Kamu Milikku

Kamu Milikku
Jumpa Pers


__ADS_3

Reva menjawab dengan lancar semua pertanyaan-pertanyaan wartawan.


Semua berkisar tentang pembuatan lagu, proses rekrutmen dia sebagai drummer dan status dia sebagai mahasiswa yang memiliki prestasi.


Satu pertanyaan dari seorang wartawan.


"Ada rumor..bahwa anda merebut kekasih Cindy Tan.


Apa itu benar ?"


Reva dan teman-temannya beserta manager mereka terhenyak dengan pertanyaan itu.


Mereka saling berpandangan.


Manager sudah akan mengambil alih jawaban saat Reva mengangguk, mengisyaratkan bahwa dia yang akan menjawab pertanyaan itu.


"Saya tidak pernah merebut kekasih Cindy atau siapapun.


Hubungan diantara mereka adalah urusan mereka sendiri.


Kami satu agensi.


Tidak baik jika ada konflik."


"Tapi mereka putus karena ada Anda ?" kejar si wartawan.


Reva menatap wartawan itu


Jauh dibelakang dia melihat Steven sedang menatapnya.


Dia menunduk, mendekatkan bibirnya ke mic lalu menjawab.


"Tidak benar."


"Tapi anda memiliki hubungan dengan Sandy ?" kejar wartawan yang lain.


Ini berita gosip hot.


Lebih hot dibanding launching tiga lagu baru SHE.


Reva kembali menatap Steven.


Berdehem.


"Dia...ehem..dia..."


Manager mengambil alih.


"Iya..cukup pertanyaan pribadi untuk Reva.


Next.."


Sandy menipiskan bibirnya.


Dia menatap dari kejauhan.


Menonton acara jumpa pers itu.


Melihat arah pandangan Reva saat menjawab pertanyaan wartawan.


Ada Steven disana yang juga menatap Reva.


Dia tetap berdiri di tempatnya saat jumpa pers SHE selesai dan digantikan langsung dengan jumpa pers dari drama terbaru Cindy.


Sayup-sayup terdengar suara wartawan yang bertanya kepada Cindy.


"Tadi anda datang bersama Sandy..


Apa kalian kembali merajut hubungan ?"


Beberapa meter dari sana, langkah Reva terhenti mendengar pertanyaan itu.


Lalu dia melanjutkan langkahnya.


Tidak ingin mendengar jawaban pertanyaan itu.


Sandy sedang menatapnya.


Langkah Reva terhenti.


Mereka saling menatap.


Dari speaker terdengar jawaban Cindy.


"Ya...kami tadi memang datang bersama."


Reva memalingkan muka.


Dia meneruskan langkahnya melewati Sandy.


"Reva." panggil Sandy.


Reva menghentikan langkahnya sejenak.


Lalu melanjutkan kembali.


Dia tidak menoleh.


Dalam beberapa langkah Sandy mengejar.


Pinggang Reva ditangkap.


"Mau kemana ?" katanya.


"Bukan urusan Om !!" dorong Reva.


"Urusan kamu jadi urusan Aku sekarang."


"Om urus aja pacar Om itu !" dorong Reva kembali kali ini lebih kuat.


"Reva !!"


Sandy dengan gusar meninggikan suaranya.


Keributan mereka berdua mengundang perhatian orang.


Beberapa orang menoleh.


"Aku gak punya pacar !


Aku punya tunangan." desis Sandy marah di telinga Reva.

__ADS_1


Reva kembali mendorong dada Sandy.


"Oiya ..urus aja tunangan Om itu."


"Aku ini lagi ngurus tunangan ku yang tadi pergi menghilang sama mantan pacarnya." kata Sandy kembali meninggikan suara.


Dia sudah emosi.


Reva berhenti mendorong.


Sandy menatapnya dengan marah.


Lalu memandang ke sekeliling.


Jumpa pers sudah berhenti.


Kamera-kamera diarahkan pada mereka berdua.


Semua orang menatap mereka.


Sekilas dia melihat Steven yang sudah bergerak hendak menuju Reva.


Sandy menyipit.


Lalu dia mengambil keputusan.


Dia menunjuk wartawan yang tadi bertanya pada Reva dengan jarinya.


"Kamu tadi bertanya tentang hubungan ku dengan Reva kan ?"


Si Wartawan mengangguk tercengang.


Dari sudut matanya Sandy melihat Steven berhenti melangkah.


Steven menatap mereka dengan tegang.


Sandy memegang bahu Reva dengan kedua tangannya.


"Ini tunanganku.


Cuma dia satu-satunya."


Sandy lalu mengeluarkan cincin dari sakunya.


Membuka kotaknya.


Semua orang terkesiap saat melihat cincin yang ada di dalamnya.


Sandy menarik tangan Reva.


Dengan cepat diselipkannya cincin itu ke jari manis Reva.


Sandy tersenyum tipis.


Lampu blitz berpijar-pijar.


Semua menangkap momen itu.


Sementara Reva masih menatap cincin di jarinya dengan tercengang.


Dia mendongak.


"Senyum, Va..


Reva menolehkan kepalanya ke para wartawan, juru kamera dan semua orang yang menontonnya.


"Oiya...asal kamu tau..


Sekali cincin ini tersemat di jari kamu, kamu gak akan bisa lepas dariku Va !" desis Sandy lagi, masih tersenyum pada kamera.


Tapi kali ini nadanya begitu dingin.


Reva terkesiap.


Reva kembali menatap cincinnya.


Lalu menatap penontonnya.


Melihat Steven yang berdiri dengan shock terlihat jelas di matanya.


"Tapi tadi anda datang dengan mantan kekasih anda ?" kejar wartawan yang masih penasaran.


Sandy melirik sejenak pada Cindy yang menatapnya dengan wajah pucat.


Lalu menjawab.


"Saya tadi bertemu di karpet merah.


Itu saja."


"Anda putus dengan Cindy karena Reva ?"


"Enggak..


Saya putus dulu dengan Cindy.


Dan baru beberapa lama ini menjalin hubungan dengan Reva."


"Tapi anda langsung memutuskan untuk bertunangan ?"


Sandy tersenyum.


"Bukan cuma memutus kan bertunangan..


Saya memutuskan untuk menikahi dia.


Dalam waktu dekat."


"Tapi Reva masih kuliah."


"Ah..saya enggak bakal jadi pengganggu buat dia. Saya sangat mendukung dia.


Dari dulu. Dari sejak awal saya mengenal dia."


"Reva...


Berarti anda mengakui memiliki hubungan dengan Sandy ?"


Reva yang terkejut karena sejak tadi hanya mendengarkan Sandy, menjawab dengan gagap.


"Eh..ii...iya."

__ADS_1


Tangannya digenggam erat oleh Sandy.


"Apa anda yang menghancurkan hubungan Sandy dengan Cindy ?"


Reva ternganga mendengar pertanyaan yang memojokkan dirinya itu.


Sandy mengambil alih menjawab.


"Sebelum berhubungan dengan saya, Reva punya pacar.


Jadi tidak benar dia yang menghancurkan hubungan saya dengan Cindy.


Dan saya sudah lama putus dengan Cindy.


Saya gak perlu katakan disini penyebab saya putus dengan Cindy.


Itu antara saya dan Cindy.


Yang jelas..saya enggak selingkuh saat bersama Cindy.


Sudahlah gak usah diungkit-ungkit lagi."


"Tapi... katanya... Cindy masih mencintai anda."


Wajah Cindy memerah malu mendengar pertanyaan itu.


"Saya sudah dimiliki gadis ini." kata Sandy tenang.


Reva mendongak saat mendengar perkataan Sandy.


Ya ampuuun...romantis sekali sih Om !, batinnya.


Bibirnya tersenyum.


Dia menegakkan dirinya.


Sandy menunduk menatapnya.


Mereka saling berpandangan.


Cincin safir biru yang melingkari jari Reva nampak menyolok.


Kamera kembali menangkap momen itu.


Manager Reva akhirnya mengambil alih.


Mereka diminta berpose dengan cincin yang sekarang melingkar di jari manis Reva.


Jumpa pers drama akhirnya dilanjutkan.


Cindy dengan wajah memerah menegakkan dirinya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan.


Tim humas Maxx Entertainment memutus semua pertanyaan yang mengarah pada pribadi Cindy.


Karena kejadian ini, drama yang baru akan rilis beberapa hari lagi malah sudah terlihat ratingnya.


Semua penasaran dengan drama dan aktrisnya.


Reva dikelilingi oleh teman-temannya.


Tangan Reva berkali-kali diangkat oleh teman-temannya untuk melihat lebih dekat cincin safir berwarna biru yang melingkar di jari manisnya.


"Va... sumpah...


Itu lamaran paling romantis yang pernah aku liat !" kata Esse.


"Va.... Sandy romantis banget..Beruntung lho..kamu dapetin dia." kata Mini.


"Bener !


Dia gak nanya.


Dia langsung aja masang cincin di jari kamu.


Kayak udah yakin kalo she's the one.." kata Selina


"Iya Va...


eh... kamu hati-hati sama pelakor.


Sandy kan ganteng banget.. Apalagi gara-gara ini jadi ketauan kalo dia tajir melintir." kata Jasmine.


"Pantes... Cindy gak mau ngelepasin dia." kata Selina.


Reva mencibir.


"Apanya yang gak mau ngelepasin.


Dia yang selingkuh kok !"


Upps..


Reva langsung menutup mulutnya.


Teman-temannya memandangnya.


"Jadi bener isunya ?" bisik Mini.


"Mulutku terkunci." jawab Reva.


Mini menatapnya.


"Berarti bener." putusnya.


Di sisi lain...


"Sumpah...San...


Lu romantis banget sih.


Dapet aja momen buat ngiket anak orang." kata Robert.


Sandy tersenyum tipis.


Dia tidak menjawab.


Dia masih marah dengan menghilangnya Reva berdua saja dengan Steven.


Nanti dia akan mencecar Reva.


Reva menghilang terlalu lama.

__ADS_1


Bersama mantan pacar nya.


...🌴🎀☘️...


__ADS_2