Kamu Milikku

Kamu Milikku
Jebakan Untuk Addrian part 2


__ADS_3

Tangan Addrian mencoba meraih ponsel di atas laci di sampingnya dengan kedua mata masih susah untuk dibuka.


Addrian akhirnya memaksa untuk membuka matanya dan melihat ada nama Aira di sana.


"Aira, dia pasti ingin membangunkan aku pagi-pagi untuk bersiap-siap pulang" Addrian tersenyum melihat mengetahui panggilan tak terjawab itu dari istrinya.


Saat dia ingin menghubungi balik Aira. Addrian merasakan jika ada tangan yang memeluk perutnya. Saat dia melihat ke arah sampingnya, Addrian sangat terkejut melihat ada Citra yang tengah tertidur nyenyak di balik selimut putih yang juga Addrian kenakan.


"Citra? Kenapa dia bisa berada di sini? Dan apa ini?" Addrian mencoba melihat sesuatu yang dia berharap tidak seperti apa yang dia pikirkan.


"Oh Tuhan!" Addrian melihat tubuh polosnya dan Citra dibalik selimut putih yang mereka berdua kenakan. "Ini tidak mungkin, apa yang sudah aku dan Citra lakukan?"


Wajah Addrian seketika tampak shock saat dia melihat sekeliling kamarnya yang tampak berantakan. Dia langsung memegangi kepalanya.


Tidak lama ponsel miliknya kembali berdering dan dia melihat nama Aira di sana.


Addrian segera turun dan mengambil celananya. Dia menggunakannya dengan cepat, dan agak menjauh dari tempat Citra.


"Halo, Mas, kenapa lama sekali di angkatnya?" cerocos Aira.


"Ma-maaf karena aku baru saja bangun, Sayang. Ada apa?"


"Kok ada apa? Memangnya kamu tidak mau bersiap untuk segera pulang? Aku sudah tidak sabar menunggu kamu pulang, Mas."


"Iya, aku juga sudah tidak sabar ingin segera pulang." Addrian melihat Citra yang tampaknya akan segera bangun mencoba mencari alasan untuk mengakhiri panggilannya dengan Aira.


"Mas, kamu segera bersiap."

__ADS_1


"Iya, aku akan mandi. Sayang, ini ponselku baterainya mau habis karena semalam aku lupa menchargernya, nanti aku hubungi kamu lagi."


"Ya sudah kalau begitu. Aku mencintaimu, Mas."


"Aku juga sangat mencintaimu." Addrian mematikan panggilannya dan dia merasa bersalah pada Aira.


Citra yang baru bangun pura-pura terkejut melihat keadaan dirinya. "Apa yang terjadi?" Citra beranjak bangun dan dia melihat ada Addrian berdiri di depannya.


"Citra, aku sendiri tidak tau apa yang sudah terjadi kemarin malam. Saat bangun tadi aku juga sama terkejutnya seperti kamu."


Citra tiba-tiba menyikap sedikit selimutnya dan mencoba memperlihatkan warna merah pada sprei hotel di sana. Warna merah itu kemarin malam dia juga yang merencanakannya.


"Addrian, aku sudah tidak suci lagi, dan kamu yang sudah melakukan semua ini." Citra tiba-tiba menangis.


"Oh Tuhan!" Addrian kembali memegang kepalanya bingung dengan apa yang sudah terjadi kemarin malam.


Namun, kejadian ini dia ingat saat dengan Aira waktu itu, dan dua kali ini dia benar-benar bingung harus bagaimana?


"Citra, kamu tenang dulu, kita akan mencoba mencari jalannya. Aku benar-benar tidak menginginkan hal ini. Ini semua pasti gara-gara minuman kemari. Brengsek! Seharusnya aku tidak meminumnya.


"Aku harus bagaimana sekarang Addrian? Aku tidak mau dianggap sebagai pelakor yang tega berselingkuh dengan suami sahabatnya sendiri. Bagaimana perasaan Aira jika dia mengetahui apa yang terjadi dengan kita ini?" Citra kembali menangis.


"Aira tidak perlu tau dulu sampai dia nanti melahirkan. Aku mohon Citra, kamu jangan sampai memberitahu Aira akan hal ini. Aku tidak mau ada apa-apa dengan Aira dan bayinya."


"Tapi bagaimana dengan aku, Addrian? Hal yang selama ini aku jaga, tapi sudah hilang di tangan suami temanku sendiri."


Addrian mencoba menarik napasnya panjang dan sekali lagi dia mencoba berpikir apa yang harus dia lakukan untuk menyelesaikan semua ini.

__ADS_1


"Addrian, aku tidak mau kalau sampai nanti aku hamil anak kamu. Aku tidak mau hamil tanpa suami." Citra mencoba membuat Addrian merasa di sudutkan.


"Citra, kamu jangan berpikiran yang lebih jauh lagi karena hal itu juga belum tentu terjadi. Kita hanya melakukan sekali. Citra, kita tenangkan saja pikiran dulu sampai aku mendapat ide untuk menyelesaikan masalah ini. Aku juga tidak akan lepas tanggung jawab atas apa yang terjadi padamu, walaupun aku juga tidak sengaja melakukan hal itu."


Citra beranjak dari tempat tidur dengan masih menutupi tubuhnya dengan selimut. Citra memunguti bajunya yang berserahkan dan masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, tepatnya di depan cermin wastafel, Citra menunjukan senyum lebarnya.


"Aktingku bagus juga. Addrian tampak ketakutan dengan semua ini dan akan aku buat nanti Aira mengetahui apa yang sudah aku dan suaminya lakukan. Aku tidak akan menunggu lama sampai Aira melahirkan. Kalau perlu aku akan membuat bayi itu tidak bisa lahir ke dunia karena nanti hanya bayiku dan Addrian saja yang memanggil Addrian papa," Citra berdialog sendiri di depannya cermin.


Addrian yang berdiri di sana tampak wajahnya cemas dan bingung. Dia mondar mandir di depan tempat tidurnya.


Tidak lama Citra keluar dengan wajah yang masih terlihat sedih. Citra menghampiri Addrian dan menatap dengan mata yang terdapat butiran air mata yang siap keluar.


"Addrian, aku tidak mau menyakiti Aira. Aku sudah putuskan jika aku akan pergi jauh dari kehidupan kalian nantinya." Citra menghapus air matanya.


Addrian yang mendengar apa kata Citra hatinya merasa kasihan. Dia menganggap Citra gadis yang sangat baik sampai mau melakukan hal seperti itu karena tidak mau menyakiti hati Aira.


Citra menangis agak keras sampai dia akhirnya memeluk tubuh Addrian. Addrian yang merasa bersalah dengan Citra pun mengangkat tangannya perlahan memeluk Citra.


"Citra, aku minta maaf karena hal ini, tapi aku juga tidak berharap hal ini terjadi dengan kita. Citra, kamu tau kalau aku sangat mencintai Aira dan tidak ingin sampai menyakiti Aira."


"Aku tau, oleh karena itu aku yang akan pergi dari kehidupan kalian saja. Aku tidak bisa dekat dengan kamu karena aku akan selalu teringat kejadian ini."


"Citra kita akan mencari jalan keluarnya kalau kamu mau."


Citra menggeleng perlahan. "Lebih baik Aira tidak perlu tau apa-apa, dan kita bersikap saja hal ini tidak pernah terjadi, tapi aku tidak bisa tinggal di sini dekat dengan kamu Addrian. Aku akan menjauh saja dan hidup menyendiri dan mungkin aku tidak akan pernah menikah karena aku sudah menjadi milik kamu dan tidak mau dimiliki oleh orang lain." Citra mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Addrian tampak terdiam dengan apa yang baru saja Citra katakan. Otaknya seolah tidak dapat berpikir dengan baik sekarang. Addrian benar-benar bingung saat ini.


__ADS_2