
Reva memerah.
Dia menunduk.
Sandy meraih dagu Reva memaksanya naik.
Reva menatapnya. Menantang.
"Kamu marah.
Aku benar kan ?"
"Iya..Aku marah.
Aku marah sama kalian !!"
Reva menepis jari Sandy di dagunya.
"Yah..kamu berhak marah Va.
Aku ini memang bodoh.
Dulu bodoh."
"Hmm
Kebodohan biasanya selalu terulang Om.
Kalian ini...
Entah kenapa mahkluk seperti kalian ini tercipta.
Kepala bawah mengalahkan kepala atas !" jawab Reva dengan emosi.
Sandy memalingkan mukanya.
"Laki-laki emang seperti itu, Va."
"Dan sialannya, kalian lah yang mengatur dunia, kalian yang membuat hukum, kalian yang menentukan kami harus kawin dengan siapa, kalian yang memilih kami.
Kalian tidak membiarkan kami untuk menentukan pilihan.
Sebab menurut kalian kami ini mahluk lemah dan bodoh !!" sambung Reva masih emosi.
"Yah.. pokoknya kami semua ini brengsek.
Begitu maksud kamu kan Va ?" senyum Sandy.
"Kalian tidak suka kalau ada perempuan yang lebih pintar dari kalian.
Kalian lebih suka dengan perempuan otak kosong berdada besar dan bokong seksi dibandingkan perempuan biasa yang otaknya berisi.
Ya kan ??!" kejar Reva.
Wajahnya memerah.
Emosi menguasai dirinya.
Sandy memutar badannya menghadap Reva.
Kali ini memberi perhatian penuh.
Dia baru kali ini melihat Reva emosi seperti jni.
Sandy menimbang-nimbang lalu memutuskan untuk memberi sedikit pancingan.
"Kamu tau Va ?
Aku menghargai kamu lebih dari dia.
Jauh."
"Om bohong !
Om...
Steven...
Josh..
Ah..kalian semua itu cuma liat cantik dan seksi aja." kata Reva pahit.
Sandy terus menatap Reva.
Steven ?
Jadi Steven tidak bersama Reva ?
Sandy tersenyum lebar.
Semangatnya bangkit.
Dia bergerak mendekat.
Merangkul pundak Reva.
"Hei.." katanya mengguncang pundak Reva.
Reva memalingkan mukanya.
"Hei !!" sentak Sandy.
Reva menoleh.
"Kamu itu cantik, Va.
Dan soal seksi..."
Sandy menjauh sedikit.
Memperhatikan Reva dari mulai leher ke bawah.
Reva menatap Sandy.
Wajahnya perlahan memerah.
"Kamu juga seksi kok.
Kamu inget gak waktu kamu pake gaun ke restoran ?
Wuih... cowok-cowok pada nengok ke kamu.
Aku juga.
Aku sampe lupa duduk liat kamu."
__ADS_1
"dan soal otak....."
Sandy menempelkan telunjuknya di pelipis Reva. Mengetuk-ngetuk.
"Otak kamu itu yang bikin cowok-cowok termasuk aku tertarik sama kamu
Gak ada tuh istilah kami takut kalah.
Kamu seksi dengan otak kamu.
Percayalah."
Reva menatap Sandy.
Memperhatikan belahan rambut yang berombak, alis yang tebal, mata yang sedang menatapnya dengan seksama, hidung mancung.
Bibir yang sedang tersenyum lebar.
Bibir yang dulu mengulum bibir seksi Cindy.
Bagaimana rasanya?
Dikulum dengan bibir itu?
Mata Reva terus menatap bibir Sandy.
Sandy yang sedang menatap Reva sambil tersenyum lebar akhirnya menyadari arah tatapan Reva.
Dia berhenti tersenyum.
Matanya pun turun menatap bibir Reva.
Tangannya perlahan memegang tengkuk Reva
Memaksa Reva mendekat.
Deg...deg...deg...
Reva belum pernah berciuman.
Melihat bibir Sandy yang mendekat, dia berdebar.
Tinggal satu senti.
Setengah senti.
Deg..deg..
Reva berpaling.
Tangannya mendorong pundak Sandy menjauh.
Sandy mengangkat matanya.
Menatap Reva.
Bertanya tanpa kata.
Reva menggeleng.
"Aku bukan tukang rebut pacar orang Om.
Om masih pacar Cindy." katanya sambil menjauh.
"Dan aku bukan ban serep.." katanya beringsut menjauh.
"Jangan pergi, Va." katanya.
Reva menunduk menatap tangannya yang dipegang Sandy.
"Om..." tegurnya.
Sandy semakin meneguhkan pegangan nya.
"Aku gak pernah anggap kamu pengganti, Va.
Enggak pernah.
Kamu bukan tempat pelampiasan aku Va.
Kamu jauh dari itu.
Kamu itu.. sangat berharga.
Buat Aku."
"Lepasin Om.."
"Kamu juga bandel !
Disuruh panggil Mas !" tegur Sandy mengerutkan keningnya.
"Om !!"
"Mas !"
"Aku udah enak sama Om.
Jadi tetap Om !" Reva ngotot.
"Aku juga nyaman dipanggil Mas.
Jadi panggil aku Mas !"
"Om bukan orang Jawa !
Kenapa ngotot dipanggil Mas ?"
"Mas itu panggilan yang udah biasa di Indonesia.
Gak harus Jawa Va !"
Reva menggerakkan tangannya berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Sandy.
"Panggil Mas."
"Om."
"Ya sudah..
Kita begini terus sampe sore."
"Om !!"
Sandy tidak menjawab.
__ADS_1
"Besok temenin aku jalan ya Va.."
"Mau kemana Om ?" Reva tetap berusaha melepaskan tangannya.
"Aku kan belum jalan-jalan Va.
Kamu anterin aku kemana yang menurut kamu Indah."
Reva diam.
Membiarkan tangan Sandy memegang tangannya.
"Om ini...selain pembohong, suka bermulut manis rupanya." kata Reva.
"Eh..kapan aku bohong ?" tanya Sandy kaget.
"Om bilang kalo aku ini berharga."
"Bener kok."
Reva tersenyum tipis.
"Berharga itu kalo punya hubungan khusus Om."
Sandy menatap Reva.
"Kalo kamu gak berharga, biarpun diminta sama Tia, aku gak akan rajin nengokin kamu Va.
Aku lebih suka pembuktian daripada kata-kata."
Reva tersenyum tipis.
"Pembuktian dengan nidurin Cindy tanpa bayaran ya Om."
"Aku jadi nyesel cerita sama kamu, Va." jawab Sandy.
Reva menunduk.
"Maaf Om...
Aku lagi kesel."
"Aku gak tau lagi mau ngomong apalagi sama kamu, Va.
Kamu pasti bakal berkeras sama pendapat kamu kalo kami semua ini spesies brengsek."
Reva diam.
"Besok Om mau ke gunung apa ke pantai?"
"Gunung, Va.
Jam berapa kamu bisa ?"
"Kalo gitu jemput aku jam sepuluh Om.
Nanti aku ajakin ke kaki gunung yang bagus banget pemandangan nya.
Ehm..dijamin Om bakal lupa sama..ehmm..patah hatinya Om."
Sandy menoleh.
"Aku gak patah hati sekarang."
"Ya...apapun itu."
"Aku capek debat sama perempuan." tukas Sandy.
"Ya kalo gitu jangan ngawinin perempuan Om.
Kami itu memang begini.
terutama ya..perempuan seperti aku."
"maksudnya Perempuan pinter seperti kamu ?"
Reva diam tidak menjawab.
"Cowok pinter seperti aku justru nyari Perempuan pinter seperti kamu.
Kami butuh calon ibu yang pinter supaya anak-anak kami sama pinternya atau.. lebih pinter dari kami." sambung Sandy.
"Buktinya om langsung jatuh sama muka cantik.
Ahhh..diselingkuhin pulak !" ejek Reva.
"Yaah..kan aku bilang, dulu aku bodoh.
Sekarang udah enggak lagi." senyum Sandy tidak sakit hati dengan ucapan Reva.
Reva menatap Sandy dalam-dalam.
"Om..aku sungguh berharap Om bisa cepat melewati masa ini.
Aku belum pernah pacaran serius kayak Om.
Aku bahkan belum pernah ciuman.
Jadi aku gak tau berapa lama harus nyembuhin luka di hati Om.
Membuat Om..percaya lagi sama orang lain.
Bukan cuma sekedar menjadikan perempuan lain sebagai sarana pengalihan." kata Reva.
Sandy diam tak menjawab.
Dia tidak menganggap Reva sebagai pengalihan.
Malah, Reva lah yang membuat dia menyadari bahwa dia tidak terlalu mencintai Cindy.
Dia... langsung terpesona pada Reva.
Sampai lupa kalau dia punya pacar.
Tapi kenyataan ini tidak mungkin dia katakan pada Reva.
Reva malah akan menganggapnya sebagai laki-laki yang tidak setia.
Jadi.. biarkan saja dulu seperti ini.
Bermain-main sebagai laki-laki yang patah hati malah akan membuka peluangnya untuk bisa mengajak Reva kemana-mana.
"Besok aku jemput jam sepuluh." putusnya dengan nada dibuat sedikit sedih.
Tapi dia tersenyum dalam hati.
__ADS_1
...⛰️🍎🎋...