
Addrian mengajak Aira berjalan mengelilingi danau kecil di sana yang di dalamnya ada beberapa angsa putih yang cantik.
"Mas, kalau seumpama anak kita ternyata tidak jadi laki-laki, tapi perempuan, Mas Addrian mau memberi dia nama siapa?"
"Ya Tuhan! Kenapa aku sampai lupa belum menyiapkan nama untuk calon bayiku."
"Aku saja juga belum berani menyiapkan nama karena kata mama hasil USG juga belum tentu benar. Kalau Tuhan ternyata memberi perempuan bagaimana?"
"Mama kamu sepertinya punya pengalaman yang tidak enak tentang USG sepertinya."
Aira mengangguk cepat. "Dulu kata mama waktu hamil aku. Dokter mengatakan jika aku laki-laki. Mama sedikit kecewa karena dia sudah punya anak laki-laki Mas Arlan dan ingin anak kedua perempuan, tapi saat dilihat katanya laki-laki lagi."
"Kamu jangan-jangan seorang pria?" Addrian seketika melirik istrinya.
"Kalau aku pria, tidak mungkin bisa mengandung bayi kamu, Mas. Kenapa kamu itu suka sekali menggodaku?"
"Itu karena kamu sangat menggemaskan, Sayang." Addrian mencubit hidung istrinya.
"Mas, aku sebentar lagi mau lahiran, tapi kamu kenapa belum mencari nama buat anak kita?"
"Kamu tenang saja, aku sudah menyiapkan dua nama."
"Dua nama? Tapi anak kita tidak kembar."
"Aku tau, maksud aku dua nama perempuan dan laki-laki."
"Siapa sih, Mas?"
"Nanti saja, supaya menjadi kejutan. Pokoknya kamu melahirkan saja dengan. tenang dan jangan memikirkan apapun. Nanti soal nama biar aku sebagai ayah yang memberikan."
"Mas, apa aku sebagai mamanya tidak boleh memberi satu nama untuk anakku."
"Anak kedua saja, atau ketiga, keempat juga boleh."
"Apa? Kamu itu! Ini saja belum selesai mau memikirkan ingin memiliki anak lagi?"
Addrian menunjukan senyum deretan giginya. "Aku serius, Aira. Nanti anak kedua saja kamu boleh memberinya nama lengkap kalau perlu."
"Ya sudah kalau begitu. Aku memang selalu mengalah denganmu."
"I love you." Addrian mendekat pada Aira, tapi seketika tangan Aira menahan tubuh suaminya. "Ada apa, Aira?"
"Mas, aku tau apa yang sedang kamu pikirkan. Ini di tempat umum, jangan macam-macam." Addrian malah tertawa mendengar apapun yang dikatakan oleh istrinya.
Addrian melanjutkan mengajak istrinya menikmati suasana sore di taman.
__ADS_1
"Aira, kita pulang sekarang, ya? Aku tidak mau kamu terlalu capek, Sayang."
"Iya, kita pulang, tapi aku boleh tidak beli camilan yang seperti anak-anak itu makanan. Boleh ya, Mas?"
Addrian tampak berpikir sejenak. Dia bukannya tidak mau, tapi Aira harus makan makanan yang sehat. Bukan seperti camilan itu.
"Mas, bagaimana? Lama sekali menjawabnya."
"Boleh, tapi beli satu saja dan langsung kita pulang. Bagaimana?"
"Iya, Mas!" seru Aira kegirangan.
Aira akhirnya ikut mengantri makanan dengan beberapa anak kecil lainnya. Aira tampak senang berdiri di antara anak-anak kecil yang lucu dan polos. Aira mengusap kepala mereka satu persatu. Anak-anak di sana juga senang dengan Aira, bahkan mereka ada yang meminta mengelus perut Aira.
Aira pun mengizinkan anak-anak itu mengelus perut Aira. Addrian yang ada di sana tampak membagikan momen indah itu.
"Kalian semua boleh membeli makanan di sini sesuka hati kalian, dan aku yang akan mentraktir kalian semua," ucap Addrian.
Semua anak-anak yang di sana bersorak kegirangan. Aira tampak tersenyum dan senang dengan apa yang suaminya lakukan.
"Terima kasih, Mas."
"Sama-sama, Sayang. Sayang, aku takut uangku kurang untuk membayar semua ini. Aku juga mau memberikan sedikit untuk penjual itu, apa kamu bisa aku tinggal sebentar di sini untuk mengambil uang di mesin ATM di ujung jalan sana?"
"Iya, Mas, tidak apa-apa, kamu pergi saja."
Addrian pergi sebentar dan Aira menikmati camilan atau jajanan di sana dengan anak-anak lainnya.
Tidak lama Addrian kembali dan dia membayar semua yang anak-anak dan istrinya beli. Addrian juga memberikan sedikit rezeki untuk penjual itu yang seorang bapak-bapak dan dia mengajak anaknya yang masih kecil.
"Tante dan Om yang baik, terima kasih sudah membelikan kita makanan."
"Iya, sama-sama, dan hati-hati kalau pulang." Mereka semua tampak bahagia.
Addrian masih di sana menemani Istrinya menikmati makanannya. "Mas, coba sedikit, enak, kok." Aira menyuapi Addrian, dan pria itu pun menerima suapan istrinya.
"Iya, tapi jangan banyak-banyak, Sayang."
"Mas, ini sejak aku hamil jadi cerewet, cerewetnya ngalahin mama."
"Aku khawatir sama kamu dan si Addrian kecil itu." Tidak lama Addrian merasakan ponselnya berdering dan saat dia lihat ada nomor yang tidak dikenal menghubunginya.
"Siapa, Mas?"
"Tidak tau. Sebentar aku terima dulu."
__ADS_1
Addrian berbicara dengan orang yang menghubunginya. Tidak lama wajah Addrian tampak kaget, Aira yang melihatnya penasaran dengan siapa yang menghubungi suaminya, sampai suaminya wajahnya seperti itu.
"Ya sudah, aku akan segera ke rumah sakit." Addrian mematikan panggilannya.
"Mas, siapa yang sakit?"
"Sayang, kita pulang sekarang karena aku mau ke rumah sakit. Kamu jangan ikut, lebih baik di rumah saja."
"Siapa yang masuk rumah sakit, Mas?"
"Mba Mona kecelakaan dan keadaannya tidak baik."
"Apa, mba Mona?"
"Iya, ini tadi salah satu karyawanku yang menolongnya dan membawa mba Mona ke rumah sakit. Aku akan ke sana untuk melihat keadaannya."
"Mas, aku mau ikut kamu."
"Jangan, Sayang. Aku akan menghubungi Bunda atau mama untuk menemani kamu di rumah."
"Aku mau ikut, Mas! Aku juga mau melihat keadaan mba Mona," rengek Aira.
"Sayang, ini di rumah sakit, dan kamu sedang hamil."
"Tidak apa-apa, Mas, aku mau ikut," rengeknya sekali lagi.
Addrian tidak mau lama-lama berdebat dengan istrinya. Dia akhirnya mengajak Aira pergi ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Addrian dan Aira bertemu dengan Tito yang adalah karyawan Addrian dan dia juga yang sudah menolong mba Mona.
"Pak Addrian."
"Bagaimana keadaan mba Mona?"
"Mba Mona masih di ruang operasi karena kakinya patah akibat kecelakaan itu."
"Apa? Kakinya patah?" Pria yang usianya hampir sama dengan Addrian itu mengangguk. "Lalu, apa keluarganya sudah dihubungi?"
"Tadi saya sudah menghubungi Ibunya untuk meminta persetujuan operasi karena Mba Mona harus segera di operasi agar kakinya tidak bertambah parah."
"Oh Tuhan!" Addrian sampai mengelap wajahnya kasar.
"Mas, kasihan, mba Mona. Dia baru saja kehilangan ayahnya dan sekarang dia seperti ini."
"Ibu mba Mona sudah dalam perjalanan ke sini, Pak."
__ADS_1
"Tito, bagaimana kejadian ini bisa terjadi?"
Tito mengatakan jika tadi saat mba Mona keluar dari area parkir, tiba-tiba dari arah belakang ada mobil hitam menabrak motor yang dikendarai oleh Mba Mona. Mobil itu seketika lari meninggalkan mba Mona yang tergeletak di jalan."