
Selama dua hari berikutnya Sandy sama sekali tidak muncul menemui Papi Mami nya.
Dia mengambil langkah menjauh.
Papinya yang sudah menduga ada hal yang salah akhirnya menelponnya.
"San..."
"Halo Pi..."
"Kamu itu gimana sih ?
Papi Mami udah jauh-jauh kesini, kamunya malah ngilang.
Ada apa?" tegur Papi.
"Ah gak papa Pi.
Lagi ngurusin sesuatu."
"Kamu lagi dimana?"
"Di kantor notaris.
Pi..nanti aku telpon lagi ya.."
"Oh..oke..oke.."
Papi berkerut.
Dia menatap Mami dan Cindy yang sedang sibuk memilih batik.
"Mi..." panggil Papi.
Mami menoleh.
Cindy juga ikut menoleh sambil tersenyum manis.
Ini calon Papi mertua.
Dia harus bersikap manis dan sopan.
Papi menatap keduanya.
"Papi mau ngopi-ngopi sama Papinya Michael.
Papi tinggal gak papa ya ?"
Mami mengangguk.
"Ya udah..
Gih sana.." jawabnya sedikit merasa terganggu.
Papi melayangkan senyum pada Cindy lalu berbalik.
Dia menelepon Michael.
"Halo Om.." jawab Michael.
"Lagi dimana Kel ?"
"Di kantor notaris Om.
Bareng sama Sandy.
Kenapa?"
"Oo...Papi kamu dimana ?
Om bosen nih nungguin ibu-ibu.." kata Papi Sandy.
"Ada di rumah Om.
Om mau pulang ?
Biar saya minta supir untuk antar Om sebentar."
"Oh gak usah Kel.
Biar Om aja yang ngomong sendiri.
Udah ya.."
"Iya Om.."
Diseberang
Michael menatap Sandy.
"Apa?" tanya Sandy.
"Lu baiknya ngomong.
Daripada lu lari-lari kayak gini."
"Nanti.
Kalo Cindy udah pulang.
Kapan sih dia pulang ?"
"Tia udah telpon Daniel.
Daniel marah tuh.
Dia harus pulang dua hari lagi.
Syuting udah ketunda lebih dari seminggu gara-gara dia."
"Jangan nyalahin gue.
Gue gak nyuruh dia ke sini."
"Lu gak nidurin dia kan ?
Selama disini ?"
"Astaga..!!
Enggak Kel !!
Lu kan tau gue tidur dimana tiap malam !"
"Ya..gue kan bukan baby sitter elu San.
Mana tau...
Siang...sore..." jawab Michael langsung.
"Enggak !
Gue bisa bohong sama lu.
Tapi gue gak bisa bohong sama diri gue sendiri.
Gue mau lepas dari dia.
__ADS_1
Dan emang secara mental, gue udah lepas.
Tinggal ngomong langsung sama orangnya." jawab Sandy emosi.
Michael menatapnya tajam.
"Iya..iya...
Gue gak mau menghakimi lu San.
Gue juga bukan orang suci.
Gue nidurin Tia waktu kami belum kawin.
Tapi...
Jangan samain dua perempuan itu.
Tia setia sama gue.
Walaupun gue juga pernah ngeraguin dia.
Tapi, dia setia sama gue.
Kan lu sendiri juga bilang.
Tapi...gue gak bisa bilang begitu tentang Cindy.
Sori aja."
"Gak perlu sori." jawab Sandy.
"Dia masih resmi pacar lu San.." kata Michael datar.
Sandy tidak menjawab.
Dia sudah bosan dan ingin cepat-cepat melalui semua ini.
Tinggal tiga minggu lagi.
Mereka sedang berada di kantor notaris dan menunggu saudara Andi yang akan menjual rumah dan tanah nya.
Mereka juga menunggu Reva.
Sandy meminta Reva untuk datang.
Terdengar pintu dibuka.
Reva, Andi, dan Paman Andi beserta istri dan anaknya masuk.
"Om..." sapa Reva.
Michael dan Sandy tersenyum.
Mereka semua bersalaman.
Notaris lalu mempersilahkan semua untuk duduk.
Proses tanda tangan jual beli dimulai.
Michael ikut menandatangani sebagai saksi dari pihak Sandy.
Setelah selesai, Sandy dan Paman Andi kembali bersalaman.
Keluarga Paman Andi lalu pulang setelah Sandy menyelesaikan proses pembayaran nya.
"Va...Jangan pulang dulu." tahan Sandy.
"Nanti pulangnya bareng aku aja."
Notaris kembali duduk di mejanya.
"Apa Pak Sandy akan mencantumkan nama ahli waris di akta ?"
Sandy mengangguk.
"Bukan ahli waris, tapi kepemilikan bersama." katanya.
Michael menaikkan alisnya.
Sandy melanjutkan perkataannya.
"Kepemilikan bersama dengan mbak Revalina Anindya Djoyodiningrat dengan beban tanggung jawab dia adalah mengurus dan ...."
Reva terbatuk-batuk.
"Om !!" sentaknya.
Sandy meliriknya sebentar lalu melanjutkan perkataannya
"Dan memelihara rumah serta memastikan sawah yang kami miliki tetap menghasilkan."
Reva menegakkan tubuhnya.
"Sebentar.. sebentar..." katanya.
"Om...
Kenapa jadi aku yang harus ngurusin rumahnya Om ?" lanjutnya menatap lurus pada Sandy.
Sandy balas menatap.
"Ada kemungkinan aku kalah.
Jadi...nanti gak perlu tukar nama lagi..Nama kamu udah ada di akte." jawabnya santai.
"Lagian..kamu pasti gak mau kan dikasih rumah dan tanah yang terlantar ?
Jadi sekalian aja kamu yang ngurus."
Reva tersenyum.
"Om...serius amat sih.
Aku gak pingin rumah Om !"
Sandy balas tersenyum.
"Kita udah deal, Va.
Kamu menang..
Atau aku menang."
Reva menarik nafas panjang.
"Om..."
"Va, kamu menang....rumah itu jadi milik kamu.
Seutuhnya.
Aku menang, rumah itu juga milik kamu juga sebagai bagian maharku.
Jadi..gak ada bedanya." sela Sandy.
"Om...ihh..."
__ADS_1
Reva menarik nafas panjang.
Menenangkan dirinya yang mulai sedikit panik.
"Oke..
Om pasti kalah.
Aku gak pingin kawin sama Om !" katanya sedikit keras untuk menutupi kepanikannya.
Dia sekarang harus Memikirkan strategi untuk mengalahkan Sandy.
Bukannya dia ingin rumah itu.
Tapi dia tidak ingin menjadi istri orang dengan terpaksa.
Michael dan sang notaris sejak tadi memperhatikan percakapan mereka.
Sandy lalu menoleh pada notaris.
"Tolong dilanjutin ya Pak."
Notaris menganggukan kepalanya.
Meneruskan menulis draft surat kepemilikan yang nantinya akan ditandatangani oleh keduanya.
Reva memperhatikan Sandy.
Sandy terlihat santai dan tenang.
Padahal dia baru mengeluarkan hampir enam milyar untuk membeli rumah dan tanah yang kepemilikan nya dibagi dua dengan perempuan yang bukan siapa-siapa untuknya.
Sandy meliriknya sekilas sebelum membubuhkan tanda tangan.
Mata Reva membulat.
Senyum Sandy....
Itu senyum orang yang yakin saat mempertaruhkan semua miliknya di meja judi.
Jantung Reva berdebar.
Siapa yang tidak berdebar saat seseorang baru saja memberikan hampir enam milyar padanya?
Di mobil setelah mereka mengantarkan Reva pulang.
"Kali ini lu agak di luar batas San."
"Apanya ?"
"Itu...
Tadi.
Lu bikin Reva gak punya gerak.
Terpaksa dan mau gak mau jadi istri lu.
Cinta atau tak cinta."
"Ah enggak...
Dia masih bisa menang." jawab Sandy santai.
"Lu bikin dia terikat."
"Emang lu enggak?
Lu dulu juga gak ngomong apa-apa sama Tia waktu masukin dia sebagai penerima deviden dari bagian lu."
"Tia itu pacar gue, San !
Tapi..Reva bukan apa-apa lu." bantah Michael.
"Yaah..
Sekarang dia lawan taruhan gue." senyum Sandy.
Michael diam.
"Mami lu keliatannya lengket sama Cindy." katanya.
Sandy mendesah.
"Lagi-lagi pingin ikut nyampurin hidup gue." katanya.
"Hati-hati lu San.
Kecuali..
Ya kecuali kalo lu nya juga mau sih..." sindir Michael.
"Sama si jalang itu ?
Bahh!!"
"Ya...mana tau..
Kan orang bisa berubah San ...
Bisa jadi..dia kan cinta sama lu sekarang dan ..Ehmm..gak tidur lagi sama orang lain." Michael mencoba memberi opsi.
"Gue tanya lu sekarang..
Seandainya dulu Tia sempet tidur sama Daniel...
kira-kira masih lu kawinin gak ?"
"Gue cinta Tia, San.
Tapi kalo dulu dia tidur sama Daniel..." Michael tidak melanjutkan.
"Gue juga enggak tau.
Mungkin tetap gue kawinin tapi...yah..rumah tangga gue gak akan sebahagia ini.
Pasti ..jadi ganjalan..Dan kalo kami punya anak...ya..gue bakal bertanya-tanya terus..
Anak siapa itu." sambung Michael.
"Persis !
Apalagi..Guenya juga udah ilang rasa.
Gue gak pingin punya istri yang tiap hari gue harus khawatir apakah dia bakal ditidurin orang lain.
Apakah anak yang dia kandung itu beneran anak gue.
Bertanya-tanya apakah mulut dia bekas nampung cairannya orang waktu nyium dia.
Gue gak mau !!
Gue pingin hidup tenang.
Sama istri dan anak-anak gue.
Persis seperti yang lu jalanin sekarang." kata Sandy.
__ADS_1