
Keesokan harinya.
Reva mengajak Sandy ke kaki gunung.
Bukan tempat wisata yang banyak didatangi oleh turis, tapi tempat terpencil yang hanya diketahui oleh orang lokal saja.
Setelah Sandy memarkir mobil, Reva mengajak Sandy berjalan kaki selama dua jam masuk ke dalam hutan, menembus lumpur dan akhirnya tiba di tepi tebing.
Pemandangan nya sangat indah.
Sandy terperangah.
Reva tersenyum lebar.
Dia lalu duduk bersila.
Membuka isi ransel.
"Kamu suka ke sini, Va ?"
"Dulu.. SMA.
Sama anak-anak pecinta alam."
"Oh..kamu ikut pecinta alam?
"Iya Om.
Karate dan pecinta alam." jawab Reva sambil memasang kompor gas.
"Sini aku bantu..." kata Sandy.
"Gak usah Om.
Buka aja matrasnya." tolak Reva.
Sandy mengambil matras dari ranselnya sendiri.
Dia juga mengeluarkan botol air.
Mengeluarkan semua benda, lalu melipat ranselnya menjadi bantal.
Sandy lalu merebahkan dirinya.
Menutup sedikit matanya dengan tangan, dia menikmati keindahan alam.
Reva meliriknya.
"Ngantuk Om ?"
"Enggak.
Tapi enak kalo tiduran begini."
"Indonesia Indah ya Om.
Kita punya banyak spot-spot alam seperti ini.
Aku suka rindu pergi ngejelajahin alam kayak sekarang."
"Kamu gak bilang, Va."
"Om sama aku..kita sama-sama gak punya waktu." jawab Reva.
"Kamu emang sibuk banget.
Pulang selalu malam."
"Iya Om.
Kadang suka gak ingat waktu kalo udah di lab.
Soalnya..terang terus sih." senyum Reva.
"Kamu suka ya Va ?"
"Iya."
"Kasih tau aku kalo kamu kemaleman.
Aku jemput."
"Ah..udah Biasa Om.
Tenang aja.
Lagian... Taiwan aman."
"Aman...tapi tetep aja..
Aku khawatir."
"Khawatir sama aku Om ?
Yang bener aja !!"
"Kamu ini !!
Kalo dibilangin suka gak percaya." gerutu Sandy.
"Ya enggak lah.
Punya pacar cakepnya kayak gitu kok sibuk nge-khawatirin cewek lain." gumam Reva.
"Apa kata kamu ?"
"Ah..enggak.
Mau pake kornet gak ?" tanya Reva.
"Kamu masak aja sesuka kamu, Va.
Aku makan."
"Oke Om..."
"Mas."
"Iya Om..." jawab Reva bandel.
Bau harum mie instan menguar ke udara.
Sandy bangkit.
"Hhmmm.....bikin laper." katanya mengendus.
"Aku bikin empat." cetus Reva nyengir.
"Gue suka cewek yang makannya banyak.
Enak kalo diajak jalan.
Gak repot nyuruh dia makan." senyum Sandy.
__ADS_1
"Ooh..aku pikir, aku bakal malu-malu in cowok yang ngajak aku makan, Om."
"Huh !!
Pikiran dari mana itu?
Cewek yang gampang makan lebih asik diajak jalan dibandingin sama cewek yang suka malu-malu jaga image."
Reva menyodorkan misting yang penuh berisi mie, telur, kornet dan sawi hijau.
Dia memberikan piring dan sendok pada Sandy.
Reva lalu menuang air ke gelas.
"Ayo Om...makan." ajaknya.
Sandy mengambil mie, menuang kuah.
Lalu mengambil lagi untuk diletakkan di piring kedua.
"Hmm..enak Va."
"Iya Om..
Kenapa ya mie instan yang dimasak di alam terbuka seperti ini lebih enak rasanya dibandingkan kalo kita masak di rumah ?"
"Suasananya Va..
Apalagi kalo makannya sama cowok ganteng kayak aku nih.." canda Sandy.
Reva tertawa.
"Iya deh.
Aku beruntung sekali makan mie instan yang aku masak sendiri di alam terbuka dan dimakan bersama cowok ganteng pemilik salah satu game urutan tiga dunia.
sangat beruntung !" katanya.
"Kamu emang beruntung disukai sama cowok ganteng salah satu pemilik game company." cetus Sandy.
Uhuuk..uhuuk...
Reva tersedak.
Sandy bergegas bangun dan menepuk-nepuk pundak Reva.
"Pelan-pelan, Va, makannya.."
Reva melotot.
"Om jangan becanda ah..!" sentaknya.
"Becanda apaan?" sahut Sandy pura-pura tidak mengerti.
"Pokoknya Om jangan becanda !" kata Reva cemberut.
Sandy tertawa.
Dia meneruskan makan.
Saat tinggal sedikit, dia melirik sisa mie di misting.
Reva juga melirik misting.
Bersamaan, keduanya meraih misting.
"Aku duluan Om !"
"Aku yang pegang duluan, Va !"
Tidak ada yang mau mengalah.
"Om !!"
"Ah...
Enak aja.
Lagian kamu tadi udah aku kasih banyak!" kata Sandy menarik misting.
"Ihh..Om !
Sama cewek kok gak mau ngalah ?!"
"Ngalah katamu?
Kan kamu sendiri yang pingin berdiri sejajar sama laki-laki !" kata Sandy.
Reva tertegun.
Tangannya lalu melepas misting.
Sandy tersenyum lebar.
Dia merebut sendok yang dipegang oleh Reva.
"Aaa..." katanya.
Sendok yang penuh mie berada di depan mulut Reva.
Reva mundur.
"Buat Om aja." tolaknya.
"Hhmm...kita bagi berdua." kata Sandy.
Reva menatap Sandy yang sedang menatapnya.
Dia lalu membuka mulutnya.
"Pinter.." cetus Sandy.
Sandy meletakkan sendok Reva lalu menyuap menggunakan sendoknya sendiri.
Tinggal sisa pas dua suap lagi.
Reva mengangkat tangannya hendak mengambil sendoknya.
Sandy menjauhkan misting.
Dia menggeleng.
"Aku suapin." katanya.
"Idih Om...
bukan pengantin..gak usah suap-suapan." katanya.
"Latihan, Va.."
"Aaa..." katanya menyodorkan sendok kembali.
Reva mundur.
__ADS_1
"Va..ini tinggal satu suap ini aja." desak Sandy.
Reva memicingkan matanya, lalu bibirnya maju.
Sandy tersenyum senang.
Dia lalu menyuap sendok terakhir menggunakan sendok yang dipakai menyuapi Reva.
"Ihh..Om...
itu kan bekas aku !" tegur Reva.
"Hmm...
Kamu enggak masukin barang itu ke mulut kamu kan Va?
Jadi..ya gak papa.." jawab Sandy santai.
Reva cekikikan.
Lalu tertawa terbahak-bahak.
"Ehmm...
Emang..dulu gak berasa ya Om ?" tanyanya di sela tawanya.
"Kamu mau tau rasanya Va?"
Sandy meletakkan mistingnya.
"Enggak..enggak..." tolak Reva sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
Bibirnya masih menyunggingkan senyum.
Sandy gemas sekali melihatnya.
Mereka lalu membereskan misting dan piring.
Mencucinya sedikit lalu dilap menggunakan tissue.
Reva mengeluarkan buah melon.
Dia memotong-motong lalu menyodorkannya pada Sandy.
"Pantes.. ranselku berat. Ternyata ada melon." gerutu Sandy.
"Jangan mengeluh Om.." senyum Reva sambil memakan melonnya.
Setelah habis, dia merebahkan diri di rumput.
"Va...sini.. di matras.
Jangan disitu !"
Reva menoleh lalu beringsut naik ke matras.
Sandy bergeser.
Reva melipat jaket, menggunakan nya sebagai bantal.
Matanya menerawang menatap lembah dan bukit-bukit jauh di cakrawala.
"Aku suka ketenangan kayak gini." katanya sambil menguap.
Matanya lambat laun mengatup.
Dia tertidur.
Sandy berbaring miring.
Menatap wajah manis yang sedang tertidur itu.
Dia tidak berani menyentuh, takut akan membangunkan Reva.
Sandy sendiri belum mengantuk.
Dia sudah biasa tidak tidur siang.
Jadi dia membuka ponselnya.
Lima pesan datang dari Cindy.
Dia malas membuka.
Cindy sekarang sering mengirimkan pesan, menelponnya.
Tiga pesan dari Michael dan Robert.
Dia lalu membukanya satu persatu.
Gambar bungalow, pantai dan surfing menyambutnya.
Dia membaca pesannya.
Lima hari lagi kantor mereka akan liburan ke Lombok.
Dia diminta menyusul sambil mengajak Reva.
Bibirnya tersenyum.
Dia menoleh menatap Reva.
Reva bergerak.
Kepalanya jatuh dari bantal jaketnya.
Sandy beringsut.
Perlahan dia mengangkat kepala Reva.
Meletakkan nya di lengan atasnya.
Kepala Reva miring menghadapnya.
Sandy meneruskan membuka pesan.
Ada pesan dari Steven.
Sandy membukanya.
Lalu membalas.
Dia lalu menunduk menatap Reva.
Benaknya tergoda mengirimkan gambar Reva saat ini yang sedang tertidur lelap di lengannya.
Lalu menggeleng sendiri.
Sampai beberapa saat, Sandy masih membalas email dan pesan nya.
Lalu semilir angin membuat nya ikut mengantuk.
Dia pun jatuh tertidur.
__ADS_1
...⛰️🍎🎋...