
Sekitar satu jam lebih. Addrian duduk di kursi kebanggaannya menunggu sesuatu.
Tidak lama ponselnya kembali berbunyi. Sebuah pesan WhatsApp masuk dan saat Addrian membuka pesan itu, tertarik senyum miring pada sudut bibirnya.
"Saatnya kita membuat perhitungan." Kedua rahang Addrian tampak mengeras.
Dia berdiri dari tempatnya dan berjalan keluar.
"Citra tolong kamu urus dulu pekerjaan di kantor ini karena aku ada urusan penting di luar. "
"Pak Addrian mau ke mana? Apa ini urusan kantor?"
"Bukan. Pokoknya kamu urus dulu pekerjaan yang ada di sini."
Addrian dengan langkah lebarnya pergi dari sana.
Citra tampak melihat heran pada Addrian. "Sebenarnya ada urusan penting apa, dia? Apa dia mau memberikan kejutan untuk si istri manja yang bodoh itu?"
Addrian mengemudikan mobilnya melaju dengan cepat menuju ke arah tempat yang baru saja orang suruhannya kirimkan.
__ADS_1
Addrian hampir satu jam lebih menempuh perjalanan menuju tempat yang ingin dia tuju.
Sebuah rumah yang tidak terlalu besar dan berada di suatu tempat yang sangat sepi. Addrian turun dan melepas kaca mata hitamnya. Kakinya melangkah dengan tegap masuk ke dalam rumah itu.
Brak
Bruk
Krak
Terdengar suara seolah sesuatu dipukul dengan keras.
"Ampun! Jangan pukuli aku lagi. Aku baru saja keluar dari rumah sakit," suara seseorang pria terdengar merintih menahan sakit.
"Apa sebenarnya salahku? Kenapa kalian menculikku dan menyiksaku di sini?"
"Itu karena kamu sudah berani menyentuh istriku," suara berat dan ditekan terdengar oleh pria yang wajahnya terdapat darah segar dari bibirnya.
"Siapa kamu?" Kedua mata pria yang tampak sudah tidak berdaya itu mencoba fokus melihat pada wajah Addrian.
__ADS_1
"Kamu pasti ingat denganku. Di kampus waktu acara perpisahan itu, dirimu berani ingin melecehkan istriku yang sedang hamil. Aku hanya menghajarmu sampai masuk rumah sakit, tapi itu hanya sebagai permulaan saja. Aku akan membuat kamu merasakan penderitaan karena hampir membuat istriku mendapat trauma yang berat."
Addrian berjalan mendekat dan menarik dagu pria itu dengan kasar. Addrian mencengkeramnya dengan kuat.
"Sakit," erangnya sekali lagi.
"Masih lebih sakit yang istriku rasakan saat kamu memaksanya. Dia bahkan sangat ketakutan. Aku masih bersyukur karena bayi dalam kandungannya tidak kenapa-napa. Kalau sampai ada apa-apa dengan bayiku. Aku pastikan keluargamu tidak akan menemukan bagian dari tubuhmu." Addrian menatapnya tajam.
Sisi lain dari Addrian adalah jaguar yang ganas. Bahkan Aira pun tidak tau bagaimana Addrian bisa berbuat kejam jika ada yang benar-benar membuatnya sakit hati. Pria ini sudah berani membuat sisi Addrian itu muncul.
"Kamu tidak perlu turun tangan. Biar aku saja yang menghajar pria ini kalau perlu sampai dia lupa ingatan. Kebetulan aku sudah lama tidak latihan memukul samsak. Dia cocok sekali menjadi samsak untukku." Rico tersenyum miring dan menari baju pria itu dengan kasar.
"Tolong, jangan siksa aku lagi. Aku hanya orang suruhan untuk mengganggu wanita hamil yang adalah istri kamu," ucapnya dengan takut.
Deg
"Apa? Apa kamu bilang barusan?" Kedua mata Addrian membulat lebar mendengar pengakuan pria itu.
"Kamu serius melakukan hal itu karena disuruh oleh seseorang? Bukannya kamu melakukan karena kamu sedang terpengaruh minuman keras?"
__ADS_1
"Aku memang menyetingnya seperti itu, tapi sebenarnya itu untuk alasan saja jika aku menggoda wanita hamil itu karena terpengaruh minuman."
"Bajingan!" Addrian mencengkeram leher pria itu dengan erat. "Katakan, siapa yang sudah menyuruhmu melakukan hal itu?" Wajah Addrian benar-benar terlihat marah.