
Reva masih meronta-ronta.
Dia sangat malu diperlakukan seperti anak kecil oleh Sandy.
"Om turunin !!"
Dia memukul-mukul pungggung Sandy.
Sandy tidak menjawab.
Dia terus saja ngeloyor pergi sambil tetap memanggul tubuh Reva.
"Om !!" jerit Reva.
Sandy dihadang Michael.
Sandy berhenti.
Matanya menatap Michael tajam.
"Gak usah ikut campur, Kel !"
"Enggak...
Cuma...
tolong jangan kayak gini, San .." bujuk Michael.
Sandy menaikkan alisnya.
"Jangan ?
Lu sendiri gimana ?" tanya Sandy sarkas.
Michael tetap menatap tenang.
Dia menepikan badannya.
Memberikan Sandy jalan.
Sandy berlalu. Tetap memanggul tubuh Reva.
Reva saling bertatapan dengan Michael yang dilewati Sandy.
Michael menganggukkan kepalanya sedikit.
Memberikan dukungan pada Reva.
Reva meringis.
Dia kembali memukul punggung Sandy.
Mengubah taktik, dia mencubit pinggang Sandy.
Sandy diam-diam meringis geli.
Tapi tetap menahan mulutnya.
"Om.. please... turunin aku.." mohon Reva.
Sandy tetap diam.
Dia membuka pintu kamar.
Dengan langkah lebar, dia menuju tempat tidur lalu membanting tubuh Reva disana.
"Aahkh...." keluh Reva.
Nafasnya kembali terhempas keluar.
Tangannya langsung dikunci ke atas oleh Sandy.
Sandy menindihnya.
"O..om.." katanya terbata.
Sandy menatapnya tajam.
Jambulnya turun menutupi alis.
"Segitu pengennya kamu t*l**j*ng, Va ?
Hmm..?" desis Sandy.
Reva terkejut.
Dia tidak menjawab.
"Segitu pengennya kamu dipegang laki-laki ?"
Reva menatap Sandy.
Perlahan wajahnya berubah merah.
Malu tapi juga terhina.
Mata Sandy turun ke dada Reva, lalu ke perut.
Lalu ke bikini bawah yang menutupi area intimnya.
"Kamu pengen t*l**j*ng ?" desis Sandy.
Reva menggeleng pelan.
Tangan Sandy mengerat pada kunciannya lalu satu tangannya merenggut bikini yang di pakai Reva.
Ssrrttt....
Dada Reva terekspos.
Reva tersentak.
"Om !!" jeritnya.
Tangannya bergerak ingin melepaskan diri dari kuncian Sandy.
Badannya menggeliat, mencoba menutupi kepolosannya.
"Apa ?
Kalo sama aku, kenapa mau ditutup ?
Aku bakal jadi suami kamu, Va..
Aku punya hak untuk liat kamu.
Sekarang atau nanti..aku juga bakal liat."
"Om....please..jangan..."
"Apanya yang jangan ?
Kamu udah kayak gini.
Cuma pake bikini doang..
Gampang bukanya...ya kan...." kata Sandy sinis.
Sandy menunduk semakin ke bawah.
Tangannya kembali merenggut paksa bikini bawahan Reva.
Ssrrttt....
Kembali terdengar suara kain robek.
Kini Reva sepolos bayi yang baru lahir.
"Om...!"
Pahanya diangkat menutupi bagian intimnya.
Sandy menggerakkan kakinya.
Menahan paha Reva dengan pahanya sendiri.
Kulitnya yang putih kini sudah memerah.
Baik karena kemarahannya maupun gairah yang kini meliputi dirinya.
Kedua kalinya Reva polos dihadapannya.
Pusat dirinya sudah mengeras.
Tapi dia masih memakai baju lengkap.
Sandy mendudukkan dirinya di paha Reva.
Dia melepas kan tangannya dari tangan Reva.
Lalu cepat meloloskan kausnya.
Dada Sandy yang kekar dan polos kini berhadapan dengan Reva.
Reva sendiri cepat-cepat menutupi dadanya dengan tangannya yang bebas.
Dia menggerakkan pahanya untuk membebaskan diri.
Sandy mengencangkan tindihan nya.
Tangannya kembali merenggut tangan Reva dan menguncinya kembali di atas kepala Reva.
"Om..." Reva mencoba untuk menenangkan dirinya.
Dia tau dia tidak akan dilepaskan sampai Sandy selesai melepaskan amarahnya.
Masalahnya...bagaimana Sandy akan melepaskan kemarahan nya?
Sandy tidak menjawab.
Matanya menatap mata Reva.
"Aku minta maaf." kata Reva menurunkan egonya.
Sandy tetap diam.
"Aku minta maaf udah bikin Om marah."
Sandy masih diam.
Matanya menatap Reva, mencari kesungguhan dari kalimat yang diucapkan oleh Reva.
"Aku janji enggak gitu lagi, Om.."
"Gitu apa ?"
"Pakai bikini."
"Apalagi ?"
__ADS_1
"Apa ?"
"Apalagi yang bisa kamu janjikan ?"
Reva mengerutkan keningnya.
Apa yang bisa dijanjikan ?
"Maksud Om ?"
Sandy diam.
Reva menatap Sandy.
Benaknya berputar.
Sandy tadi terlihat marah besar.
Siapa yang bisa membuat Sandy marah ?
Aaron.
Pasti itu.
Sandy belum bisa melupakan pengkhianatan Cindy padanya.
Dengan Aaron.
"Aku enggak menggoda laki-laki lain, Om." katanya.
"Pakai begini kamu bilang enggak menggoda ?
Senyum-senyum sama mereka, kamu bilang gak menggoda..?"
"Enggak.
Bukan itu maksudku."
"Terus maksud kamu apa ?"
"Aku enggak selingkuh."
"Belum.
"Om.!!
Aku enggak selingkuh."
"Tapi kamu mau bikin orang mendekati kamu dengan baju minim kayak gini !"
"Enggak Om.
Om salah ngerti.
Aku salah.
Iya..
Aku tau.
Tapi aku juga marah.
Marah sama Om."
"Jangan membalik keadaan, Reva !!"
"Apa aku gak boleh marah, Om ?"
Sandy diam.
Reva mengamati Sandy.
Sandy pernah tersakiti oleh orang yang sama.
Yang sekarang sedang jadi alat pembalasan dendamnya pada Cindy yang kemarin menyakiti dia.
"Lepasin tangan aku, Om..."
"Nanti.."
Reva tersenyum.
"Om....aku malu...
Lepasin dong..." katanya lembut.
Sandy melonggarkan sedikit kunciannya.
"Malu apanya ?
Kan sama aku.
Lagian...
semalam..,"
"Sst...
Om....
Udah jangan disebut !!" potong Reva dengan muka merah.
Sandy gemas sekali melihatnya.
Dia mengingat kata-kata Cindy padanya tadi siang.
Cindy salah.
Ini juga menyangkut kepribadian.
Kepribadian Reva yang membuatnya jatuh cinta.
Reva mampu menurunkan emosinya.
Kehadirannya menenangkan dirinya.
Dan dia bersedia memberikan segalanya untuk Reva.
Asal Reva tetap ada disisinya.
"Om....
Aku malu dan aku kedinginan." kata Reva membuyarkan lamunan Sandy.
Sandy menahan senyumnya.
Dia menindih Reva semakin dalam.
"Om....berat !" keluh Reva.
"Kamu katanya kedinginan.
Aku lagi angetin.." kata Sandy.
Bibirnya mencium leher Reva.
Menelusuri leher jenjangnya.
"Hhh...." tenggorokan Reva tanpa sadar mengeluarkan suara.
Satu tangan Sandy membelai buah dadanya.
Memainkan puncaknya.
"Hhh..."
Reva tanpa sadar mengangkat tubuhnya.
Meminta sesuatu yang belum diketahuinya.
Mulut Sandy turun.
Mengatup di puncak dada Reva.
Memainkan lidahnya.
Tangan Reva yang dikunci bergerak.
Meminta untuk dilepaskan.
Sandy kembali mengetatkan kunciannya.
Sandy berpindah ke puncak yang lain.
Reva mengangkat tubuhnya.
Pahanya bergerak.
Menggesek paha Sandy.
Pusat dirinya bergesekan dengan pusat diri Sandy.
Sandy lupa segalanya.
Gerakan Reva menaikkan gairahnya.
Apalagi Reva tidak mengenakan apa-apa.
Sandy menempatkan dirinya diantara paha Reva.
Reva kembali mengangkat tubuhnya.
Tangan Sandy berpindah.
Dia meraba pusat kewanitaan Reva.
Memainkan jarinya.
Reva menjerit.
Sandy nyengir.
Dia menatap Reva yang terengah dan menutup mata.
"Buka mata kamu, Sayang..." kata Sandy.
Reva membuka matanya.
Terkejut dengan panggilan sayang dari Sandy.
Sandy sudah tidak marah ?
Matanya menatap Sandy.
Bertanya.
Sandy cepat-cepat menyembunyikan senyumnya.
Dia kembali menunduk, menyambar bibir Reva.
__ADS_1
"Mmm...mmmft...
Om..." Reva mendapatkan kembali akal sehatnya.
Sandy mengangkat kepalanya.
"Udah Om..
Nanti kita lepas kendali seperti semalam." bisik Reva.
Sandy tidak menjawab.
Matanya menelusuri tubuh Reva.
Dia sebetulnya sudah tidak peduli.
Malah bagus kalau sekarang.
Reva akan mengingat bahwa dia sudah tidak bisa kemana-mana.
Dirinya sudah dimiliki Sandy.
"Mas..." bujuk Reva.
Lalu dia menggigil.
AC di ruangan memang dingin.
Sandy melepaskan tangan Reva.
Reva cepat-cepat menarik tubuhnya masuk ke dalam selimut.
Menutupi kepolosannya dari mata Sandy.
Matanya masih menatap Sandy.
Sandy menghembuskan nafasnya.
Entah mengapa, mendengar permohonan Reva, dia tidak sanggup meneruskan.
Sandy merebahkan dirinya di samping Reva.
Tangannya meraih leher Reva..
Membuatnya mendekat.
Bibirnya mencium pelipis Reva.
"Aku Gak mau kehilangan kamu, Va." katanya setelah diam beberapa saat.
Reva bergerak.
Tangan nya menangkup pipi Sandy.
"Aku gak kemana-mana, Om.
Aku disini.
Disamping Om."
Sandy diam.
Tangannya membelai pangkal rambut Reva di dahi.
"Aku mencintai kamu, Va.." bisiknya.
Reva mendongak.
"Aku sayang Om..
Selalu...
Dari dulu..."
Reva menempel kan tubuhnya pada Sandy.
Setelah semalam, dia semakin takut kehilangan Sandy.
Siapa yang mau menerima dirinya yang sudah ternoda ?
"Om...aku pake baju ya ?" tanyanya.
Sandy melirik.
Menatap pundak dan belahan dada Reva yang hanya ditutupi oleh selimut.
Menggoda.
"Kamu masih panggil Om..." tegur Sandy.
Reva tersenyum.
"Itu panggilan sayang..."
"Ck ..apa bedanya sama Michael dan Robert ?" protes Sandy.
"Beda.
Om yang ini pake sayang."
"Sayang doang ?"
"Om..sayang itu bertahan lebih lama dari cinta."
"Jadi maksud kamu, cinta aku gak akan bertahan lama ?"
"Aku berharap Om juga bakal menyayangi aku." elak Reva.
Sandy berdecak.
"Aku udah sayang kamu, Va.
Kalo enggak, enggak bakalan aku kasih ijin kamu pacaran sama Steven !"
"Om !"
"Kamu pikir aku gak sakit liat kamu mesra-mesraan sama dia ?"
Reva memerah.
"Om..aku enggak..
Eh... bermaksud seperti itu.." kata Reva tidak enak hati
"Sejak kamu kalah taruhan.
Sejak nama kamu aku masukkan dalam kepemilikan rumah, sejak itu kamu udah aku tandain jadi milikku.
Bukan cuma sejak itu.
Sejak aku nyium kamu di tepi tebing, sejak itu aku nandain kamu."
"Om....
Aku gak tau."
Sandy kembali berdecak.
"Kamu tau.
Tapi kamu berusaha mengelak.
Aku tau..
Aku juga gak mau maksa kamu saat itu.
Tapi semua ada batas waktunya.
Jadi aku harap, Va....
Saat kita menikah dua bulan lagi..
Kamu udah menempatkan aku di hati kamu." kata Sandy sambil menepukkan jarinya di dada Reva yang tertutup selimut.
Reva menunduk.
Sandy rupanya tau segalanya.
Yaah...wajar..
Sandy pintar.
Kalau tidak, dia tidak akan sukses seperti ini.
"Kalo gitu..
Om juga bantu aku dong.." elak Reva.
Sandy memiringkan badannya menghadap Reva.
"Mau dibantu gimana ?
Kayak gini ?"
Tangan Sandy kembali meremas dada Reva.
Bibirnya mendekat, menggigit cuping telinga Reva.
Lalu turun menyusuri rahang nya.
"Hhh....Om !!"
Reva mencoba menepis tangan Sandy yang berada di dadanya.
Sandy berkeras tidak melepaskan tangannya.
"Om...." kata Reva lembut.
Sandy meremas sekali lagi lalu menarik tangannya.
"Malam ini kita tetap disini, Va.
Makan malam disini aja."
"Iya Om...
Terserah Om."
Dan malam itu, mereka berdua tidak muncul untuk makan malam.
Menimbulkan tanda tanya pada teman-temannya.
Di kamar, Reva dan Sandy sudah duduk berdampingan dengan laptopnya masing-masing.
Yang satu belajar, satunya lagi bekerja.
Sesekali bibir Sandy menempel di kening Reva.
Atau menyambar bibir Reva dan menciumnya hingga Reva kehabisan nafas.
__ADS_1
...☘️🍎🍇...