
Addrian berjalan pergi dari sana. Mona terlihat wajahnya tampak berseri dan Citra yang meja kerjanya dekat dengan Mona tampak tidak suka.
"Mba Mona serius tidak tertarik dengan Pak Addrian? Kenapa wajah Mba Mona terlihat senang setiap kali Pak Addrian bicara dengan Mba Mona?"
"Aku berani bersumpah jika aku sama sekali tidak tertarik dengan Pak Addrian. Kalau tertarik, dari dulu aku mencoba mendekati Tuan Daddy." Sekali lagi mba Mona menahan senyumnya dengan menutup mulutnya dengan tangan.
"Jujur saja aku tidak suka jika ada yang menyukai pak Addrian."
"Maksud kamu? Kamu cemburu?"
Citra yang hampir keceplosan mencoba meralat ucapannya. "Bukan karena aku cemburu, tapi karena Pak Addrian itu suaminya teman aku, yaitu Aira."
"Oh ... aku kira karena kamu juga suka."
"Tidak mungkin. Aku tidak mau disebut pelakor karena suka suami orang, apa lagi suami sahabat aku sendiri. Aku cantik dan pasti mudah mendapat pria tampan lainnya."
"Itu baru pemikiran yang pintar." Mereka berdua tersenyum bersama.
Addrian sampai di depan rumah dan dari seberang rumahnya dia melihat ada seorang pria dengan baju serba hitamnya. Addrian tau jika pria itu yang diminta Addrian untuk mengawasi istrinya.
Pria itu memberi salam dengan menundukkan kepalanya sedikit. Addrian pun membalas dengan menganggukkan kepalanya samar.
Addrian masuk ke dalam rumah karena dia juga membawa kunci rumahnya.
"Sayang ... Aira ...," panggil Addrian, tapi dia tidak mendapat jawaban.
Akhirnya pria itu melihat istrinya sedang tertidur nyenyak dia sofa khusus ibu menyusui yang daddynya berikan untuk Aira dan dengan televisi yang masih menyala.
Pria tampan itu tersenyum dan dia melepas suitnya, menggulung kedua lengan kemejanya. Dia membawa istrinya masuk ke dalam kamar.
Addrian berganti baju dan dia ikut berbaring di samping istrinya. Tangannya memeluk perut buncit istrinya.
"Kamu pasti kelelahan sampai tidur nyenyak sekali," bisik Addrian pada telinga Aira.
Addrian ikut terlelap ikut dengan istrinya. Sampai hari menjelang sore dan mereka berdua masih tertidur.
Aira menguap dengan leganya. "Kenapa perutku berat sekali?" Aira melihat tangan seseorang memeluknya. "Mas Addrian? Dia kapan pulang?" Aira melihat jam di dinding, dan ternyata masih pukul empat sore. "Masih pukul empat dan dia sudah pulang?"
Tidak lama Addrian juga mengerjapkan kedua matanya. Saat dia membuka kedua matanya, dia melihat wajah cantik istrinya sedang melihatnya.
"Kamu sudah bangun, Sayang?"
"Mas, sejak kapan kamu berada di sini?"
"Sejak sebelum makan siang, aku izin pulang karena sudah tidak ada pekerjaan yang penting." Addrian mendekap Aira erat.
"Tapi kamu itu seorang atasan, Mas. Jangan berbuat hal seenaknya begini."
__ADS_1
"Hanya hari ini, Sayang. Aku juga sebenarnya pulang cepat ingin berbicara hal penting sama kamu, walaupun nanti bisa, tapi entah kenapa aku ingin bicara secepatnya sama kamu."
"Bicara apa, Mas? Kenapa sepertinya penting sekali? Apa ada masalah yang serius?"
"Bukan masalah serius." Sekali lagi Addrian mendekap erat Aira.
"Ada apa sih, Mas?"
"Berikan aku ciuman dulu."
"Mas! Jangan bercanda."
"Mana ciumannya?"
Aira akhirnya memberikan kecupan lembut pada bibir Addrian. Addrian membalas dengan mencium perut istrinya.
"Sekarang ceritakan padaku, Mas."
"Sayang, tadi Tuan Andreas ke kantor dan kita membicarakan tentang proyek pembangunan tempat rekreasi itu. Tiga hari lagi aku harus berangkat ke Singapura dengannya dan Mba Mona selama kurang lebih seminggu."
"Hah? Kamu mau pergi ke Singapura?"
"Iya, memang kita sudah merencanakan akan bekerja sama dengan teman Tuan Andreas yang mampu dalam proyek yang akan kita jalankan ini. Sayang, apa kamu tidak apa-apa aku tinggal selama seminggu?"
Aira terdiam sejenak. Wajahnya sudah agak ditekuk saja.
"Sayang, kamu sudah hamil besar, dan aku tidak mau mengambil resiko atas diri kamu dan bayi kita."
"Kenapa mendadak begini?"
"Tidak mendadak? Lebih cepat akan lebih baik jika segera diselesaikan proyek ini."
Aira akhirnya mau tidak mau mengizinkan. Dari pada nanti saat dia mau melahirkan Addrian pergi.
"Kalau begitu aku menginap di rumah mama saja selama satu minggu, Mas."
"Aku juga berpikiran seperti itu, daripada kamu di sini sendirian, dan aku pasti akan sangat khawatir denganmu."
"Iya!" serunya sambil mengerucutkan bibirnya.
Addrian tertawa melihat tingkah manja Aira.
"Jangan seperti itu. Bagaimana kalau malam ini aku ajak kamu jalan-jalan ke taman. Bukannya kalau di waktu sore begini di sana pemandangannya sangat indah."
"Serius mau mengajakku di taman?"
"Serius. Setelah dari taman kita pulang dan berendam air hangat di dalam jazucci. Bagaimana?"
__ADS_1
"Mas punya list kegiatan yang akan kita lakukan sebelum pergi ke Singapur?" Salah satu alis Aira naik ke atas.
"Tidak ada list. Semua hanya mengalir di dalam kepalaku."
"Idenya membuat orang takut saja," gerutu Aira sambil beranjak dari tempatnya.
Addrian mengajak Aira berjalan-jalan di taman dan di sana suasana tidak terlalu banyak orang, tapi ada beberapa pedagang menjual camilan dan minuman.
"Mas, aku boleh tidak senam untuk memperlancar persalinan?"
"Di sini? Di lihat banyak orang nanti."
"Ih, kamu! Memangnya aku senam yang bagaimana? Aku hanya berpegang pada tiang dan agak jongkok naik turun begitu."
"Oh ... begitu. Ya sudah, kamu boleh melakukannya. Aku akan menemani kamu di sini."
Aira akhirnya mencari tiang kecil dan dia mulai menarik napasnya dalam dan melakukan gerakan yang dia pelajari di video yang dikirim oleh dokternya.
Addrian tampak melihat istrinya dan dia mencoba mengikuti gerakan istrinya.
"Kamu itu sedang apa, Mas?"
"Aku mau juga senam hamil seperti kamu. Ternyata tidak susah."
"Apa? Tidak susah? Ini sangat susah, Mas, apa lagi dalam keadaan perut besar seperti ini."
"Kalau capek berhenti dulu, Sayang."
Aira akhirnya menghentikan gerakannya dan dia tampak kelelahan.
"Aku belikan minum dulu dan kamu tunggu di sini."
Addrian berlari mencari penjual minuman dan dia membeli air miner untuk istrinya.
"Nadin, kamu di sini?" Addrian melihat gadis kecil yang dia kenal sedang membeli camilan di sana.
Nadin yang melihat Addrian seketika berlari pergi saat Addrian mau mendekatinya.
"Loh? Dia kenapa malah lari? Apa aku mengatakan hal yang salah?" Addrian heran melihat sikap Nadin barusan.
Addrian kembali menemui Aira dan memberikan minuman. "Sayang, tadi aku bertemu dengan Nadin, tapi saat aku sapa dan mau mendekatinya, dia malah berlari pergi seperti takut padaku."
"Nadin lari melihat kamu?" Aira tampak bingung.
"Iya, dia malah lari seolah dia takut padaku, padahal aku tidak pernah memarahi atau bersikap buruk padanya. Dia kenapa ya?"
Aira pun hanya terdiam sejenak. "Dia kenapa, ya?" Aira melihat bingung pada suaminya.
__ADS_1
"Ya sudah, biarkan saja, nanti kalau bertemu akan coba aku tanyai dia kenapa? Apa ada yang salah dariku?"