Kamu Milikku

Kamu Milikku
Masih Di Meja Makan


__ADS_3

"Gimana kalo besok kita main squash ?" kata Aaron memecah keheningan.


"squash ?


Oke." jawab Greg.


"Besok kamu mau ngapain, Va ?" tanya Elle.


"Belajar Elle.


Aku ada ujian setelah pulang dari sini."


"Besok pagi aku mau yoga.


Yuk ikut.


Kamu bisa belajar siang kan ?" ajak Elle.


Reva ragu-ragu.


"Aku gak bisa yoga, Elle"


Elle tertawa.


"Gak susah kok.


Ayo."


"Oke."


"Bagus !"


"Besok pagi kamu mau ngapain, San ?" tanya Helen.


Sandy menoleh.


"Berenang." jawabnya singkat.


"Oh....


Aku juga mau berenang.


Cin kamu mau berenang juga ?" ajak Helen.


"Iya.


Mumpung gak ada yang gangguin." jawab Cindy.


"Siapa yang gangguin kamu, Cin ?" tanya Aaron sambil tersenyum.


"Ya ada aja..


Aku pingin suasana yang tenang." jawab Cindy.


"Memang kalo berenang enakan kosong kolamnya." sahut Daniel.


"Kecuali...kalo kamu pingin ketemu orang." kata Aaron.


"Saan...


Kamu kan punya kolam di rumah baru kamu.


Kapan ngundang aku ke sana ?


Aku pingin nyobain kolamnya." tanya Cindy dengan nada manja.


Bahunya membentur lengan Sandy


"Iya San...


Kapan kamu mau bikin housewarming party ?" pancing Elle.


"Ah..aku gak mau party..


Aku mau privat San.


Mengingat hubungan kita.


Kamu mau kan ngundang aku ?


Kalo party kan..rame.


Aku gak bisa berenang dengan tenang dong."


Sandy membuka mulutnya saat Reva menyambar pertanyaan Cindy.


"Kamu mau berenang ?


Datang aja.


Aku ada kok buat nemenin kamu.


Kan aku tinggal di sana sekarang." kata Reva.


Bibir Cindy ternganga.


"Kamu ?.Tinggal di sana ?"


"Hmm..


Iya.


Tanya aja tunanganku." kata Reva menekankan kata tunangan.


"Iya San ?


Dia tinggal di rumah baru kamu ?"


Sandy mengangguk.


"Iya.


Kenapa ?


Kan kami mau menikah dua bulan lagi."


"Dua bulan lagi ?!


Cepat sekali.


Pasti kamu ya yang pingin cepat ?" tuduh Helen pada Reva.


"Aku yang pingin cepat.


Aku pingin punya keluarga." kata Sandy mendului Reva.


"Tapi kalian kan baru tunangan aja.


Kenapa dia tinggal di rumah kamu ?" tanya Cindy mengejar.


"Kamu gak tau alasannya ?" ejek Reva.


"Hmm...


Pasti kamu yang minta kan ?" balas Cindy.


"Emm..emm.." jari telunjuk Reva bergoyang ke kiri dan ke kanan.


Menolak pernyataan Cindy.


"Aku baru tunangan beberapa minggu lalu.


Tapi kamu kan pernah jadi pacar nya sekian lama.


Masa kamu gak tau karakter Sandy ?" ejek Reva.

__ADS_1


"Emang Sandy kenapa ?" tanya Greg.


Reva menolehkan kepalanya ke Greg.


Dia Lalu menatap Sandy.


Mereka saling berpandangan.


Reva menyipitkan matanya.


Lalu mengangkat dagunya.


"Sandy posesif.


Dia gak suka berbagi.


Mengapa aku di rumahnya ?


Karena dia ingin menjaga miliknya." jawab Reva dengan nada santai.


"Wow..." cetus Elle.


"Kamu seposesif itu San ?" tanya Aaron setengah mengejek.


Sandy menatap Aaron sebelum menjawab.


"Iya." jawabnya.


"Menurutku sih, sebelum kita betul-betul menikah dengan orang, sah-sah aja kok berhubungan dengan orang lain." sela Helen.


"Kamu gak papa nih pacar kamu tidur sama orang lain ?" tanya Elle.


"Aku bilang berhubungan.


Bukan tidur." elak Helen.


"Lagipula...kalian kan belum menikah.


Jadi belum bisa dibilang milik dong."


"Kamu gak nyimak apa yang aku bilang.


Aku bilang... Sandy ingin menjaga miliknya." kata Reva membetulkan.


"Dengan menempatkan kamu di rumah barunya.


Atau..


Kamunya yang minta.." ejek Cindy.


"Aku gak mau ada perempuan lain meminta diundang ke rumah tunangan ku sendirian saja." kata Reva.


"Tapi kamu masih mau nerima hadiah dari Daniel." ejek Cindy.


"Kenapa enggak ?


Aku enggak ngerayu Daniel.


Enggak tidur sama dia.


Daniel mau ngasih hadiah karena aku ngasih pengetahuan baru sama dia.


Jangan samakan aku dengan orang yang merentangkan kakinya pada siapa aja padahal menerima hadiah-hadiah mahal dari pacarnya." sindir Reva.


Cindy memerah karena marah.


Ingin rasanya melempar Reva dengan gelas.


Nafsunya ingin merebut kembali Sandy semakin menjadi-jadi.


Dia betul-betul marah pada Reva sekarang.


Selesai makan malam, Greg menyenggol Elle.


"Kamu sengaja ya ?"


"Itu..kalung buat Reva.."


Elle tertawa.


"Kamu liat pacar Daniel sekarang ?"


"Hmm...." angguk Greg.


"Gak dapet tantenya, keponakannya juga boleh.


Mereka bibit bagus.


Aku menyukainya." kata Elle memandang Reva yang sedang mengobrol dengan Mini dan Jasmine.


"Dia sudah ada yang punya, Elle." kata Greg.


"Masih lama." jawab Elle tidak peduli.


"Sebentar lagi." kata Greg.


"Yaah..namanya juga usaha.


Diusahain dulu.


Liat hasilnya nanti."


"Kamu mau ngejororokin Sandy sama Cindy.


Gak bisa.


Sandy udah gak suka sama dia.


Lagian..kamu tega bener..


Sandy itu baik, jangan sama dia deh.."


"Iya..aku juga gak suka sama Cindy.


Karakter nya sama dengan cewek-cewek yang kayak gitu."


"Terus ?"


"Ya..biarin aja Sandy nyari yang lain.


Lagipula...Reva punya hubungan dekat dengan keluarga Chang.


Itu koneksi yang bagus banget buat Daniel."


Greg menarik nafas.


Elle memang sangat menyayangi Daniel.


Mereka cuma berdua.


Dan hubungan mereka sangat dekat.


Daniel mendekati Reva.


Mereka tampak bertukar kata sebelum Reva digandeng menuju deretan pertokoan.


Banyak mata memandang mereka.


Apalagi saat menyadari bahwa Daniel membawa Reva ke toko perhiasan.


Cindy dan Helen ikut memandang.


Matanya menyinarkan rasa iri.


Daniel, pemilik Maxx Entertainment.

__ADS_1


Lihat saja apa yang terjadi pada Tia.


Walaupun Tia sudah menikahi orang lain, Daniel tetap menjaga hubungannya dengan Tia.


Dan semua orang tau, Daniel belum move on.


Sekarang, Reva, digandeng ke toko perhiasan.


Reva, seperti Tia kedua.


Cantik, pintar dan punya bakat.


Michael menyenggol Sandy lalu mengangguk kan kepalanya ke arah Reva.


Sandy menipiskan bibirnya.


Dia segera berjalan menyusul mereka berdua yang kini sudah memasuki toko.


Sementara itu..


"Aku salut."


Reva mendongak menatap Daniel.


"Salut apa ?"


"Kamu berani adu mulut dengan mereka berdua."


Reva Tertawa kecil.


"Aku gak suka dianggap enteng, Daniel."


"Kamu marah ?"


"Aku kesel setengah mati, Daniel !" jawab Reva cemberut.


"Inget yang aku bilang tadi pagi." kata Daniel.


Reva tidak menjawab.


"Kamu betul-betul mau ngasih aku kalung Daniel ?" katanya setelah beberapa saat.


"Aku gak pernah menarik kata-kata ku, Reva."


"Untuk sharing kita tadi pagi ?" tanya Reva tak percaya.


"Kamu udah nambah pengetahuan ku, Reva.


Kenapa enggak ?"


"Enak ya jadi orang kaya...


Duit tinggal nyebar aja.." kata Reva


Daniel tertawa.


Dia mendorong pintu dan mempersilahkan Reva masuk lebih dulu.


"Ada yang bisa saya bantu ?" tanya staf.


"Saya mau cari kalung untuk gadis cantik ini." kata Daniel kembali meletakkan tangan Reva di sikunya.


Staf tersebut tersenyum.


"Silakan ikut saya."


Lalu dia meletakkan beberapa kotak berisi koleksi kalung eksklusif.


"Kamu mau yang mana?" tanya Daniel.


Reva belum sempat menjawab saat pintu terbuka dan Sandy masuk.


Dia berjalan mendekati Reva dan Daniel.


"Reva.." tegur Sandy.


Reva tidak menjawab.


Matanya menelusuri deretan kalung-kalung.


Daniel saling berpandangan dengan Sandy.


Daniel mengangkat alis.


"Boleh apa aja Daniel ?" tanya Reva mendongak pada Daniel.


Daniel mengangguk sambil tersenyum.


Sandy mendekati Reva.


Berdiri di sampingnya, sengaja menyentuhkan tubuhnya.


Reva bergeser ke kiri mendekati Daniel.


Sandy ikut bergeser.


Reva kembali bergeser dan akhirnya menyentuh Daniel.


Daniel bertatapan dengan Sandy diatas kepala Reva.


Reva masih menunduk menatap koleksi kalung.


Daniel bergeser sedikit memberi ruang Reva untuk melihat koleksi di hadapannya.


"Hmm..aku bingung." kata Reva.


Sandy meliriknya.


"Ini saja...cocok sama cincinnya." tunjuk Sandy pada satu kalung berbandul batu biru yang cantik.


Reva tidak menjawab.


Dia hanya melirik sebentar.


"Mau aku pilihkan ?" tanya Daniel.


"Hmm..."


Daniel menatap deretan kalung lalu menunjuk satu kalung dengan batu ruby berwarna merah dikelilingi berlian kecil dan digantung dengan platinum.


Membuat batu ruby berbentuk oval itu menyolok.


"Bagaimana dengan ini ?


Cocok sama kamu." katanya.


Reva menatap kalung itu.


Dia mengangguk.


"Aku suka warnanya.


Lagipula....aku udah bosan dengan biru." katanya menantang.


Sandy menatapnya.


"Reva !" tegurnya.


Reva tidak menjawab.


Dia memalingkan muka.


Hatinya diliputi kekesalan.


Besok Sandy berenang dan ada Cindy yang menemani.

__ADS_1


Huh !!


...🍓...


__ADS_2