Kamu Milikku

Kamu Milikku
Kebahagiaan Untuk Aira part 1


__ADS_3

Sebelumnya di rumah. Addrian mencoba berbicara dengan istrinya, tapi Aira tidak mau membukakan pintunya, bahkan Aira mengunci pintu kamar dari dalam.


"Sayang, aku mohon kita bicara sebentar saja."


"Mas, sebaiknya berangkat ke kantor saja, biar aku menenangkan dulu pikiranku. Nanti kita bicara saat mama Amanda datang saja."


Addrian menempelkan dahinya pada daun pintu kamar Aira. Pria itu sangat terlihat sedih.


"Sayang, apa kamu tidak apa-apa aku tinggal sendiri? Apa perlu Niana aku panggil ke sini?"


"Tidak perlu, Mas, aku memang ingin sendiri. Mas Addrian pergi saja ke kantor, jangan karena masalah kita ini membuat Mas Addrian meninggalkan pekerjaan kantor, Mas."


Mereka ini sedang berbicara secara terpisah. Di mana Addrian berada di luar kamar dan Aira di dalam.


Addrian akhirnya memutuskan pergi ke kantornya. Mungkin dengan begini Aira akan lebih tenang.


Tidak lama Aira mendapatkan telepon dari bibi Anna yang mengatakan jika papa Citra akan datang ke rumahnya setelah kemarin dia hubungi. Papa Citra yang tak lain adalah Tuan Andreas sebenarnya sejak dua hari yang lalu ada di kota itu untuk urusan bisnisnya mengatakan akan ke rumah Bibi Anna.


Bibi Anna sengaja memancing Citra dan Andreas agar berkumpul ke rumahnya supaya mereka mengakui kerja sama yang sedang mereka lakukan karena waktu itu Aira bercerita jika Citra dan Addrian sudah melakukan hal yang tidak semestinya.


Saat itu di tengah kesedihannya Aira bercerita pada bibi Anna. Di mana Aira mencurigai suaminya dijebak oleh Citra.


Aira mengatakan Citra dan Addrian yang pergi dengan tuan Andreas karena urusan bisnis. Bibi Anna bertanya tentang tuan Andreas dan ternyata Aira baru tau jika dia adalah papa Citra.


Mereka membuat rencana itu karena Aira sangat percaya jika suaminya tidak akan melakukan hal di luar batas jika bukan Citra yang sudah berbuat licik.


Ternyata Aira berhasil menemukan kebenarannya, tapi sekarang Aira benar-benar shock melihat kejadian yang baru saja terjadi di depan kedua matanya.


"Nyonya Aira, apa Anda baik-baik saja?" Tiba-tiba Aira terkejut melihat ada seorang pria masuk dan memanggil namanya, padahal Aira tidak kenal.


"Ka-kamu siapa?"


"Saya orang yang di tugaskan menjaga dan mengawal Nyonya Aira selama ini."


"Apa? Siapa yang menyuruh kamu?"


"Tuan Addrian, Nyonya. Oh Tuhan! Ada apa ini?"

__ADS_1


Di dalam kantornya, Addrian agak terkejut melihat mamanya ada di sana. Kenapa mamanya tidak langsung ke rumah Aira.


"Uno!" serunya kesal.


"Mama kenapa ke sini? Kenapa tidak langsung ke rumah saja? Bukannya Aira ada di rumah?"


"Aira tidak ada di rumah, mama ke sana, tapi tidak ada orang sama sekali. Ini semua gara-gara kamu, kamu itu kenapa tidak mau berubah? Sudah mama pilihkan istri yang cantik, baik, pintar dan katanya kamu sangat mencintainya, tapi kenapa malah masih main-main dengan wanita lain? Awas kalau sampai ada apa-apa sama menantu dan cucu mama, kamu akan mama buat menderita selamanya," Wanita yang melahirkan Addrian itu menyerocos marah-marah.


"Mama, aku ini sudah berubah. Setelah menikah dengan gadis yang benar-benar aku cintai, aku sama sekali tidak menginginkan wanita lainnya."


"Lalu, itu kenapa sampai bisa tidur dengan wanita bernama Citra. Mama tidak mau punya menantu selain Aira."


"Siapa juga yang mau memberi menantu lagi?"


"Terus sekarang ke mana istrimu? Apa dia keluar rumah tidak memberitahumu?"


Addrian menggeleng. Tidak lama dia mendapat panggilan telepon dari orang suruhannya itu.


"Tuan Addrian, saya mau memberitahu tentang Nyonya Aira."


"Istri Tuan tidak apa-apa, hanya saja sekarang saya dan Nyonya Aira ada di rumah sakit. Tuan ke sini saja sekarang. Nanti saya kirim lokasinya."


"Iya cepat, aku tunggu."


"Addrian, ada apa?" tanya mama Amanda dengan wajah paniknya.


"Ma, kita harus ke rumah sakit sekarang."


"Ada apa memangnya? Apa Aira akan melahirkan?"


"Tidak tau, Ma. Kita pergi sekarang saja." Addrian dengan cepat berjalan keluar dari gedung besar itu.


Beberapa menit kemudian, Aira yang sedang duduk di depan ruang UGD melihat ada Addrian dan mama Amanda di sana.


"Mas!" Aira seketika berdiri dan memeluk erat suaminya.


"Sayang, kamu tidak apa-apa, Kan?"

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Mas, tapi keadaan Citra dan papanya, yaitu Tuan Andreas sedang tidak baik-baik saja."


"Apa? Tuan Andreas? Apa maksud kamu?"


Aira menceritakan segalanya kepada suaminya tentang Citra yang mencintainya dari dulu, serta jebakan yang Citra lakukan. Addrian sangat terkejut mengetahui jika tuan Andreas adalah papa dari Citra dan mereka berdua yang sudah menjebak Addrian agar bisa disalahkan atas apa yang terjadi pada Citra.


"Dasar, wanita rubah! Mana dia sekarang? Mama mau menghajar gadis tidak tau malu itu!" Mama Amanda seketika marah.


"Citra sedang di ruang operasi karena Bibi Anna yang ingin melindungiku tidak sengaja menusuk perut Citra, Ma."


"Apa? Apa Citra meninggal?"


"Kita belum ada yang tau, Ma. Keadaannya papanya juga sedang kritis akibat serangan jantung yang tadi kambuh."


Aira juga menceritakan tentang kejadian yang mengerikan di rumah Bibi Anna.


Addrian kembali memeluk istrinya dengan erat. "Kamu bodoh sekali, Sayang. Kenapa kamu malah menghadapi semua ini sendiri? Bagaimana jika ada apa-apa sama kamu?"


"Maafkan aku, Mas, tapi aku ingin mencari bukti kuat dulu agar bisa membuat kamu dan lainnya percaya jika Citra tidak sebaik yang sudah dia perlihatkan selama ini.


"Aku pasti percaya jika kamu yang mengatakan semuanya. Tidak perlu mencari bukti apa-apa."


"Mas, Citra itu licik. Dia akan bisa mencari cara atau alasan agar dia tetap terlihat baik di mata banyak orang. Terutama kamu."


"Sekarang semua sudah selesai, Sayang. Tidak akan ada lagi yang akan merusak rumah tangga kalian. Aku harap wanita itu pergi saja dari dunia ini," umpat mama Amanda saking marah dan bencinya sama Citra.


"Mama, jangan berkata seperti itu. Aku malah berharap Citra selamat dan baik-baik saja, tapi dia akan tetap mendapat hukuman atas apa yang dia lakukan padaku."


"Dia pasti akan mendapatkannya karena dia hampir saja membunuh kamu dan bayi kita, Sayang. Akan aku pastikan hal itu.


Mereka menunggu di sana selama hampir lima jam, dan mama Tatiana pun ikut datang ke sana. Aira tidak lupa menyuruh seseorang untuk menjemput Nadin-- anak dari Bibi Anna yang waktu kejadian dia berada di sekolahnya.


Aira menjelaskan pada Nadin kecil jika ibunya baik-baik saja, tapi masih belum bisa menemuinya karena ibunya ada di kantor kepolisian karena ibu Nadin harus menjalani pemeriksaan.


"Aku takut, Tante Aira."


"Nadin tidak perlu takut karena ada Tante Aira di sini."

__ADS_1


__ADS_2