Kamu Milikku

Kamu Milikku
Rencana di Jalankan part 1


__ADS_3

Tuan Andreas yang pernah berkenalan dengan mba Mona sangat kaget mendengar keadaan wanita itu.


"Semoga dia segera pulih karena dia wanita yang kuat dan pandai."


"Aku memutuskan jika dia akan tetap menjadi sekretarisku meskipun keadaannya seperti itu karena aku dan Daddyku juga tidak mau kehilangan sekretaris yang handal."


"Apa nanti tidak akan menyusahkan? Bukannya kamu masih memiliki Citra yang juga bisa bekerja dengan. baik nantinya?"


"Setidaknya saya di sana menerapkan kita semua bekerja dengan hati, dan aku ingin menjadi contoh pemimpin yang memiliki hati. Mba Mona selama ini bekerja dengan baik dan banyak memiliki jasa bagi perusahaanku. Jadi, dia tidak pantas aku buang hanya karena keadaan fisiknya yang sekarang."


"Anda sangat hebat, Tuan Addrian," puji pria yang terlihat sederhana itu.


"Baiklah, kalau begitu kita mulai saja semuanya. Citra tolong jelaskan semua tentang program proyek kita ini."


Citra kemudian menerangkan semuanya, semua yang dia pelajari dengan mba Mona.


Setelah mendengarnya mereka membahas tentang proyek itu, sampai hari menjelang siang dan mereka kembali ke hotel yang sudah tuan Andreas siapkan.


"Tuan Addrian, saya membuka kamar Anda berdekatan dengan kamar Citra agar memudahkan jika Anda membutuhkan bantuan. Kamar saya sendiri ada satu lantai di atas."


"Iya, tidak apa-apa. Kalau begitu saya permisi mau masuk dulu karena saya ingin menghubungi Aira. Saya sudah merindukannya." Addrian tersenyum kecil dan masuk ke dalam kamarnya.


Citra dan Tuan Andreas saling melihat. "Pria itu benar-benar sangat setia dengan istrinya, dia juga sangat mencintai istrinya. Apa kamu yakin bisa membuat dia menjadi milik kamu? Putriku"


"Papa lihat saja, Addrian akan menjadi milikku."


"Kenapa kamu harus bermain api dengan pria beristri? Apa tidak ada pria lainnya yang bisa kamu cintai?"


Seketika Citra memberi tatapan tajam pada pria yang ternyata adalah papanya.


"Aku tidak mau yang lain. Aku mau Addrian, Papa. Dan kalau aku tidak bisa mendapatkan Addrian, aku lebih baik mati."


"Jangan bicara seperti itu, Citra. Kamu adalah anak satu-satunya yang papa dan mama miliki. Siapa nanti yang akan meneruskan perusahaan kita jika kamu sampai meninggal?"


"Papa dan Mama tenang saja, aku akan memberikan kalian pewaris yang sempurna dari benih pria yang aku cintai."

__ADS_1


"Papa hanya ingin kamu bahagia, Nak, tapi bukan seperti ini kebahagiaan yang papa dan mama inginkan dari kamu."


"Ini kebahagiaanku, Pa, dan aku harap papa bisa mewujudkannya." Citra berjalan pergi dari sana.


Pria itu mengusap kasar wajahnya. Dia tidak menyangka jika putrinya bisa sangat terobsesi dengan pria bernama Addrian yang Citra ceritakan sebagai cinta pertamanya waktu di sekolah dan dia sangat menginginkan bisa menikah dengannya.


"Jika saja Addrian masih sendiri, pasti papa akan dengan bangga merayakan pernikahan kamu dengan sangat meriah. Istri pria itupun sangat setia."


Di dalam kamarnya, Addrian yang baru saja selesai mandi dan dia berbaring di atas kamarnya menghubungi Aira.


"Mas, kenapa baru sekarang menghubungiku? Aku dari tadi menunggu kamu," omel Aira.


"Sayang, aku datang langsung mengurusi pekerjaanku, dan baru sekarang sudah selesai, jadi, aku bisa menghubungi kamu. Aku minta maaf, ya?"


"Tidak dimaafkan kalau kamu masih di sana. Nanti kalau pulang aku maafkan."


"Kalau begitu berarti ada hukuman buatku kalau belum dimaafkan? Tidak apa, kalau begitu sekalian nanti pulang hukumannya bisa di dobel."


"Hm ...! Senang sekali mendapat hukuman. Siapa juga yang mau memberi kamu hukuman, Mas?"


"Itu bukan hukuman, tapi kesenangan buat Mas. Mas, kenapa tidak memakai baju begitu?"


"Aira, di sini udaranya sangat panas walaupun AC sudah aku nyalakan. Memangnya kenapa? Aku juga bisanya tidur seperti ini."


"Kalau di rumah denganku tidak apa-apa, tapi kalau di sana jangan."


"Aku mau langsung tidur setelah menghubungi kamu. Aku benar-benar capek hari ini, Aira."


"Ya sudah, kalau begitu Mas tidur saja. Aku juga sebenarnya dari tadi sudah mengantuk, tapi masih menunggu telepon dari kamu, Mas."


"Ya sudah, sekarang tidur ya? Aku juga mau tidur. Mimpi indah, Sayang. I love you."


"I love you too."


Mereka mengakhiri panggilanya dan tidur.

__ADS_1


Keesokan harinya, Addrian yang terbangun karena ketukan pintu di kamarnya. Membuatnya harus membuka kedua matanya dan berjalan menuju pintu.


"Citra? Ada apa?"


"Addrian. Maksudku, aku ke sini mau mengajak kamu berjalan-jalan pagi melihat pemandangan di sekitar hotel ini. Bukannya jalan-jalan pagi baik untuk kesehatan." Citra terpesona melihat tubuh indah di depan matanya itu.


"Aku minta maaf, tapi aku mau tidur dulu karena aku masih sangat lelah kemarin. Lagi pula masih nanti siang, kan, kita akan bertemu dengan orang-orang lainnya yang ikut bekerja sama dalam proyek ini. Jadi, aku mau tidur sebentar. Kamu kalau mau jalan-jalan, bisa pergi sendiri."


"Ya sudah kalau Pak Addrian tidak bisa."


"Okay, Citra." Addrian menutup pintunya dan kembali merebahkan tubuhnya tengkurap di atas tempat tidurnya, dan Addrian kembali terlelap.


"Oh Tuhan! Aku sangat menginginkan pria seperti Addrian. Dia benar-benar mempesona. Aku mencintainya."


Aira di rumahnya tampak sedang sibuk karena hari ini di rumahnya akan ada pertemuan dua keluarga,. yaitu keluarga Arlan dan keluarga gadis yang akan dijodohkan dengan Arlan. Sesudah membantu mamanya, dia disuruh oleh mamanya untuk pergi ke kamar kakaknya karena sudah jam segini kakaknya masih saja tidur.


"Mas, kenapa belum bangun?" Aira berdiri di depan pintu kamar kakaknya.


"Jangan berdiri di situ, Dek, kamu nanti capek. Duduk di sini." Arlan terbangun dan menyuruh adiknya duduk di sebelahnya.


"Semalam pulang jam berapa? Aku mendengar suara mobil kamu masuk ke rumah saat dihubungi mas Addrian di jam tengah malam."


"Aku tidak tau jam berapa?" Arlan mengusap wajahnya kasar.


"Mas, kamu semalam pergi ke rumah Niana?"


Arlan mengangguk. "Saat aku ke rumahnya dia baru saja diantar oleh Kenzo. Mereka tampaknya sedang ada hubungan, Dek."


"Kenzo? Tapi mereka memang sahabat dari dulu, Mas. Aku juga."


"Aku tidak tau, Dek. Mungkin kehadiran Kenzo saat ini juga bisa membuat Niana bahagia karena aku sudah tidak mungkin bisa bersamanya. Kadang aku ingin sekali membenci mama, tapi itu rasanya sulit karena mama juga salah satu wanita yang aku sayangi sebelum kamu, Adikku." Arlan memeluk Aira dengan hangat.


"Mama itu sayang sama Mas Arlan, aku juga. Kita ikut saja dengan jalan takdir jodoh kita, Mas. Siapa tau nanti Mas Arlan akan bahagia dengan gadis pilihannya Mama ini. Seperti aku sekarang dan Addrian."


Arlan menatap teduh wajah bahagia adiknya.

__ADS_1


__ADS_2