
"Ayo aku antar ke kamar buat nyimpen kalungnya." kata Sandy.
Reva kembali tidak menjawab.
"Reva !" tegur Sandy.
Reva memalingkan mukanya.
Staf menyerahkan tas kecil beludru pada Reva.
Reva mendorongnya kembali.
"Bisa tolong simpankan dulu untuk saya ?
Saya malas ke kamar.." katanya.
Staf mengangguk.
Mengambil kembali tas beludru itu lalu mencatat di penyimpanan barang.
Sandy tidak berkata apa-apa.
Dia sadar, Reva sedang marah padanya.
Jadi dia hanya mengikuti.
Reva menoleh pada Daniel.
"Daniel...ayo kembali." ajaknya.
"Oke.." jawab Daniel tersenyum.
Reva kembali mengalungkan tangannya di lengan Daniel.
Daniel menatap Sandy dari atas kepala Reva.
Sandy mendongakkan wajahnya.
Kesal.
Reva sama sekali tidak mau melihat.
Mereka lalu berjalan keluar.
Situasinya menjadi canggung.
Reva diapit oleh Sandy dan Daniel.
Tapi dia sama sekali tidak menoleh pada Sandy apapun yang Sandy katakan.
Mereka kembali ke ballroom.
Acara dansa sudah dimulai.
"Daniel..terima kasih ya.." kata Reva.
"Mau dansa ?" jawab Daniel.
Reva mengangguk.
Apapun selain bersama Sandy.
Daniel menyapa Sandy.
"San...aku ajak Reva dansa dulu." katanya tersenyum simpul.
Sandy tidak bisa apa-apa selain mengangguk.
Daniel lebih senior dan dia dihormati.
Lagipula..ini acara Elle dan Greg.
Adik Daniel.
Sandy berdiri di pinggir mengamati Reva dan Daniel.
"Saan...." sapa satu suara dari samping.
Sandy menoleh.
Oh.. God..dia lagi...keluh Sandy dalam hati.
"Dansa yuk San.." ajak Cindy menaruh tangannya di lengan Sandy.
Sandy tersenyum.
"Maaf Cin, aku mau bicara sama.....
Aduuh.."
Punggung Sandy terdorong ke depan.
Otomatis Cindy juga ikut terdorong karena sedang memegang lengan Sandy.
Dari jauh nampak seperti Sandy sedang mengajak Cindy masuk ke lantai dansa.
Memanfaatkan momentum itu, Cindy menarik Sandy dan langsung memeluknya.
Mereka mau tidak mau berdansa.
Cindy tersenyum kecil.
Helen sendiri sudah menghilang di balik kerumunan.
Helen tadi yang menabrak punggung Sandy.
Mereka berputar-putar.
Reva menatap tak percaya saat mereka berpapasan.
Sementara saat mengetahui mereka mendekati Reva, Cindy makin mengeratkan pelukannya pada Sandy.
Tubuhnya menempel ketat.
Reva dan Cindy bertatapan sejenak.
Terlihat senyum Cindy yang penuh kemenangan.
Dengan sengaja ditempelkan nya bibirnya dekat telinga Sandy. Berbisik.
Tapi karena Reva melihat dari sisi yang berbeda, yang nampak adalah Cindy mencium pipi Sandy.
Tanpa sadar, Reva mengeratkan pegangannya di bahu Daniel.
"Ada apa ?" tanya Daniel.
"Aku marah Daniel !!
Aku marah !!
Gak boleh kah aku marah ?!" kata Reva dengan geram.
Daniel melirik.
Pandangan nya bertemu dengan Cindy.
Daniel mengulas senyum.
"Jangan terpancing." jawabnya pendek.
"Hah?!
Apanya yang jangan terpancing ?
Itu...ngapain dansa ?"
"Kamu coba tanya baik-baik..
Mungkin Sandy punya alasan sendiri."
"Huh !!"
"Nasihatku...
__ADS_1
Jangan lepaskan Sandy malam ini.
Kamu tidur di kamarnya dia."
"Hah ?!" Reva menatap tak percaya.
"Daniel...please deh.
Aku masih virgin.
Aku gak mau tidur sama dia.
Apalagi dia terang-terangan dansa sama mantannya yang masih ngebet.
Boro-boro tidur.
Aku gak mau kawin sama dia.
Enggak !!" sambung Reva dengan marah.
"Hmm...
Berarti kamu membiarkan Cindy menang dong."
"Apa ?!"
"Tujuan dia tercapai.
Membuat kalian bertengkar.
Memisahkan kamu dengan Sandy.
Nanti..tinggal gimana ngerayu Sandy supaya balik lagi sama dia.
Kamu itu udah bukan penghalang lagi.
Kamu mau seperti itu ?"
Reva diam.
"Apa kamu mencintai Sandy ?" tanya Daniel.
Reva mendongak menatap Daniel.
"Hmm ?" desak Daniel.
"Aku...
Aku menyayangi dia." jawab Reva.
"Cinta ?"
"Aku gak tau." jawab Reva.
"Ya..yang penting Sandy mencintai kamu !"
"Cinta apanya ?!
Buktinya dia sekarang sibuk nempel sama mantannya yang dulu...
Yang dulu..." Reva tidak sanggup mengatakan nya.
"Yang dulu membuat Sandy tergila-gila" kata Daniel meneruskan ucapan Reva.
Reva tidak menjawab.
Wajahnya keruh.
"Jangan lepaskan Sandy.
Dia laki-laki baik.
Dan dia mencintai kamu."
"Terus..
aku harus ngapain ?"
Jaga jangan sampai berhubungan dengan Cindy."
"Aduh... Daniel!!.
Aku ini bukan satpamnya Sandy.
Kalo dia emang cinta... harusnya dia dong yang menjaga dirinya sendiri." gerutu Reva.
"Kalian kan mau menikah."
"Aku udah gak pingin."
"Reva..." kata Daniel.
"Daniel..
Kamu pasti gak pingin punya istri yang harus kamu jagain terus menerus hanya karena mantannya ngejar-ngejar melulu ?
Kapan kamu bisa ngejalanin company kamu kalo kamunya sibuk terus sama dia ?
Aku juga.
Aku punya urusan sendiri. Mungkin memang tidak menghasilkan banyak uang seperti kalian.
Tapi hasilnya bakal punya efek pada dunia pengobatan.
Aku punya karir Daniel.
Aku gak mau disibukin ngurusin laki- laki yang gak bisa jaga hati istrinya sendiri !" kata Reva.
"Aku minta maaf, Reva..." sahut satu suara dari belakang Reva.
Reva menoleh.
Mereka sudah beberapa lama berhenti karena musik memang sudah selesai.
Daniel dan Reva masih berdiri di tengah-tengah.
Sandy tadi langsung melepaskan Cindy dan mendatangi Reva.
Dia mendengar kata-kata Reva.
Reva menatapnya dengan sengit.
Dia menoleh pada Daniel.
"Maaf Daniel..
Aku pergi dulu." katanya.
Daniel tersenyum dan mengangguk.
Reva lalu berjalan pergi.
Sandy mengikuti.
Dia meraih lengan Reva.
Reva mengibasnya.
Sandy langsung meraih pinggang Reva.
Reva terbanting ke dadanya.
Dalam kemarahan nya, Reva berbalik lalu mendorong Sandy dengan kuat.
Sandy terpukul mundur.
Tapi Sandy tidak marah.
Dia memang salah.
Walaupun bukan sepenuhnya kesalahan dia.
Melepaskan Cindy saat mereka sudah di lantai dansa sama dengan mempermalukan dia.
__ADS_1
Sandy tidak tega.
Tapi masalahnya...apa Reva mau mengerti kalau di ceritakan apa yang terjadi ?
Kalau entah siapa menabrak dia dari belakang di saat Cindy sedang memegang lengannya.
Pasti tidak.
Sebab itu, Sandy diam saja saat Reva mendorong dirinya.
Tapi dia tidak ingin mengalah.
Kata-kata Reva menyakiti hati nya.
Dan Sandy merasa resah di hatinya.
Dia harus membujuk Reva.
Merayunya dengan cara apapun supaya pernikahan mereka tetap berlangsung.
Dia tau bahwa Reva tidak ragu untuk membatalkan pernikahan mereka walaupun tinggal dua bulan lagi.
Jadi Sandy tetap mengikuti Reva.
Reva berpaling menatapnya.
Mendelik
"Jangan ikutin aku , Om !!" bentaknya.
Sandy hanya menatapnya.
Diam tapi saat Reva melangkah, dia terus mengikuti.
Dia sudah seperti orang bodoh.
Baiklah.
Mungkin ini memang hukuman yang harus dia tanggung.
Sialan Cindy !, makinya dalam hati.
Sementara Reva yang terus menerus diikuti oleh Sandy menjadi semakin kesal.
Dia mendatangi teman-temannya.
Duduk bersama dengan mereka.
Dan Sandy tetap ada di dekatnya.
Michael dan Robert yang merasa kasihan mendekati Sandy.
Menemaninya.
"Lu ngapain dansa sama dia ?
Lu bodoh !!" kata Robert.
"Gue gak sengaja Bet.
Si Cindy lagi megang tangan gue.
Terus ada yang nyenggol gue dari belakang.
Ya..otomatis...gue kayak ngajak dia melantai.
Gak tega gue kalo gue lepas.
Nanti dia malu." kata Sandy membela diri
Michael tertawa sinis.
"Gue gak nyangka punya temen bodoh banget !"katanya.
"Kel !!"
"Lu sebetulnya masih punya rasa ya ?
Gak tega ?
Lu lebih milih gak tega sama mantan lu daripada jaga perasaan tunangan lu !
Kalo gue..
Gue gak bakal ngasih kesempatan sama siapapun buat bikin rusuh kayak gini.
Mungkin memang sebaiknya Reva ngebatalin pernikahan kalian." kata Michael mengejek.
"Kel !!"
Sandy langsung bangun dan meraih kerah jas Michael.
Tangannya sudah naik akan memukul sahabatnya.
Dia yang sedang panik semakin emosi mendengar kata-kata Michael.
Robert segera berdiri menengahi.
"Et..udah..udah..."
Tangan Robert berada di dada Sandy.
"Lu duduk, San.
Banyak yang ngeliatin."
Sandy menoleh ke sekeliling.
Dilihatnya semua orang memandangnya.
Termasuk Reva.
Reva menyipitkan mata.
Dia lalu bangun mendekati mereka.
Sandy langsung berdebar.
Dia melepaskan kerah jas Michael.
"Kenapa Om ?" tanyanya pada Michael.
Michael tersenyum.
"Ah..gak papa.
Biasaa....cowok kalo gak berantem bukan cowok, Va." katanya santai.
Jarinya menepis kerutan di lidah kerah jasnya yang sedikit berkerut karena di tarik oleh Sandy.
Reva menatap Sandy.
Alisnya berkerut tidak suka.
Dia lalu berpaling pada Robert.
Robert menatapnya sambil tersenyum.
"Udah...
Gak ada apa-apa kok, Va.
Sana gih..balik ke teman-teman kamu." bujuknya.
"Iya Om ?" tanyanya pada Michael.
Michael mengangguk.
"Iya...
Percaya deh...!" jawab Michael dengan suara menenangkan.
Reva kembali menatap Sandy lalu berbalik.
__ADS_1