
Sandy marah sekali saat tau Reva sudah pulang tanpa setau dirinya.
Dia juga tadi melihat Steven sekilas mencium pipi Reva.
Dia mengedarkan pandangannya dan melihat Steven.
Sandy mengerutkan kening.
Jadi...pulang sendiri ?
Sandy mendekati Tia.
"Reva mana ?" tanyanya.
Tia menatap Sandy.
"Pulang duluan. Ada tugas.
Ko....kamu...." Tia tidak menyelesaikan pertanyaannya.
Dia melihat Mami Sandy mendekati mereka.
"Ko...kamu urus dulu deh keluarga dan pacar kamu.
Menurutku dia masih pacar kamu.
Masih sibuk gelendotan di tangan kamu." tandas Tia lalu memalingkan muka.
Sandy ternganga dengan ucapan pedas Tia.
Lalu menoleh.
Astaga !!
Dua perempuan ini kenapa pada nempel plek sama dia sih ?! pikirnya kesal.
"Ayo pulang." ajak Mami Sandy.
"Bentar Mi..pamit dulu." katanya.
Sandy lalu menyapa Biliyan yang ternyata juga bersikap ketus padanya.
Hanya Mami Michael dan Mami Robert yang bersikap biasa.
Sandy mengeluh.
Bukan salahnya Cindy ikut.
Dan dia sudah berusaha untuk menjauhkan diri darinya.
Tapi..aduuh ..
Entah tidak tau malu atau memang sangat bertekad bulat untuk mendapatkan nya kembali.
Kapan Mami pulang ?
Masih dua minggu lagi.
Dua minggu lagi dia masih harus berhadapan dengan situasi seperti ini ?
Dan dia hanya punya waktu enam bulan untuk membuktikan pada Reva kalau dia serius ingin mengikatnya.
Sudut matanya menangkap Steven yang pergi dengan mobilnya.
"Saan...
Kamu anterin Cindy pulang ya..
Anterin Mami Papi dulu." kata Maminya.
Sandy mengangguk.
Dia tidak menjawab.
Antar Cindy ?
Oke..
Tapi Mami Papi harus ikut.
Dia tidak mau terjebak sendiri lagi seperti semalam.
"Pi...duduk depan.
Aku mau nunjukin sesuatu sama Papi." katanya saat membuka pintu mobil.
"Aduh..Pi..
Sini belakang aja sama Mami.
biar yang muda-muda berduaan di depan." ajak Mami.
Papi menatap Cindy sebentar lalu menoleh pada Mami.
"Ah enggak mau.
Papi kan jarang ke sini
Mau liat-liat juga." katanya.
Cindy tersenyum.
"Iya Mam..
Biar Papi di depan. Liat-liat pemandangan." katanya.
Sandy menekan klakson menyapa Michael dan Robert lalu melajukan mobilnya.
Di persimpangan, Sandy memilih jalur langsung menuju kota.
"San !.Kok lewat sini ?!
Kan kita mau nganterin Papi Mami ?" kata Cindy
"Anterin kamu pulang dulu." jawab Sandy pendek.
"Oh ya...aku bukan sopir kamu.
Lain kali kalo datang, sopir kamu suruh tunggu." sambung Sandy.
Cindy diam.
Dia saling berpandangan dengan Mami.
"San...
Kok gitu sih ?" protes Mami.
"Mi, aku sama Cindy udah putus.
Dan aku gak mau punya hubungan apa-apa lagi.
__ADS_1
Putus ya putus.
Titik.
Ini terakhir kali aku anterin kamu, Cin.
Next time, kamu pulang sendiri.
Aku juga punya banyak hal yang harus dikerjain selain jadi sopir kamu nganterin kemana-mana." kata Sandy.
Cindy dan Mami diam.
Cindy tidak menyangka kalau Sandy akan setegas ini berbicara dengan dia di depan orang tuanya.
Cindy menjadi semakin menyesal.
Dialah yang membuat Sandy seperti ini.
Tadinya Sandy seorang pria yang sangat manis.
Saking manisnya, dia sampai memperlakukan Sandy seolah Sandy adalah budaknya.
Budak cinta.
Dia menganggap remeh Sandy hanya karena Sandy tergila-gila padanya.
Cindy menghela nafas.
"San..aku minta maaf.
Aku minta maaf atas kesalahan ku selama ini.
Aku beneran menyesal, San.."
Sandy tidak menjawab selama beberapa saat.
"Oke
Tapi itu gak mengubah apapun.
Kita tetap gak ada hubungan apa-apa." jawabnya.
"San !!" kata Mami.
"Mami gak usah ikut campur." tegur Papi.
"Tapi Pi..
Cindy udah minta maaf.
Di depan kita lho..
Gak gampang.
Masa gak dihargai sih ?!" protes Mami.
Sandy tidak menjawab.
Percuma.
Dia tau Maminya keras kepala.
Sandy menekan gas lebih dalam.
Dia ingin cepat-cepat sampai dan kembali lagi ke kotanya.
Lalu pergi mencari Reva yang entah ada di mana.
Hanya Reva.
Dia mempertaruhkan enam milyar untuk gadis itu.
Dia harus mendapatkannya.
...🍇🍉☘️...
Sementara di kota lain...
"Kalian mau kemana ?" tanya Steven.
"Mau nonton." jawab Yuxi teman Reva.
"Oo..Oke..
dimana ?." tanya Steven.
"Emang siapa yang ngajak kamu Steve ?!" kata Reva dengan gemas.
"Sekalian kita kencan, Va.
Belum pernah kan ?" jawab Steven.
"Jadi kemana kita sekarang ?" tanyanya mengalihkan perhatiannya pada teman Reva.
Ruby, Teman Reva menyebutkan tujuannya.
"Ikutin aja mobil itu." tunjuknya.
Steven lalu mengikuti mobil di depannya.
"Va...
Beneran ini cowok kamu ?" tanya Yuxi.
"Wah...patah hati dong si Jerry." sambar Ruby.
"Siapa Jerry ?" tanya Steven.
"Kakak kelas kita.
Dia naksir Reva."
Reva memejamkan matanya.
"Bilang sama Jerry, Reva udah punya pacar !" kata Steven sambil tersenyum simpul.
"Eh..apa perlu aku yang ngomong sendiri, Va ?"sambung nya.
Reva tidak menjawab.
Dia menatap keluar.
"Oh..iya..namaku Steven." kata Steven.
"Aku Ruby."
"Aku Yuxi."
"Eh, Va...kamu enggak jadi ke lab ?" tanya Yuxi.
"Enggak.
__ADS_1
Di cancel." jawab Reva.
"Lagian... Sabtu kayak gini suruh ke lab." gerutu Yuxi.
Steven tersenyum.
"Sabtu kayak gini enaknya nonton rame-rame ya ?" katanya.
"Nah..iya..
Kita kan juga butuh refreshing.
Ke lab melulu.
Ntar mata kita pada jereng dah." kata Ruby.
"Emang siapa yang nyuruh ke lab ?" tanya Steven.
"Jerry." jawab Reva.
"Yang naksir kamu itu ?" kejar Steven.
"Idih...gak tau ah..." omel Reva masih sebal.
"Eh.. jangan-jangan ke lab hari Sabtu biar bisa duaan sama kamu, Va." kata Yuxi.
"Ya enggak lah..
Di lab kan banyak orang." bantah Reva.
"Hari Sabtu, Va...!" kata Ruby.
"Gak bisa kita sembarangan buka lab !" jawab Reva.
"Iya juga ya.." kata Ruby.
"Lagian prof Stephen pasti gak ngijinin kalo cuma buat main-main doang." kata Reva.
"Nah..terus dia nyuruh ke lab buat apa ?"
"Mau nerusin yang kemarin.
Tapi prof Stephen lagi gak bisa." kata Reva.
"Kamu bakal cepet lulusnya, Va." kata Ruby.
"Baguslah...
Jadi aku bisa ninggalin semua masalah disini dan hidup tenang di rumah." jawab Reva pelan dalam bahasa Indonesia.
Steven menoleh.
"Enak aja." katanya.
Reva menoleh.
"Apa ?" tanyanya.
"Enggak segampang itu kamu mau ninggalin aku, Va.
Aku kan tau rumah kamu !" kata Steven.
Reva menepuk dahinya.
Dia mengerang.
Kedua temannya di belakang saling berpandangan.
"Eh.. sebenarnya kalian berdua ini beneran udah jadian ?" tanya Yuxi.
"Enggak !"
"Bener !"
Jawab Reva dan Steven berbarengan.
"Va, mau aku bilang di depan teman-teman kamu ?"
"Bilang apa ?"
"Kalo kita udah jadian."
"Enggak !.Kapan jadiannya ?!" sembur Reva kesal.
"Bener nih ?" tanya Steven meminta kepastian.
"Apaan sih ?!.Kapan kita jadian ?!" kata Reva mendelik.
Mobil sudah berhenti di parkiran mall.
Steven berbalik.
Matanya berkilat menatap teman-teman Reva.
"Kita jadian waktu Reva sama aku ciuman di Lombok, Indonesia.
Pas kita berdua lagi liburan." katanya dengan senyum jail.
"Steeve !!
Itu..itu kan..." Reva tak sanggup melanjutkan.
Dia malu sekali.
"Kalian udah ciuman ?!" tanya Ruby memastikan.
Yuxi dan Ruby menatap Reva yang memerah.
"Hmmm...." senyum Steven.
"Bibir ?!" tanya Yuxi penasaran.
Steven mengangguk sambil melirik Reva.
Bibirnya tersenyum lebar.
Reva sudah membalikkan badannya.
Tangannya menutupi muka.
Mukanya sudah merah sekali.
"Berarti kalian udah jadian." putus Ruby.
"Steve! !" Reva kembali berbalik dan tangannya memukuli lengan Steven.
"Aduh...Va!" Steven menangkap kedua tangan Reva.
Ditariknya badan Reva lalu mengecup sekilas pipinya.
"Nah.. sekarang kalian percaya kan ?"
__ADS_1
...☘️🍉🍇...