Kamu Milikku

Kamu Milikku
Cemas


__ADS_3

Cindy menerawang.


Hatinya cemas.


Cemas dengan sikap yang diperlihatkan oleh Sandy tadi.


Biasanya Sandy tidak pernah mendekati Reva.


Sandy dekat dengan teman-temannya.


Tapi tadi...


Cemasnya Sandy bukan palsu.


Dia betul-betul seperti orang yang takut...


Cindy mengerutkan keningnya.


Sandy terlihat sangat takut kehilangan Reva.


Apa itu wajar ?


Tidak.


Cindy menjawab sendiri pertanyaannya.


Tadi...


Cindy berkerut kesal.


Sandy menempelkan bibirnya di mulut Reva.


Beberapa kali.


Sumpah ! Dia tidak rela !


Kenapa harus Sandy ?


Kan bisa yang lain ?


Hmmm...


Sekarang belum terlambat.


Sandy masih miliknya.


Dan dia, Cindy, akan mempertahankanya.


Cindy bangkit.


Dia keluar kamar lalu berjalan menuju kamar Sandy.


Dia mengetuk.


Memanggil.


Tak ada jawaban.


Berarti belum pulang dari rumah sakit.


Dahi Cindy berkerut.


Dia tidak suka kondisi ini.


Sandy terlalu memperhatikan gadis ini.


Cindy kembali ke kamar.


Lalu keluar lagi.


Dia duduk di sudut lobi.


Tengah malam, Sandy dan teman-teman nya baru datang.


Sama sekali tidak melihat Cindy yang duduk di pojokan.


Mereka langsung menuju kamar.


Perlahan Cindy mendekati kamar Sandy.


Dia melihat Michael berdiri di pintu.


Pintu kamar Sandy terbuka.


Mereka sedang mengobrol.


Cindy kembali ke kamar.


Tidak lama, Sandy dan Michael keluar lalu masuk ke kamar Reva.


Tapi Cindy tidak tau itu.


Dia menyangka Sandy tetap di kamar.


Michael mandi sebentar di kamarnya sendiri, lalu datang ke kamar Reva.


Sandy sendiri sudah membawa bajunya dan mandi di kamar Reva.


Toh Reva tidak akan memakai kamarnya selama dua hari.


Jadi dia memakai handuk yang ada di kamar Reva.


Satu jam kemudian pintu kamar Reva di ketuk.


Michael dan Sandy saling berpandangan.


Mereka berdua sudah siap-siap hendak tidur.


Cepat-cepat Sandy membuka laptop Reva.


"Saan..." panggil Cindy.


Cindy tadinya mengetuk kamar Sandy.


Tapi tidak mendapatkan jawaban.


Entah dapat dari mana ide itu, Cindy lalu menuju ke kamar Reva.


Pintu terbuka.


Cindy memasang senyum menggoda sebelum membeku.


Michael muncul di di pintu.


Matanya menatap Cindy.


Dari ketiga pemilik Methrob, Cindy paling segan dan takut pada Michael.


Robert masih suka bercanda


Sedangkan Sandy, Sandy laki-laki yang paling kalem dan sabar.


Tapi Michael ?


Michael punya sikap dingin.


Entah apa yang membuat Tia, seorang yang sabar, ramah dan baik bisa jatuh cinta pada laki-laki dingin seperti Michael.


Michael punya sikap yang tedeng aling-aling.


Langsung.

__ADS_1


Lihat saja saat Cindy pertama kali datang ke villa ini.


Michael tidak segan mengusir mereka.


Michael juga kelihatannya pengambil keputusan tertinggi diantara mereka bertiga.


Padahal..nama Michael hanya tertulis sebagai CEO, bukan pemilik.


Pemiliknya Tia.


Sesuai perjanjian pernikahan mereka.


Dan...sekarang..


Cindy harus berhadapan dengan si dingin ini.


"Ehm... Sandy ada ?" tanyanya gugup.


"Mau ngapain ?


Ini sudah malam. Waktunya tidur." kata Michael datar.


Cindy menelan ludah.


Dia menatap Michael.


Menatap wajah Michael yang tampan.


Tak heran Tia mencintainya.


Gosipnya, Daniel gagal mendapatkan Tia karena Michael berkeras tidak mau melepaskannya.


Masih menurut gosip, Michael bahkan menjebak Tia untuk menikahinya.


Tapi kelihatannya pernikahan mereka baik-baik saja.


Tia terlihat bahagia.


"Ah..enggak..


cuma mau ketemu aja." jawab Cindy.


Michael melebarkan pintu.


"Kami lagi kerja." katanya.


Sandy berdiri, menghampiri.


"Ada apa Cin?


Aku lagi sibuk." katanya sambil tersenyum.


Sementara Michael berdiri bersedekap.


Menatap mereka berdua dengan tajam.


"Eh...


engg...


Ya udah...aku gak mau ganggu.


Lanjutin aja.


Aku...kita bisa ketemu besok." kata Cindy.


"Iya besok aja


Ini udah malam.


Kamu tidur gih." jawab Sandy.


"Iya.


Cindy ragu-ragu sejenak.


Matanya melirik Michael yang tetap menatap mereka tanpa ekspresi.


Cindy lalu berjinjit mencium pipi Sandy.


"Selamat malam Sayang.." katanya lalu membalikkan badan.


Rasanya ingin berlari dari sana.


Sampai di depan pintu, dia menggerutu.


Buyar sudah harapannya untuk bersama dengan Sandy.


Padahal dia datang kesini untuk menuntaskan rindunya pada Sandy.


Ini sudah masuk hari ketiga.


Dia tidak bisa terlalu lama mengambil cuti.


Kemarin saja, dia yang memaksa.


Kalau ketauan Daniel atau Elle, bisa habis dia.


Dia berani karena Tia bukan tipe yang suka melaporkan.


Walaupun Tia berteman baik dengan Elle.


Lagipula...dia kan pacar Sandy, salah satu pemilik Methrob juga.


Harusnya Tia juga menghormati dia dong.


Michael keluar dari kamar.


Memperhatikan Cindy yang nyaris berlari ke kamarnya.


Dia ingin memastikan gadis itu benar-benar masuk ke kamarnya.


Lalu Michael Kembali ke kamar Reva.


Dilihatnya Sandy sudah berbaring sambil mendesah lega.


Michael cemberut.


Sandy lega.


Dia tidak.


Bagaimana dia bisa tidur malam ini tanpa memeluk Tia ?


Sandy membuka matanya.


Menatap Michael yang cemberut lalu tertawa terbahak-bahak.


"Puasa Kel..


Sekali-kali puasa..


Mbok ya empati dikit sama gue."


"Bah !!.Empati apanya ?!


Gara-gara lu nidurin tu cewek, kita semua jadi kena getahnya.


Sekarang gue deh yang harus tidur bareng elu.


Padahal lagi liburan.."

__ADS_1


"Iya..iya...maaf deh..


Dah tidur...


Daripada lu ngomel melulu." kata Sandy sambil menutup mata.


Michael lalu ikut membaringkan tubuhnya.


Telentang.


Tangannya disatukan di kepala.


"Lu hati-hati sama dia.


Dia kelihatannya lagi ngincer lu banget.


Kelihatannya..dia baru sadar kalo lu tuh berharga.


Sebetulnya..kalo itu tipe cewek kayak cici gue, atau Tia, atau bahkan Reva, lu bakal bahagia.


Karena dia bakal ngelakuin apa aja untuk bikin lu bahagia.


Tapi...yang ini tipe cewek gak bener.


Kalo bener, dia gak akan tidur sama orang lain saat dia tau kalo lu tuh mencintai dia sepenuh hati."


"Iya Kel.


Gue tau gue salah.


Harusnya..waktu tau kalian bener dan gue salah, gue rundingan sama lu semua.


Apa yang harus dilakukan.


Tapi gue ngambil keputusan sendiri berdasarkan emosi.


astagaaa... rasanya gue pingin nendang diri sendiri kalo inget!"


"Harusnya...waktu lu tau dia selingkuh, lu langsung putusin.


Jadi masalah nya gak berlarut-larut kayak gini."


"Dia kayaknya tau kalo gue naruh perhatian sama Reva."


"Setelah tadi siang ?


Semua orang juga jadi tau.


Lu kliatan banget paniknya.


Tapi..wajar..Gue juga panik"


"Gue panik.


Iya.


Dan satu lagi...


Gue gak tau harus ngomong apa sama orang tuanya kalo aja...kalo aja tadi Reva beneran lewat."


Mereka berdua diam.


"Cindy kayaknya udah ngerasa dari sejak datang ke sini.


Insting perempuan mungkin."


"Hmm..."


"Gue nanti nemenin Reva dulu sampe pulih.


Waktunya pas.


Nanti gue ke Taiwan bareng dia."


Michael memiringkan badannya.


"Reva...nganggep lu Om nya.


Lu kudu pake strategi biar dia mau sama lu."


Sandy tertawa.


"Berat nih.


Saingannya Steven."


"Jangan sampe kerjaan kantor berantakan gara-gara cinta segitiga ya.." senyum Michael.


"Ah...


Kelihatannya Steven juga nahan diri."


"Kok lu tau ?"


"Mereka berdua saling menyukai.


Gue denger anak-anak ngomong.


Dan liat sendiri selama di sini.


Tapi... Steven gak mau maju.


Gak tau alasannya apa ?"


"Mungkin.. alasan yang sama yang dipakai Reva."


"Apa?"


"Mereka berbeda.


Lu juga beda."


"Tapi lu bisa.."


"Gue bisa karna gue tau, gue gak bisa kalo Tia lepas dari gue.


Jadi..gue milih Tia.


Untungnya, keluarga gue mendukung.


Nah..belum tentu semua mendapatkan dukungan smooth kayak begitu.


Lu...harus pikirin itu juga.


Faktor keluarga."


Sandy diam.


Dia juga belum pernah memikirkan reaksi keluarganya.


Dia jarang pulang.


Walaupun selalu berkomunikasi dengan Papi dan Mami nya.


Sandy menguap.


"Tidur Kel.


Biarkan masalah mengendap.


Mana tau hilang dengan sendirinya."

__ADS_1


...⛰️🍎🎋...


__ADS_2