Kamu Milikku

Kamu Milikku
Tidak Menyangka part 1


__ADS_3

Aira dan Addrian berada di rumah mama Tatiana. Mereka menitipkan si kecil dan Nadin. Aira juga tidak lupa membawakan beberapa kantung asi untuk si kecil.


Aira sudah belajar cara menjadi seorang ibu yang baik. "Nadin di sini dulu sama nenek Tatiana. Om sama tante mau pergi sebentar. Nadin nurut apa kata nenek ya?" Aira memberi nasehat pada Nadin bak ibu Nadin sendiri.


"Iya, Tante, Nadin akan menjaga adik Andrei dan menurut sama Nenek Tatiana."


"Kalian memangnya mau ke mana?"


"Kita mau pergi sebentar, Ma. Ada urusan sedikit yang harus kita selesaikan sekarang."


Addrian ini tidak bercerita pada mamanya tentang kejadian saat Aira didorong oleh seseorang di taman.


"Ya sudah, kalian hati-hati dan jangan khawatir tentang mereka berdua di sini."


Aira dan Addrian pergi dari sana. Aira masih penasaran, sebenarnya dia akan dibawa ke mana oleh Addrian.


Aira melihat ke arah luar jendela dan dia bingung mereka ini akan ke mana? Tapi pada saat mereka berhenti di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, malahan hampir sama dengan rumah yang Aira dan Addrian tempat.

__ADS_1


"Mas, ini rumah siapa?"


"Rumah orang yang sudah membuat kamu hampir celaka beberapa kali." Addrian turun dari mobilnya dan Aira yang terkejut segera melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil.


"Mas, apa yang kamu katakan itu serius?"


"Tentu saja aku serius."


Addrian menggandeng tangan Aira dan dia menuju pintu masuk rumah itu. Addrian membunyikan bel pintunya dan tidak lama ada seseorang yang membukakan pintu untuk mereka.


Addrian melihat datar pada orang yang berdiri di depan pintu. Sedangkan Aira tampak bingung dan melihat ke arah suaminya.


"Shelomitha?" Aira sekali lagi melihat pada suaminya.


"Aku tau kamu tinggal di sini karena orangku yang aku suruh mencari wanita dengan bekas luka di telinganya. Wanita yang sudah beberapa kali berencana untuk menyakiti istriku."


Shelomitha terkejut, tapi dia berusaha menutupi keterkejutannya itu.

__ADS_1


"Addrian, apa maksud kamu?"


Tiba-tiba dari arah dalam, bocah kecil bernama Langit itu berlari keluar dan menyapa pada Addrian dengan wajah senangnya.


"Om Addrian, Langit senang melihat Om datang ke rumah baru Langit."


"Om juga senang bisa ke sini."


"Om Addrian dan Tante Aira silakan masuk. Langit mau menunjukkan kalau Langit memiliki mobil-mobilan besar. Nenek dan kakek yang sudah membelikannya untuk Langit." Tangan bocah kecil itu menarik tangan Addrian untuk masuk. Pun dengan Aira, dia ikut masuk juga.


"Langit, Om sama Tante Aira akan bicara sebentar dengan mami kamu dan nanti setelah bicara, om akan bermain dengan Langit. Apa Langit bisa menunggu dulu?"


"Pasti nanti Om seperti papi yang hanya berjanji bermain dengan Langit, tapi malah ditinggal pergi terus." Bocah itu seketika membanting mainannya dan berlari menuju kamarnya.


Langit pun menutup pintunya dengan keras.


Shelomitha hanya terdiam melihat hal itu. "Mitha, Mas Dewa mana? Apa dia keluar? Bukannya ini hari libur?" tanya Aira.

__ADS_1


"Semua ini karena kamu. Kamu yang membuat putraku menjadi seperti itu, Aira. Kamu tau? Aku sangat membenci kamu, Aira." Tiba-tiba Shelomitha menatap tajam pada Aira. Aira yang melihat perubahan sikap dan ekspresi Shelomitha tampak kaget.


"Ternyata memang benar kalau kamu wanita dengan luka pada telinga itu. Aku ingat saat orang yang kamu pinjam ponselnya mengatakan wanita itu memilik luka pada telinga dan aku melihat pada Citra, tapi bukan dia. Dia hanya kamu jadikan boneka dan kamu yang menjalankannya dari jauh."


__ADS_2