Kamu Milikku

Kamu Milikku
Kebenaran part 1


__ADS_3

Kegiatan di rumah pagi itu seperti biasa. Aira membuatkan sarapan pagi untuk Addrian dan mereka makan bersama.


Namun, suasana di sana agak berbeda, tidak ada hal romantis yang ditunjukkan Aira seperti biasanya pada Addrian.


"Aira, nanti selesai dari kantor kita pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungan kamu, ya?"


"Iya, tapi kalau Mas sibuk, aku bisa pergi sendiri."


"Sayang, jangan seperti itu. Kamu boleh membenciku, tapi jangan libatkan anak kita yang ada di dalam perutmu. Bagaimanapun aku ayahnya dan sangat sayang dengan kalian.


"Iya, Addrian."


Tidak lama ponsel Addrian berdering dan ada nama Citra di sana.


"Citra? Ada apa dia menghubungiku?" Addrian menyalahkan loudspeaker pada ponselnya untuk menjawab panggilan Citra.


Addrian tidak mau Aira berfikir yang tidak-tidak nanti.


"Halo, Mas Addrian."


"Citra, ada apa? Dan tolong panggil aku Addrian saja atau Pak saat di kantor."


Addrian melihat pada Aira yang wajahnya sudah ditekuk saja.


"Aku hanya membiasakan saja memanggil Mas."


"Panggilan mas hanya untuk istriku saja, yaitu Aira."


"Iya," jawab Citra lirih


'lihat saja jika nanti aku menjadi istrimu, bahkan Aira pun tidak akan aku perbolehkan memanggil mas lagi.' Citra berdialog dari dalam hatinya.


"Ada apa, Citra?"


"Addrian hari ini aku mau izin tidak masuk bekerja. Aku sedang tidak enak badan."


"Kamu sakit?"


"Aku tidak tau kenapa rasanya tidak enak saat bangun tidur. Kepalaku juga pusing dan ingin muntah."


"Ingin muntah?"

__ADS_1


Aira yang mendengar menghentikan kegiatannya menuangkan air minum ke dalam gelas Addrian.


"Kalau kamu sakit, sebaiknya segera periksa ke rumah sakit saja. Siapa tau kamu sedang hamil." Aira melirik ke arah Addrian. Aira juga tau jika Citra tidak mungkin hamil secepat itu, dia hanya kesal saja mengucapkan hal itu.


"Addrian, itu Aira? Apa kamu sedang bersama dengan Aira?"


"Iya, Citra, ini aku dan Mas Addrian sudah kembali ke rumahnya. Kenapa? Ada masalah sama kamu?"


"Tidak apa-apa, Aira, aku malahan senang kamu dan Addrian sudah baikkan."


Aira memutar bola matanya jengah seolah dia tau jika ucapan Citra hanya basa basi kebohongan.


"Kalau begitu kamu istirahat saja, dan kamu bisa masuk bekerja setelah kamu benar-benar sehat."


"Kalau begitu terima kasih. Aira aku minta maaf jika teleponku ini mengganggu kamu."


"Tidak mengganggu sama sekali."


Addrian mengakhiri panggilanya. Dia melihat pada istrinya yang wajahnya kesal dan Aira berjalan pergi dari sana masuk ke dalam kamarnya.


"Oh Tuhan! Kenapa semua ini harus terjadi?"


Di tempatnya, Citra tampak kesal, dia sebenarnya pura-pura sakit dan tidak masuk kerja karena berharap Addrian akan khawatir dengannya.


Tidak lama ponselnya berdering dan dia melihat nama ayahnya di sana.


"Citra, kamu di mana? Papa ingin bertemu dengan kamu, Nak."


"Kebetulan sekali, aku juga mau bicara dengan Papa." Tertarik senyum pada bibir Citra.


Pria di seberang sana seketika bisa menduga apa yang ingin dibicarakan oleh anaknya, pasti hal yang tidak jauh dari Addrian.


"Nak, kita akan bertemu di rumah bibi kamu."


"Di rumah, bibi? Untuk apa kita ke sana?"


"Kemarin dia menghubungi papa dan dia mengatakan jika kamu sering berbuat buruk padanya. Apa yang kamu lakukan pada bibimu? Dan sejak kapan kamu tidak tinggal di rumah bibi kamu?"


"Wanita itu berani buka mulut," ujar Citra pelan dengan menahan marah.


"Citra, papa sudah mau membantu kamu dalam rencana gila kamu ini, tapi Papa tidak menyangka jika kamu bisa berbuat buruk dengan orang yang selama ini merawat kamu. Paman kamu itu berjasa besar bagi papa, tapi kenapa kamu malah menyakiti istri dan anaknya?"

__ADS_1


"Aku tidak melakukan apa-apa, Pa. Bibi saja yang terlalu membesarkan masalah."


"Pokoknya, kita bertemu sekarang di rumah Bibi kamu."


"Iya, Pa." Citra mengakhiri panggilannya dan melempar ponselnya marah. "Aku harus segera sampai duluan ke sana, jika tidak dia akan bicara banyak hal tentang perilakuku selama ini sama dia."


Citra segera bergegas ke sana. Dia harus lebih cepat dari papanya agar dia bisa mengancam bibinya supaya tidak bicara buruk tentangnya.


Citra yang sudah sampai di sana langsung mengetuk pintu dengan kasar.


"Citra." Wajah lembut itu tampak sumringah melihat kehadiran Citra.


"Bibi bicara apa saja sama Papa? Dengar ya, Bi! Nanti papaku ke sini dan aku harap Bibi meralat semua ucapan yang bibi katakan pada papaku!" Tangan Citra mencengkeram dagu wanita itu dengan kasar.


"Citra, sakit," Wanita itu meringis menahan sakit.


"Makannya, dengar kata-kataku tadi. Jangan sampai Papaku marah kepadaku."


Bibi Anna menangis setelah Citra melepaskan cengkeramannya. Tidak lama papa Citra datang ke sana. Citra pura-pura memeluk bibinya dan ikut menangis bersamanya.


"Citra minta maaf jika selama ini Citra sudah jahat sama Bibi. Bi, Citra bukannya tidak sayang sama Bibi, tapi Citra kesal karena Bibi tidak memperbolehkan Citra hidup mandiri."


"Anna," panggil ayah Citra.


"Mas Andreas." Bibi Anna menghapus air matanya.


"Pa, aku sudah minta maaf jika perilaku aku meninggalkan rumah membuat Bibi sedih. Aku ingin mandiri, tapi Bibi tidak mengizinkan, makannya aku tetap pergi dari rumah. Iya, Kan, Bi?"


"I-iya, dan mengatakan hal ini agar kamu mau pulang dan menasehati Citra agar mau kembali ke rumah."


"Citra, Papa mohon sama kamu untuk kembali ke rumah, kasihan bibi kamu."


"Citra ingin mandiri, Pa. Nanti juga Citra akan sering datang ke sini untuk menemui Bibi dan mengajak Nadin jalan-jalan." Citra tersenyum pura-pura manis.


"Bukannya Papa tidak memperbolehkan kamu mandiri, tapi bibi kamu sekarang tinggal hanya dengan Nadin. Kamu sendiri juga yang ingin tinggal dengan pamanmu dulu, kenapa sekarang kamu malah pergi meninggalkan orang yang sudah merawatmu?"


"Itu karena Citra ingin mendekati pria bernama Addrian," terang Bibi Anna. "Anak kamu sedang bermain api dengan berniat merusak rumah tangga seseorang."


Andreas melihat pada Bibi Anna. "Aku sudah tau hal itu, Anna."


"Apa? Kamu sudah tau, dan kamu membiarkannya, Mas Andreas?" Bibi Anna melihat tidak percaya.

__ADS_1


"Bi, aku melakukan hal yang benar. Addrian dulu adalah cinta pertamaku di sekolah, tapi Aira bodoh itu merebutnya. Jadi, kalau aku merebutnya kembali, aku tidak salah, kan? Lagi pula kalau Papa tidak mau membantu, lebih baik aku mati di hadapan Papa." Citra melihat ke arah papanya.


__ADS_2