dia sekarang." kata Sandy penuh tekad.


Robert menoleh pada Tia.


"Ti...tolong panggil Reva." katanya.


Tia mencibir.


Tapi dia meraih ponselnya.


Dua kali dering, Reva mengangkat ponselnya.


"Tante ?" sapanya.


Sandy yang mendengar suara Reva merasa jengkel.


Tadi dia menelpon sampai enam kali dan tidak pernah diangkat.


Sekarang Tia yang menelpon baru dua kali nada dering, Reva langsung mengangkat.


Sandy menipiskan bibir.


Anak itu harus diberi pelajaran.


"Va..lagi ngapain ?" tanya Tia sambil melirik Sandy.


Sandy sedang menatap ponsel yang dipegangnya.


"Ngeband, Tante.


Kenapa ?"


"Kamu ke ruang duduk privat ya...


Yang dilantai tiga.


Kamu nanti tanya aja sama petugasnya.


Mr Hermawan."


"Sekarang Tante ?"


"Iya..


Kenapa ?"


"Yaah...


Aku masih ngeband sama teman-teman.


Setengah jam lagi boleh kah, Tante ?"


Tia melirik Sandy.


Sandy mengangguk.


"Boleh...


Aku tunggu yaa.." kata Tia.


"eh...tunggu...tunggu..Tante..


Tante..ehm..di situ ada om Sandy, Tante ?" tanya Reva ragu-ragu.


"Ada..


Kenapa ?" Tia melirik Sandy.


"Oh...


Pembicaraan serius, Tante ?"


"Iya.


Ini tentang pernikahan kamu."


"Apa mau dibatalin, Tante ?"


Tia kembali melirik Sandy.


"Apa kamu mau dibatalin ?


Kamu kesini aja.


Kita bicara.


Apa yang kamu inginkan.


Jangan khawatir...


Tante mendukung apapun yang kamu inginkan."


Sandy mendongak menatap Tia saat mendengar kata-kata Tia.


Dia tak menyangka mendengar kata-kata 'batal'.


Reva diam.


"Reva ?


Kok diam ?" tegur Tia.


Sandy mengerutkan keningnya.


"Aku kesana dalam setengah jam, Tante.


Gak papa ?" tanya Reva.


"Gak papa.


Sampai ketemu nanti ya, Va..."


"Bye Tante..." pamit Reva.


Tia meletakkan ponselnya.


Matanya bertatapan dengan Sandy.


"Ti..


Harusnya kesalahan gue enggak perlu dihukum seberat ini.

__ADS_1


Gue gak sengaja duduk di sebelah mantan gue.


Bukan gue yang ngatur tempat duduknya.


Gue juga gak sengaja dansa sama dia.


Karena pas dia pegang gue, guenya kedorong sama orang di belakang gue.


Kesalahan gue, gue gak tega ngelepasin dia karena nanti dia malu.


Itu aja kok." Sandy membela dirinya.


"Nanti dia malu ?


Tapi gak masalah membiarkan Reva sakit hati liat lu berdua pelukan ?" sambar Biliyan.


Biliyan memang paling benci pada laki-laki ganjen.


Itu sebabnya dia dulu tidak mudah menerima Robert.


"Orang macem-macem, Ko.


Kebetulan aja, orang yang lu pilih ternyata sangat sensitif dengan tingkah lu.


Lu mau cari cewek lain ?


Silakan.


Cewek yang lebih mau menerima kalo lu selingkuh sama mantan lu." tantang Tia.


"Gue gak selingkuh, Ti !!" kata Sandy gemas.


"Belum." kata Biliyan.


"Lu juga, Ci?"


"Gue dari dulu gak suka sama tu cewek.


Dari dulu.


Dan sekarang gue gak suka sama lu.


Lu harusnya ngelepasin dia.


Bukannya malah ngasih dia panggung buat ngeliatin ke Reva kalo dia berhasil kembali ke pelukan lu.." jawab Biliyan.


"Betul..gak heran Reva marah.


Apalagi selama makan malam, dia nempelin badannya terus ke elu di hadapan Reva.


Dan...kalian bertengkar dihadapan dia kan ?


Temannya juga ngatain Reva ngerebut pacarnya." kata Tia.


"Siapa yang ngasih tau lu ?"


Tia tertawa sinis.


"Di meja lu kan teman-teman gue, Ko."


Sandy tersadar.


Robert berdehem.


"Lu terima salah deh, San.


Kagak menang kita lawan cewek." katanya pelan.


Michael juga menatapnya.


Senyum kecil menghiasi wajahnya.


Sandy membalas dengan senyum kecut.


"Iya gue terima salah


Semalam gue udah minta maaf sama Reva.


Bukan itu masalah nya.


Masalahnya, kalian mengancam mau ngebatalin pernikahan gue !


Ini terlalu berat untuk kesalahan itu.."


"Gini aja deh Ko...


Kalo kalian tetap bisa melangsungkan pernikahan kalian, anggap aja ini sebagai pelajaran.


Dia punya dukungan." tandas Tia.


Sandy diam.


"Jangan lupa..


Yang mau sama Reva banyak.


Dia dekat sama Madam Chang dan Willy.


Koneksi yang sangat bagus.


Lepas dari lu sebentar juga bakal disambar orang." kata Michael memanas-manasi.


Sandy betul-betul lupa dengan Madam Chang.


Reva seperti tambang emas untuk menjalin koneksi dengan berbagai pihak.


Dia menghembuskan nafas.


Gara-gara tidak enak pada Cindy dia nyaris menghancurkan reputasinya sendiri dihadapan Willy Chang dan keluarganya.


Sekali lagi dia memaki-maki dirinya.


Dua puluh menit berlalu saat pintu ruang duduk terbuka.


Reva masuk.


"Hai Va..


ayo duduk..." sapa Robert menunjuk sofa di samping Sandy.


"Iya Om.." jawab Reva.


Tapi Reva berjalan terus dan langsung duduk di antara Tia dan Biliyan.


Biliyan mengambil tangannya.


Memberikan dukungan.


Tia pun mengusap bahunya.


Semuanya tak lepas dari pengamatan Sandy.


"Oke..


Jadi begini, Reva..."


Robert lalu menjelaskan semua pembicaraan mereka.


Reva mendengarkan.


Sesekali matanya menatap Sandy.


Reva mengangguk.


"Oke..


Jadi maksudnya, Om mau beli aku dengan kepemilikan Methrob ?" tanyanya tajam.


"Va..bukan seperti itu.."


"Apa hargaku semahal itu ya Om ?"


"Reva, Tante Tia dan Tante Bili juga begitu.


Kepemilikan perusahaan ada di tangan mereka." kata Michael.


Reva menoleh memandang Michael.


"Tante berbeda, Om."


"Apa bedanya ?


Sama kok.


Kalian sama-sama Madam Methrob." kata Robert.


"Tapi selama aku disini, Om Michael dan Om Robert gak pernah meluk orang lain.


Gak pernah dipegang sama cewek lain.


Gak pernah merasa perlu untuk berintim-intim dengan cewek lain.


Sementara aku melihat yang berbeda kemarin.

__ADS_1


Padahal jelas bahwa Om Sandy tunangan sama aku.


Aku gak bisa kawin sama orang kayak begitu Om.


Aku pingin pernikahan seperti Om.


Aku pingin suami seperti Om Michael dan Om Robert.


Suami yang cuma bisa melihat istrinya saja.


Apa keinginan ku terlalu muluk ?


Aku gak perlu kepemilikan company."


"Terus ?


Kamu mau pake insiden ini buat balikan sama Steven ?!" kata Sandy emosi.


"Apa Om sengaja bikin insiden ini biar bisa balik sama Cindy?" kata Reva membalikkan pernyataan Sandy.


"Bilang aja , Va !!" sengit Sandy.


"Om ingat, sebelum ini kita baik-baik aja.


Dikamar waktu Om kasih kalung...


Kita gak ada masalah.


Masalah baru ada begitu Om duduk di sebelah Cindy.


Terus sampai sekarang." kata Reva lembut.


Dia berusaha menahan emosinya.


Berbicara dengan nada lembut.


Kalau dia ingin memberi Sandy pelajaran, dia harus menjaga intonasinya.


"Jadi kamu maunya gimana, Va?" tanya Biliyan.


"Kasih aku waktu untuk berfikir, Tante." jawab Reva.


"Va...


Aku udah minta maaf.


Aku kasih semuanya buat kamu.


Please, Va.." bujuk Sandy dengan nada lembut.


"Apa kamu masih inget semua penjelasan Robert, Va ?" tanya Michael.


Reva mengangguk.


"Kalo sampe Sandy selingkuh, dia keluar dengan baju di badan aja.


Apa itu belum cukup buat kamu, Va ?" kata Michael.


Dia kasihan melihat Sandy yang sejak datang tadi sudah ditekan sana sini.


"Aku gak punya niat bikin Om Sandy sengsara, Om.


Dan aku gak punya niat punya pernikahan gagal." kata Reva.


Michael kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa.


Dia menyerah.


Ternyata Reva bukan orang yang gampang.


"Pernikahan kita gak akan gagal, Va.


Aku berjanji akan mencintai dan menjaga kamu serta anak-anak kita seumur hidupku." kata Sandy terus membujuk.


"Kasih aku waktu, Om.


Aku masih marah.


Aku gak bakalan bisa berfikir jernih selama aku masih emosi ingat Om dicium sama Cindy semalam.


Atau pelukan kalian.


Dan Cindy dengan sengaja memamerkan kemesraan kalian didepanku.


Apa aku gak boleh marah, Om ?" tanyanya lembut.


"Apa ?!


Cium ?!" sentak Tia dan Biliyan.


Sandy pun tersentak.


"Aku gak dicium.


Sumpah !!" katanya panik.


"Aku liat, Om..


Waktu kalian melintas di depanku." kata Reva.


"Udah..gak usah aja deh.


Kamu sama Willy Chang aja..


Atau Daniel.


Kemarin gue liat kalian cocok kok.


Atau bahkan Steven.


Karuan..." komen Biliyan.


Sandy melotot padanya.


Lalu kembali memandang Reva.


"Va.. Sumpah...


Aku enggak dicium sama dia !!


Kalo iya...aku mestinya tau dong." katanya.


Reva cuma menatapnya tanpa ekspresi.


Melihat wajah Sandy yang panik, rasa sebalnya berkurang sedikit.


Baiklah..


Sekarang waktunya mengambil kesempatannya.


"Kalau aku menerima, aku punya satu kondisi." katanya.


"Katakan, Va...


Aku setuju semua yang kamu minta.


Apa aja.


Asal kita tetap kawin." kata Sandy.


Dia tidak ingin melepaskan Reva.


"Syarat ku yang kemarin.


Enam bulan kita gak berhubungan dulu, Om.


Aku tinggal di kamar terpisah."


"Hah ?!


Va..please...


Kalo Yang itu....


Aduuh..."


Sandy mengerang.


Mau tidak mau semua yang hadir tersenyum melihatnya.


Robert bahkan tertawa terbahak-bahak.


...🌴🍎🍇...


Halo Pembaca...


Sambil menulis, saya mendengarkan


Stevan Pasaribu - Belum Siap Kehilangan.


Pas banget dengan momen ketegangan hubungan Sandy dan Reva.


😘😘

__ADS_1


__ADS_2