
Aira tampak kaget mendengar apa yang diinginkan oleh Dewa.
"Tapi kita sama-sama sudah menikah, Mas. Kalau ada yang melihat kita berpelukan akan terjadi salah paham."
"Aku hanya ingin memastikan jika aku bisa melupakan kamu, Aira. Apa yang aku rasakan sama kamu aku ingin benar-benar hilangkan, dan kamu jangan menganggap ini sebuah pelukan sayang, ini hanya pelukan antara sahabat. Aku ingin menjadi sahabat kamu."
Aira tampak bimbang, tapi mungkin jika dia mengizinkan dia juga akan merasa lega karena Aira juga berharap dia tidak memiliki perasaan apapun pada mas Dewa walaupun secuil.
"Ini permintaanku untuk yang terakhir kalinya sama kamu sebelum aku pergi dari negeri ini dengan Shelomitha, dan aku ingin memastikan jika aku memang akan bisa melupakan kamu, tidak merasakan apa-apa lagi dari pelukan kita ini."
"Iya, Mas Dewa."
Dewa tampak tersenyum bahagia dan dia memeluk Aira. Pun Aira membalas memeluk Dewa.
"Terima kasih, Aira. Semoga kamu selalu bahagia bersama keluarga kecilmu. Aku akan mendoakan kamu."
"Aku juga akan mendoakan Mas Dewa agar bahagia selalu dengan keluarga kecil Mas Dewa."
Mereka tidak tau ada seseorang berdiri di sana melihat adegan pelukan antara mantan kekasih itu. Addrian berdiri di sana karena dia mendengar ada seorang wanita jatuh di kamar mandi atas, dan Addrian yang khawatir karena Aira tadi izin ke kamar mandi segera berjalan menuju lantai atas, tapi apa yang sekarang dia lihat.
Addrian memilih pergi dari sana tidak mau mengganggu istrinya dan mantan kekasihnya.
"Mas Dewa." Aira melepaskan pelukannya. "Aku harus kembali pada Addrian. Dia pasti sudah menungguku."
"Iya, terima kasih, Aira. Sekarang aku yakin jika aku pasti akan bisa melupakan kamu. Saat kita pelukan tadi aku pun merasakan kamu benar-benar memelukku sebagai seorang sahabat."
"Aku akan tetap mau bersahabat dengan Mas Dewa, tapi untuk cinta aku tidak bisa karena sekarang dan untuk selamanya cintaku hanya untuk Mas Addrian. Aku permisi dulu."
Aira berjalan pergi dari sana. Dewa masih berdiri menatap punggung gadis yang masih sangat-sangat Dewa cintai.
"Kamu mungkin bisa melupakan aku dan tidak memiliki perasaan apapun terhadapku, tapi aku tidak bisa menghilangkan kamu dari hati dan pikiranku, Aira. Si brengsek itu tidak pantas mendapatkan kamu."
Aira kembali ke lantai bawah dan mencari di mana suaminya, ternyata Addrian berada di dekat pintu yang menghubungkan antara ruang utama dan taman. Addrian tidak sendirian, dia bersama dengan seseorang wanita di sana.
__ADS_1
"Siapa wanita itu?" Aira berjalan mendekat ke arah suaminya. "Mas." Aira memeluk lengan tangan suaminya.
"Sudah selesai?" Aira mengangguk.
"Apa dia istri kamu, Addrian?"
"Iya, dia istriku. Namanya Aira, dan Aira ini Gita, dia temanku saat SMU dulu."
"Hai, aku Gita, dan aku juga saudara sepupu jauhnya Dewa. Aku pernah mendengar kalau kamu dan Dewa dulu hampir menikah, tapi aku tidak menyangka jika kamu malah menikah dengan Addrian-- pria yang dulu aku taksir, tapi sayang dia tidak menyukaiku karena menyukai She." Wanita itu tertawa dengan memegang lengan tangan Addrian.
"Jadi, kamu saudara sepupunya Mas Dewa? Tapi Mas Dewa dulu tidak pernah bercerita tentang kamu."
"Em ... Dewa dan aku tidak terlalu dekat walaupun dulu kita satu sekolah, aku juga tidak terlalu memperdulikan hal itu. Oh ya! Cerita cinta kalian lucu juga. Dewa, kamu, Addrian dan Mitha. Huft! Sangat membingungkan, tapi memang ada. Addrian, kapan-kapan aku bolehkan main ke rumahmu? Nanti aku ajak anakku ke sana."
"Kamu sudah berkeluarga?" tanya Aira.
"Aku baru saja berpisah dengan suamiku, oleh karena itu aku memilih pulang ke sini."
"Oh, aku minta maaf."
"Iya. Kita tidak ada yang tau, seperti kita bersama orang yang kita cintai, tapi kita tidak tau apa kita akan bisa bersamanya terus atau malah berpisah."
"Iya, aku kira suamiku sangat sayang denganku, tapi di usia pernikahan kita yang hampir menginjak delapan tahun, tau-tau dia malah selingkuh dengan wanita lain."
"Kamu tidak berusaha merebutnya lagi?" tanya Addrian.
"Untuk apa? Suamiku juga tidak berusaha menghindari wanita itu. Aku berikan saja, aku tidak mau mengemis cinta. Sudah cukup apa yang selama ini aku berikan padanya."
"Aku yakin kamu bisa menjalani semuanya."
"Terima kasih, Addrian. Hm ... mendengar kata-kata kamu membuat aku seolah memiliki kekuatan. Aku permisi dulu ya."
Wanita bernama Gita itu memeluk dan mengecup pipi Aira kanan dan kiri. Dia juga ternyata melakukan hal yang sama pada Addrian.
__ADS_1
Aira yang melihatnya agak terkejut. "Kenapa harus mencium pipi suamiku?" gerutu Aira.
"Aira, kita pulang sekarang saja karena hari sudah semakin malam." Addrian berjalan duluan.
"Kenapa mas Addrian tidak menggandengku?" Aira berlari kecil menyusul suaminya.
Mereka berdua berpamitan pada tuan rumah dan pergi dari acara pesta pernikahan yang masih berlangsung.
Di dalam mobil Addrian tidak mengeluarkan satu katapun, bahkan dia sepertinya tidak ingin mengajak bicara wanita di sampingnya.
"Mas, kamu kenapa? Kamu kamu sakit?" Aira mencoba memegang dahi suaminya.
"Aku tidak apa-apa, Aira. Kamu duduklah dengan baik karena aku tidak mau sampai kamu dan bayiku kenapa-napa."
Aira melirik pada suaminya yang masih fokus menyetir. "Apa Mas kepikiran dengan wanita bernama Gita tadi?" Addrian tidak menjawab. dia. "Apa kalian dulu pernah jadian ya?" desak Aira karena Aira merasa kesal saja melihat wanita bernama Gita memegang-pegang tangan suaminya bahkan bersikap sok kenal dekat sekali dengan suaminya.
"Kamu tidak perlu mempertanyakan hal tidak penting seperti itu padaku, Aira."
"Tidak penting bagaimana? Itu penting, Mas. Aku benar-benar harus kuat berada di samping kamu karena selalu ada wanita yang selalu ingin mendekati bahkan merayumu. Menyebalkan!"
"Kalau kamu percaya yang aku cintai hanya kamu, seharusnya kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Lagi pula aku tau batasanku, Aira."
"Tapi bisa saja kamu tergoda karena keseringan digoda oleh mereka." Bibir Aira mengerucut kesal.
Addrian menghentikan mobilnya ke tepi jalan yang sepi. Aira bingung kenapa mereka berhenti di tepi jalan.
Addrian melihat serius pada istrinya. "Bukannya kita sudah mengatakan akan percaya dan selalu saling mencintai satu sama lain? Kenapa sekarang meragukan aku?"
"Entah kenapa mendengar cerita Gita tadi hatiku rasanya takut sendiri. Mereka delapan tahun menikah, dan ternyata suaminya berselingkuh."
"Aku saja percaya sama kamu walaupun aku tadi melihat kamu berpelukan dengan Dewa, tapi aku tidak meragukan cinta kamu."
Aira agak terkejut mendengar hal itu. sekarang dia jadi tau kenapa tadi sikap suaminya agak cuek padanya.
__ADS_1
"Soal itu--."