Kamu Milikku

Kamu Milikku
Skor Satu Sampai Sepuluh


__ADS_3

Esoknya


"Mau kemana ?" tanya Josh.


"Jemput Reva.


Kan aku mau..." Steven berdeham.


"Ehem..mau makan siang sama dia.


Kenapa ?


Kamu mau ikut ?"


"Ah...nanti aku ganggu." cengir Josh.


Steven menatap Josh.


"enggak kok


Kayaknya Reva malah seneng kalo ada orang lain." kata Steven serius.


"Bener?" tanya Josh tidak percaya.


Steven mengangguk.


"Yuk.." ajaknya.


"Mau kemana ?" tanya Anna.


"Makan.


Kenapa?


kamu mau ikut juga ?"


"Sama siapa ?"


"Reva."


Anna menyipit.


Menatap Steven dengan seksama.


"Apa ?


Makan siang doang kok.


Ayo kalo mau ikut."


"Ada apa nih ?


Makan siang ?


Mau dong." kata Andrew.


"Ayok lah kalo gitu.


Rame-rame." ajak Steven.


Mereka lalu berbondong-bondong berjalan ke pintu.


Michael keluar.


"Pada mau ke mana?"


"Makan Boss.


Sama Reva." sahut Liu.


"Wah.. ikut dong." kata Michael.


"Ayok Boss.." kata Steven.


"Pada mau kemana ?" tanya Sandy.


"Makan San..yukk.." kata Michael.


Robert mendekati.


"Oh...aku..." Sandy menatap ponselnya.


"Sama Reva." tambah Michael.


Sandy mendongak.


"Sama Reva.


Kalian rame-rame mau makan sama dia ?"


"Iya.


Mau ikut ?


Atau.." Michael memicingkan matanya.


Sandy ragu sejenak lalu mengambil keputusan.


"Yuk..aku ikut."


Mereka berbagi mobil.


Sandy duduk di belakang.


"Boss.." Steven menghampiri.


"Apa?" tanya Michael.


"Boss duluan aja.


Aku jemput Reva."


Jari Sandy yang sedang mengetik berhenti.


"Oh..jemput dimana?" tanya Michael.


"Di apartemen.


Udah ya Boss.


Reva udah nunggu.


Ketemu di resto." Steven langsung berbalik.


Menutup celah bagi perdebatan tentang siapa yang akan menjemput Reva.


"Lu kasih Kel ?" Sandy menegakkan tubuhnya.


Michael membalikkan badannya menghadap Sandy. Satu tangannya bersandar pada setir.


"Waktu seumuran Reva, Tia udah ciuman sama gue, San..


Reva udah gede.


Dia bukan anak SMP yang masih abege.


Dia udah lulus SMA waktu pertama kali ke sini.


Dan..trust me.


Reva punya pemikiran yang dewasa." jawab Michael menatap Sandy dalam.


Sandy memerah.


"Yah..maksud gue..." Sandy tidak berani meneruskan kata-kata nya.


"Maksud lu, kita yang jemput Reva.


Tapi udah ada yang jemput San." tunjuk Robert pada mobil sport Steven yang berlalu melewati mereka.


Sandy diam.


Matanya kembali menunduk menatap pesan yang belum selesai diketik.


Cindy mengajak makan siang.

__ADS_1


"Lu selesein dulu ketikan lu San.


Nanti Cindy marah." kata Michael membalikkan tubuh lalu mulai menyetir.


Sandy kembali memerah.


"Lu tuh..


Cindy emang cantik sih.


Gak heran lu tergila-gila." kata Robert.


"Tia juga cantik.


Tapi dulu gue gak cuma liat cantiknya doang.


Perhatiannya dia sama gue.


Dan dia gak bikin gue susah.


yang penting lagi...dia setia.


Dipepet sama Daniel, anteng aja dia.


Yang penting setia San !


Jason itu anak gue.


Yakin seratus persen gue.


Tia bukan tipe tidur sana tidur sini."


Michael menekankan kata setia.


"Lu kok ngomong gitu.


Cindy juga setia." bela Sandy.


Robert dan Michael diam.


Mereka saling melirik.


"Apa ?


Emang lu pernah dengar kabar apa ?" kejar Sandy.


Michael tetap diam. Robert menyetel lagu.


Sandy menegakkan tubuhnya.


"Kalian dengar apa ?"


Kedua temannya diam.


"Kalo dia macam-macam, gue putusin." kata Sandy.


"Walaupun udah lu tidurin ?" tegas Robert menegaskan perkataan Sandy dulu.


"Iya.


Gue bukan yang pertama kok.


Gak kayak kalian berdua." putus Sandy.


"Lu masih cinta sama dia ?"


Sandy diam.


Dia membayangkan Cindy.


Wajah cantiknya yang membuatnya jatuh cinta.


Tubuh indahnya yang rasanya pas sekali saat dia rapatkan pada tubuhnya sendiri.


Dia selalu merasa bergairah saat bersama Cindy.


Tidak pernah dia merasa seperti itu pada perempuan lain.


Kecuali..


Eh..kecuali akhir-akhir ini.


"Bet..waktu lu jatuh cinta sama Bili, lu pernah bayangin perempuan lain gak ?


gue gak mau nanya ini sama Michael, udah tau jawabannya."


Robert tertawa.


"Lu nanya depan adiknya.


Gak bakalan jujur dia." gerutu Michael.


Sandy tertawa.


"Tapi gue bakal jujur.


Jawabnya enggak.


Gue berusaha, tapi gue gak bisa.


Makanya gue nekad nembak dia waktu Michael mau ngelamar Tia.


Waktu itu rasanya pas sekali." kenang Robert.


"Kalian betul-betul sama sekali gak kebayang perempuan lain ?" tanya Sandy tak percaya.


"Untung lu ngomongnya sama gue.


Kalo sama Tia, udah di blacklist lu." sahut Michael.


"Kenapa ?"


"Karena cowok model lu gak bakal setia." jawab Robert.


"Hah?!"


"Lu lupain aja Reva.


Gue takut sama lu !" kata Michael.


"Lu gak percaya sama gue Kel ?" jawab Sandy tak percaya sahabatnya berbicara seperti itu.


"Enggak.


Gue takut Reva terluka.


Padahal dia gadis baik.


Gadis yang levelnya jauh diatas cewek lu.


Skor satu sampe sepuluh ya..cewek lu nol, Reva seratus." kata Michael.


"Minus satu." kata Robert pendek.


"Sialan lu !"


"Gue tau sih.. Cindy cantik, menggairahkan.


Gue tau apa yang bikin lu tertarik sama dia.


Lu punya hasrat sama dia.


Dan secara kekayaan...dia jauh lebih kaya dibanding Reva.


Lebih terkenal.


Lu ngawinin dia, nama lu bakal naik. Terkenal.


Tapi abis itu...


Hidup lu bakal di neraka.


Lu boleh gak percaya sama gue." kata Robert.


Sandy diam.

__ADS_1


"Ah..Reva kan masih mahasiswa.


Wajar lah dia gak tajir kaya Cindy.


Tapi tu anak cerdas.


Tia cerdas.


Lu tau ?


Kecerdasan anak diturunkan dari ibu.


Lu pingin punya anak cerdas, ibunya harus cerdas juga." kata Michael.


Sandy diam mendengarkan.


"Willy tau kalo Reva cerdas.


Lu tau kemarin itu ?


Waktu kita makan malam?


Willy narik Reva masuk ke tim penelitian yang dia biayai.


Reva top tiga di angkatannya.


Willy gak sekedar basa-basi karna kenal sama Tia.


Karena penelitian mereka menyangkut pengobatan ibunya.


Kalo Reva bukan top tiga, gak akan Willy narik dia.


Willy bukan orang bodoh." sambung Michael.


"Beneran lu Kel?


Jadi kemarin itu Willy ngenalin Reva sama orang tuanya buat itu ?" tanya Robert.


Michael mengangguk.


"Willy mau Reva jadi orang dalam buat dia.


Tawarannya gede Bet.


Gilak juga tu Willy,


Percaya sama anak yang baru tingkat satu." kata Michael.


"Reva bisa dipercaya, Kel.


Keliatan kok dari matanya.


Steven aja nempel sama dia. Padahal kita sama-sama tau, Steven itu pemilih.


Dari kita semua, Steven yang paling cerdas.


Jenius." kata Robert.


Michael tertawa.


"Makanya buru-buru gue jadiiin wakil gue sebelum direbut lu bedua."


Michael masuk parkiran.


Mereka lalu bersama-sama masuk restoran.


Meja sudah diatur.


Mereka semua duduk di meja panjang.


Tinggal Steven dan Reva yang belum datang.


Tak lama, Reva dan Steven masuk.


Keduanya sedang mengobrol.


Reva nampak tertawa dengan apa yang diucapkan Steven.


Satu meja mengamati mereka.


"Pasangan baru nih." cetus Liu.


Berdua mereka berjalan mendekati meja.


"Halo..


Maaf jadi menunggu." kata Reva menyapa.


"Ah...enggak kok Va.


Kita juga baru nyampe." jawab Anna.


Tinggal dua tempat duduk yang disisakan oleh teman-temannya. Bersebelahan.


Steven menarik kursi untuk Reva, lalu dia sendiri duduk.


"Traktiran dalam rangka apa nih ?" pancing Michael.


"Jadian ya Steve ?"


"Steven jadian ?"


"Kalian berdua pacaran ?"


"Wah..selamat yaa..!"


"Kamu mau Va sama Steven ?"


"Selamat.. selamat !!"


Reva memerah sementara Steven senyum-senyum.


"Steven !!" katanya.


Reva sibuk menggoyangkan telapak tangannya.


"Enggak..enggak.


Steven hutang traktiran sama aku.


Aku gak tau kok dia malah ngajak sekantor ke sini." bantahnya dengan wajah merah.


"Jadi..iya apa enggak nih ?" Josh minta penegasan sambil tersenyum jail.


"Enggak !!" tegas Reva memerah.


Dia malu sekali.


Reva melirik Michael yang sedang menatapnya sambil tertawa lebar.


"Terus...kamu traktir kita semua dalam rangka apa, Steve?" tanya Anna.


"Traktir aja.


Kan enak ngumpul-ngumpul begini."


"Kalo gitu, biar aku yang bayar Steve." sahut Michael.


"Ah jangan Boss.


Ini janji sama Reva mau traktir dia gara-gara kemarin.


Makasih ya Sayang..." kata Steven sambil membelai rambut Reva.


"Cieeee....cieee..." seru semua orang.


"Steven !!" sentak Reva.


"Enggak..enggak..." bantahnya panik.


"Aku cuma bantuin Steven doang kemarin."


"Lha iya.


Makanya aku ngucapin terima kasih." senyum Steven lalu melirik Sandy sekilas.

__ADS_1


Sandy sedang menatap Reva tajam.


...⛰️🍎🎋...


__ADS_2