Kamu Milikku

Kamu Milikku
Tunangan Yang Kabur


__ADS_3

Reva menimang-nimang ponselnya.


Lalu memutuskan.


Ponsel Sandy bergetar.


Sandy mengerutkan keningnya.


Nomor tak dikenal.


Tapi rasa penasaran membuatnya mengangkat.


"Halo.." sapanya.


"Om...ini Reva." sapa Reva.


"Va... kelayapan mulu.


Pulang !" kata Sandy bercanda.


Matanya menatap titik yang semakin dekat.


Reva tertawa.


"Iya Om..ini mau pulang."


"Pulang cepetan.


Atau Om jemput nih !"


"Ihh..Om...


Jauh."


"Jauh apanya..?


Sepuluh menit lagi aku sampe nih."


Reva tertawa.


"Om...Om ini sejak patah hati halu mulu"


"Eh..anak kurang ajar !


Berani yaa..kamu sama aku ?!


Awas nanti ketemu, Aku keplak kepala kamu !" kata Sandy.


Reva tertawa.


"Berani dong Om ..


Nanti kalo ketemu Om udah lupa mau keplak kepala aku."


"Enggak bakal !" kata Sandy.


"Kayaknya ngeplak kepala aku jadi hobi baru buat Om ya ?"


"Iya dong.


emang perlu dikeplak kepala calon bini yang kabur gara-gara putus sama pacarnya."


Reva terdiam.


"Ih...Om...


Kok gitu sih.


Aku gak kabur.


Aku cuma...cuma pingin liburan."


"Ya udah..


Liburan sama aku.


Tunggu di sana.


Aku dateng." kata Sandy.


"Telat..


Aku udah mau pulang !"


"Aku bilang tunggu disana, gadis nakal !!" kata Sandy.


"Gak mau !


Aku mau...aku....


Om !!"


Reva menatap Sandy yang sedang berjalan ke arahnya.


Ponselnya masih ditempelkan di telinga.


"Astagaaa...."


Mulut Reva ternganga.


Sandy menghampiri..


Tersungging Senyum kekanakan di bibirnya.


Jambul ombak di dahinya tertiup angin seiring langkah kakinya.


Reva menatap terpesona.


Reva mendongak pada Sandy yang sudah berdiri di sampingnya.


Sandy membungkukkan badannya, menyambar bibir Reva.


Ah.. dia merindukan rasa bibir ini.


Manis.


Aroma strawberry.


Sandy melepaskan bibir Reva.


Menjauhkan kepalanya sambil Menatap Reva yang masih menutup matanya.


Perlahan mata itu terbuka..


Menemukan tatapan Sandy yang penuh tawa padanya.


"O..Om.." katanya tergagap.


Plak!


"Adduhh...Oom !!" jerit Reva mengelus belakang kepalanya yang dikeplak Sandy.


"Anak bandel !!


Kabur gak bilang-bilang.


Bikin khawatir aja !" katanya.


"Ihh..Om .


Mana ada kabur bilang-bilang ?" jawab Reva mendelik.


"Kalo mau jalan-jalan mbok ya ngajak-ngajak gitu lhoo.." gerutu Sandy.


Pemilik cafe datang menghampiri.


"Lho..Reva..ada temannya ?" tanyanya.

__ADS_1


Sandy tersenyum.


"Bukan teman.


Tunangan nya Reva. " katanya.


Reva memerah.


"Tunangan ?


Wah...


Kamu disusul tunangan kamu ke sini, Va ?" senyum Chen.


Reva tidak mampu mengeluarkan kata-kata.


"Mau sarapan ?" tanya Chen pada Sandy.


"Iya.


Dan tolong tanya juga sama supir saya.


Tuh disana ." tunjuk Sandy.


"Waah...


Tunangan kamu tajir ya , Va.


Sampe punya supir segala." cetus Chen.


"Om ngapain bawa supir ?" tanya Reva saat Chen sudah meninggalkan Mereka.


"Ya buat nganterin aku ke sini dong.


Abis Itu aku ngikut mobil kamu.


Kamu yang jadi supirku.


Aku mau liburan.


Gak mau nyupir.


Lumayan punya kamu jadi supir." kata Sandy santai.


"Bayaran nya gede, Om." kata Reva.


"Ah..kamu ini emang cewek pengeretan, Va." sahut Sandy enteng.


"Lho.. sopir Om ini seorang mahasiswi cantik sekaligus peneliti proyek yang bakal dapet penghargaan nobel lho Om."


"Ck..ck..


Tapi waktu jadi sopir ya jadi sopir aja.


Bayarannya juga tergantung keahlian dia sebagai sopir." balas Sandy.


"Eh..aku ini pinter nyetir ya Om..." kata Reva mendelik.


"Kita liat aja nanti."


Reva menatap Sandy.


Wajah Sandy terlihat tenang.


Dan dia baru teringat ucapan Sandy sebelumnya.


"Om...Om enggak.." perkataannya terputus.


"Permisi..ini pesanan nya.." kata anak buah Chen.


Dia meletakkan cangkir dan piring di hadapan Sandy.


Sandy mulai meminum kopinya dan kemudian mengambil croissant.


Setelah satu gigitan..


Reva menggeleng.


Memutuskan untuk membatalkan pertanyaan nya.


Jadi dia menanyakan pertanyaan lain.


"Enggak ...


Tadi cuma mau nanya, Om enggak capek semaleman kesini ?"


"Ah..enggak.


Aku mau liburan kok.


Tapi sayangnya..


ehmmm....


Aku ditemenin sama cewek bandel..


Kayaknya bakal berantakan liburanku." katanya mengedip matanya.


Reva memukul pelan lengan Sandy.


"Di Mana hotel kamu ?


Aku mau pesan buat supirku.


Biar dia pulang besok."


"Iya Om..ntar.


Makan dulu.


Buru-buru amat."


"Soalnya dia dari semalam gak tidur." jawab Sandy.


"Emang Om tidur ?"


"Enggak.


Makanya abis ini mau tidur..Kamar kamu udah dirapiin kan ?"


"Gak tau.


Eh...


Maksudnya Om mau tidur di kamarku ?


Kita sekamar ?" tanya Reva terkejut.


Plak.


"Aduuh...Om !!" jerit Reva.


"Kamu kan udah pernah tidur sama aku !" jawab Sandy kalem.


Kembali menggigit croissant nya.


"Udah berapa lama kamu disini ?" tanya Sandy.


Walaupun dia tau jawabannya.


"Dua hari.


Enak Om.


Hotel nya tepi pantai.


Lagi gak musim libur..

__ADS_1


Jadi aku dapet kamar yang langsung ke pantai.


Kayak kita waktu di Lombok, Om."


"Mau pindah kota gak ?" tanya Sandy.


"Ehmm....kepikiran gitu.


Pingin naik ke atas, Om.


Pegunungan.


Tapi..."


"Apa ?"


"Om nyusul."


"Lho...kok aku dijadiin alesan ?"


"Ya.. tadinya hari ini aku mau check out.


Tapi Om katanya capek."


Sandy tertawa.


"Kamu kalo mau check out ya check out aja."


"Om gak jadi ikut aku ?" tanya Reva.


Sandy melirik.


"Kok suara kamu sedih gitu sih ?" tanyanya jail.


Reva memerah.


"Om..ihh...


Ya udah..aku check out hari ini.


Om disini aja.


Pantainya enak kok Om.


Om nikmatin aja." balas Reva.


Plak.


"Aduuh..Om...


Kok aku dikeplak lagi sih ?!" jerit Reva cemberut.


"Yang nyuruh kamu pergi sendiri itu siapa ?" kata Sandy.


Reva menggerutu mengusap kepalanya.


"Niy anak pinter tapi logika sederhana aja kok gak ngerti sih ?!" gumam Sandy.


"Apanya yang logika sederhana ?"


"Lho..kamu kan tau, aku nyusul kamu ke sini.


Artinya kamu mau kemanapun, ya aku ikut.


Gitu aja kok gak ngerti sih ?!" omel Sandy.


Jarinya mengetuk dahi Reva.


"Iya Om...


Mana tau...


Om pingin sendiri..


Atau ketemuan sama orang di sini."


"Aku emang ketemuan sama orang."


"Nah.. tuh..kan...


Aku gak mau ganggu."


"Aku ketemuan sama cewek yang kabur dari tunangannya gara-gara putus sama pacarnya.


Bisa jadi cerita sinetron tuh."


"Om !!"


Wajah Reva memerah.


Dia malu.


Kenyataan yang dipaparkan Sandy memang benar.


Tapi terasa sangat konyol saat disebutkan.


"Harusnya tu cewek nangis-nangis karena berhasil ditemuin sama tunangannya.


Diseret pergi, dikawin paksa.


Nah..jadi deh cerita sinetron." sambung Sandy.


Reva tertawa.


Sandy meliriknya sebentar.


"Udah bisa ketawa kamu ?" tanyanya.


Bibir Reva maju.


"Nangis salah.


Ngambek dikeplak.


Ketawa juga disindir.


Om maunya apa ?"


"Maunya Aku ?"


"Lho iya..


Maunya apa ?"


"Kamu belum nyebutin mendesah.


Aku maunya itu.


Kamu mendesah.


Tapi ya..sama aku aja." jawab Sandy santai.


Reva melirik Sandy sebentar.


"Hhh.....


hhh...hhh." desahnya dengan suara dibuat semanja mungkin.


Tangan Sandy berhenti.


Dia sedang membawa cangkirnya ke bibir.


Bulu kuduknya meremang mendengar ******* Reva.


Dia sudah berbulan-bulan tidak berhubungan dengan perempuan mana pun sejak memutuskan berhenti menemui Cindy.


"Kamu minta dikeplak ?"

__ADS_1


...🌴🎀☘️...


__ADS_2