Kamu Milikku

Kamu Milikku
Rencana Adopsi


__ADS_3

Arlan mengatakan jika dia tidak akan membatalkan rencana pertunangan mereka.


"Riani, kapan kamu ada waktu? Aku ingin mengajak kamu pergi makan malam dan kita bisa bicara tentang sesuatu hal yang ingin aku bicarakan sama kamu."


"Tentang apa, Arlan?"


"Tentang perjanjian yang akan kita lakukan saat nanti kita menikah."


"Perjanjian?"


"Kita bicarakan jika kamu ada waktu. Kita sudah sepakat kalau kita Rajan disama-sama tidak ingin menyakiti kedua orang tua kita, kan?"


Riani mengangguk dan Riani tau arah pembicaraan Arlan. Riani mengatakan jika dia akan memberitahu Arlan karena beberapa hari ini dia sibuk mau mengantar anak didiknya mengikuti lomba paduan suara di luar kota. Riani akan pergi selama beberapa hari.


Aira malam ini ditemani oleh Addrian di rumah sakit tampak bahagia. Putra kecil mereka juga tidur di sana.


"Mas, apa sudah ada nama untuk bayi kita?"


Addrian agak terkejut. "Belum, kamu sendiri ada ide nama untuk anak kita?"


Aira menggeleng pelan. "Kamu itu, kan, ayahnya. Kenapa malah tidak memikirkan dari awal nama bayi kita saat dokter mengatakan bayi kita laki-laki?"


"Sayang, kamu jangan marah. Hal ini adalah pengalaman pertama bagiku. Jujur saja aku ada beberapa nama, tapi aku kenapa tidak pas memakai nama itu?"


"Ya sudah kita coba cari aja di sosial media arti nama yang bagus."


"Nanti saja, kita tidak perlu terburu-buru. Sayang, kita nikmati saja peran baru kita sebagai kedua orang tua." Addrian mengecup kening Aira dan perlahan menuruni pipi wanita yang tetap terlihat cantik meskipun tanpa make up di wajahnya.


"Mas," ucap Aira lirih saat wajah Addrian sangat dekat dengannya. Tangan lembut Aira mengusap bibir Addrian. Mereka berdua tersenyum.


"Mau buat adiknya?"


"Apa sih, Mas?"


Saat Addrian akan mengecup bibir Aira, si kecil tiba-tiba menangis seolah dia tidak rela mamanya diajak bermesraan oleh ayahnya.


"Mas, bawa sini si kecil, biar aku memberinya asi."


"Dia kenapa seolah tidak boleh aku mendekati kamu, Sayang?" Kedua mata Addrian melirik ke arah box bayi.


Aira terkekeh pelan. "Kamu itu, masak iri sama bayi kecil kita?"

__ADS_1


"Tidak iri, hanya dia dari bayi sudah seperti aku saja tingkahnya. Menjengkelkan orang."


Addrian beranjak dan mengambil bayi kecilnya dari box. Tidak lupa dia mengecupi putra kecilnya beberapa kali.


Aira memberi asi pada anaknya di temani Addrian di sana. Addrian berusaha membuat Aira nyaman saat sedang memberi asi.


***


Aira sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Semua keluarga menyiapkan acara penyambutan kecil-kecilan untuk si bayi.


"Addrian, apa kamu sudah memberi nama untuk cucu mama ini?" tanya mama Amanda.


"Em ...! Aku belum memberinya nama, Ma. Apa Mama ada saran?"


Mama Amanda melihat ke arah sahabatnya, yaitu mama Tatiana.


Mama Tatiana mengangkat bahunya ke atas acuh karena mama Tatiana juga tidak ada ide.


"Namanya Andrei saja, Om Addrian," celetuk si kecil Nadin.


Seketika mereka melihat ke arah gadis kecil itu.


"Andrei?"


"Aku suka nama itu. Bagaimana Mas?"


"Kita akan menamai bayi kita Andrei Pramana Smith. Nadin, terima kasih karena ide nama dari kamu sangat bagus."


"Rei besok akan menjadi adikku juga, kan, Om?"


"Tentu saja, Sayang."


Nadin yang duduk di sebelah Aira mengecup pipi Andrei dengan penuh kasih sayang dan moment itu dia abadikan oleh Kenzo.


Satu masalah Addrian terpecahkan, tinggal dia masih memiliki masalah yang belum terselesaikan.


Saat dia sedang berkumpul dengan para keluarganya. Addrian mendapat telepon dari seseorang yang memang sudah Addrian lama sekali tugaskan mencari keberadaan seseorang.


"Kirim semua informasi yang kamu dapatkan. Aku ingin tau apa dugaanku selama ini adalah benar.'


"Baik, Pak Addrian."

__ADS_1


Aira yang berada di tempatnya melihat curiga pada suaminya. Sepertinya suaminya sedang mempunyai suatu masalah.


Addrian kembali bergabung dengan mereka seolah tidak terjadi apa-apa, tapi Aira sudah tau jika suaminya sedang menyembunyikan sesuatu.


Aira menunggu sampai acara di rumahnya selesai dan dia akan bertanya pada suaminya.


"Mas, apa Nadin sudah tidur?" Aira bertanya pada Addrian yang baru saja dari kamar Nadin untuk menidurkan gadis kecil itu.


"Iya, dia baru saja tidur. Dia senang sekali hari ini, terlihat dari wajahnya."


"Iya, dia bahkan tidak mau jauh dari Andrei. Dia sudah menjadi sosok kakak yang sangat menjaga adiknya."


Addrian naik ke atas ranjangnya dan Aira menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.


"Aku tidak tau apa yang nanti aku rasakan saat bibi Anna bebas dan membawa Nadin pergi dari sini?"


"Bagaimanapun juga bibi Anna adalah ibunya Nadin, dan kita tidak boleh egois. Nadin pasti juga selama ini merindukan ibunya."


"Iya, aku tau, Aira. Apa kita angkat saja Nadin menjadi anak kita? Aku akan membiayai semua kebutuhannya dan Bibi Anna bisa bekerja dengan kita sebagai pengasuh Andrei."


"Katanya kamu tidak mau memakai pengasuh dulu sampai Andrei benar-benar sudah dewasa?"


"Sebenarnya seperti itu, tapi cara satu-satunya agar Nadin dekat dengan kita hanya itu. Supaya kita juga bisa memantau perkembangannya. Aku sudah sangat sayang dengan gadis kecil itu."


"Aku juga, Mas."


"Hidupnya sudah menderita dari kecil. Ditinggal ayahnya dan tinggal dengan orang sakit jiwa seperti Citra yang tega menyiksa Nadin dan ibunya yang tidak berdaya.


"Terserah Mas saja karena bibi Anna pernah bilang jika dia bingung nanti saat dia keluar dari tahanan. Apa yang akan dia lakukan? Selama ini ayahnya Citra yang mengurusi semua kebutuhannya sebagai bentuk balas Budi pada ayah Nadin, tapi sekarang ayah Citra sudah tiada dan keluarga lainnya yang memang dari dulu tidak suka pada bibi Anna tidak akan mau membantunya."


"Kita tunggu saja nanti saat ibunya Nadin keluar."


Aira menarik kepalanya melihat pada Addrian. "Mas, ada yang ingin aku tanyakan sama kamu."


"Tanya apa?"


"Siapa tadi yang menghubungi kamu, Mas? Apa ada masalah yang penting karena aku lihat wajah kamu tampak gusar?"


"Tidak ada apa-apa." Addrian terdiam sejenak. "Sayang, aku besok mau mengajak kamu bertemu seseorang. Apa kamu bisa ikut?"


"Siapa, Mas?" Aira merasa sangat penasaran dengan apa yang baru dikatakan oleh suaminya.

__ADS_1


"Besok kamu pasti mengetahuinya. Sayang, besok anak kita dan Nadin kita titipkan mama sebentar saja sampai urusan kita selesai."


"Iya, Mas." Aira masih melihat penasaran pada suaminya. Memangnya siapa yang ingin Mas Addrian pertemukan dengannya?


__ADS_2