
"Reva !!"
Reva menoleh.
Memandang Madam Chang dan kumpulan ibu-ibu sosialita sedang menatapnya.
Reva tersenyum.
Ibunya Willy Chang.
"Madam Chang...." sapanya mencium tangan Madam lalu mencium pipinya.
Semua teman-teman Madam memperhatikan dengan tertarik.
"Ah....anak Indonesia...
Kalian punya kebiasaan cium tangan orang tua." kata Madam Chang dengan nada sayang.
Dia lalu berbalik.
"Ini salah satu mahasiswa peneliti di proyek penelitian yang disponsori anakku." Katanya mengenalkan.
Reva menebarkan senyumnya.
Lalu membeku.
Di sana ada ibu Steven.
Dia mengangguk sedikit.
Ibu Steven menatapnya tajam.
"Aku dengar kamu bertunangan tadi." kata Madam Chang.
Reva memerah.
"Eh...i..iya, Madam.."
"Sayang sekali...
Padahal aku kepikiran..."
"Stop Madam... Jangan dilanjutin.
Aku gak ada hubungan apa-apa sama anak Madam yang super ganteng itu." tawa Reva.
Reva dipukul pundaknya.
"Dasar anak kurang ajar !"
Para ibu-ibu sosialita yang lain memperhatikan keakraban mereka.
Terutama ibu Steven.
Dia tidak menyangka bahwa Reva bisa punya hubungan yang dekat dengan Madam Chang.
Ibu konglomerat nomor tiga di negara ini.
"Coba aku liat cincin nya.." kata Madam Chang mengambil tangan Reva lalu memperhatikan jarinya.
"Hmmm"... katanya.
"Safir."
"Dengan siapa kamu tunangan, Reva. ?" tanyanya.
Reva berdehem sebelum menjawab.
Wajahnya memerah
Menyadari bahwa ibu Steven dan teman-temannya mengamati nya dengan cermat.
"Ehemmm...dengan Sandy Gunawan, Madam."
Madam Chang menaikkan alisnya.
"Yang punya Methrob ?"
"Iya. "
"Hmm...
Jadi kalian orang Indonesia tidak mau membiarkan gadis-gadis nya dimiliki oleh putra-putra kami ya ?" tanyanya.
Reva terhenyak dengan pernyataan itu.
"Eh..bukan begitu, Madam.
Tapi...emm..hati kan gak bisa memilih." katanya.
"Pinter kamu njawab ya.." kata Madam Chang.
"Madam Chou...anakmu kan di Methrob juga ?"katanya mengalihkan perhatiannya pada ibu Steven.
Ibu Steven terkejut sebentar karena tiba-tiba dilibatkan dalam pembicaraan.
"Betul." katanya.
"Kamu kenal anak Madam Chou ?" tanya Madam Chang pada Reva.
"Siapa namanya ?" tanya Madam Chang pada ibu Steven.
"Steven.
Dia pasti kenal.
Dia Kan kerja juga di Methrob jadi office girl." jawab ibu Steven dengan nada merendahkan yang disamarkan.
Reva memerah mendengar nada bicara ibu Steven.
"Oo....Madam Chou sudah kenal dengan Reva ya ?" tanya Madam Chang.
"Ah enggak.. Steven cerita." elak ibu Steven.
"Kamu jadi office girl di Methrob ?" tanya Madam Chang.
"Iya Madam.
Saya membayar liburan saya dengan mereka waktu di Lombok." jawab Reva terang-terangan.
"Kamu gak ngomong apa-apa waktu aku ngajak kamu ke Swiss.
Kalo tau kamu bayar liburan kamu sama Methrob...harusnya aku suruh kamu bayar liburan kamu ke Swiss.
Jadi asisten ku." dengus Madam Chang.
"Madam !
Madam Chang punya asisten yang luar biasa seperti Mr Lu.
Aku gak berani menyingkirkan dia." balas Reva.
Ibu-ibu sosialita itu kembali menyaksikan keakraban antara Madam Chang dengan Reva.
Tangan Reva masih dipegang oleh Madam Chang.
Cincin safir biru itu memantulkan sinar.
Ibu Steven mengernyit.
Diajak ke Swiss ?
Sedekat itukah mereka ?
Bahunya dipegang dari belakang.
Ibu Steven menoleh dan menemukan Steven berdiri di belakangnya.
Sedang memandang Reva.
__ADS_1
"Steven...." sapa Madam He.
Steven tersenyum.
"Madam..." sapanya.
Reva membeku.
Madam Chang yang sudah tua dan memiliki banyak pengalaman tidak melewatkan reaksi Reva.
Dia sedang memegang tangan Reva yang jarinya dilingkari cincin.
"Ah..ini anakmu, Madam Chou ?" tanya Madam Chang.
Madam Chou mengangguk bangga.
"Iya.
Bagaimana menurut kalian ?
Aku sedang mencarikannya jodoh yang tepat untuknya.
Bukan sekedar gadis asal-asalan yang tidak jelas asal-usulnya." katanya.
Madam Chang melirik Reva.
Wajah Reva memerah.
Reva menunduk.
Menghindari tatapan Steven padanya.
"Betul sekali..
Kita memang perlu menyaring jodoh anak-anak kita supaya mendapatkan gadis yang tepat." katanya.
Reva tidak berani mengangkat kepalanya.
"Ah yaaa....
Ngomong-ngomong soal jodoh..
Reva... kenalkan tunangan mu padaku."
Wajah Steven berubah.
Madam Chang tidak melewatkan nya.
Reva mengangkat wajahnya.
"Apa Madam ?"
Madam Chang memukul tangan Reva.
"Kamu ini kan anakku.
Kamu ada di bawah perlindungan ku.
Jadi aku mau kamu bawa tunangan mu itu ke rumah.
Kita minum teh bersama.
Aku mau kenalan."
Reva dan ibu-ibu sosialita lainnya ternganga.
Diundang minum teh oleh Madam Chang ?
"Eh..iya Madam."
"Nanti atur waktunya sama asisten ku.
Jangan lupa
Aku tau kamu sibuk.
Tapi aku mau kenal sama calon suami mu."
Wajah Steven sudah berubah marah mendengar kata calon suamimu.
"Iya Madam." kata Reva menurut.
"Ya sudah sana..
Aku tau dari tadi kamu enggak sabar mau pergi dari sini dan berkumpul dengan teman-teman mu."
kata Madam Chang tersenyum.
"Madam...anda tau banget isi hatiku." tawa Reva.
"Tentu saja.
Kamu ini tidak sabar kalo sedang menemaniku." gerutu Madam Chang.
"Ihh..enggak gitu Madam.
Kan sekarang Madam banyak temannya.
Aku jadi kambing congek aja di sini." balas Reva.
"Kamu itu..Selalu menjawab apa kataku." gerutu Madam lagi
"Baik Madam tersayang.
Aku pamit dulu.
Mari semua." kata Reva.
Reva langsung meninggalkan kumpulan ibu-ibu sosialita itu.
Steven mengikuti Reva dengan matanya.
"Gadis itu..." lanjut Madam Chang.
"Dia itu pandai sekali.
Dia Nomor tiga di angkatannya.
Makanya anakku menariknya dalam penelitian yang disponsorinya.
Untuk penyakit ku."
"Dia memang pandai.
Dan cantik." sahut Steven.
Matanya masih menatap ke arah Reva menghilang.
"Kamu kenal dia ?" tanya Madam Chang.
"Iya." jawab Steven.
Madam Chou merapatkan bibirnya.
"Yaah..kalau kamu menyukai nya...
Sudah terlambat..Dia sudah bertunangan dengan orang lain." kata Madam Chang dengan nada datar.
Steven menatap Madam Chang.
Madam Chang menangkap rasa sakit yang melintas di matanya.
Madam Chang menarik nafas.
Menatap sekilas Madam Chou yang merapatkan bibirnya.
Willy datang menghampiri.
"Ma...
__ADS_1
Madam..." sapanya.
Para ibu-ibu sosialita yang memiliki anak perempuan langsung menegakkan punggungnya.
Ini calon mantu idaman.
Madam Chang tersenyum.
"Nah ini dia anakku.
Kamu udah ketemu Reva ?
Udah tau dia tunangan ?"
Willy mengangguk.
"Sudah, Ma...."
Madam Chang memukul lengannya.
"Kamu ini !!
Kalah cepat."
Willy terkekeh.
"Dia seperti adikku, Ma.
Lagipula...katanya...
Dia mencintai orang lain." kata Willy menatap Steven.
Steven balas menatap Willy.
Kembali rasa sakit melintas di matanya.
"Yaah..
Kamu suruh tunangannya ketemu aku." perintah Madam Chang.
Willy melirik ke belakang Steven.
"Ah.. gak usah jauh-jauh, Ma.
Itu Reva dengan Sandy, tunangan nya." senyum Willy.
Mereka semua menoleh.
Sandy sedang menggandeng Reva menuju kumpulan Madam Chang.
"Selamat malam semua..
Madam..." sapa Sandy sopan.
Ibu-ibu sosialita menatap Sandy..
Terpesona dengan ketampanan dan senyum kekanakannya.
"Sandy Gunawan..!" gertak Madam Chang.
"Ya Madam Chang..siap melayani anda.." senyum Sandy.
"Kamu ini merebut anakku."
"Reva ?
Ah.. Madam Chang..
Anda tak mungkin menyimpan Reva seumur hidup.
Sebuah kesia-siaan untuk kecantikan nya."
"Hmm..." Madam Chang tak menjawab.
Matanya menatap kebelakang.
"Ahh ..dua lagi pasangan dari Methrob." katanya.
Ibu-ibu sosialita menatap pasangan Robert dan Michael yang mendekat.
"Madam Chang...Madam Chou...
Madam..." sapa mereka.
"Kukira kalian sudah melupakan ku !" kata Madam Chang.
Michael tersenyum.
"Mana mungkin kami melupakan Madam Chang yang paling cantik diantara semua tamu disini."
Madam Chang melotot senang.
"Mulutmu manis sekali anak muda !" cetusnya.
Lalu dia menatap Tia.
Dia menunjuk.
"Kamu dan keponakanmu !
Kalian senang sekali mencampakkan pria-pria Taiwan !"
Tia ternganga.
"Madam !!" serunya.
"Madam !!" seru Reva.
Reva menatap tidak enak pada Steven.
Sementara Steven menatapnya tajam.
Tangannya tanpa sadar mencengkeram bahu Ibunya.
Madam Chou meringis, tapi tak berani mengeluarkan suara.
Madam Chang terkekeh.
Dia melihat akibat perkataannya.
Dia lalu menatap Michael.
"Berarti Methrob dan Chang Enterprise bakal berbesan."
Ibu-ibu sosialita menarik nafas.
Itu sebuah penghargaan tertinggi di lingkungan pergaulan tingkat atas
Michael membungkuk.
Diikuti oleh Sandy dan Robert.
"Terima kasih banyak untuk penerimaan nya, Madam."
"Dan Kamu !" tunjuk Madam pada Sandy.
"Jaga anakku baik-baik."
Sandy tersenyum.
"Jangan khawatir, Madam Chang.
Aku akan memuja dan mencintainya seumur hidupku." katanya.
"Akan kuingat itu." balas Madam Chang.
Dia kembali melirik Steven dan ibunya.
Lalu menggeleng.
__ADS_1
"Sayang sekali..." gumamnya.
...☘️🎀🌴...