Kamu Milikku

Kamu Milikku
Muntah


__ADS_3

"Lu sering ke tempat Reva, San ?" Tanya Michael di mobil.


"Enggak sering.


Tapi paling enggak seminggu dua kali gue nengokin dia.


Kenapa?"


"Ngapain?"


"Lu interogasi gue, Kel?"


"Iya.


Reva tanggung jawab gue, San !" kata Michael.


"Bini lu yang minta gue nengokin dia." jawab Sandy.


"Bini gue yang minta....


Dan lu lakukan dengan senang hati." jawab Michael datar.


"Lu maunya gimana?"


"Lu berani ngapa-ngapain Reva, lu berhadapan sama gue San !" kata Michael.


Sandy tersenyum.


"Maksud lu, gue bakal nidurin Reva?"


"San !!"


"Lu kan belum putus sama Cindy." sela Robert.


Sandy diam.


"San !!" sentak Michael.


"Gue belum selesai balas dendam sama dia." jawab Sandy.


Nadanya berubah.


"Maksud lu apa?"


"Dia udah ngibulin gue sekian lama.


Sekarang dia gue pake dulu sampe gue puas."


"Lu masih cinta dia." kata Robert.


"Enggak.


Waktu dulu gue cinta dia, dia malah tidur sama orang lain.


Sekarang gantian.


Gue gak cinta dia lagi, tapi gue pake dia.


Dia levelnya sama kayak cewek-cewek bayaran.


Tapi bedanya..gue gak bayar.


Dulu kan udah gue bayar duluan.


Sekarang gue minta pelayanannya." jawab Sandy dingin.


Robert dan Michael diam.


"Reva liat." kata Michael.


"Liat apa ?"


"Liat waktu Cindy nge bl** j**b sama Aaron."


"Hah ?!" Sandy kaget.


"Abis itu ... Cindy nyium elu.


Di mulut.


Reva langsung mual-mual.


Tia yang diceritain sama Reva ikutan mual."


"Hueekk.." Sandy langsung mual.


"Kapan ?" tanyanya sambil menutup mulut dengan tissue.


Rasa mual masih naik ke tenggorokannya.


"Lima bulan yang lalu.


Inget gak lu waktu lu bedua nuduh gue hamilin Tia sama Reva ? Di pub ?" tanya Michael.


"Kel.. berenti Kel.


Cepet !!"


Michael meminggirkan mobilnya.


Sandy cepat-cepat keluar.


Dia muntah-muntah di tepi jalan.


Robert menghampiri membawa minyak angin.


Tangannya masuk ke dalam kaus Sandy.


Menggosokkan minyak angin ke punggungnya.


Michael menyodorkan air mineral.


Sandy berkumur-kumur lalu meludahkan dengan keras.


Dia kembali muntah.


Robert memandang Michael.


Keduanya menggelengkan kepala.


Sandy menarik nafas.


Lalu kembali berkumur.


"Sialan tu cewek !!" gerutunya geram.


Robert menepuk punggungnya.

__ADS_1


Sandy kembali menarik nafas.


Setelah muntah, perutnya lebih enak.


Mualnya hilang.


Dia menenangkan dirinya.


Bertiga mereka berdiri bersandar ke mobil.


Berdiam diri.


"Lu mendingan berenti San." cetus Robert memecah keheningan.


Sandy diam.


"Lu berenti sekarang daripada lu nanti gak bisa ngelepasin diri dari dia."


"Gue gak punya rasa lagi kok sama dia."


"Lu bisa dijebak sama dia."


"Gue selalu pake, Bet."


Robert tertawa.


"Perempuan banyak akalnya, San.


Lu kayak gak tau aja.


Lu ganteng.


Lu tajir.


Semua yang cewek pengin ada sama lu.


Dia butuh tempat sandaran hidup saat dia udah gak beken lagi.


Sudahlah.


Tinggalin.


Mulai sekarang lu hindarin dia.


Jangan pernah tidur lagi sama dia.


Jangan biarkan lu mabok, hilang kesadaran.


Lu berenti minum.


Lu masih inget insiden Michael kan ?"


Sandy menganggukkan kepalanya.


"Lu lupain kekesalan lu sama dia.


Tinggalin di belakang.


Mulai sekarang lu maju ke depan." kata Robert.


"Tapi...lu jangan keciri banget mau ninggalin dia San.


Kapan lu terakhir nidurin dia.


Lu tarik tiga bulan kedepan.


Lu hindarin dia selama tiga bulan tapi jangan keciri.


Kalo lu ketauan mau ninggalin dia, nanti dia bakal jebak lu.


Tidur sama siapa...tapi telunjuknya ke elu." tambah Michael.


"Lu pulang ke Indonesia gih.


Dua bulan.


Full." usul Robert.


"Iya.


Nanti biar kita berdua yang cover lu."


"Lu tetep jawab telponnya, San.


Lu tetep ketemu tapi di tempat yang aman.


Tapi lu jangan anterin dia pulang.


Ketemu di tempat, terus pisah.


Pokoknya selama masa kritis dua bulan ini, lu jangan pernah berduaan sama dia tapi lu tetep ladenin dia." kata Robert.


Sandy mengangguk.


"Kapan terakhir ?"


"Minggu lalu hari Kamis." jawab Sandy.


"Sekarang Jumat.


Udah lewat seminggu.


Kapan dia haid ?"


"Seminggu sebelumnya."


"Aduh...lagi subur.


Lu yakin pake kan ?"


"Iya. Gak pernah enggak."


"Enggak tumpah kan ?"


Sandy menggeleng.


"Gue selalu hati-hati, Bet."


"Bagus !!"


"Kapan lu mau pergi ?"


"Lu masih perlu beresin satu klien ya.


Selama itu lu jangan ketemu dulu deh.


Jangan deket-deket sama cewek lain dulu.

__ADS_1


Nanti dia marah dan bikin drama."


"Oke."


"Udah gak mual ?"


Sandy menggeleng.


"Mau lanjutin ?" tanya Michael.


Sandy mengangguk.


Mereka kembali naik mobil.


"Gak cuma gue sama Robert yang sayang elu San.


Tia, Cici gue, Reva, belum termasuk Jason sama Billy.


Semua sayang elu San." kata Michael.


Sandy diam.


"Lu inget gak waktu Tia nyanyi di pub lagu Padi ?


Dia sengaja nyanyi itu buat elu.


Sedih dia.


Liat elu dikadalin sama cewek model gitu.


Dia cerita sama gue.


Tapi elu keras kepala." kata Michael.


Sandy diam.


Dia ingat.


Tiba-tiba dia juga teringat tatapan Reva dan Tia padanya saat di penghujung lagu.


Tia dan Reva menatapnya dengan sedih.


Kesadaran baru datang.


Mereka menyayanginya.


Reva menyayanginya.


Sandy tersenyum.


Michael melirik spion.


"Ngapain lu senyum-senyum sendiri ? "


Senyum Sandy semakin lebar.


"Gue bersyukur punya kalian yang menyayangi gue.


Dari kalian berdua, sekarang gue juga punya Tia, Ci Bili, Jason, Billy sama Reva.


Gue belum kawin tapi kalian semua itu Keluarga gue."


Robert dan Michael tersenyum.


"Kapan sih kita pernah gak merasa sekeluarga ?" kata Robert.


"Gak pernah." jawab Michael.


"Iya.


Istri-istri kita dan anak-anak kita nantinya akan terus seperti ini.


Satu keluarga." kata Robert.


Sandy maju memegang pundak kedua temannya.


"Kita bakal tetap menyatu seperti ini." katanya.


Michael dan Robert balas menepuk tangan Sandy yang berada di pundak mereka.


Mobil melaju mulus.


...⛰️🍎🎋...


Cindy membaca dua kali pesan balasan dari Sandy.


Sandy kelihatannya sibuk sekali seminggu ini.


Pesan dari dia selalu dibalas tapi dia tidak pernah bisa bertemu Cindy.


Cindy tersenyum.


Yah..gak papa.


Toh Sandy sedang bekerja untuk mereka juga nantinya.


Dia sudah menetapkan hati untuk memilih Sandy sebagai pasangan hidupnya.


Dia akhirnya menatap Sandy dengan sudut pandang baru setelah Sandy membuktikan bahwa dia memang laki-laki.


Bukan cuma sekedar laki-laki.


Sandy mampu memberi kepuasan jasmani padanya.


Dia yang sudah pernah mencoba dengan beberapa pria, Sandy salah satu dari sedikit yang berhasil mengalahkannya.


Membuatnya kelelahan.


Salah satu dari sedikit ?


Jujur saja..hanya tiga orang.


Cindy tersenyum lalu meletakkan ponselnya.


Dia kembali meraih buku skrip naskah drama.


Ahh..iya..ini dialog dengan emosi yang sedih.


Padahal dia sedang senang.


Dia selalu senang sejak malam itu Sandy datang ke apartemen nya.


Cindy mengerutkan kening.


Mencoba konsentrasi pada emosi perannya.


Susah sekali untuk menangis.

__ADS_1


Dia harus pakai obat tetes mata.


...⛰️🍎🎋...


__ADS_2