Kamu Milikku

Kamu Milikku
Aku Butuh Kamu


__ADS_3

Di luar.


Sandy berdiri diam menunggu mobilnya diantarkan.


Disebelahnya berdiri Cindy.


Papi Sandy tadinya hendak menemani Sandy.


Tapi Mami menarik dan melarangnya.


Akhirnya sebagai pertahanan terakhir..


"San...Papi sama Mami nungguin kamu di apartemen Michael.


Jangan lama-lama." katanya dengan nada tajam pada Sandy.


"Idiih..Pi...


Gak papa lama juga...


Biarin ah.. mereka anak muda."


"Kamu itu Mi !!


Gak enak dong sama Michael dan istrinya."


"Ya udah..kita pulang aja langsung !" ajak Mami Sandy.


"Gak mau..


Papi mau ngobrol sama Papinya Michael sama Papinya Robert." tolak Papi Sandy.


Papi Sandy lalu kembali menatap anaknya.


"Jangan lama-lama !" katanya sekali lagi.


Sandy mengangguk.


"Iya Pi..."


Cindy diam-diam menarik nafas kecewa.


Tidak bisa lama-lama.


Tapi..sejam harusnya cukup.


Masalahnya... merayu Sandy untuk masuk dan bercinta dengannya.


Itu yang susah.


Mobil Sandy datang.


"Ayo !" ajak Sandy singkat.


Cindy menarik nafas panjang.


Biasanya Sandy akan membukakan pintu mobil, menunggunya hingga duduk, menutup pintu lalu baru masuk ke mobil.


Sekarang dia harus membuka pintu sendiri.


Oke..gak papa.


Nanti...


Segalanya akan kembali seperti semula.


Sandy lalu masuk ke mobil.


"Pake seat belt nya." katanya.


Cindy kembali menarik nafas dalam.


Sebelumnya.. Sandy akan membantunya menarik tali seat belt.


Mencondongkan tubuhnya ke arah Cindy.


Dan sering mencuri satu dua ciuman di bibirnya.


Cindy merasakan perih dihatinya.


Dan kehilangan.


Sandy menjalankan mobilnya.


Saat berbelok, dia melihat mobil Michael menunggunya.


Sandy tersenyum kecil.


Syukurlah.... Michael bisa menjaganya untuk tetap waras.


Beberapa saat kemudian, Sandy berhenti di lobi apartemen Cindy.


Dia tidak masuk parkiran seperti dulu.


"San...di parkiran aja !" ajak Cindy.


"Enggak.


Kan kamu denger.


Papi suruh aku cepat." elaknya.


"Saan...." rayu Cindy.


Jarinya menelusuri dada Sandy.


"Cin...kita udah putus.


Kamu turun deh." kata Sandy menahan sabar.


Tangannya menepis jari Cindy.


Cindy cemberut.


Tapi ini bukan saatnya untuk ngambek.


Dia kembali tersenyum manis merayu.


"San...


Kamu gak kangen ?"


Tangan Cindy kembali meraih leher Sandy.


Menariknya mendekat.


Satu tangannya membelai rahang Sandy.


Ahh..betapa rindunya dia.


Sandy kembali menepis tangan Cindy.


"Cin .." katanya.


Cindy cepat menangkap telapak tangan Sandy.


Dibawanya membelai belahan dadanya yang terbuka.

__ADS_1


Sandy cepat-cepat menarik tangannya.


Dia laki-laki biasa.


Bisa khilaf walaupun tidak cinta.


"Turun Cin..


Atau aku yang turun." katanya.


Dia pun membuka seat beltnya.


Cindy menghembuskan nafas dengan kasar


"Kamu nuduh aku selingkuh.


Iya..aku selingkuh.


Tapi...


Kamu juga selingkuh !


Kamu selingkuh sama keponakan Tia !"


"Aku gak tidur sama dia." jawab Sandy pendek.


Cindy tertawa.


"Itu sih nunggu waktu aja San !"


"Ya..terserah kamu.


Yang jelas..


Dia bukan gadis seperti itu."


"Kita liat aja, San !"


Pokoknya kamu harus balik sama aku.


Harus !!" tekad Cindy.


"Cin...let it go.


Sudah selesai.


Tamat.


Kisah kita ini udah gak bisa dilanjutkan lagi.


Aku udah gak punya perasaan apa-apa lagi sama kamu Cin.


Coba deh..


Kamu singkirin ego kamu.


Kamu pasti bisa menyadari...


kalo kamu..gak cinta banget sama aku.


Kamu cuma ngerasa...." Sandy menghembuskan nafasnya.


Sandy diam sebentar.


"Kamu cuma ngerasa marah..karena..


Yang dulunya milik kamu sekarang sudah bukan milikmu lagi." sambung nya.


Cindy memandang Sandy.


Kamunya yang gak percaya.


Karna emang..aku akuin sih..


Aku salah.


Aku memperlakukan kamu seperti itu. "


"Cin..


Kalo emang aku cinta..walaupun kamu perlakukan aku seperti sampah pun..


aku tetap terima.


Tapi..karna aku gak cinta, kamu manis seperti ini pun...enggak bisa mengubah rasa dalam hatiku." jawab Sandy.


Cindy menatap Sandy, mempelajari wajahnya.


"Aku gak terima kamu berubah.


Kamu gak berubah San.


Kamu cuma...ehm...tergoda.


Tapi itu cuma sebentar San.


Kamu pasti akan balik ke aku..


Tapi kamunya harus kasih kesempatan buat kita.


Kasih waktu buat aku untuk membangun lagi cinta kita San..!!" bujuk Cindy.


"Sudahlah Cin.


Sudah selesai.


Kamu turun deh.


Atau aku yang turun." Sandy mulai bersiap membuka pintu mobil.


Dia lelah.


Cindy menatapnya.


Lalu turun dari mobil.


Tanpa berkata-kata apa-apa dia berbalik dan masuk ke lobi.


Sandy kembali memakai seatbelt-nya.


Dia melirik ke spion.


Melihat mobil Michael di sudut belokan.


Lalu menyetir keluar kompleks apartemen.


Michael mengikutinya dari belakang.


Mereka lalu berbelok ke kompleks apartemen Robert.


Keluarga mereka sedang berkumpul di apartemen Robert.


Mereka bertemu di parkiran.


Michael merangkul dan menepuk pundaknya.


Memberi dukungan.

__ADS_1


Sama seperti dulu saat dia sedang memperjuangkan Tia.


Sandy dan Robert mendukungnya tanpa batas.


Tanpa syarat.


Sandy bersyukur memiliki keduanya.


Dua jam kemudian


Sandy pulang bersama kedua orang tuanya.


Di jalan Papi mengisi kesunyian dengan cerita-ceritanya.


Sandy menanggapi sesekali.


Sementara Mami diam seribu bahasa.


Sibuk dengan pikirannya sendiri.


Saat sampai di apartemen, Sandy menemani Papi Maminya masuk ke apartemen.


Lalu pamit.


"Mau kemana?" tanya Papi.


"Ke rumah teman sebentar, Pi.


Ada perlu."


"Udah malam San..."


"Iya..nanti kalo perlu, Sandy nginep disana.


Papi tenang aja." jawab Sandy lalu langsung keluar.


Sandy menyetir mobilnya menuju apartemen Reva.


Dia parkir di seberang jalan.


Mematikan mobilnya.


Lalu bersandar.


Menatap kegelapan jendela Reva.


Reva sudah tidur.


Gadis ini seperti tali penyelamat arah hidupnya.


Melihat dari luar apartemen nya saja sudah cukup meredakan gundah di hatinya.


Sandy duduk diam di dalam mobilnya. Matanya terus menatap jendela apartemen Reva.


Setengah jam kemudian..


Sebuah mobil berhenti di sebrang jalan.


Terdengar suara tawa sebelum sosok Reva keluar dari mobil itu.


Mereka bertukar kata sebelum Mobil melaju pergi.


Reva berdiri sejenak. Menunggu mobil itu hilang dari pandangan sebelum berbalik menuju apartemennya.


Sandy menegakkan tubuhnya.


Apa-apaan itu ?!


Reva mengenakan gaun pendek dan sepatu berhak.


Tangannya menjinjing tas kecil.


Kelihatannya baru pulang dari pesta.


Jadi....dia tidak datang ke acara makan malam keluarga cuma untuk pergi pesta ??


Sandy turun.


Bibirnya menipis.


Reva sedang memasukkan password apartemen nya saat mendengar suara gemerisik.


Dia mengangkat wajahnya.


Dan terkesiap kaget.


"Om !!" katanya.


Lalu menatap Sandy yang berjalan mendekat.


Matanya yang bulat semakin membulat saat melihat ekspresi Sandy.


Pintu berbunyi.


Reva mendorong pintu hingga terbuka.


Memberanikan diri, dia menegakkan tubuhnya.


Menghadap ke arah Sandy.


Dia.. bagaimanapun pemegang sabuk hitam karate.


"Masuk Om ?" tanyanya.


Sandy menatap Reva.


Dia tidak menjawab.


Hanya mengikuti Reva masuk.


Melirik arlojinya.


Sudah pukul dua malam.


Ngapain aja anak ini baru pulang jam segini ?!


Pintu tertutup.


Reva berbalik.


"Om mau minum ?" tanyanya.


Sandy maju mendekati Reva.


Jarinya melepaskan tas tangan Reva lalu melemparnya ke sofa.


Dia meraih tubuh Reva.


Mendekatkan nya ke tubuhnya sendiri, memeluknya dengan erat.


Sandy maju, memepet Reva ke dinding.


Mengangkat Reva hingga sejajar dengan kepalanya lalu menyurukkan wajahnya di leher Reva.


"Va...aku butuh kamu." bisiknya.


...☘️🍇🍉...

__ADS_1


__ADS_2