Kamu Milikku

Kamu Milikku
Tak Enak Badan


__ADS_3

Tia mengawasi Reva bagaikan elang mengawasi mangsanya.


Dia bertanggung jawab pada gadis itu.


Dan kelihatannya Reva sedang gundah.


Dan semua disebabkan oleh teman suaminya.


Tadi Biliyan bercerita.


Keluar dari ruang kedatangan, Reva bergandengan tangan dengan Sandy.


Tapi Reva juga tidak mengakui bahwa Sandy dan dia punya hubungan.


Besok...


Tia dan Biliyan akan mengajak Reva untuk spa.


Bertiga saja.


Reva duduk bersama Anna dan tunangannya.


"Masih capek, Va ?" tegur Anna yang melihat Reva lesu.


"Iya.


Aku kok lemes ya.."


"Ya udah, abis makan, kamu tidur lagi.


Biar besok bisa fit buat diving." senyum Anna.


"Besok diving ?" tanya Reva berbinar-binar.


Anna tertawa.


"Aku gak terlalu bisa berenang." kata Reva.


"Aku juga." sahut Anna.


"Tenang..aku bisa jagain kalian berdua." jawab tunangan Anna, Alan.


"Jagain dari apa ?" tanya Josh memundurkan kursi di seberang Reva.


"Jagain mereka berdua.


Belum bisa berenang." jawab Alan.


"Besok sama aku, Va." senyum Josh.


"Kamu gak usah khawatir, Va.


Kan ada instruktur nya." kata Andrew ikut menarik kursi di meja Anna.


"Ini kenapa pada ngumpul di meja aku ya ?" kata Anna menarik alisnya.


Senyum jail menghias bibirnya.


"Emang kenapa?" balas Josh.


"Dari kemarin aku beduaan aja tuh sama Alan. Gak ada yang nyamperin.


Sekarang ada Reva, mejaku jadi penuh."


"Nambah satu lagi.." kata Liu menarik kursi di meja Anna.


"Dan satu lagi." cengir Andrew yang melihat Steven membawa kursi ke meja Anna.


"Hush..huss...udah penuh.


Sana..sana..duduk di meja sebelah aja.." usir Josh pada Steven.


"Enak aja. Pada ngumpul disini ya aku ikut dong." jawab Steven tersenyum.


Anna mengamati.


"Udah bisa senyum ya sekarang ?!" sindirnya.


"Dari kemarin juga udah senyum dia." kata Andrew.


"Seharian ini senyum terus dia." kata Liu.


Steven menoleh pada Reva.


"Udah enak badannya ?" tanyanya.


Reva mengangguk.


"Lumayan." jawabnya singkat lalu kembali menunduk menatap piringnya.


Dia tidak nafsu makan.


Dia mengaduk-aduk nasinya.


Memakan sedikit-sedikit.


Steven menatapnya. Mengerutkan kening.


"Abis ini minum obat terus tidur."


Reva mengangkat kepalanya.


Menghindari mata Steven.


"Aku gak sakit."


Steven meraih dagu Reva, memaksanya menatapnya.


"Kamu denger aku ngomong apa?!


Ikutin kataku !"


Reva memukul tangan Steven.


"Apa sih ?!


Aku gak sakit !


Siapa kamu nyuruh-nyuruh aku ?!" katanya ketus.


"Kamu mau sakit.


Besok kamu bakal sakit kalo hari ini gak cukup makan dan gak cukup istirahat." balas Steven keras.


Reva cemberut.


"Terserah aku..mau sakit apa enggak." jawabnya pelan.


Steven sudah hendak membalas ketika tangan Anna menyentuhnya dari belakang.


"Steven bener, Va.


Mendingan sekarang kamu abisin nasi kamu, minum vitamin terus tidur." kata Andrew lembut.

__ADS_1


"Iya." jawab Reva pelan.


"Kamu mau makan apa, Va ?


Pesen yang lain aja.


Wafle ya?


Aku pesenin jus jeruk juga ya ?" kata Anna lembut.


Reva mengangguk.


Anna lalu melambai meminta pesanan Reva pada waiter.


Saat pesanan datang, kembali Reva hanya mengaduk-aduk waflenya.


Steven berdecak.


Dia merebut sendok Reva, memotong-motong lalu menyuapkannya.


"Aaa.." katanya.


Reva menengadah menatap Steven.


Lalu menoleh pada yang lain.


Semua menatapnya.


Andrew menganggukan kepalanya menyuruh Reva untuk makan.


"Ayo Va...dimakan.." kata Anna lembut.


Reva menyuap, mengunyah lalu menelan.


Steven menyendok lagi.


"Aaa..." katanya.


"Aku bisa sendiri kok.." kata Reva berusaha merebut sendok yang dipegang Steven.


"Aaa...." kata Steven berkeras.


Sendoknya dibawa berkelit menghindari tangan Reva.


Kali ini Reva menurut.


Dia malu pada teman-teman semejanya.


Steven terus menyuapinya sampai waflenya habis.


Dia lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


Sesaat kemudian kembali membawa persediaan obat-obatan nya.


"Kamu kayaknya mau flu.


Minum ini ya..


Besok badan kamu bisa enakan." katanya.


Reva diam saja.


Dia hanya menerima obat lalu meminumnya.


Steven memperhatikannya. Tangannya terangkat ke dahi Reva. Mengukur suhunya lalu


pindah ke leher Reva.


Reva mundur.


Aku lagi cek suhu kamu."


"Kamu bukan termometer." ketus Reva.


"Kalo suhu kamu diatas normal, gak perlu termometer, Va." kata Liu membantu.


"Agak anget.


Yuk..istirahat aja di kamar." kata Steven lembut.


Reva berdiri.


"Aku ke kamar dulu." katanya berpamitan.


"Aku antar."


"Gak usah.


Kamu disini aja.


Aku bisa sendiri..Deket kok." tolak Reva.


Steven tetap berdiri.


"Ayo." katanya datar.


Reva kembali cemberut.


Dia berjalan ke meja Tia.


"Om..Tante..saya ke kamar dulu ya." pamitnya.


"Kamu gak papa, Va?" tanya Michael.


Sementara Tia menatap dengan seksama.


"Kayaknya mau flu, Om." jawab Reva.


"Udah minum obat?" tanya Biliyan.


"Udah.Tadi dikasih Steve." kata Reva.


"Ayo...aku antar." kata Sandy.


"Enggak usah.


Biar aku yang antar." jawab Steven tegas.


Sandy menatap keduanya. Mengalah.


"Ya udah cepetan masuk kamar.


Disini makin masuk angin."


Reva berjalan lebih dulu, berusaha untuk meninggalkan Steven.


Tapi Steven memiliki langkah yang lebar.


Dia menyamai langkah Reva yang bergegas.


"Gak udah terlalu buru-buru." kata Steven.


Reva tidak menjawab.

__ADS_1


Kepalanya agak pusing, perutnya sedikit mual dan Hatinya kesal.


Dia membuka pintu kamar, masuk dan berbalik akan mendorong pintu.


Steven menahan.


Mereka saling bertahan.


Reva menengadah.


Menatap marah.


"Kamu sikat gigi, cuci muka terus tidur.


Baru aku tinggalin kamu." tegas Steven.


Reva berbalik.


Steven tidak bisa dibantah kalau sedang bersikap seperti ini.


Reva masuk kamar mandi.


Saat keluar, Steven sedang memandang keluar.


"Steve, aku udah selesai.


Kamu balik lagi aja..


Udah ditunggu sama yang lain." kata Reva.


Steven berbalik.


Menatap Reva.


"Naik tempat tidur." perintahnya.


Reva lalu naik ke tempat tidur.


Menarik selimut hingga menutupi lehernya.


Dia menatap Steven.


Steven menghampiri. Berdiri di samping tempat tidur.


Tangannya diletakkan di dahi Reva.


"Hmm... "


Steven menunduk.


"Langsung tidur ya..


Jangan main ponsel.." katanya tepat di hadapan wajah Reva.


Reva balas menatapnya.


Deg..deg..


Reva berkedip.


Ini pun pacar orang !


Reva memalingkan wajahnya.


"Iya !" jawabnya ketus.


Kenapa sih semua yang punya pacar sibuk ngasih perhatian sama dia ?!


Steven berkerut sebentar sebelum memahami.


Dia tertawa.


Kedua tangannya menangkup wajah Reva.


"Cepet sembuh ya..


Biar besok bisa ikut diving." katanya pelan sebelum mengecup singkat dahi Reva.


Reva mengeluarkan tangannya untuk menepis tangan Steven.


Tapi Steven sudah menarik tangannya dan berjalan ke pintu sambil tertawa.


Dia menemaramkan lampu.


Lalu keluar.


Steven kembali berjalan menuju teman-temannya.


Dia mampir sebentar di meja Tia.


"Reva tidur.


Biarkan dia istirahat.


Biar besok bisa diving." kata Steven sambil menatap Tia lalu mengalihkan pandangannya pada Sandy.


Dan tetap menatap Sandy.


Sandy menganggukkan kepalanya.


"Ya, dia capek.


Tadi pagi, pagi banget kami berangkat.


Rumah Reva di tepi kota.


Agak jauh dari bandara." jawabnya juga terus menatap Steven.


Dia tidak mau digertak anak kecil.


Anak buahnya sendiri.


Steven mengangguk. Lalu pergi meninggalkan meja menuju mejanya sendiri.


"Udah ?" tanya Anna.


Steven mengangguk.


Josh menggelengkan kepalanya.


"Apa ?" tanya Steven.


"Ngomong Steve...ngomong !!" kata Josh.


Steven diam.


"Sebelum orangnya terpesona sama yang lain." angguk Andrew ke meja Sandy.


Steven tersenyum dikulum.


"Aku suka persaingan.


Makin berat makin bagus !!" tandasnya.

__ADS_1


...⛰️🍎🎋...


__ADS_2