
Pria itu mengatakan di taman untuk mencari udara segar dan siapa tau dia mendapat kenalan seorang gadis.
"Apa di taman ada yang meminjam ponsel kamu?" Addrian kembali bertanya pada pria itu.
Pria di seberang telepon itu sepertinya sedang berpikiran karena tidak terdengar suaranya lagi.
"Aku ingat! Malam itu ada seorang wanita cantik dengan rambut diikat ke atas seenaknya dan dia mengatakan jika baterai ponselnya habis dan ingin meminjam ponselku untuk menghubungi suaminya agar menjemputnya di taman."
"Apa suami wanita itu datang?"
"Aku tidak tau karena aku juga tidak di sana lama-lama. Aku kecewa karena dia aku kira wanita single dan aku bisa kenalan, tapi nyatanya tidak."
"****! Kenapa susah sekali mencari tau siapa wanita itu?"
Tangan Rico menepuk pundak sahabatnya. "Bro, kamu harus sabar. Jangan kamu terlalu tergesa-gesa dan menuruti emosimu karena yang ada malah kita tidak akan mendapatkan apapun."
Addrian kembali fokus pada ponselnya. "Kalau begitu aku sangat berterima kasih."
"Tunggu sebentar. Memangnya ada apa? Apa wanita itu melakukan suatu tindak kejahatan?"
"Iya, dia sudah melakukan hal yang sangat membahayakan untuk istriku yang sedang mengandung."
"Oh Tuhan! Kalian semua serius?"
"Sangat serius dan aku sedang mencarinya agar dia tidak membahayakan orang yang aku cintai, yaitu istri dan calon anakku."
"Tau begitu aku tidak akan meminjamkan ponselku. Aku benar-benar tidak mengenal wanita itu," suara pria itu menekankan karena dia tidak mau dianggap ada kerja sama dengan wanita jahat itu.
"Iya, aku percaya sama kamu. Maaf sudah mengganggu waktumu."
"Eh, tapi tunggu. Waktu itu aku melihat ada tanda dari tubuh wanita itu."
"Maksud kamu?"
"Sebentar, aku akan mengingatnya dulu." Addrian menunggu lanjutan perkataan dari pria di seberang telepon.
"Aku lihat waktu itu ada luka di bagian telinga wanita itu."
"Luka?"
"Iya, sebuah luka di bagian telinga seperti telinganya pernah sobek dan dijahit."
__ADS_1
"Apa kamu yakin?"
"Aku yakin, aku dapat melihat luka itu saat dia menggunakan ponselku."
"Luka di bagian telinga?"
"Semoga petunjuk itu bisa membantu kamu dalam mencari siapa wanita itu."
"Iya, kalau begitu sekali lagi aku ucapkan terima kasih.'
"Aku juga senang bisa membantumu. Kapan-kapan aku akan ke taman, dan siapa tau dia ada di sana."
"Iya. Kalau begitu sekali lagi aku ucapkan terima kasih."
Addrian mengakhiri panggilannya dan dan dia menceritakan tentang apa yang pria tadi katakan.
"Tapi mencari wanita dengan tanda bekas luka di telinganya juga susah Addrian.
"Tapi kita harus mencarinya. Aira tidak boleh kenapa-napa."
"Mulai sekarang kamu harus menjaga istrimu itu, kalau perlu sewa saja bodyguard di rumah saat kamu pergi ke kantor."
"Sebaiknya tenangkan dulu dirimu dan kita akan pikirkan nanti."
Rico menghampiri pria yang tadi sempat menjadi samsak hidupnya. Dia mengancam pria itu. Jika pria itu berani mendekati atau ingin melukai Aira. Rico pastikan ucapan Addrian akan benar-benar terjadi.
"Dan satu lagi. Jika wanita itu menghubungimu, kamu jangan ceritakan jika kita sudah pernah menginterogasimu, atau kamu akan aku siksa lebih sakit dari hari ini." Rico tersenyum dan menepuk-tepuk pipi pria itu.
Addrian yang berada di dalam mobil menunggu Rico mendapat telepon dari Aira.
"Mas, kamu baik-baik saja, kan?"
"Aku baik, memangnya kenapa?"
"Mas, kenapa belum pulang? Bukannya jam pulang kamu selesai. Kamu di mana?"
"Maaf, tadi aku lupa memberitahumu. Aku sedang bersama Rico di suatu tempat karena kita ada urusan sebentar. Aira kamu jangan keluar rumah sendirian, Ya? Kalau mau keluar ke tempat belanja, kamu tunggu aku saja."
"Mas, kamu kenapa sih? Ada apa? Kok aku merasa ada yang sedang kamu sembunyikan."
"Aku hanya khawatir saja sama kamu setelah keajaiban di kampus. Aira, apa kamu mau jika aku menyewa seseorang untuk mengawasi kamu di rumah saat aku pergi ke kantor?"
__ADS_1
"Mas, kamu pulang dulu deh! Kita bicarakan hal ini di rumah. Aku akan menunggu kamu ya, Sayang." Aira ini rada curiga, seperti ada sesuatu yang sedang suaminya sembunyikan. Bagaimanapun juga mereka itu suami istri yang selalu saling terbuka. Jadi, susah jika mau menyembunyikan sesuatu dari pasangannya.
"Ya sudah, kalau begitu tunggu aku pulang ya sayang."
Rico yang sudah berada di sana, segera mengemudikan mobil Addrian dan mereka pulang ke rumah.
Citra yang pulang kerja tidak langsung pulang, tapi dia pergi ke rumahnya karena dia ingin bertemu dengan bibi dan keponakannya yang akhir-akhir ini sangat dekat dengan Aira.
"Dasar wanita tidak tau berterima kasih!"
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat pada pipi wanita paruh baya itu.
"Citra, kamu kenapa?" Air mata wanita kalem itu seketika meluncur dengan sempurna pada pipinya.
"Aku sudah memperingatkanmu agar kamu menjauh dari Aira dan keluarganya! Kenapa kemarin Nadin sampai bisa bertemu dengan Aira dan diberikan makanan yang adalah masakanku?"
"Itu masakan kamu? Sudah aku duga."
"Kalau tau makanan itu akan diberikan sama kamu dan anakmu, pasti sudah aku beri racun. Kamu itu harusnya sadar jika selama ini kedua orang tuaku lah yang sudah membantumu dan keluargamu. Di saat kakek dan nenekku tidak mau mengakuimu menjadi menantunya. Jadi, saat inilah kamu harus membalas budi baik keluargaku dengan membantuku mendapatkan Addrian!" bentak Citra marah.
"Citra, Addrian itu susah punya istri, dan mereka akan segera memiliki bayi. Sayang, kamu cantik, pandai dan kaya, masih banyak pria tampan seperti Addrian yang bisa kamu miliki daripada harus mengejar seseorang yang tidak boleh kamu miliki."
"Apa kamu bilang?" Tangan Citra mencengkeram dagu bibinya dengan kasar.
"Sakit Citra," ucapnya terbata.
"Aku tidak ingin pria manapun di dunia ini. Aku hanya mau Addrian! Hanya Addrian!" teriaknya seperti orang gila.
"Citra, dengarkan bibi." Wanita itu ingin memeluk Citra. Bibinya itu sangat menyayangi Citra."
"Jangan memelukku!" Citra mendorong tubuh wanita itu dengan keras.
"Jangan seperti ini, Citra. Kalau kamu terus seperti ini, dan terus mengharapkan pria yang tidak mungkin menjadi milikmu, bibi takut kesehatan jiwa kamu akan terganggu."
"Siapa bilang kalau aku tidak akan memiliki Addrian? Aku akan mendapatkan pria yang sangat aku cintai. Aku akan menyingkirkan Aira bahkan bayinya. Jika mereka berdua tidak ada di dunia ini Addrian hanya akan memandangku."
Wanita paruh baya yang berdiri di depan Citra tampak menutup mulutnya karena terkejut mendengar apa yang baru saja Citra katakan.
"Citra, kamu jangan berbuat hal segila itu. Itu suatu kejahatan."
__ADS_1