Kamu Milikku

Kamu Milikku
Kita Liat Nanti


__ADS_3

Selama dua minggu berikutnya Sandy sibuk membereskan rumah dan sawahnya.


Terutama rumahnya.


Reva dan keluarganya ikut membantu.


Bukan hanya sekedar membantu, diam-diam Papa mengeluarkan uangnya sendiri untuk beberapa hal kecil yang dilupakan Sandy.


Papa yang ikut mendengar percakapan mereka akhirnya mendatangi notaris yang memang temannya.


Tadinya temannya tidak mengaku tapi akhirnya ditunjukkan juga salinan akta.


Papa menggeleng kan kepalanya.


Kesal tapi juga kagum dengan usaha Sandy untuk mendapatkan putrinya.


Saat pulang dari rumah Paman Andi, Papa memperhatikan cara Sandy dan Papi memandang putrinya.


Papa akhirnya mendekati Papi dan mereka bertukar nomor ponsel.


Berjanji akan saling menghubungi.


Selama Sandy membereskan rumahnya di sana, beberapa gadis mendekati.


Reva yang mengenal mereka, menggunakan kesempatan itu untuk membuat gadis-gadis itu mendekati Sandy.


Kadang dengan cara halus dia mendorong mereka untuk merayu Sandy.


Semua orang tau, Sandy, ganteng dan kaya, pemilik game company terkenal.


Siapa sih yang tidak mau ?


Termasuk yang sudah berstatus bukan gadis lagi.


Yang ini malah lebih dahsyat serangan nya.


Sandy sendiri menanggapi dengan sopan.


Dia orang baru jadi tidak mau mencari musuh.


Tapi juga tidak mau terjebak.


Tapi akhirnya melambaikan bendera putih pada Papa. Mengeluh.


Papa akhirnya menyuruh Sandy untuk kembali tidur di rumahnya.


Sandy menerimanya dengan lega.


Tito termasuk yang selalu mendampingi Sandy.


Kalau memang Sandy menginginkan Reva, dia akan melindungi calon iparnya ini dari serangan gadis-gadis desanya.


Dan Tito akhirnya memarahi Reva atas ulahnya.


"Kalo sampe Mas Sandy kejebak sama perangkap orang, itu salah kamu, Va !


Kamu harus ikut tanggung jawab." katanya.


"Enak aja..


Dia yang kejebak, kok aku yang disuruh tanggung jawab !" jawab Reva.


"Kamu yang nyuruh orang ngejebak dia !"


Reva diam.


"Dijebak suruh kawin dan seumur hidup tinggal sama orang yang gak dicintai itu sebuah penderitaan, Va !" kata Tito masih dengan nada tinggi.


"Dia orang baik.


Kita semua suka sama dia.


Dan kamu....kamu hutang nyawa sama dia.


Kok teganya kamu segitu jahatnya sama dia." sambung Tito.


Reva menunduk.


Tekadnya ingin mengalahkan Sandy dalam taruhan membuat Reva lupa satu hal.


Sandy itu orang baik.


Dan dia tidak berhak mengatur kehidupan Sandy.


Termasuk menjebaknya mengawini perempuan lain.


Tito mendekati Reva dan mengacak rambutnya.


"Gak boleh begitu lagi ya !" katanya dengan sayang.


Reva mengangguk.


Diam-diam Sandy mendengarkan dari balik dinding.


Dia tersenyum lega.


Kemarin dia berbicara panjang lebar dengan Tito.


Tito mengkonfirmasi yang dia dengar secara tidak sengaja.


Bahwa Sandy meletakkan nama Reva di surat kepemilikan rumah dan tanah.


"Kenapa Mas Sandy gak langsung ngelamar Reva aja langsung ?" tembak Tito.


"Toh Keluarga Reva sudah kenal sama Mas.


Bapaknya Mas juga kemarin sudah datang ke rumah." sambungnya.


Sandy menghela nafas.


"Reva gak bisa digituin, Mas.


Kalo saya langsung ngelamar dia, ngiket dia dengan tali pertunangan, dianya malah bakal ngambil jarak sama saya.


Reva...


Reva itu lagi suka sama orang lain.


Sayanya harus pelan-pelan.


Naro nama Reva di akte jadi sinyal buat dia kalo saya serius.

__ADS_1


Gak ada orang ngasih hampir enam milyar ke perempuan kalo orang itu gak serius."


Sandy diam sebentar.


"Reva itu perempuan pintar dan mandiri.


Dia bukan tipe yang manut dan bersedia kalo ada laki-laki yang melamar dia.


Dia tipe perempuan yang pingin memilih sendiri pasangannya.


Dan saya memberi kesempatan itu sama dia." sambung Sandy.


"Terus ?


Mas Sandy katanya belum putus sama pacarnya ?" kejar Tito.


"Saya sudah gak punya perasaan apa-apa sama dia.


Sedikit rumit sih Mas..


Tapi Reva tau segalanya kok.


Saya terbuka sama Reva."


"Tapi Mas Sandy...ehmm...


Gak ada skandal kan sama mantannya.


Maksud saya...ehmmm..punya anak di luar nikah ?" Tito terus mengejar.


Sandy menggeleng.


"Amit-amit Mas." katanya dengan nada dingin.


Tito menoleh memandangi wajah Sandy.


Mencari tanda-tanda kebohongan.


Sandy balas melirik.


"Kenapa ?


Emang tampang saya seplayboy itu ya ?" tanyanya.


Tito menggeleng sambil tersenyum.


"Reva enggak percaya kalo saya menyukai dia.


Sama sekali.


Saya harus..ehm harus puter otak juga untuk membuat dia menyadari kalo yang saya inginkan ya dia.


Cuma dia .


Dan bukan orang lain.


Menurut dia...


Dia itu bukan tipe saya.


Tipe saya..ya..itu...yang kayak mantan saya itu." kata Sandy.


Sandy diam sebentar.


"Reva pelarian." cetus Tito.


"Bukan."


Tito menoleh.


Sandy pun menoleh.


Mereka saling memandang.


"Pelarian itu gak dikasih enam milyar Mas.


Saya gak sekaya itu buat buang duit sebanyak itu.


Mending uangnya buat nambahin saham saya di Methrob.


Atau...beli saham company lain.


Uang bekerja.


Saya tinggal ongkang-ongkang kaki." jawab Sandy.


Tito mengangguk-angguk.


"Saya tau siapa yang disukai Reva..


Steven kan?"


"Mas tau ?"


Tito mengangguk.


"Mereka berdua saling menyukai.


Saya juga gak tau kenapa Steven enggak meresmikan saja hubungan mereka.


Kelihatannya Reva dibiarkan menduga-duga sendiri.


Ya gak papa.


Itu malah jadi keuntungan buat saya." senyum Sandy.


"Mas Sandy beneran ya ?" Tito memastikan.


"Kenapa sih pada gak percaya ?" kata Sandy lebih pada dirinya sendiri.


Tito tertawa.


"Soalnya...


Mas itu santai banget.. Tenang.


Kalem.


cewek yang diincer lagi dideketin sama orang lain, tapi Mas tenang aja.


Kalo saya Mas....

__ADS_1


udah saya gebrak itu si Steven.


Nyuruh dia ngejauhin Reva."


Sandy tertawa.


"Ah..enggak lah..


Malah makin kuat penolakan Reva sama saya.


Biar aja nanti Reva sendiri yang menilai.


Reva kan pintar Mas." katanya.


Tito berdecak.


Dan sekarang...


"Va...ayo ikut.." kata Sandy sambil menenteng kunci mobil.


"Mau ke mana Mas ?..eh..Om ?" tanya Reva.


"Nyari tempat tidur."


"Hah ?!


Kok aku ikut, Om ?"


"Ya...kan kamu yang janji mau milih.


Lagian..kamu yang tau daerah sini.


Ayo..keburu sore."


Reva beranjak dari duduknya di teras.


Dia menurut saja.


Setelah di tegur oleh Tito, dia jadi merasa bersalah.


Om Sandy tidak pernah jahat kepadanya.


Kenapa dia jadi jahat pada Om Sandy ?


"Om...Jadi mau yang kayu jati berukir ?" katanya di mobil.


Sandy mengangguk.


"Ukuran King, Va." katanya.


" Gede amat Om.


Gak kegedean itu ?"


"Enggak dong.


Nanti kalo kamu lagi ngambek, gak usah ngungsi ke kamar sebelah.


Cukup diujung aja udah cukup jauh dari aku, Va.


Lagian..akunya juga gak mau jauh-jauh dari kamu.." goda Sandy.


"Om..ihh..


Mulai deh.."


Sandy terkekeh.


"Ya ..kan..mana tau rejeki aku menang taruhan, Va.


Bisa ngeboyong kamu jadi istri." katanya masih mempermainkan Reva.


"Om...kalo keseringan becanda ntar malah jadi serius lho." kata Reva memperingatkan.


"Aku nih dari dulu udah serius.


Kamu aja yang nganggep becanda." senyum Sandy.


"Yaah..


Om masih ada yang punya sih..


Aku gak mau di duain.." senyum Reva.


"Ahh..makin semangat nih aku pingin balik ke Taiwan buat mutusin dia."


"Silakan Om..


Masih ada taruhan kita lho..


Dan..ehm..


Jangan takut kalo kalah ya Om..


Aku gak bakal ngambil rumah sama sawah punya Om.


Aku bukan cewek pengeretan." kata Reva.


Sandy menatap Reva sekilas.


"Aku pasti menang.


Dan bukan karena pingin menang..


Aku emang pingin minang kamu jadi istriku, Va."


Reva diam.


"Ya..kita liat aja nanti, Om.


Om yang benar...


Atau aku yang benar.


Tunggu setahun deh.


Saat itu..


Kita berdua pasti sudah punya pandangan masing-masing terhadap satu sama lain, Om.


Bukan karena euforia taruhan atau...mental Om yang pingin lepas dari Cindy." sahut Reva tenang.

__ADS_1


...🌄🍇🎋...


__ADS_2