Kamu Milikku

Kamu Milikku
Hubungan Niana dan Kenzo


__ADS_3

Kenzo dan Niana dia sana sampai malam. Mereka ingin berbicara banyak dan meminta pendapat pada Aira tentang hubungan mereka berdua.


"Aira, kamu serius mau bekerja di perusahaan suami kamu sebagai sekretarisnya?"


"Iya, aku akan membantu Mas Addrian. Kasian dia, Na. Pekerjaannya banyak yang terbengkalai sejak mba Mona tidak bisa bekerja lagi di tambah dengan kelakuan Citra itu. Proyek yang sedang dia jalankan dengan mendiang ayahnya Citra juga jadi ada masalah dan dia benar-benar bingung menangani semuanya."


"Anak kamu bagaimana?"


"Aku akan tetap memberinya asi dan dia akan tetap dijaga nantinya oleh orang yang dapat dipercaya. Nanti ibunya Nadin yang akan menjaga anakku."


"Andai aku tidak ada kios yang harus di jaga, pasti aku mau mengurus anak kamu."


Kenzo melirik pada Niana. "Kamu mau belajar kalau besok kita memiliki bayi, ya?"


"Ih ...!" Tangan Niana mencubit lengan tangan Kenzo dengan tidak melepaskannya.


"Aduh .... aduh!" Kenzo menahan sakit pada lengan tangannya. Aira yang melihatnya tertawa.


"Kamu itu jangan sedikit-sedikit membahas tentang anak dan pernikahan. Aku belum mau memikirkan tentang hal itu. Pikirkan dulu saja untuk mapan dulu."

__ADS_1


"Kamu takut apa? Takut aku tidak bisa menghidupi kamu dengan layak? Kamu tenang saja. Aku sudah menabung untuk masa depanku dan aku juga memiliki pekerjaan yang layak."


"Bukan hanya seperti itu Kenzo, tapi menikah itu hal yang sangat berharga bagiku dan bukan main-main. Kita saja baru saja menjalani hubungan ini walaupun kita dulu sahabat baik, tapi ini lebih dari sahabat akan sangat beda cara berjalannya."


Kenzo memegang tangan Niana. "Aku benar-benar mencintai kamu, Na, dan aku ingin serius sama kamu."


"Iya, aku tau, aku juga sedang belajar merubah perasaan sahabat ini agar menjadi lebih. Kamu sendiri sudah tau, kan?"


Kenzo mengangguk. Addrian melihat dua orang itu jadi teringat akan dirinya dulu dengan Aira.


Addrian berharap adiknya dan Niana bisa bersatu dan Niana bisa benar-benar mencintai Kenzo, tidak terbayang oleh cintanya pada kakak Aira.


"Niana, apa kamu tidak ingin bekerja di perusahaanku? Bagian HRD membuka lowongan."


"Memang menyenangkan sekali jika kita bisa mencari uang dengan usaha kita sendiri, apa lagi bisa berkembang dengan baik, dari pada harus bekerja dengan orang lain."


"Aku saja pernah ditawari oleh Mas Arlan untuk menjadi bos di salah satu cafe miliknya. Dia mau memberikan salah satu cafenya itu padaku, tapi aku tidak mau karena aku ingin merintis usahaku dari nol."


"Aku senang kamu tidak menerimanya. Setidaknya kamu tidak memiliki utang Budi padanya."

__ADS_1


"Mas Arlan mengatakan jika dia ikhlas memberikan cafe itu agar Niana memiliki pekerjaan, Ken. Kakakku tidak pernah menganggap utang budi Niana," terang Aira yang memang tau masalah itu.


"Mas Arlan memang mengatakan hal itu, Ai, tapi aku tetap tidak bisa menerimanya. Aku bersyukur saja sekarang aku bisa menjalankan bisnis kuliner yang aku dan ibuku bangun."


Karena hari semakin malam. Mereka akhirnya izin pulang.


"Besok malam mau tidak aku traktir makan malam di sebuah restoran nanti aku kabari di mana tepatnya?"


"Kamu serius, Kak?"


"Serius, kita berenam makan malam bersama."


"Berenam?"


"Iya, dengan dua anakku, Nadin dan Andrei."


"Baiklah, aku mau. Katakan saja di mana kamu mengundang makan malam?"


"Nanti aku kirim alamatnya."

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu kita pulang dulu. Terima kasih ya, Ai dan Kak Addrian."


Mereka pergi dari sana. Aira di gendong untuk masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2