Kamu Milikku

Kamu Milikku
Kerja Sampingan


__ADS_3

Selama tiga minggu berikutnya, Sandy sibuk sekali.


Walaupun selama di Indonesia dia bekerja, tapi ada banyak hal juga yang mau tidak mau harus dia serahkan pada Josh.


Dia jadi sering lembur di kantor.


Pulang malam.


Tapi tetap saja memegang janjinya pada Reva, Sandy menjemput Reva setiap pagi dan mengantarkan ke kampus.


Dan siang hari, dia berusaha menyempatkan diri untuk mengajak Reva makan.


Itu..kalau keduanya punya waktu.


Reva pun tak kalah sibuk.


semester ini dia membuat target ingin menjadi asisten dosen.


Persaingan nya ketat.


Dan dia tau diri.


Dia mahasiswa asing.


Artinya, untuk bisa meraih posisi itu, dia harus bekerja dua kali lebih keras dari mahasiswa lokal.


Tapi Reva tidak lupa pada janjinya bekerja sampingan di Methrob.


Yang disambut dengan senang hati oleh para anak-anak Methrob.


Jadi setiap hari Selasa, Kamis dan Jumat dia akan datang sore hari dan membuat kan kopi, teh, makanan kecil atau bahkan memanggang kue di oven yang dibeli oleh Tia.


Setiap Jumat, Tia pun datang bersama Biliyan dan anak-anak mereka.


Dan pantry pun menjadi ramai dengan kegiatan mereka.


Hari ini hari Selasa.


Reva terlambat datang.


Dia harus menyelesaikan tugas kelompoknya dulu.


Seperti Biasa, Reva membuat kopi dan teh, menyiapkan kue dan cemilan lalu meletakkan nya di meja pantry.


Saat ini dia sudah selesai dan mulai membaca kembali diktatnya di kursi pantry.


Josh masuk.


"Hai, Va." sapanya.


Reva mengangkat wajahnya.


"Josh..!" senyumnya.


"Mau apa ? Kopi ? Teh ?"


"Kopi.


Ehmm...


Steven kayaknya gak sempet ngambil kopinya.


Kamu sibuk gak ?


Bisa nganterin ke ruangannya ?" kata Josh.


Josh tadi mengintip ke dalam ruangan Steven.


Steven nampak sibuk sekali.


Josh lalu mendapat ide untuk mengirimkan Reva ke ruangan Steven. Sebagai pengalih perhatian.


"Oh..oke


Steven pake gula sedikit ya ?" tanya Reva.


"Iya."


Reva menyiapkan satu cangkir kopi lalu meletakkan kue di piring kecil.


Reva lalu berjalan menuju ke ruangan Steven.


Tok..tokk...


Reva mendorong pintu lebih lebar lalu menjulurkan kepalanya.


Steven mengangkat kepalanya.


Dia rupanya sedang sibuk.


Dahinya mengernyit dan bibirnya mengerucut.


"Steve..aku nganterin kopi.


Kata Josh kamu gak sempat ngambil."


Steven mengangguk.


Matanya kembali menatap monitor.


Reva masuk membawa nampan lalu mengatur cangkir kopi dan kue.


"Kamu sibuk, Va?" tanya Steven.


Matanya masih menatap monitor.


"Iya."


"Belajarnya disini aja.


Temenin aku." kata Steven.


Tangan Reva berhenti mengatur.


"Jangan ah..


Nanti aku ganggu."


"Enggak.


Kamu disini aja."


"Aku gak papa di pantry.


Enak. Banyak makanan."


Steven berhenti.


"Aku butuh kamu buat nyari inspirasi." katanya menatap lurus ke Reva.


Reva memerah.


"Kamu punya banyak sumber inspirasi, Steve.

__ADS_1


Jangan bikin geer ah !"


"Kamu disini.


Sana..ambil diktat sama laptop kamu.


Aku tunggu !" kata Steven lalu matanya kembali menatap monitor.


Reva menghela nafas.


Dia keluar.


Lima menit.


Tujuh menit.


Sepuluh menit.


Dua belas menit.


Steven beranjak dari kursinya.


Dia berjalan ke pantry dan menemukan Reva sedang menekuri laptop dan diktatnya.


"Kan aku bilang ke ruanganku !" katanya.


Reva mengangkat kepalanya.


"Kan aku bilang, aku gak mau ganggu !" katanya.


Steven membuang nafasnya.


Dia mendekati meja pantry lalu mengangkat laptop Reva.


"Eh....eh...


Steve !!"


Steven terus berjalan menuju ruangannya sambil membawa laptop Reva.


Reva mengikuti dari belakang dengan membawa diktatnya.


Steven meletakkan laptop itu di meja di hadapannya.


"Kamu disini." perintahnya.


Reva tetap berdiri di pintu.


Lalu berbalik.


Pinggangnya ditangkap.


"Mau kemana?" kata Steven pelan di telinganya.


Reva mendongak.


Menepis tangan Steven.


"Katanya mau ditemenin.


Aku ambil buku dulu." kata Reva sambil berjalan menjauh dari Steven.


Steven tersenyum kecil.


Reva kembali beberapa saat kemudian membawa buku dan kabel.


Steven menolongnya menancapkan kabel di steker.


Mereka berdua berdiam diri.


Beberapa kali Steven mengangkat matanya.


Memandang Reva. Menikmati keindahan di depan matanya.


Hidung mancung, dagu terbelah, alis yang melengkung indah, bulu mata lentik.


Dan bibir yang sedang berkerut itu.


Nampaknya si Pemilik bibir sedang berfikir keras.


Steven tersenyum kecil.


Dia yakin, sebelum dia, Reva belum pernah dicium.


Reva tidak pernah membalas nya.


Rasanya...polos.


Steven menginginkan nya lagi.


Yang jelas tidak disini.


Bisa ngamuk Michael kalau tau dia mencium keponakan nya di kantornya sendiri.


Dimana ?


Hmm....


Mungkin Minggu besok dia akan menculik Reva ke..


Dia perlu merencanakan perjalanan nya.


Steven kembali tersenyum.


Matanya masih menatap monitor.


"Memang ada yang lucu di sana ?"


Steven mengangkat matanya.


Si cantik itu sedang menatapnya.


Steven menegakkan tubuhnya, menatapnya lurus-lurus.


Menikmati tatapan Reva padanya.


Reva memerah.


"Kamu tuh ditanya..


Dijawab dong !" gerutu Reva kembali menunduk.


Steven tersenyum lebar.


"Kalo aku jawab, gak ada yang lucu.


cuma aku lagi mikirin kamu ?"


Reva cemberut.


Dia tidak menjawab.


Tidak perlu dijawab.

__ADS_1


Steven sedang mempermainkannya.


"Hmm..Va?!


Kok gak ditanggapi.


Padahal aku udah jawab baik-baik." kata Steven.


Reva memalingkan muka.


Steven terkekeh.


Reva melempar tissue padanya.


Kekehan Steven makin kencang.


"Gak perlu ditanggapi yang kayak gitu." gerutu Reva.


Mereka kembali berdiam diri.


Sibuk dengan pekerjaan nya sendiri.


Pintu terdorong.


Mereka berdua mengangkat kepala.


"Lho..Reva.


Ngapain disini ?" sapa Robert.


Reva membuka mulut.


"Saya yang nyuruh dia kesini.


Daripada di pantry." jawab Steven mendului.


Sandy berada di samping Robert.


"Kamu kan bisa pake ruanganku, Va." kata Sandy.


"Oh...enggak kok Om..


Aku emang mau diskusi sedikit sama Steven." jawab Reva sambil menatap Steven.


"Sebentar lagi aku selesai." sambungnya.


"Oke...


Kita pulang bareng, Va.


Om Michael bawain titipannya Tia buat kamu." kata Robert.


"Oke Om .


Bentar ya...


Tanggung nih."


"Oke." jawab Robert sambil meninggalkan pintu ruangan Steven.


Sandy masih tetap di sana sebentar mengamati keduanya lalu pergi tanpa mengatakan apa-apa.


"Apa maksud kamu, Va ?" tanya Steven tidak senang.


"Apa yang aku maksud? "


"Aku gak perlu dilindungi cuma gara-gara minta kamu duduk di ruanganku !"


"Aku gak ngelindungi kamu !" bantah Reva berbohong.


Dia berdiri.


Menutup laptopnya, mencabut kabel lalu menyusun bukunya diatas laptop.


"Makasih udah dibolehin duduk disini." kata Reva lalu cepat-cepat keluar.


"**** !!" maki Steven sambil memukul mejanya.


Reva mengambil tasnya di pantry lalu berjalan cepat menuju ruangan Michael.


Mencari perlindungan.


Setidaknya Steven tidak akan berani mencarinya disini.


"Om..." sapanya saat memasuki ruangan.


Michael menoleh lalu tersenyum.


"Bentar ya Va... katanya.


"Santai aja, Om." jawab Reva sambil kembali membuka laptopnya.


Dia tadi belum men shut down laptop nya.


"Di sini, Va." tunjuk Michael ke meja di hadapannya.


"Iya Om..." Reva mengangkat laptopnya.


Lupa bahwa buku dan diktatnya ada dibawah laptop itu.


Bukunya jatuh berserakan.


Termasuk catatan-catatan kecil.


"Aduhh.." keluhnya.


Di belakangnya Sandy berlutut memunguti kertas-kertas nya.


Reva menoleh.


"Gak papa Om..." kata nya.


"Tia nitipin apa, Kel ?


Lu taro aja di mobil gue.


Reva pulang sama gue.


Sekalian makan malam." kata Sandy tidak menanggapi perkataan Reva.


Michael menganggukan kepalanya.


"Oke.


Kamu jadinya pulang sama Om Sandy ya, Va."


"Iya Om..." jawab Reva pasrah.


Berdoa semoga Sandy tidak mempermasalahkan lagi dia yang tadi duduk di ruangan Steven.


Tapi Sandy memang tidak ingin mempermasalahkan nya.


Dia tidak ingin memojokkan Reva dan akhirnya akan membuat Reva menjadi tidak nyaman dengannya.

__ADS_1


Dia ingin Reva yakin bahwa dia akan bahagia bersamanya.


...🌄🍇🎋...


__ADS_2