
Robert membawa Sandy ke ruangan nya sendiri.
Josh membawakan kotak P3K.
"Sini biar gue aja." kata Robert.
Josh lalu keluar setelah memandang Sandy sekali lagi.
Dia menggelengkan kepalanya.
Dia tidak bisa memutuskan akan memihak siapa.
Tapi dia berada dipihak Reva.
Robert mendekati Sandy.
Wajah Sandy babak belur
Matanya membengkak.
Bibirnya juga bengkak.
Pipinya biru lebam.
Sama sekali tak nampak lagi kegantengan nya.
Robert berdecak.
"Udah gak ganteng lagi lu, San.."
Sandy tersenyum tapi lalu meringis kesakitan.
Robert membuka kapas antiseptik lalu mulai mengoles luka-luka Sandy.
Sandy mendesis.
"Tahan..." kata Robert.
Setelah yakin bersih, Robert mengoleskan salep.
Sambil bekerja dia berbicara.
"Lu udah tau kan kalo bakal begini jadinya ?
Kenapa masih nekad ngawinin Reva ?" tanyanya memancing.
Sandy terkejut dengan pertanyaan Robert.
Dia memundurkan wajahnya.
"Apa ?" tanya Robert.
"Gue gak nyangka bakal keluar pertanyaan kayak gitu dari lu, Bet."
"Lu tau apa akibat kalo ngawinin Reva ?
Reva kelihatannya sendiri.
Tapi dia punya banyak backing.
Michael, gue, Steven, Tia...
Belum lagi Willy Chang dan ibunya.
Lu baru berhadapan sama Michael dan Steven aja udah begini.
Gimana kalo lu berhadapan sama semua orang itu ?
Saran gue...
Lu lepasin Reva deh.
Lu gak bakal kuat.
Apalagi lu kelihatannya masih ada rasa sama Cindy.
Lu sama dia aja.
Lebih aman.
Dan..
Ehmm..di ranjang juga lu lebih puas." kata Robert sambil nyengir.
"Pergi lu !" dorong Sandy.
"Lho..gue ngomong beneran."
"Gue cinta Reva, Bet !!
Harus berapa kali gue ngomong !!" kata Sandy geram.
"Lu yakinin diri dulu deh.
bener lu cinta dia?
Kenapa lu masih ngasih Cindy harapan ?"
"Gue gak pernah ngasih dia harapan !!"
"Lho... buktinya ada, San !
Dia berani pasang foto mesra sama lu.
Lu nya juga ngasih dia nempel-nempel lu.
Apa namanya kalo gak ngasih harapan ?
Akui aja...
Lu gak cinta Reva.
Lu cuma ngerasa sayang sama dia.
Lu balas budi karena dia ngasih kenyamanan waktu lu putus sama Cindy.
Nah.. sekarang kan lu tau kalo Cindy masih cinta sama lu.
Cinta banget malah.
Mending lu balik sama dia.
Karuan..dia emang cinta sama lu."
Brakk.
Sandy menggebrak meja.
"Gue cinta sama Reva.
Berapa kali gue bilang.
__ADS_1
GUE CINTA REVA !!" teriak Sandy.
Robert mengangkat tangannya.
"Oke..oke..
Gak usah jerit-jerit."
"Gue gak jerit.
Gue cuma menekankan kata-kata gue karena seperti nya lu itu dodol !!" sembur Sandy.
Robert menarik nafas panjang.
"Gue cuma pingin lu berfikir lagi, San..
Apa emang ini semua worth it ?" katanya sambil melambaikan tangannya pada wajah Sandy.
"Worth it !" jawab Sandy tegas.
Sandy memalingkan muka.
Dia meringis.
Robert kembali berdecak.
"Gue cinta dia, Bet..
Saking cintanya, gue sanggup liat dia pacaran sama Steven.
Gue..." Sandy tergagap.
"Gue kasih dia kesempatan buat bahagia.
Walaupun sebetulnya..sakit banget Bet..
Liat dia sama Steven.
Dicium...
Di gandeng..
Kencan...
Sementara gue cuma bisa liat.
Gue kasih mereka kesempatan.
Sebelum gue rebut lagi dia.
Calon istri gue." lanjutnya.
Robert menoleh kaget.
"Gue gak tau temen gue segini tololnya." katanya.
Sandy tertawa miris.
"Cinta kadang bikin orang tolol."
Sandy menyandarkan tubuhnya di sofa.
Robert membereskan kotak P3K.
"Jadi..apa penjelasan lu tentang foto-foto itu ?"
"Gak ada.
Gue lagi makan siang sama Charles dan Ernest.
Abis makan, foto-foto.
Gue malah gak tau kalo Cindy kelihatan nyender.
Dia gak nyender ke gue.
Gue gak nyentuh dia sama sekali.
Betul kalo dia duduk di sebelah gue.
Tadinya gue mau pergi waktu dia datang.
Tapi gue lupa kalo abis itu gue harus ke kantor Charles lagi.
Jadi gue duduk lagi."
Robert melipat tangannya di depan dada.
"Gue gak tau harus bilang apa.
Yang jelas lu punya tantangan berat kalo masih mau ngelanjutin sama Reva.
Reva harus diyakinkan.
Michael udah gak suka sama lu.
Bukan gak suka sebagai teman.
Tapi sebagai calon keluarga kami."
Robert lalu melanjutkan
"Bini gue dan Tia..jangan ditanya.
Mereka pasti antipati sama lu kalo tau."
Sandy mengangguk.
Dia menyadari itu semua.
Di ruangan Michael.
Michael memandang Steven.
"Steve...apa kamu masih mencintai Reva ?"
Steven menarik nafas panjang.
Dia mengusap wajahnya.
"Sama seperti kamu mencintai Tia, seperti itu juga cintaku pada Reva.
Kamu tau aku, Boss.
Aku gak pernah jatuh cinta sebelumnya.
Aku gak tau kalo aku bakal kehilangan dia dengan cara seperti ini."
Michael menghela nafas.
Cinta dia pada Tia.
__ADS_1
Dia sanggup melakukan apapun asalkan Tia tetap menjadi miliknya.
Tidak ada seorang wanitapun yang mampu menggerakkan hatinya seperti yang dilakukan oleh Tia.
Setiap hari, setiap kali itulah bertambah rasa cintanya pada Tia.
Jadi.. seperti itulah yang dirasakan Steven pada Reva.
Itu cinta sekali seumur hidup.
"Reva ?" tanya Michael.
Steven menerawang.
"Aku tau kalo Reva masih mencintaiku." katanya.
"Reva menerima lamaran Sandy."
"Dia hanya pelarian dariku."
"Tapi Reva bukan gadis plin plan.
Dia enggak akan menerima Sandy seandainya dia enggak punya rasa terhadap Sandy.
Dan jelas dia gak akan melangkah sejauh ini, berniat menikahi orang kalo dia enggak mencintai orang itu."
Steven melipat tangannya.
"Reva tipe gadis yang memikirkan orang lain.
Aku tau kenapa dia ninggalin aku.
Dia gak mau aku bertengkar dengan ibuku.
Dan..."
Steven berhenti
"Dan ?"
"Dan kemungkinan dia menerima Sandy karena dia ingin aku melupakan dia.
Dia ...dia mengorbankan dirinya, menikah dengan orang lain hanya supaya aku melepaskan dia."
"Kamu terla..."
Brakk..
"Gue cinta Reva !!"
Michael berpandangan dengan Steven.
Itu suara Sandy dari ruangan Robert.
Michael berdecak sambil menggelengkan kepalanya.
Sementara wajah Steven langsung kelam.
"Aku gak tau kalo Reva bisa bikin temen-temen ku kayak begini." cetus Michael.
Steven menoleh.
"Dia gadis yang istimewa.
Sama seperti Tia-nya kamu."
Michael mengangguk.
"Ya...
Mereka memang gadis yang istimewa."
Mereka diam.
"Aku mau mendapatkan dia kembali.
Aku gak peduli kamu setuju atau enggak Boss."
"Ibumu ?"
Steven tertawa.
"Ini hidupku.
Aku yang menentukan siapa yang akan mendampingi hidupku."
"Reva gak akan menerima kamu kalo kamu melawan kehendak ibu kamu."
"Aku akan bawa Reva pergi dari sini.
Aku gak akan biarkan Reva bertemu ibuku dan keluarga ku sampai mereka bisa menerima Reva.
Aku akan jaga dia seumur hidupku."
"Kamu harus menikahi Reva terlebih dulu."
Steven mengangguk.
"Dalam adat kalian, dari pihak laki-laki cukup hanya pengantin pria kan ?
Aku akan melamar Reva."
"Reva sudah dilamar orang."
Steven menarik hidungnya.
"Dia ?
Kamu akan biarkan Reva dengan dia ?
Kamu tau kan..
Reva gak akan bahagia sama dia.
Cindy bakal selalu jadi bayang-bayang dalam pernikahan mereka.
Reva gak akan bahagia.
Reva akan selalu diganggu hidupnya.
Kamu mau seperti itu ?"
Steven benar.
Michael juga tidak akan membiarkan Reva terus menerus diganggu oleh Cindy seperti ini.
Sedangkan Sandy ?
Kelihatannya Sandy tidak peka pada keagresifan Cindy.
Dia jelas-jelas tidak mengambil tindakan untuk melindungi Reva.
__ADS_1
"Kamu mendapat restuku." kata Michael.
...🍒🍇🎀...