
Sandy sedang sendirian ruang kerja yang ada di kapal pesiar.
Dia baru saja rapat online dengan Josh dan tim nya.
Dan kemudian melanjutkan bekerja.
Tenggelam dalam pekerjaan, dia tidak mendengar pintu ruang kerja di buka.
"Saan..."
Sandy kaget.
Dia langsung berdiri.
"Cindy !!" bentak nya saat menyadari Cindy menyelinap masuk ke ruangan nya.
Dia sudah tidak sabar lagi dengan gadis ini.
Gadis yang memberinya banyak masalah.
Cindy mencibir.
"Jadi kamu begitu sekarang ?"
"Keluar, Cin !" kata Sandy.
Cindy tersenyum.
Dia Tidak boleh marah kalau ingin membujuk Sandy.
"Segitunya kah kamu ingin mengawini gadis itu ?"
Sandy tidak menjawab.
Dia hanya menatap.
"San...
Kenapa sih kamu ngotot sekali mengawini gadis itu ?
Kamu rugi San !!" kata Cindy.
"Maksud kamu apa, Cin ?"
"Kamu tinggalkan gadis itu dan kamu gak akan kehilangan kepemilikan company kamu.
Banyak gadis yang bisa menerima kamu apa adanya.
Gak perlu ngasih kepemilikan company yang kamu dapat dari kerja keras kamu bertahun-tahun."
"Contohnya kamu ?" sindir Sandy.
Cindy mengangguk pasti.
"Ya..aku..
Kenapa ?
Aku menghargai kerja keras kamu.
Dan aku akan menjadi istri yang baik untuk kamu."
Sandy tertawa ironis.
"Telat, Cin.."
"Enggak !
Enggak telat.
Lupakan gadis itu.
Dia hanya pelarian kamu dariku.
Toh awal nya kamu mencintai aku.
Kita bisa memulai awal yang baru, San.
Kita saling mencintai.
Kamu...Aku....akan membina keluarga yang bahagia, San."
Sandy mencibir.
"Keluarga apa ?
Aku yang bakal selalu khawatir apa istriku akan selalu setia.
Apa dia dibelakang ku bakal dihibur sama laki-laki lain.
Dan aku....akan selalu ragu apa anakku memang betul anakku."
Cindy tersenyum manis.
"Kamu kebanyakan alasan.
Anak ?
Aku akan selalu setia sama kamu San.
Aku mencintai kamu.
Maaf kalau dulu aku belum menyadari nya.
Tapi kamu bisa percaya aku sekarang San.
Lagipula...
Kamu bisa test anak kita."
"Bukan cuma itu alasan nya !!" bentak Sandy.
"Apalagi ?
Cinta ?
Kita bisa memulainya dari awal lagi..
Aku mencintai kamu San.
Dan kamu...
Aku akan buat kamu mencintaiku lagi.
Kita pernah bahagia bersama, San."
Sandy menatap Cindy.
Menatap wajah cantiknya yang penuh tekad.
Tapi juga penuh rasa cinta.
Cindy maju mendekati Sandy.
Jarinya membelai pipi Sandy.
Matanya menatap sayang.
Sandy melengos.
Menepis tangan Cindy.
Cindy tidak menyerah.
Dia menempelkan badannya di badan Sandy.
Sandy mundur.
__ADS_1
Cindy tersenyum merayu.
Dia maju, menangkap lengan Sandy.
"Udahlah Cin..." tepis Sandy lelah.
Dia berusaha menjauh.
"Kamu masih menyukaiku
Aku bisa liat itu, San." kata Cindy.
Tangannya meraih jemari Sandy dan membawanya ke lehernya.
Cindy mencium telapak tangan Sandy.
Sandy menarik paksa tangan nya.
Cindy tetap tersenyum.
Sekian lama berpacaran dengan Sandy, dia tau bahwa Sandy seorang laki-laki penyayang dengan sikap yang halus.
Jadi dia akan memakai itu sebagai senjatanya.
Cindy memajukan wajahnya. Berjinjit.
Cepat-cepat mencuri satu ciuman di bibir Sandy.
"Pikirkan San !
Apa kamu rela memberikan hasil kerja kerasmu sekian tahun untuk gadis itu.
Sementara aku...
Aku menerima kamu apa adanya.
Tanpa tuntutan.
Tanpa syarat.
Kita akan bahagia, San.
Pikirkan itu."
Cindy menatap Sandy.
Dia lalu keluar.
Meninggalkan Sandy yang sudah melengos dan menatap lautan dari jendela.
...☘️🍎🍇...
Reva termenung.
Dia menatap lautan dari balik jendela kamar mereka.
Dia merasa gagal menjaga dirinya.
Walaupun yang merenggut calon suaminya sendiri.
Dia ingin memberikan kesuciannya pada suaminya sebagai hadiah pernikahan mereka.
Ingin melihat wajah suaminya yang merasa bahagia dengan pemberian nya.
Ingin menikmati penyatuan pertama mereka.
Ingin melihat wajah Sandy yang bahagia.
Tapi apa yang terjadi ?
Dia bahkan sama sekali tidak tau apa yang terjadi.
Tiba-tiba saja dia sudah tidur tanpa baju bersama Sandy.
Dan bangun bahkan tanpa merasakan apapun.
Tidak berdarah...
Tapi dia juga tidak sakit, perih atau bahkan merasa aneh pada tubuhnya.
Dia sampai harus bersumpah pada Sandy bahwa dia tidak pernah melakukan hubungan intim dengan orang lain.
Walaupun untungnya...
Sandy kelihatannya tidak masalah melihat dia tidak berdarah dan sakit.
Apa karena Sandy juga merasa bersalah karena pernah tidur dengan perempuan lain ?
Tidak mungkin.
Sandy tipe posesif walaupun tidak menampakkan dengan terang-terangan.
Buktinya dulu Cindy langsung diputuskan tanpa banyak pertimbangan.
Reva menatap sekilas cincinnya.
Tadi dia dimarahi karena melepas cincin.
Satu lagi sisi posesif Sandy.
Cincin itu menunjukkan kepemilikan Sandy terhadapnya.
"Va..."
"Va...!!"
Reva menoleh.
"Kenapa sih dari tadi kamu ngelamun aja ?" tanya Mini.
Reva tersenyum.
"Gak papa.."
"Apa ?"
"Beneran kok..aku gak papa." elak Reva.
"Jadi gak nih..kita lanjutin rencana yang kemarin ?" tanya Selina.
"Jadi dong !
Aku udah gak sabar pingin ngerjain Aaron sama Cindy." kata Jasmine pedas.
"Oke..ayo..dipilih..dipilih..." kata Mini sambil menyebarkan bikini-bikini seksi di tempat tidur.
Para personil SHE mengerubungi tempat tidur.
Dua jam mereka saling mencoba bikini.
Mana yang paling seksi untuk mereka.
Mereka semua ingin mengalihkan perhatian Aaron dari Cindy.
...🎀...
Menjelang sore, kolam sudah ramai.
Musik dimainkan oleh band kapal.
Tiba-tiba..
"Suit..suittt...."
"Suuitt.."
"Ahayyyy..."
__ADS_1
Suara-suara suitan menggoda saat para personil SHE masuk area kolam.
Bagaimana tidak ?
Mereka berlima memakai bikini 2 pieces super seksi.
Ditutupi sedikit dengan jubah tipis menggoda.
Beberapa personil humas mencegat mereka untuk diambil foto-fotonya.
Mereka semua berpose.
Sesekali pengarah gaya meminta pose yang menantang.
Setelah selesai, personil SHE langsung menuju tempat duduk santai yang diincarnya.
Dekat dengan Aaron.
"Henry...pindah dong...
kasih kami tempat duduk.." rayu Mini.
"Ooo...tentu...tentu....
Untuk gadis-gadis cantik seperti kalian..
apa sih yang enggak ?!"
Henry buru-buru berdiri.
Tak lupa mengambilkan kursi lain untuk para personil SHE lainnya.
Para pria segera mengerumuni mereka.
Beberapa saat kemudian vokalis band kapal memanggil SHE untuk tampil.
Sambil mengedipkan mata pada Aaron dan teman-temannya, SHE bangkit dari duduknya.
Lenggang dan lenggok mereka yang sudah dilatih di kamar tadi mengundang suit-suitan dari para pria.
Reva tersenyum manis.
Dia duduk di kursi.
Dan mulai menginjak pedal.
Dum...dum..dumm...dumm...
Reva tenggelam dalam permainannya.
Jubah tipisnya sudah kemana-mana.
Tidak lagi menutupi bikini seksi yang dipakainya.
Dia juga melakukan atraksi melempar stik sehingga banyak perhatian ditujukan padanya.
Kamera diarahkan padanya.
Lalu memutar-mutar stik di tangannya sebelum kembali menggebuk drum dengan semangat.
Setelah beberapa lagu, termasuk lagu-lagu lawas karena Selina dulunya memukai karir sebagai penyanyi cafe, mereka akhirnya menyelesaikan pertunjukan.
Band kapal kembali mengambil alih.
SHE kembali ke tempat duduk mereka yang sudah disediakan dengan senang hati oleh Aaron dan teman-temannya.
Dari seberang, Cindy dan teman-temannya mencibir.
Cindy memperhatikan bagaimana para personil SHE membalas perlakuan istimewa dari para pengagumnya sesama teman-teman di Maxx.
Matanya menyipit.
Hatinya diliputi rasa cemburu melihat Aaron yang melayani para personil SHE.
Reva tertawa-tawa saat memberikan botol sunscreen pada Aaron.
Aaron menuang sunscreen ke telapak tangannya.
Bersiap-siap untuk menggosok punggung salah satu personil SHE saat arena kolam terasa hening.
Dia mendongak.
Reva pun mendongak.
Dari arah pintu masuk menuju kolam terlihat Sandy berjalan cepat dengan muka merah menahan marah.
Dia berhenti di depan Reva.
"Apa-apaan kamu, Va ?!"
Reva yang kaget hanya bisa menatap.
"Bangun !" desis Sandy.
Reva menoleh.
Bertatapan dengan Aaron lalu Selina, Mini, Jasmine dan Else.
"Aku cuma berjemur, Om.." katanya dalam bahasa Indonesia.
"Bangun..!" bentak Sandy pelan.
Reva ternganga.
Aaron dan Mike bangun perlahan.
"Easy, bro.." kata Mike dengan suara pelan.
Sandy sama sekali tidak mempedulikan nya.
Matanya masih menatap Reva dengan tajam.
Tanpa ada yang menduga, Sandy membungkukkan badannya.
Dengan cepat dia meraih tubuh Reva lalu melemparkannya ke pundaknya.
Nafas Reva terhempas keluar saat dadanya menghantam pundak Sandy.
Reva meronta-ronta.
"Om.. turunin !" jeritnya.
Tangannya memukul-mukul punggung Sandy.
Kakinya menendang-nendang yang segera dikunci oleh lengan Sandy yang kuat.
"Om !!
Malu !!
Aku bukan anak kecil !!" jeritnya.
Reva dibawa seperti sekarung beras kembali masuk ke area kabin kapal.
Aaron dan Mike dan yang lainnya tidak berani ikut campur.
Terlihat Sandy tidak ragu-ragu untuk menghajar siapapun yang ingin menghalanginya.
Cindy memerhatikan semuanya.
Mukanya menahan kepedihan.
Jadi seperti ini Sandy yang sesungguhnya.
Sandy yang posesif dan tidak akan pernah mau berbagi.
Tapi....
__ADS_1
Pertunjukan kepemilikannya Sangat romantis.
...🍇🍎☘️...