Kamu Milikku

Kamu Milikku
Mama Mengetahui Masalah Ini.


__ADS_3

Pagi itu Niana yang sudah bangun dan dia sedang membantu Aira memasak di dapur.


Tampak Aira sedang melamun saat mengupas kentang. "Ai, jangan melamun seperti itu, nanti kalau tangan kamu terkena pisau bagaimana?"


Aira yang sadar seketika melihat ke arah kentang yang dia kupas. "Na, aku kangen sama Mas Addrian. Dia tiap pagi saat aku memasak kadang dia tiba-tiba datang dan mengusap perlahan perutku. Huft! Apa aku sudah salah meminta dia tidak dekat-dekat denganku dulu?"


"Tidak salah, sih! terkadang kita juga butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan diri. Kalau kamu kangen, kamu telepon saja dia dan minta datang ke sini, pasti Kak Addrian akan langsung meluncur ke sini."


Aira menggeleng pelan. "Tapi aku juga masih kesal sama dia, Na."


"Hem! Aku jadi bingung kalau begini." Niana melirik pada Aira yang kembali mengupas kentang. "Ai, aku boleh tanya sesuatu gak?"


"Tanya apa?"


"Tapi kamu jangan marah ya? Soal kejadian kemarin malam. Ai, apa benar Citra kemarin jatuh sendiri dan bukan kamu yang mendorong?"


"Na, kita ini sahabatan sudah lama. Apa kamu pernah melihat aku jahat sama seseorang walaupun aku membencinya?"


Niana menggeleng. "Tapi kenapa Citra seperti itu ya? Dia jahat sekali kalau sampai berpura-pura seolah kamu berbuat jahat sama dia."


"Aku salah sudah menganggap dia baik waktu itu, bahkan menolongnya. Dia itu wanita yang bermuka dua."


"Apa maksud kamu, Ai?"


Belum sempat Aira menjawab pertanyaan Niana bel pintu rumah Aira berbunyi.


"Siapa yang datang ke sini pagi-pagi ya, Na?"


"Biar aku buka saja, Ai, kamu duduk saja di situ, lanjutkan mengupas kentangmu." Niana berjalan menuju pintu masuk dan saat dia membuka pintu, Niana agak terkejut melihat siapa yang ada di depan pintu rumah Aira.


"Tante Tatiana?"


"Di mana Aira?"

__ADS_1


"Aira ada di dalam, Tante, dia sedang memasak di dapur." Niana agak takut ini.


"Kalau begitu aku ingin bicara dengannya."


"Silakan masuk, Tante." Niana benar-benar tidak menyangka mamanya Aira akan datang ke sana padahal Aira sudah berbohong dengan mengatakan dia sedang berlibur bersama suaminya dalam beberapa hari.


Aira seketika meletakkan pisau dapurnya saat melihat siapa yang sedang berjalan ke arahnya.


"Mama? Ada apa mama ke sini?"


"Aira kenapa kamu berbohong lagi pada Mama? Kenapa menyembunyikan masalah sebesar ini pada mama?"


"Masalah apa, Ma?"


"Kamu jangan bohong Aira, kamu dan Addrian sedang ada masalah, kan?"


"Mama tahu dari mana?"


"Mama Amanda yang menghubungi Mama, dan mama Amanda akan segera datang ke sini dengan penerbangan awal. Mama sudah tahu apa yang terjadi antara kamu Addrian dan gadis bernama Citra itu. Addrian juga sudah mama suruh untuk segera datang ke sini kita akan membicarakan masalah ini bersama-sama." Aira benar-benar terkejut. Dia melihat Niana yang hanya bisa menggedikkan bahunya ke atas.


"Katanya ada seorang wanita yang mengaku bibinya Citra mengatakan jika keponakannya sudah kehilangan hal yang berharga karena perbuatan Addrian. Oh,Tuhan, Aira! Kenapa kamu harus sembunyikan semua ini? Kamu jangan menyimpan masalah seperti ini sendirian. Apalagi kamu sedang hamil, Mama tidak mau ada apa-apa dengan janinmu dan kamu, Nak?"


"Ma, aku baik-baik saja, ini semua juga bukan kesalahan dari Mas Addrian."


"Tunggu suami kamu datang dan jelaskan semua pada mama. Mama sudah bilang sama kamu dari awal, jangan pernah percaya atau memasukkan orang lain apalagi seorang wanita yang masih single ke dalam rumah karena hal itu tidak akan baik nantinya."


"Citra sudah lama pindah, Ma, dia tinggal dengan tante Tania hanya saja dia bekerja satu perusahaan dengan Mas Addrian karena Mas Addrian kasihan, dia memberikan pekerjaan di perusahaannya."Aira melihat wanita yang telah melahirkannya itu sudah duduk lemas dengan memegang kepalanya. Aira merasa bersalah dengan mamanya.


"Tante, Tante minum dulu, ini airnya. Tante jangan terlalu memikirkan masalah ini kita akan cari solusinya bersama-sama."


"Terima kasih Niana." Mama Aira langsung menghabiskan air yang diberikan oleh Niana dengan sekali teguk.


Beberapa menit kemudian Addrian datang ke sana, dan dia langsung mendekat kepada istrinya, memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Mama Tatiana tidak bisa marah kepada menantunya itu karena dia tahu jika Addrian itu sangat mencintai istrinya.


"Sayang kamu tidak apa-apa, kan?"


"Aku baik Mas Adrian, kamu tidak perlu cemas."


"Sayang, apa boleh aku mencium perutmu? Jujur saja aku rindu dengan bayi dalam kandungamu." Aira terdiam sejenak lalu dia mengangguk memperbolehkan suaminya untuk mencium perutnya.


Addrian bersimpuh dan kepalanya sejajar dengan perut besar Aira dia memeluk perlahan peluk itu dan mengecupnya lembut. Aira yang melihat hal itu tampak menahan air matanya. Mama Tatiana pun juga ikut terharu melihat hal itu.


"Aku benar-benar minta maaf sudah melakukan kesalahan ini, walaupun tidak aku sengaja, andai aku dapat memutar waktu. Aku ingin memperbaiki semuanya, bahkan aku ingin menjadi Addrian yang bukan seorang playboy. Addrian yang hanya kenal dengan Aira."


"Addrian, Mama sudah tahu masalah ini dari mama kamu dan dia akan segera datang ke sini. Coba kamu katakan bagaimana hal itu bisa terjadi? Mama benar-benar kaget mendengar hal ini."


Addrian pun menceritakan kejadian yang sebenarnya. "Citra mengatakan jika dia juga tidak ingin hal ini terjadi, dia ingin pergi jauh dari kehidupanku dan Aira. Citra tidak mau menyakiti hati Aira, tapi--." Addrian terdiam sejenak.


"Dia tidak ingin pergi darimu, kan, Mas? Dia sudah menyimpan perasaan padamu sejak lama, hanya saja dia tidak berani mengatakannya."


"Aira dia tidak ingin menjauh dariku karena aku orang pertama yang sudah menyentuhnya, orang pertama yang sudah mengambil hal berharga dalam hidupnya, tapi aku tidak bisa bersamanya karena aku hanya mencintaimu."


"Apa kamu sudah bertanya pada Vitra apa maunya, kalau dia tidak ingin jauh darimu? Apa dia ingin menikah denganmu juga?"


Seketika kedua bola mata Aira mendelik mendengar ucapan mamanya.


"Aku tidak mau Mas Addrian mempunyai dua istri, lebih baik aku yang pergi dari kehidupan Mas Addrian, daripada aku harus di madu olehnya."


"Oh Tuhan, Aira siapa yang ingin menjadikan Citra istriku? Bermimpi pun tidak. Istriku hanya satu, yaitu kamu, tidak mau yang lain."


"Lalu, bagaimana kalau Citra hamil?" celetuk Niana, dan dia langsung menutup mulutnya dengan tangan.


"Mas Adrian harus menikahinya, Na."


"Aira, aku akan bertanggung jawab pada anak itu, tapi aku tidak mau menikahinya. Aira istriku cuma kamu."

__ADS_1


"Oh Tuhan! Mama jadi bingung dengan masalah kalian ini, lebih baik kita tunggu Amanda datang dan dia mungkin punya solusi lain dari masalah ini."


Addrian melihat dari tempatnya, istrinya itu sedang menahan air matanya. Tangan Aira menghapus perlahan air mata yang menetes pelan pada pipinya. Addrian sekali lagi merasa bersalah pada Aira.


__ADS_2