
Steven akhirnya melepaskan Reva.
Keduanya terengah-engah kehabisan nafas.
Reva yang lebih cepat sadar segera menarik tangannya.
Tapi Steven tidak melepaskannya.
Dia tetap mengunci tangan Reva di dinding.
Steven menunduk, meletakkan dahinya di dahi Reva sambil memejamkan mata.
pembuluh darahnya berdenyut kencang.
Tubuh mereka berdempetan.
Reva mendongak.
Steven membuka mata, menatap mata Reva yang bening.
Reva membuka mulutnya.
"Steve..." katanya pelan.
"Jangan kawin, Va..
Jangan tinggalin aku.
Aku mencintai kamu.
Dan aku tau kalo kamu juga masih mencintai aku.
Kenapa kita harus berpisah, Va ?
Please.."
"Steve...
Aku.."
"Kita bisa ketemu Sandy.
Kita bicara baik-baik sama dia.
Kita bicara juga sama papa kamu."
Reva tersenyum.
"Ibu kamu ?" katanya dengan lembut.
"Ibuku ?
Kenapa dengan ibuku ?
Dia emang ibuku, tapi bukan berarti dia berhak untuk mengatur hidupku.
Apalagi memilih calon istriku sendiri.
Bukan dia yang akan kawin.
Tapi aku." jawab Steven.
Senyumnya tetap tersungging di bibirnya.
Dia harus berhati-hati saat membicarakan soal ini.
Dia tau Reva peka sekali terhadap hal ini.
Entah apa yang dulu pernah terjadi padanya, tapi Steven tetap berhati-hati.
"Steve...
Jawabanku tetap sama.
Enggak." kata Reva tetap dengan nada lembut.
"Va....
Kita saling mencintai.
Aku tau kalo kamu masih mencintai aku." bujuk Steven.
Reva diam sejenak.
Dia lalu mengangkat muka, menatap mata Steven dengan dalam.
Mencari kepastian dalam mata Steven.
Dan dia menemukan nya.
Tapi Reva tau, dia tidak bisa.
"Steve...
kalaupun aku ingin...aku gak bisa.
Aku gak bisa kembali sama kamu.
Bukan cuma karena gak etis mengkhianati pertunangan ku dengan Om Sandy, tapi aku...
Aku...sudah...eee..."
Reva terhenti.
Tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Dia tidak ingin menyakiti Steven dengan mengatakan bahwa dirinya sudah bersama dengan Sandy.
Walaupun Reva sendiri tidak menyadari saat hal itu terjadi.
Tapi Reva tetap merasa bahwa dia sekarang sudah tidak pantas lagi untuk Steven.
Steven menatap dalam mata Reva yang indah.
Sejenak terpesona dan tenggelam didalamnya.
Betapa dia mencintai gadis ini.
__ADS_1
"Va...
Aku mencintai kamu.
Aku bukan tipe laki-laki yang butuh saat pertamamu untuk aku.
Aku butuh kamu disisi ku.
Sudah. Itu saja.
Apapun yang kamu minta, aku bisa berikan.
Kecuali menyerahkan kamu pada laki-laki lain.
Apalagi dengan alasan ibuku.
Va..."
Suara Steven begitu lembut dan membujuk.
Reva memejamkan matanya.
Pikirannya melayang pada saat-saat mereka bersama.
Dia dan Steven.
Berdebat tapi tidak pernah bertengkar.
Mereka cocok satu sama lain.
Reva bisa membayangkan bila mereka menikah.
Tapi kemudian bayangan Sandy melintas.
Om Sandy.
Pernikahan mereka yang hanya tinggal hampir empat minggu lagi.
Reva lalu membuka mata.
"Maaf Steve..
Aku gak bisa.
Aku gak bisa mengkhianati Om Sandy, dan...
Aku juga tidak pantas untuk kamu.
Ada terlalu banyak dinding diantara kita.
Aku...."
"Kamu keras kepala Va !" senyum Steven.
Entah mengapa, Steven tidak bisa marah.
Intuisinya mengatakan bahwa yang dibutuhkan oleh Reva saat ini adalah bujukan, pendekatan yang halus supaya Reva bisa melupakan segala perlakuan ibunya dan bersedia meninggalkan Sandy.
Reva menggelengkan kepalanya.
Steven menghela nafas.
Reva memang keras kepala.
Tapi justru itu satu hal yang membuatnya jatuh cinta.
"Oke..oke...
Tapi aku punya satu permintaan." kata Steven.
"Apa ?
Jangan aneh-aneh, Steve !"
"Ah enggak...
Selama disini, tolong kamu pakai cincinku."
"Steve..."
"Pakai saja.
Buat aku bahagia sebelum aku harus melepas kamu jadi milik orang lain, Va.."
"Tapi...ini..."
"Pakai saja !"
Mulut Reva terbuka.
Steven mengambil jemari Reva, menatapnya sejenak.
Lalu tangan kanannya mengambil cincin dari saku.
Reva menatap cincin yang terselip di antara jemari Steven.
Cincin bermata batu rubi berwarna merah muda.
Ingatan nya melayang ke suatu masa dia sedang berdua dengan Steven di apartemen.
Steven melihat-lihat katalog perhiasan.
Katanya dia ingin membelikan kalung untuk adik dan ibunya.
Steven meminta Reva ikut melihat katalog, membantu memilihkan.
Dan saat Reva melihat-lihat, dia menunjuk satu cincin.
Cincin yang sama yang saat ini dimasukkan oleh Steven ke jari manisnya.
"Steve...ini kan...?"
Steven tersenyum.
"Kamu ingat yang kamu katakan sama aku waktu itu Va ?"
Reva diam, tidak berani menjawab.
__ADS_1
"Kamu bilang....kamu ingin cincin itu kalo ada yang mau melamar mu." sambung Steven.
Reva mengusap lembut cincin yang melingkar di jarinya.
Lalu mendongak.
Steven menangkup wajah Reva.
"Pakai cincinku.
Bantu aku mendapatkan kenangan indah saat ini bersama kamu.
Selama di Beijing ini saja.
Setelah itu....aku akan kembalikan cincin dia."
Bola mata Reva menatap nanar wajah Steven.
Ragu sejenak.
Reva lalu mengangguk.
"Iya." katanya
Steven tertawa lega.
Dia mengecup kening Reva.
Hal yang biasa dia lakukan dulu.
Lalu dengan cepat mencuri satu kecupan di bibir.
"Steve !!" protes Reva yang segera mendorong tubuh Steven.
Steven tertawa-tawa sambil menarik tangan Reva untuk mengikutinya menyusuri sepanjang Tembok China.
...π»πΊπ³...
Lima jam kemudian, Steven sambil menggandeng tangan Reva masuk ke rumah keluarga besar ayahnya.
"Halooo..." sapanya ceria.
Semua orang yang memang sedang menunggunya memandang Steven sebentar lalu mengalihkan pandangan mereka pada gadis manis yang berdiri malu-malu di belakang Steven.
"Steve !!" sapa Fan yang langsung merangkul Steven.
Steven tertawa, melepaskan rangkulan Fan lalu mengusap kepalanya.
Senyum Reva membeku saat melihat mereka.
Tapi tidak lama.
Seorang wanita usia pertengahan yang kelihatannya tante dari Steven menarik tangannya.
"Reva kan ?"sapanya.
Reva mengangguk sambil tersenyum.
Reva ditarik ke tengah-tengah keluarga lalu diperkenalkan satu persatu.
Setiap orang memandang nya dengan rasa tertarik yang tidak disembunyikan.
Steven tidak pernah membawa teman perempuan.
"Aku kakeknya Steven.." sapa seorang pria tua yang mengulurkan tangannya.
Reva menatap kakek Steven.
"Saya Reva." balasnya dengan sopan.
"Kami tau.
Kamu pacarnya Steven kan ?"
Reva tidak bisa menjawab.
"Bukan pacar..
Calon." jawab Steven yang mendadak muncul di samping kakeknya.
Sang Kakek tertawa lebar.
"Cantik, Steve.
Ibumu buta." kata Kakek Steven masih tetap memandang Reva.
Reva merona.
"Ma aku kan perempuan.
Perempuan enggak bisa melihat perempuan lain lebih cantik." jawab Steven.
Kakek Steven kembali tertawa.
"Ayo nak..
Kita makan." ajak Kakek Steven.
Mereka semua lalu mengambil tempat duduk.
Fan langsung mengambil tempat disebelah Steven.
Reva yang melihat hal itu, dengan sengaja mengambil dua kursi menyamping diseberang Steven.
Dia memilih untuk tidak duduk berdekatan dengan Steven.
Steven mengerutkan keningnya saat melihat Reva.
Tapi Reva sengaja tidak memandang nya.
Dia tersenyum saat salah satu Om Steven mengajaknya berbicara.
Disebelah Reva duduk sepupu Steven yang laki-laki.
Steven memandang nya dengan tidak senang.
Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Dia tidak mungkin pindah tempat duduk.
Jadi Steven hanya bisa duduk pasrah dan mengikuti percakapan di meja makan.