Kamu Milikku

Kamu Milikku
Gadis Ini Berarti Untuknya


__ADS_3

Sampai satu jam berikutnya, Reva masih belum muncul di pantai.


Steven berkerut.


Dia lalu beranjak masuk ke villa.


Villa itu sangat luas.


Ada lima belas kamar.


Sebetulnya itu hotel kecil mewah yang disewa seluruhnya oleh Methrob untuk kepentingan privacy Mereka.


Steven membuka satu demi satu pintu kamar.


Memanggil Reva.


Lalu berhenti di satu kamar yang pintunya terbuka.


Tampak Reva sedang tidur.


Balkon terbuka lebar.


Angin kencang berhembus.


Steven masuk.


Tadi, setelah ditinggal, Reva membuka balkon.


Menikmati indahnya hutan di kejauhan.


Dia duduk di sofa di balkon.


Dan merasa mengantuk.


Reva lalu masuk.


Merebahkan dirinya di kasur.


Awalnya hanya ingin tidur-tiduran saja.


Tapi rasa kantuk mendera.


Lama-lama diapun jatuh tertidur.


Steven menatap ke bawah.


Pada Reva yang sedang tertidur.


Kepalanya menoleh ke kanan.


Satu tangannya menekuk menyentuh dahinya.


Tangan satunya berada di perut.


Rambut panjangnya tergerai berantakan diatas bantal.


Wajahnya tenang.


Nafasnya teratur.


Reva nampak muda sekali. Sekaligus..sensual.


Steven duduk di tepi kasur.


Berlama-lama menatap wajah yang diam-diam dia rindukan tapi tidak mau diakuinya.


Steven orang yang berhati-hati.


Dia selalu mengolah segalanya lebih dulu sebelum mengakui sesuatu.


Tapi yang satu ini...jauh di dalam benaknya, dia mengakui bahwa tanpa diolah pun dia sudah tau.


Dia menyayangi gadis ini.


Gadis ini berarti untuknya.


Angin kembali berhembus.


Rambut Reva beterbangan.


Steven menepiskan rambut dari dahi Reva.


Perlahan dia membungkuk.


Mengecup ringan dahinya.


Steven bangkit, menutup pintu balkon lalu keluar kamar.


Berbalik dan menemukan Sandy sedang menatapnya.


"Ngapain?" tanya Sandy dengan suara datar.


"Reva tidur.


Aku nutup pintu balkon biar gak masuk angin."


jawab Steven dengan sama datarnya.


Steven mengamati Sandy.


Sandy pun mengamati Steven.


Sandy bergerak melewati Steven hendak membuka pintu.


Steven bergerak sedikit.


Tangannya menghalangi tangan Sandy.


"Dia tidur."


"Aku mau memastikan dia baik-baik saja." jawab Sandy.


"Dia baik-baik saja.


Aku sudah memastikan nya." jawab Steven.


Sandy menatap tajam.


Steven tak bergeming.


Balas menatap Sandy.


"Dia tidur.


Jangan diganggu." kembali Steven berkata.


Mereka saling menatap.


"Haii...


lagi ngapain ?" sapa Tia.


Sandy dan Steven menoleh bersamaan.


"Kenapa kalian disini ?" tanya Tia lagi sambil tersenyum.

__ADS_1


Merasakan ketegangan diantara Sandy dan Steven.


"Ah enggak.


Steven bilang, Reva tidur.


Aku mau memastikan aja." jawab Sandy santai.


Tangan nya dimasukkan dalam saku celana.


"Oo..Reva tidur.


Coba aku liat..: jawab Tia santai, melewati Sandy dan Steven lalu membuka pintu perlahan.


Tia melihat Reva yang berbaring.


Dia lalu masuk membuka pintu lebar-lebar agar Sandy bisa melihat sendiri.


Reva masih tidur dengan tenang.


Posisinya sama seperti saat Steven meninggalkan nya tadi.


Tia berjalan pelan keluar kamar.


"Yuk.. kelihatannya dia capek." senyum Tia.


"Iya. Tadi dia gak tidur di pesawat.


Aku tidur." jawab Sandy sekilas kembali melihat ke dalam kamar.


Steven berjalan pergi terlebih dulu, meninggalkan Tia dan Sandy.


Dia kembali ke kamarnya.


Terus menuju balkon. Menatap lautan.


Bibirnya tersenyum.


Dia bisa melihat Reva lagi.


Ditempat lain.


Cindy melihat-lihat stargram Tia lalu Anna, Michael dan semua orang di Methrob yang dia tau.


Kelihatannya mereka sedang berlibur di Indonesia.


Cindy mencari foto Sandy.


Ada satu.


Foto bersama.


Cindy mencari satu orang lagi.


Tidak ada Reva.


Syukurlah...


Gadis itu tidak ada.


Tapi...


Kenapa Sandy tidak mengajaknya ?


Cindy melihat ada tunangan Anna di sana.


Paling tidak Sandy kan bisa mengatakan padanya kalau kantornya akan berlibur ?!


Bibir Cindy cemberut.


Cindy mengetik.


Michael dan Robert memandang Sandy.


"Apa ?" tanya Sandy.


"Urusan lu belum beres San !" cetus Michael.


Sandy memandang lautan.


"Reva tau."


"Tau apa?"


"Tau semua."


"Semua...muanya ?!"


Michael dan Robert tercengang.


Sandy mengangguk.


"Dia tau sendiri atau...." Michael tidak melanjutkan.


"Gue cerita.


Semuanya.


Gak ada yang gue tutupin.


Kalo gue mau mulai, gue pingin dimulai dengan segala sesuatu yang clear."


Michael dan Robert diam.


Salut dengan keberanian Sandy untuk berterus terang.


"Reaksinya Reva gimana ?"


Sandy tersenyum.


"Malah cekikikan.


Dia masih ingat ngeliat Cindy sama Aaron waktu itu.


Gue diledekin.


Sialan tu anak."


"Terus ?"


"Terus ?


Sekalian gue kasih ponsel gue sama dia.


Suruh dia yang ngejawab semua pesan dari Cindy."


"Mau ?"


"Awalnya enggak.


Katanya enggak enak.


Gue paksa.


Mau juga.

__ADS_1


Malah ngerjain gue."


Michael tersenyum.


"Reva anak yang periang."


"Iya.


Gue menikmati berada di dekat dia.


Gue..belum pernah ngerasa selepas ini.".jawab Sandy.


Robert dan Michael menatap Sandy.


"Lu emang lebih cerah.


Lebih bahagia.


Lebih plong." kata Robert.


"Ya...gue emang ngerasa lebih bahagia.


Gue..."


Sandy menunduk, menatap ponselnya yang bergetar dengan pesan masuk.


Cindy.


Dahinya sedikit berkerut.


"Siapa?" tanya Michael.


"Cindy.


Dia tanya kenapa gue gak kasih tau kalo kita semua mau liburan ke Lombok.


Kenapa gak ngajak dia ?


Padahal Anna aja ngajak tunangannya.


Dia ngambek."


Michael dan Robert memerhatikan wajah Sandy dengan seksama.


Mencari-cari tanda kekhawatiran, takut bila ditinggal Cindy. Tanda-tanda masih mencintai.


Sandy mengangkat kepalanya menatap kedua sahabatnya.


Dia meletakkan kembali ponselnya.


"Nanti aja biar Reva yang jawab." katanya sambil tersenyum.


"Reva gak marah ?"


"Enggak."


"Tapi...?" Robert penasaran.


"Tapi dia masih belum bisa percaya gue.


Menurut dia, selera gue bukan dia.


Selera gue itu ya.. cewek-cewek model Cindy." kata Sandy.


Sandy diam memandang lautan.


"Padahal gue muak sama cewek-cewek model begitu.


Amit-amit kalo dapet yang kayak gitu lagi."


Michael menyipitkan matanya


"San.. lu sahabat gue.


Reva itu.....adik ipar gue." kata Michael.


"Ipar gue juga.." kata Robert.


"Kalo sampe ada apa-apa sama Reva, lu punya urusan sama gue." kata Michael.


"Bukan cuma karena dia adik ipar kami, San.


Tapi gue pribadi, suka sama Reva.


Hampir semua orang di kantor ini suka sama Reva.


Jadi..lu hati-hati sama dia.


Dia sakit, kita semua sakit." kata Robert pelan.


"Kalian gak percaya sama gue ?" tanya Sandy datar.


"Reva bener.


Dia bukan tipe lu.


Lu langsung jatuh cinta saat itu juga sama Cindy begitu ketemu.


Lu udah kayak budaknya dia.


Lu lupa sama kewajiban lu di kantor cuma gara-gara dia manggil lu.


Lu gak peduli, tutup mata, tutup telinga walaupun lu tau semua orang gak suka sama dia.


Personal tu cewek ancur.


Lu tau tapi lu gak peduli.


Dan sekarang..lu pingin kita percaya lu suka sama cewek yang berbeda seratus delapan puluh derajat sama cewek yang bisa ngebudakin lu dulu?


Gak semudah itu San.." papar Michael panjang lebar.


Sandy memerah.


"Ternyata Gue bergaul sama orang-orang pinter.


Reva juga bilang begitu."


"Yaah...


honestly...gue lebih percaya sama dia." kata Robert menganggukkan kepalanya pada Steven yang sedang berjalan bersama Josh.


"Yaah..


Lu selesein dulu masalah lu sama Cindy.


Abis itu...


Lu bersihin dulu hati lu.


Pastikan bahwa ini bukan euforia karena lepas dari Cindy."


"Lu sama Reva kontak-kontakkan ?" tanya Sandy pada Michael.


"Enggak

__ADS_1


Kenapa?"


"Omongan lu persis sama kayak dia." jawab Sandy kalem.


__ADS_2