Kamu Milikku

Kamu Milikku
Dewa Keterlaluan


__ADS_3

Shelomitha tidak pernah dijawab panggilannya setiap dia menghubungi Dewa.


"Kamu pikirkan apa yang aku katakan tadi. Berusahalah untuk melupakan Dewa yang sama sekali tidak menghargai kamu. Aku yakin juga jika Langit juga ingin melihat maminya bahagia dalam sebuah pernikahan."


"Terima kasih kalian sudah sangat baik padaku, walaupun aku sudah jahat dengan kalian." Shelomitha sekali lagi memeluk Aira dengan erat dan menangis.


Addrian dan Aira pulang ke rumah mama Tatiana. Mereka sepakat tidak akan menceritakan semua yang terjadi. Mereka tidak mau jika Shelomitha akan dibenci oleh semua orang, apa lagi mama Tatiana tidak suka dengan Shelomitha dan keluarganya Dewa.


"Ma, kami pulang dulu, dan terima kasih sudah menjaga mereka dengan sangat baik. Maaf juga sudah merepotkan Mama."


"Kamu itu. Mereka ini juga cucu mama, jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak. Mama malah senang kalau mereka ada di sini. Di rumah mama kadang kesepian kalau semua pergi dan mama tidak ada pekerjaan di tempat ayah."


"Mama kalau mau tiap hari aku suruh supir mengantar jemput mama di rumah. Mama bisa ke rumah untuk bermain bersama cucu Mama."


"Iya, Addrian. Nanti mama akan kabari kalian."


Mereka izin pulang, Addrian menggendong Nadin yang sudah tertidur sedangkan Aira menggendong bayi kecilnya. Mereka pulang ke rumah dan sampai di rumah Nadin ditidurkan di kamar yang sudah Addrian sediakan sedangkan si kecil tidur dalam satu ruangan. Namun diletakkan di dalam box yang ada di sana.


Aira berdiri di depan box bayi sambil memandangi Andrei. Addrian yang melihat istrinya sedang memikirkan sesuatu memeluknya dari belakang.


"Kamu kenapa Sayang? Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Mas aku hanya berpikir bagaimana jika yang dilakukan Shelomitha waktu itu sampai membuat aku dan Andrei tidak ada di sini? Jujur saja aku sangat terkejut dengan apa yang Shelomitha lakukan, cintanya pada mas Dewa benar-benar membutakan hati dan pikirannya."


"Aku sendiri tidak menyangka jika She, akan setega itu ingin melukai kam. Saat orang suruhanku mengatakan siapa yang sudah melukai kamu, aku benar-benar tidak percaya."


"Aku hanya tidak habis berpikir saja. Dia seorang ibu dan memiliki seorang putra kecil dan dia ingin menyakitiku yang sedang hamil hanya karena suaminya masih memikirkan aku. Aku sama sekali tidak bisa mengendalikan perasaan Mas Dewa terhadapku."


"Sebaiknya tidak perlu kamu pikirkan masalah ini lagi. Aku saja takut membayangkan jika kamu dan Andrei sampai terluka, dan yang melakukan adalah orang yang sangat dekat denganku." Addrian semakin mengeratkan pelukannya.


"Kalau begitu kita tidur siang saja dulu, Mas. Nanti sore saat bangun, aku akan membuat makan malam untuk kita."


Addrian menggendong istrinya dan mengecup lembut bibir Aira. "I Love You."


"Love You Too."


Aira dan Addrian tidur siang karena kebetulan Addrian sedang libur bekerja.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian Aira terbangun dan dia melihat suaminya ada di dekat box bayi mereka.


"Dia tadi terbangun, mungkin dia mau susu." Addrian sedang menggendong bayinya dan tangan satunya memegangi dot susu yang tentu saja berisi asi.


"Kenapa tadi tidak membangunkan aku?"


"Tidak apa-apa. Dia juga popoknya basah, tapi sudah aku ganti."


Aira tidak menyangka jika suaminya sudah bisa membantunya merawat si kecil. Aira bangkit dari tempat tidurnya dan mendekat ke arah box bayinya.


"Kamu sudah belajar dengan cepat ya, Mas?"


"Aku, sebelum kamu melahirkan sudah belajar semuanya dari sosmed secara diam-diam."


"Serius, Mas?"


"Tentu saja serius, Sayang."


Aira memeluk suaminya erat. "Aku benar-benar tidak salah sudah menerima kamu menjadi suamiku."


Aira melepaskan pelukannya dan dia akan pergi ke dapur untuk membuatkan makan malam untuk para tercintanya yang ada di rumah itu."


Jam tujuh malam. Mereka semua sudah berkumpul di meja makan, kecuali, Andrei. Dia masih tidur setelah habis susu yang banyak.


Nadin tampak lahap menghabiskan masakan buatan Aira.


"Masakan Tante Aira enak sekali, masakannya sama dengan masakan ibuku."


"Terima kasih ya, Sayang."


"Nadin, besok Nadin masuk sekolah, apa perlengkapan sekolahnya sudah Nadin siapkan?" tanya Addrian.


"Sudah, Om, tadi jam lima aku bangun sudah aku siapkan semuanya."


"Anak Cerdas. Kalau begitu nanti tidurnya tidak boleh larut malam ya, Nak."


"Siap, Om!" serunya senang.

__ADS_1


Di rumah Dewa. Shelomitha sedang mondar mandir di dalam kamarnya. Tidak lama Dewa yang baru selesai mandi keluar dari dalam kamarnya.


Shelomitha melihat ke arah Dewa. Namun, Dewa seolah tidak peduli dengan adanya Shelomitha di sana.


"Dewa, apa kita bisa bicara?"


"Aku lelah dan aku mau tidur." Dewa melengos dan naik ke atas tempat tidurnya.


"Aira dan Addrian tadi pagi ke sini."


"Apa? Aira dan Addrian tadi pagi ke sini? Untuk apa mereka ke sini?"


"Aku sudah menceritakan semua yang terjadi dengan rumah tangga kita ini, di mana kamu yang sudah menikahiku, tapi masih tetap saja memikirkan Aira."


"Apa?" Seketika Dewa beranjak dari tempatnya dan mendekat ke arah Shelomitha. "Kenapa kamu mengatakan hal itu? Apa kamu mau membuat Aira membenciku?"


"Dewa, kita sudah menikah dan aku juga sedang mengandung anak kamu. Apa kamu bisa menganggap aku sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anak kamu?"


"Ck! Anakku, siapa tau itu anak pria lain. Bukannya aku jarang berada di rumah?"


Shelomitha benar-benar tidak menyangka jika Dewa akan mengatakan hal seperti itu.


"Ini anak kamu sama seperti Langit. Aku sangat mencintai kamu, dan tidak ada pernah terbesit dalam pikiranku akan berselingkuh dengan orang lain."


"Tapi bisa saja, kan, dia anak orang lain, atau anak dari sahabat kamu-- Addriann. Bukannya dia suka sekali menabur benih di banyak wanita, dan yang paling membuat aku membencinya, dia juga memberi benih pada Aira," ucap Dewa menekankan dengan marah.


"Kamu benar-benar pria yang tidak memiliki perasaan, Dewa. Aku sangat mencintai kamu, bahkan aku sampai tega ingin melukai Aira agar dia mati dan kamu bisa melupakannya, tapi benar apa kata Addrian, meskipun aku melakukannya, kamu tetap tidak akan bisa melupakan Aira," jelas Shelomitha dengan lantang dan nada kesal.


"Apa? Kamu mau membunuh Aira?" Tangan Dewa mencengkeram dagu Shelomitha dengan kasar.


"Lepaskan tangan kamu, Dewa, kamu melukaiku. Aku sedang mengandung anak kamu, jangan kamu melukaiku, Dewa."


"Aku tidak peduli dengan anak yang kamu kandung itu! Kamu berani melukai Aira dan aku tidak akan segan-segan untuk menyakitimu!"


"Aku melakukan ini karena aku hanya ingin kamu hanya mencintaiku, tanpa memikirkan tentang wanita lain, Dewa." Shelomitha menangis.


Dewa menampar wajah Mitha dengan begitu keras sampai wanita itu terjatuh dan berteriak kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2