
"Om...
Aku pulang aja." kata Reva saat mobil akan memasuki parkiran apartemen Sandy.
Hatinya diselimuti rasa takut.
"Hmm.." Sandy tidak menjawab.
Mobilnya tetap menuju apartemennya.
Sandy lalu memarkir mobilnya.
"Ayo." katanya.
"Om.."
"Ayo !!
Apa perlu aku gendong, Va ?!" ancam Sandy.
Ego Sandy naik.
Dulu Tia yang berusia lebih tua dibanding Reva saja menurut saat Michael yang dua tahun lebih muda memintanya melakukan sesuatu.
Sekarang Sandy berusia jauh lebih tua dari pada Reva yang berusia lebih muda dari Tia dan Michael dulu.
Sandy harus bersikap tegas supaya Reva tidak menganggap enteng dirinya.
Reva perlahan keluar dari mobil.
Tangannya langsung ditarik oleh Sandy.
Berdiam diri mereka selama di lift yang menuju lantai unit Sandy.
Sandy memasukkan password.
"Inget-inget nomor password ini.!" katanya sebelum memasukkan password unitnya.
Reva tidak menjawab.
Hatinya gentar dengan sikap Sandy.
Mereka masuk.
Tangan Sandy tetap mencengkeram Reva.
Dia masuk ke kamar.
"Om !" tegur Reva.
Sandy tidak menjawab.
Dia berhenti di depan lemari.
"Kamu pilihin baju buat aku.
Kita seharian disini."
"Om .."
Reva ternganga.
"Kamu kan bakal jadi istriku, Va.
Belajar pilihin baju suami !"
Sandy tanpa ragu melepas kausnya.
Saat dia meraih kancing celananya, Reva langsung mendorong Sandy masuk ke kamar mandi.
"Sana Om...di kamar mandi aja lepasnya."
"Apa sih ?!" Sandy bertahan.
"Om... Please...
Jangan nodai mata ku dengan pemandangan yang belum boleh kulihat, Om."
"Bukannya kamu udah biasa liat aku di tempat jiu jitsu ?"
"Atas doang, Om."
Sandy tersenyum.
Dia menikmati jemari Reva di punggung polosnya.
"Bukannya bagus kalo kamu udah ngerti apa yang bakal kamu liat nanti setelah kita kawin ?" katanya memancing.
"Aku belajar fisiologi manusia Om.
udah ah..sana masuk kamar mandi.
Katanya mau dipilihin baju." dorong Reva sambil membujuk.
Dia sudah panik melihat Sandy yang kelihatan nya akan berkeras akan melepas celananya di hadapannya.
Sandy terkekeh saat masuk ke kamar mandi.
Sandy keluar kamar mandi hanya berbalut handuk.
Di tempat tidur sudah tergeletak baju dan celananya.
Celana panjang.
Padahal tadi dia jelas-jelas mengatakan ingin tinggal di rumah seharian.
Reva juga tidak mengambil celana boxernya.
Anak ini minta diberi pelajaran.
Tapi lalu bau harum masukan tercium dari luar.
Sandy tersenyum sendiri.
Gadis ini bandel dan ngeyel.
Tapi dia pintar masak.
Dan pintar.
Sandy keluar.
"Om...aku bikin ayam saus tiram sama capcay.
Gak tau rasanya.
Soalnya bahan di kulkas terbatas."
"Enak, Va, baunya.
Kamu nemu aja tempat aku naro terasi."
__ADS_1
"Om naro semuanya di kulkas."
Sandy mendekati Reva yang sedang berkutat di kompor.
Tangannya mengurung Reva.
Reva yang kaget menegakkan dirinya.
"Om.."
"Hmm ?"
"Sana..Om !
Sempit." usir Reva yang mulai risih.
"Ah..enggak."
Sandy menghirup udara di keher Reva.
Reva merinding.
Dia mengangkat pundaknya untuk melindungi lehernya.
Sandy tersenyum diam-diam.
Dia kembali menghirup leher Reva.
Kali ini menempelkan hidungnya di sana.
"Om !"
Kali ini Reva membalikkan badan hendak mendorong Sandy.
Sandy tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Dia menangkap rahang Reva.
Lalu mencium Reva dengan dalam.
Satu tangannya ke belakang, mematikan kompor.
Dan melanjutkan membelai leher Reva.
Dia sedang mencari titik Reva.
Saat ibu jarinya menyentuh tenggorokan Reva, Reva mendesah.
Ketemu !
Sandy memasukkan lidahnya.
Menggelitik pipi bagian dalam.
Reva kembali mengeluarkan suara.
Tangan Sandy turun.
Meraba lembut gundukan di sana.
Lalu meremas.
Reva terkejut.
Dia mundur, tapi terbentur kompor dibelakangnya.
Sandy melepaskan ciumannya.
Bibirnya menyunggingkan senyum.
"Aku udah menikmati desertnya.
Padahal main menunya belum mateng." katanya di telinga Reva.
Reva kembali meremang bulu kuduknya.
"A...aku mau nerusin masak, Om."
"Hm.." Sandy tidak menjawab.
Matanya memandang mata Reva.
Dia ingin Reva terbiasa dengan dirinya sebelum mereka menikah.
Kalau bisa mencintainya.
Dan dia ingin menciptakan kondisi dimana Reva pada akhirnya melihatnya sebagai satu-satunya laki-laki yang diinginkan untuk mendampingi hidupnya. Sepanjang hayat.
Reva balas mengamati Sandy.
Memandang dalam ke mata yang menatapnya lembut dan sayang.
Cinta ?
Bibir Sandy tersenyum.
"Makasih, Va." katanya.
"Untuk apa, Om ?"
"Untuk ada untukku.
Untuk ngejagain aku.
Untuk semua yang udah kamu lakukan untukku.
Aku juga akan jaga kamu, Va.
Seumur hidupku."
"Om..."
Reva berusaha melepaskan diri.
Sandy mengeratkan pelukannya.
"Aku gak ngelakuin apa-apa yang bisa bikin Om berterima kasih sama aku." kata Reva menatap Sandy.
"Tapi kamu udah."
Reva diam.
Bola matanya masih terpaku pada mata Sandy.
Reva menyayangi Sandy.
Sebab itu dia berusaha melakukan banyak hal untuk menjaga Sandy dari tindakannya menjebloskan dirinya.
Dia sayang.
Tapi bukan cinta.
__ADS_1
Dia tidak menyangka Sandy akan membalasnya seperti ini.
Dia tidak percaya Sandy mencintainya.
Tapi..sekarang Sandy sedang dilanda euforia rasa berterimakasih dan menyangkanya sebagai rasa cinta. Kepadanya.
Sandy harus disadarkan.
Sebelum Sandy melamarnya secara resmi.
Sebelum pintu itu tertutup untuknya.
"Kamu enggak percaya." putus Sandy.
"Apa ?"
"Kamu enggak percaya kalo aku menginginkan kamu jadi istriku."
Reva ragu sejenak.
Lalu menggeleng.
"Enggak." katanya.
"Aku harus gimana, Va ?"
Reva memalingkan wajahnya.
Berfikir sebentar lalu memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Aku enggak tau , Om.
Aku...aku cuma pingin seperti Tante Tia.
Salahkah, Om ?"
"Maksud kamu ?"
"Om Michael cuma liat Tante aja.
Cuma Tante.
Om Robert juga.
Cara om liat Tante Bili ...
Cuma Tante Bili satu-satunya dalam hidupnya.
Cintanya..
ehm..gairahnya.
Aku ingin suami yang melihatku seperti itu, Om.
salahkah aku, Om ?
Terlalu tinggi ya ?
Cita-cita ku ?"
Sandy terdiam.
Dia menarik Reva ke sofa.
Mendudukkan Reva di pangkuannya.
Tangannya melingkari pinggang Reva.
"Dan menurut kamu, aku enggak seperti itu ?"
Reva menggeleng.
"Semua yang aku lakukan buat kamu, belum cukup bukti buat kamu, Va ?"
Reva menggeleng.
"Aku gak tau kenapa Om ngelakuin itu sama aku.
Tapi menurutku..
Om berusaha mengalihkan perasaan Om pada orang lain..
Kebetulan ada aku di situ.
Tapi..aku bukan tipe Om !"
"Kamu tuh..main nuduh aja kalo tipeku bukan kamu.
Kamu gak adil, Va.
Kamu gak ngasih kesempatan buat aku ngebuktiin kalo aku benar-benar cuma pingin kamu dalam hidupku ?
kenapa kita gak sama-sama membuka diri kita, Va ?
Belajar menerima diri kita masing-masing ?
Kamu ngomong tentang Michael dan Robert ?
Kamu pikir gampang ngambil hati dua cewek itu?
Aku Tau jungkir baliknya mereka.
Apa yang dilakukan Tia dan Bili ?
Mereka kasih kesempatan buat Michael dan Robert ngebuktiin diri mereka !
Jadi kenapa kita gak melakukan hal yang sama ?
Kamu kasih aku kesempatan untuk ngebuktiin.
Kasih aku waktu.
Hm ?"
"Om ..
Tangan Sandy menahan kepala Reva.
Menatap dalam-dalam.
"Va,
Aku berterima kasih sama Tuhan karena sudah dipertemukan sama kamu.
Seperti semesta mengirim kamu untukku.
Di waktu yang tepat.
Aku gak akan ngelepas kamu, Va.
Sampai kapanpun."
__ADS_1