
Bel berbunyi.
Sandy berjalan dan membuka pintu.
Steven.
Dengan kaget Steven menatap Sandy.
Sandy masih mengenakan bajunya yang kemarin.
Berarti...
Sandy menginap di sini ?!
Steven memincingkan matanya.
Sandy pun balas menatap Steven.
Menantangnya untuk bertanya.
Benaknya bermain dengan ide mempermainkan situasi pada Steven.
Ingin Membuat Steven berfikir kalau dia sudah memiliki Reva.
Sandy bersandar malas pada kusen.
Reva mendorong pintu lebih lebar.
"Steve ...
Ayo masuk..." sapanya dengan nada biasa.
Steven mengerutkan keningnya sedikit.
Sandy mundur.
"Ayo Steve...
Masuk...
Kita lagi sarapan." kata Sandy.
"Steve..aku udah nyiapin telur buat kamu.." kata Reva dari meja di dapur.
Steven masuk.
"Asik nih.. sarapan bareng..." katanya memancing.
"Hm.." jawab Sandy.
Steven lalu duduk di samping Reva.
Berhadapan dengan Sandy.
"Nginep di sini Boss ?" katanya dengan nada biasa.
"Hmm...iya." jawab Sandy sambil menyuap telurnya.
Reva melirik Steven.
"Kamu jangan mikir macam-macam Steve.
Aku tidur di sofa." katanya.
Sandy meletakkan sendoknya.
Dia meraih tempat lada.
"Kita satu tempat tidur, Va." katanya kalem sambil menaburkan lada di telurnya.
Reva tersedak.
Steven menegang lalu sambil berusaha bersikap santai mulai menepuk-nepuk punggung Reva dengan pelan.
"Om !!
Tadinya kan aku di sofa.
Terus Om yang mindahin aku ke kasur." protes Reva.
Sandy tersenyum jail.
"Lho iya..
Terus..apa yang salah dari pernyataan ku ?"
"Eh..." Reva memerah.
"Maksudku...
Pokoknya kita gak ngapa-ngapain !" tegasnya.
"Ya...
Kita tidur bareng, Va."
Reva kembali tersedak.
Kali ini Sandy menyodorkan air putih.
"Makanya kalo makan pelan-pelan." katanya kalem.
"Om yang bikin aku keselek !" kata Reva melotot.
Sandy tertawa.
"Enggak ngapa-ngapain Steve." katanya pada Steven.
Steven menatap Sandy.
Mengukur kejujuran dari pernyataannya.
Lalu...
"Ya..kalo kalian ngapa-ngapain, aku masih mau kok sama kamu, Va.." jawabnya memancing.
Reva kembali tersedak.
Sandy pun ikut tersedak.
Sialan Steven !! gerutu Sandy dalam hati.
"Aku sama Om Sandy gak ngapa-ngapain ya..
Kalian berdua jangan sampe ngerusak nama aku !" bentak Reva pelan.
Steven terkekeh.
"kamu cantik kalo lagi marah." katanya lagi-lagi ingin memancing reaksi Sandy.
Sandy menatap Steven sekilas.
"Dia memang cantik.
Memangnya kamu ngincer dia Steve ?" tanyanya terang-terangan.
Steven tertawa.
"Iya." jawabnya.
Juga terang-terangan.
"Berarti antriannya panjang ya..." kata Sandy tertawa.
"Kalian berdua !!
Aku masih ada disini ya...
Kok seolah-olah aku gak ada sih ?!" protes Reva.
"Hmm..
Yang penting gak ngaruh ke kerjaan, Steve." kata Sandy tidak mempedulikan ucapan Reva.
__ADS_1
Steven mengangkat kepalanya.
"Enggak bakal Boss.
Siapapun yang dapat...gak perlu ada dendam ya."
Reva melotot.
"Kalian berdua !!
Memangnya aku barang ?!"
Sandy menoleh sebentar pada Reva
"Bukan." katanya.
Steven mengangguk.
"Iya, Bukan."
Lalu Steven dan Sandy saling berpandangan.
"Persaingan sehat ya ?" kejar Sandy.
"Iya dong." jawab Steven.
"Ehmm...pagi ini...biar aku yang antar ke kampus.
Boss pulang aja dulu.
Mandi." katanya.
"Iya...
Aku belum mandi dari kemarin." kata Sandy.
"Ck..ck..ck..." decak Steven.
"Udah beres Boss ?" tanyanya.
"Udah..
Tapi...kayaknya bakal panjang masalahnya." keluh Sandy.
"Yaah...
Kita semua dukung kok..Cari cewek lain Boss.
Kalo bisa jangan yang ini." cetus Steven jail.
Sandy tertawa.
"Sayang banget..
Harapan kamu enggak bisa terpenuhi." katanya.
Reva menghela nafas.
Dia menatap keduanya lurus-lurus.
"Aku gak mau sama kalian berdua.
Kalian berdua ini.. tipe cowok yang enggak bisa menerima pendapat cewek.
Keinginan kalian saja yang harus terlaksana.
Keinginan kami diabaikan.
Asal kalian tau aja ya..
Aku ini feminis sejati !!" ketusnya.
"Aduh...makin berat perjuangan kita, Boss.
Ceweknya penganut feminist." cetus Steven.
Reva menyodok perut Steven dengan sikunya.
"Aduh...
"Steven !!" bentak Reva.
Steven dan Sandy tertawa terkekeh.
Reva berpaling dengan cemberut.
"Untung aku hari ini enggak ujian.
Bisa jeblok nilaiku kalau pagi-pagi udah harus sarapan sama kalian berdua." gerutunya.
Sandy menatap arloji.
"Yuk..." ajaknya.
"Va..nanti siang aku jemput.
Kita makan bareng." sambungnya.
"Enggak mau !" jawab Reva keras kepala.
"Kalo gitu aku yang jemput." kata Steven.
"Aku juga gak mau sama kamu !" cemberut Reva.
"Boss...
Apa kita culik aja ?"
"Bisa...
Kamu tau jadwalnya kan?
Toh kita ini juga lulusan sana.
Gak bakal dicurigain." jawab Sandy santai.
"Om !!
Steve !!
Kalian ini !!"
Sandy dan Steven kembali tertawa.
Senang sekali rasanya mengerjai Reva.
Wajah Sandy kembali serius.
"Tolong antar dia sampai ke depan kampusnya."
Steven menegakkan tubuhnya.
Matanya menatap Sandy dengan seksama.
Sandy lalu bercerita tentang semalam.
Dan mengutarakan kekhawatiran nya terhadap keselamatan Reva.
Steven mengerutkan keningnya.
Dia menoleh.
"Kalo gitu, tiap hari kamu tunggu kami jemput, Va.
Perempuan kalo cemburu...bahaya.
Dulu..Tia sampe dikawal.
Tapi Tia itu publik figur. Banyak yang kenal. Kalo ada apa-apa..banyak yang mau nolongin.
Fansnya.
Lain halnya dengan kamu.
__ADS_1
Orang biasa." katanya.
"Aku bisa jaga diri." sahut Reva.
"Kalo gitu aku mau nyewa pengawal deh." putus Sandy.
"Astagaaa !
Kalian ini !!
Aku gak papa.
Pokoknya aku gak mau diikutin kemana-mana.
Malah eye catching.
Menarik perhatian orang.
Apa kata dosen-dosen ku sama teman-teman ku nanti ?
Enggak !
Pokoknya enggak !!
Kalo Tante kan beda." kata Reva keras kepala.
Sandy dan Steven saling berpandangan.
Lalu diam. Tidak melanjutkan.
Tidak ada gunanya membujuk.
Pasti ditolak.
Nanti saja di kantor, mereka akan mendiskusikannya kembali.
Atau..langsung mengontak jasa keamanan dan menyuruh mereka untuk diam-diam mengikuti Reva.
Subuh tadi...
Tadi pagi Reva bangun dalam pelukan Sandy.
Wajah Sandy menyuruk di geraian rambutnya.
Reva mengedip-ngedipkan matanya.
Untung kemarin dia sudah keramas.
Kalau tidak...bisa malu.
Dia memindahkan tangan Sandy yang memeluknya lalu menunggu dalam diam.
Menunggu Sandy memindahkan kepalanya.
Dan kembali tidur.
Setengah jam kemudian, Sandy baru bergerak.
Rupanya dia sangatlah lelah. Jiwa dan raga.
Sandy menoleh.
Menatap Reva yang masih memejamkan matanya.
Menunggunya bangun.
Reva akhirnya membuka mata.
Merasakan ada yang memperhatikan, dia menoleh.
Lalu tersenyum.
Sandy menelan ludah.
Dia sering melihat Cindy yang bangun tidur dan tersenyum padanya setelah percintaan panas mereka.
Tapi dia tidak pernah tergugah.
Dia tidur karena ingin balas dendam.
Bukan karena cinta.
Tapi yang satu ini ?
Sandy berdebar.
Dia bukan anak kemarin sore.
Tapi...dia berdebar.
"Om..." sapa Reva.
Lalu merentangkan tangannya.
Melemaskan otot-otot yang kaku.
Sandy terus menatapnya.
Jari Reva mendorong pipinya.
"Jangan ngeliatin kayak gitu ah.." kata Reva sambil bangkit.
Tangan Sandy menahannya.
"Aku pingin seperti ini terus selama bertahun-tahun mendatang, Va."
Reva tersenyum.
"Liat bulan depan Om.
Apa Om masih merasa seperti ini.
Kayaknya sih enggak." senyumnya.
"Kita udah taruhan.
Mulai hari ini waktunya dimulai.
Sampai enam bulan ke depan."
"Om bakal kalah.
Tapi aku gak pingin rumah Om.
Aku cuma pingin liat Om bahagia.
Sama seperti orang lain."
"Aku bisa bahagia sama kamu, Va.
Dan aku juga bisa ngebahagiain kamu." balas Sandy.
Reva mengeluh.
"Itu kan kata orang yang baru aja mutusin cewek yang udah lama pingin diputusin.
Om udah lama gak ngerasain mencintai.
Coba deh...
Om mulai membuka hati sama orang.
Mulai hari ini." jawab Reva.
Sandy diam tidak menjawab.
Tidak ada gunanya mendebat Reva.
Dia pasti dengan keras kepala akan mengatakan bahwa dirinya bukan tipe yang diinginkan oleh Sandy.
Sandy menghembuskan nafas.
Memang harus sabar.
__ADS_1
...☘️🍇🎋...