
Hari sudah siang saat Reva terbangun.
Badannya terasa segar.
Dia merentangkan tangannya.
Melemaskan otot-otot yang kaku.
Dia menoleh dan menemukan Steven sedang menatapnya.
Reva tersenyum pada Steven.
Steven berkedip.
Lalu berkedip lagi.
Jadi seperti ini penampakan seorang gadis yang baru bangun tidur.
Bagaimana rasanya kalau dia yang berbaring disampingnya?
Menemukan gadis ini tersenyum manja padanya setelah malam yang...
Steven mendehem.
Mengusir angan dari kepalanya.
Reva bangkit.
Dia mengangkat rambut lalu menyanggulnya.
Kulit lehernya terlihat mengundang di mata Steven.
Steven menelan ludah.
"Steve, kamu gak diving ?" sapa Reva.
"Enggak.
Gara-gara kamu nih !" Steven berpura-pura marah menutupi perasaannya.
Reva kembali tersenyum.
Steven menatapnya.
Tak mampu mengalihkan pandangannya.
"Kan aku udah nyuruh kamu pergi.
Ini kan hotel, Steve.
Kalo ada apa-apa aku bisa panggil orang." senyum Reva.
"Kalo ada apa-apa, harus ada orang yang bertanggung jawab untuk ambil tindakan." kilah Steven.
"Ck..
ini cuma flu aja.
Gejala flu.
Sama obat kamu udah ilang kok." kata Reva.
Dia kembali merenggangkan badannya.
Kepalanya dilemparkan ke belakang.
Leher jenjangnya nampak menggoda.
Steven kembali menelan ludah.
Sialan ni cewek!
Dia memalingkan kepalanya, menatap pemandangan di luar.
"Aku mau mandi.
Bajuku basah kena keringat." kata Reva berdiri dari tempat tidur.
Steven memandangnya.
"Ya udah mandi sana !" kata Steven agak terlalu keras. Dia sibuk menjaga air mukanya tetap datar.
Reva tersenyum lagi.
"Kamu harusnya keluar." katanya sambil berkacak pinggang.
"Aku udah jaga kamu dari tadi di sini.
Kamu mandi aja.
Nanti kalo ada apa-apa, kan aku gak jauh." Steven berkeras.
"Kamu keluar.
Ini kamar gadis.
Si gadis mau mandi.
Kamu mesti keluar." kata Reva masih berkacak pinggang.
"Enggak.
Kamu masih sakit."
"Udah enggak
Udah seger.
Sana kamu keluar !"
Reva menarik tangan Steven lalu mendorongnya.
Steven bertahan.
"Kamu ini !
Bukannya bilang terima kasih malah ngusir orang yang ngerawat." katanya.
"Iya..
Makasih Steve.
Sekarang kamu keluar...keluar.." Reva mendorong tubuh Steven.
"Bilang makasih yang bener !" kata Steven berdiri bersedekap.
"Makasih Steven...
Makasih Steven..
Mau berapa kali sih ?" Reva mendorong.
"Mau kamu berterima kasih dengan betul." kata Steven tetap berdiri.
Menikmati tangan Reva di tubuhnya.
"Ihhh...."
Reva berganti taktik, kini dia menarik lengan baju Steven.
Lalu dia tersandung.
Membawa Steven jatuh menindih tubuhnya.
Steven reflek meletakkan tangannya mengalasi kepala Reva agar tidak membentur karpet.
Tapi tubuhnya menutupi tubuh Reva.
__ADS_1
Nafas Reva terdorong keluar.
Tertimpa tubuh Steven.
Reva menutup matanya.
"Aduuh.." keluhnya.
"Sakit ?"
Reva membuka mata.
Matanya bertemu dengan mata Steven yang mengawasi nya.
"Berat.
Kamu berat Steve !" omel Reva.
Steven masih mengawasinya.
Matanya lalu turun.
Lalu naik ke atas. Menatap Reva.
Bibir Reva terbuka.
Perlahan kesadarannya datang.
"Eh..ehmm..."
Tapi Reva tak mampu mengeluarkan kata-kata.
Terpesona dengan tatapan Steven.
Bibir Steven tersenyum.
Dia menurunkan kepalanya.
Menyambar bibir Reva.
Tangannya yang mengalasi kepala Reva menahannya untuk bergerak.
Reva terasa lembut, manis dan.. polos.
Ini bibir yang belum pernah tersentuh.
Reva tidak membalas.
Dia tidak tau cara membalas.
Steven menggila.
Rasanya dia ingin menelan Reva.
Menyimpannya dan menikmatinya sendirian.
"Hh..."
Reva mendorong kuat-kuat tubuh Steven.
Steven mengangkat kepala.
Reva memalingkan muka.
Mengambil nafas.
Lalu menghadapkannya lagi pada Steven.
"Aku gak bisa nafas." katanya.
Steven tertawa.
Dia bangun dan membantu Reva bangun.
Steven mendorong Reva.
"Sana mandi." katanya.
Pinggangnya ditarik kembali.
Diputar dan dia kembali menghadap Steven.
Steven meraih dagu Reva dan mulai mencium bibirnya lagi.
Tidak akan bosan dia melakukannya.
"Hh.. Steve !"
Reva mundur. Tapi pinggangnya ditahan Steven.
"Steve !!" protes Reva.
Steven menunduk lagi.
Mencuri satu ciuman lagi.
Lalu mendorong Reva pergi ke kamar mandi.
"Sana mandi !
Abis itu kita makan siang sama Madam Bili." katanya.
Reva setengah berlari ke kamar mandi.
Menenangkan debaran jantungnya.
Dibantingnya pintu kamar mandi hingga tertutup rapat lalu dikunci.
Dia menyandar di pintu.
Tangannya berada di dadanya.
Jantungnya berdebar kencang.
Reva memandang cermin.
Rambutnya berantakan.
Kausnya basah dengan keringat dingin yang tadi keluar akibat minum obat.
Wajahnya sama sekali tidak ber makeup.
Bahkan berkilat karena keringat.
Tapi Steven....
Tapi Steven tidak ragu-ragu menciumnya tadi.
Mengulum bibirnya dengan...dengan..
Reva memerah.
Dia meraba bibirnya.
Jadi begitu rasanya dicium.
Dicium oleh orang yang diam-diam disukainya.
Reva tidak berani mengakuinya.
Awalnya dia mengagumi Steven.
Mengagumi kecerdasannya.
Lama-lama kekagumannya berubah menjadi rasa suka.
Sangat suka.
__ADS_1
Dan kadang, terlintas dalam pikirannya bahwa Steven pun memiliki perasaan yang sama dengannya.
Tapi... Steven punya pacar.
Jenny.
Pundak Reva turun.
Dia kembali meraba bibirnya.
Tadi Steven tampak menikmati menciumnya.
Tidak hanya sekali.
Tiga kali.
Apakah...apa dia punya harapan ?
Semangatnya naik lagi.
Tapi Reva tidak ingin menjadi perebut pacar orang.
Dia dididik untuk tidak menyakiti orang lain.
Pundak Reva turun lagi.
Reva membuka bajunya lalu mandi.
Mengguyur kepalanya.
Dia berlama-lama menikmati air hangat di kepala dan tubuhnya.
Reva mematikan air.
Mengambil handuk dan baru teringat bahwa tadi dia tidak sempat mengambil baju dari koper.
Dia membuka sedikit pintu kamar mandi.
"Steve..." panggilnya pelan.
"Steeve..." panggilnya lebih keras.
Tidak terdengar jawaban.
Steven sudah keluar dari kamarnya.
Bagus !
Jadi dia bisa mengambil baju di kopernya.
Reva keluar dari kamar mandi. Hanya berbalut handuk.
Berjalan santai lalu berjongkok membuka kopernya. Memilih-milih baju.
Menentukan pilihan lalu menutup kopernya.
Dia menyandarkan kembali kopernya lalu berbalik dan menjerit.
Steven duduk santai di sofa sambil memangku satu kakinya.
Matanya memandang Reva.
Menikmati pemandangan di hadapannya.
"Steeve !!
Ngapain kamu disini ?!"
Reva menyambar selimut menutupi tubuhnya.
"Lho..dari tadi aku disini kok." jawab Steven santai.
"Tadi aku panggil kok kamu gak jawab ?!"
"Kamu pasti mau nyuruh-nyuruh kan ?
Aku gak suka disuruh !"
Mata Steven masih menatap Reva.
"Kamu...!!
Kamu nengok sana !" bentak Reva sambil berjalan mundur mengarah kamar mandi.
Steven malah melipat tangannya.
"Steve !
Jangan liat !"
"Dari tadi aku udah liat.
Kamu ngapain jalan mundur kayak gitu ?
Nanti jatuh.
Biasa aja."
kata Steven tenang.
"Kamu !!"
Reva melotot.
"Gak usah melotot Va.
Mata kamu udah lebar."
Senyum Steven.
"Steven !!"
Punggung Reva menabrak pintu kamar mandi lalu cepat-cepat masuk.
Selimutnya ditinggalkan begitu saja di depan pintu kamar mandi.
Pintu ditutup lalu dikunci.
Reva masuk dengan jantung berdebar.
Apa saja yang sudah dilihat Steven tadi ?
Ya ampuun....Tadi dia merentangkan bra-nya.
Reva menutup matanya.
Sementara di luar, bibir Steven melebar dengan senyuman.
Mimpi apa dia semalam ?
Hari ini dia mendapat durian runtuh.
Bisa mencium bibir Reva yang sudah berbulan-bulan dalam angan-angan nya.
Dan sekarang melihat Reva hanya dalam balutan handuk.
Pundaknya yang polos dengan punggung mulus kecoklatan ditutupi dengan geraian rambut yang basah.
Belum lagi....
Cukup Steven !!
Steven mengguncang dirinya.
Bisa tidak selamat anak itu kalau keluar dari kamar mandi.
Steven meluruskan punggungnya.
__ADS_1
Matanya lekat pada pintu kamar mandi.
...⛰️🍎🎋...