
Keadaan Aira sudah membaik, dan dia sudah diperbolehkan untuk pulang. Addrian pun tampak tidak pernah jauh dari istrinya itu, bahkan di rumah, Addrian menyiapkan seorang juru masak yang akan membuatkan makanan sehat setiap hari untuk Aira.
Citra pun kakinya juga membaik dan dia hari ini bersiap-siap akan pergi ke rumah yang Addrian sudah sewa.
"Sayang, aku akan pergi ke rumah di mana Citra akan tinggal."
"Sama Rico, Mas?"
"Iya, sama Rico. Kamu tidak apa-apa aku tinggal di rumah sendirian, Kan?"
Aira menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa." Aira melihat ke arah suaminya dan dia sebenarnya ingin bertanya sesuatu, tapi ragu-ragu untuk mengatakannya.
"Sayang, ada apa?" Addrian seolah tau yang sedang dirasakan oleh Aira.
"Mas, apa benar besok kita akan pergi ke pernikahan Mas Dewa dan Shelomitha?" tanya Aira ragu-ragu.
"Tentu saja kita akan ke sana? Kenapa? Apa kamu tidak mau datang?"
"Bukan tidak mau datang, tapi aku hanya bertanya pada Mas Addrian. Kalau datang ya tidak apa-apa. Aku juga lama tidak bertemu dengan Langit."
"Ehem ... kamu sayang, ya, sama calon anak kamu dulu?" Addrian menggoda Aira.
"Aku memang sayang sama Langit. Dia pria kecil yang tampan dan sangat pandai. Aku berharap anakku kelak bisa seperti dia."
__ADS_1
"Apa? Jangan! Kalau anak kamu seperti Langit, ayahnya bukan aku."
"Ih ...!" Aira mencubit lengan tangan suaminya gemas. "Bukan wajahnya, tapi sifatnya." Aira terlihat sebal.
Mereka tidak tau jika Citra berada di balik pintu dan bisa mendengar gurauan mereka.
"Sepertinya pria bernama Dewa harus aku temui. Dia mungkin bisa menjadi partner aku dalam mendapatkan pangeran tampanku."
Citra mengetuk pintu kamar Addrian dan memanggil namanya. Addrian segera beranjak dari posisi nyamannya memeluk istrinya dan sedang mengajak bicara bayi dalam perut Aira.
"Citra, kamu tunggu saja di ruang tamu, sekalian menunggu Rico datang. Aku akan berganti baju dulu."
"Baiklah."
"Mas, katanya mau bersiap-siap? Kenapa sekarang malah tidur lagi?"
"Kenapa aku tidak ingin beranjak dari sini? Aku nyaman sekali berada dekat bayiku dan kamu."
"Mas, kamu ditunggu Citra, dan Rico siapa tau sudah datang. Sebaiknya cepat pergi dan kalau Citra sudah tidak di rumah kita. Kamu bebas meminta apapun dariku."
"Tepati apa yang kamu katakan barusan. Kalau begitu aku akan segera mengantar Citra ke rumah barunya."
Addrian segera beranjak dan berganti baju, kemudian dia keluar untuk menemui Citra.
__ADS_1
"Lama sekali, kamu sedang membuat anak kembar ya?" celetuk Rico yang ternyata sudah ada di sana.
"Berisik. Urusan di dalam kamarku, tidak ada boleh orang lain yang tahu. Kita berangkat sekarang saja."
Mereka bertiga berangkat ke rumah itu. Citra duduk dibangku belakang, sedangkan Addrian dan Rico di bangku depan.
"Citra, setelah lulus apa rencana kamu?" tanya Rico yang duduk di sebelah Addrian.
"Aku akan bekerja di tempat Addrian. Benar begitu, kan, Addrian?"
"Iya, kamu akan bekerja di sana karena aku sudah mengatakan pada daddyku."
"Selain itu apa tidak ada lagi cita-cita kamu, Citra?"
"Maksud kamu apa lagi?"
"Menikah."
Addrian seketika terbatuk mendengar apa yang baru saja sahabatnya itu tanyakan.
"Addrian, kamu tidak apa-apa, kan?" Citra seketika panik dan mengambil boto minuman dari tasnya.
"Aku tidak apa-apa, Citra."
__ADS_1