Kamu Milikku

Kamu Milikku
Melepas Rindu


__ADS_3

Addrian menyapa istrinya dan duduk di sebelah Aira. "Sayang, kenapa tidak memberitahuku jika kamu jadi datang ke sini?" Tangan Addrian mengelus-elus perut Aira.


"Sebenarnya aku tidak mau datang, tapi aku ingat jika Kak Rico adalah orang yang sangat baik dan dia pasti kecewa jika aku tidak hadir di acara pentingnya."


"Nanti aku antar kamu pulang, ya?"


Aira melihat ke arah Citra yang duduk di sebelah Niana. "Lalu, nanti Citra siapa yang mengantar pulang?"


"Dia bisa aku pesankan mobil online. Tadi kita dari kantor langsung ke sini, kebetulan juga di kantor sedang lembur sampai malam."


"Sebaiknya antarkan saja dia pulang karena dia tadi berangkat denganmu, Mas. Aku bisa pulang dengan Kenzo dan Niana."


Addrian menggenggam tangan Aira. "Sayang, apa hati kamu masih belum tenang dan kita mencari solusinya bersama?"


Aira menarik tangannya dari tangan Addrian. "Aku masih kesal, bahkan sampai saat ini, waktu melihat kalian masuk berdua, rasanya benci sekali sama kamu, Mas." Aira beranjak dari duduknya.


"Ai, kamu mau ke mana?" tanya Niana.


"Mau memberi ucapan selamat untuk Kak Rico, lalu pulang. Punggungku sakit duduk terlalu lama, Na."


Aira berjalan pergi dari sana. Niana melihat ke arah Addrian. "Aku akan pulang bersamanya, kamu tenang saja, Kak Addrian."


Aira berada di atas panggung di mana ada kedua mempelai pengantin dan keluarganya.


Aira mengucapkan selamat pada Rico dan istrinya. Rico tampak senang melihat ada Aira di sana.


"Terima kasih kamu sudah bisa datang ke sini, Ai."


"Tentu saja aku harus datang untuk melihat Kak Rico akhirnya menemukan pelabuhan terakhirnya. Semoga Kak Rico langgeng sampai kakek nenek dan bahagia selalu."


"Sekali lagi terima kasih untuk doanya dan aku juga berdoa semoga kamu dan Addrian bisa bahagia lagi. Percayalah pada suami kamu, Ai. Dia sejak bertemu kamu, seluruh hidupnya hanya ada nama kamu." Ternyata Kak Rico sudah tau masalah yang sedang terjadi antara Aira dan Addrian.


"Aku percaya pada suamiku, Kak, tapi aku ingin membuat dia tau siapa Citra sebenarnya."


"Semoga apa yang sedang kamu lakukan mendapat jalan yang baik, Aira."


Aira mengangguk dan dia gantian memeluk istri Rico serta mengucapkan selamat. Istri Rico juga tau tentang Aira.

__ADS_1


"Semoga aku juga segera menyusul hamil seperti kamu, Aira."


"Iya, Kak. Semoga secepatnya mendapat kabar baik."


Aira berjalan hendak menuju anak tangga turun, tapi tiba-tiba dia terkilir menginjak sesuatu. Addrian yang melihat seketika berlari dan langsung menggendong tubuh istrinya.


"Mas!" Aira agak kaget dan dia reflek melingkarkan tangannya pada leher Addrian.


"Hati-hati kalau berjalan, Sayang."


Addrian membawa turun Aira. Citra yang melihat dari kejauhan tampak menahan marah. Rico malah bertepuk tangan untuk mereka berdua.


"Bro, nanti aku akan meniru caramu itu," teriaknya yang membuat Addrian tersenyum.


Addrian membawa Aira kembali ke mejanya. "Aira, kamu tidak apa-apa, kan? Ini aku bawakan air minum. Aku tidak mau kamu sampai kenapa-napa."


Aira hanya melihat ke arah Citra yang membawakan orange jus untuknya.


"Kamu minum saja sendiri karena aku tidak minum selain air putih sekarang."


"Aira apa kamu curiga jika aku memberi kamu obat dalam minuman ini? Aku tidak sejahat itu sama kamu, Aira." Citra berpura-pura menunjukkan wajah sedihnya.


"Bukan seperti itu maksudku, Aira. Aku hanya merasa kamu berubah padaku. Apa yang terjadi denganku dan Addrian bukan semata kesalahan aku."


"Iya, itu juga memang bukan kesalahan kamu saja, tapi juga kesalahan suamiku." Aira melihat Addrian, dan sekarang aku dengannya sedang sama-sama saling menenangkan diri. Aku tidak marah sama kamu, aku hanya marah pada diriku sendiri karena terlalu baik dan percaya kepada seseorang." Aira beranjak dari tempatnya dan berjalan keluar dari gedung itu.


"Aira," panggil Addrian, tapi tidak dipedulikan oleh gadis yang tengah hamil besar itu.


"Aira, tunggu!" Citra berlari mengejar Aira dan dia mencoba meminta maaf pada Aira, tapi tiba-tiba dia malah terjatuh tepat dihadapan Aira.


"Citra, kamu kenapa?"


Addrian dan yang lainnya menyusul mereka berdua. "Aira, kamu tega sekali mendorongku hingga jatuh. Aku hanya ingin meminta maaf." Citra menangis.


"Apa? Mendorong kamu?" Aira tampak kaget dengan tuduhan Citra.


"Citra, kamu tidak apa-apa?" tanya Addrian. "Sayang, Citra hanya ingin minta maaf."

__ADS_1


"Mas, aku tidak berbuat apapun pada Citra, dia tadi terjatuh sendiri."


"Aira, sampai seperti itu bencinya kamu sama aku. Aku juga tidak ingin malam itu terjadi, aku ingin pergi dan melupakan malam itu, tapi aku tidak bisa karena Addrian adalah pria pertama yang menyentuhku dan aku tidak ingin orang lain." Citra menangis.


"Ratu Drama," ucap Aira lirih dan menekankan.


"Jadi, mau kamu apa dari ucapanmu itu? Kamu mau bersama dengan Addrian terus? Mau Addrian menikahimu?" tanya Niana ingin tau kejelasannya.


Aira mendekat pada Citra yang sudah bangun berdiri di hadapannya karena tadi dibantu Addrian berdiri.


"Jangan harap kamu bisa memiliki suamiku hanya karena kamu baru sekali tidur dengannya," ucap Aira tegas dan menekankan.


Aira kemudian berjalan pergi dari sana diikuti oleh Niana dan Kenzo.


Addrian tampak merasakan bahagia dalam hatinya karena mendengar apa yang baru saja Aira katakan.


"Citra, apa kamu bisa pulang sendiri atau aku memesankan mobil online untuk kamu?"


"Aku bisa pulang sendiri, Addrian. Kalau kamu ingin menemui Aira silakan saja, mungkin kalian harus bicara berdua. Aku tidak menyangka jika Aira akan sekasar ini padaku tadi." Citra kembali menangis.


"Mungkin Aira tadi tidak sengaja. Dia bukan wanita yang kasar. Citra aku akan mencoba bicara padanya."


Saat Addrian melangkah beberapa langkah, dia kembali menoleh karena mendengar suara sesuatu jatuh dan saat dia melihat, Citra terbaring pingsan di sana.


Addrian segera berlari menolongnya. Addrian mencoba membangunkan Citra, tapi gadis itu masih tidak sadar.


Addrian terpaksa membawa Citra menuju klinik terdekat di sana.


"Oh Tuhan, apa lagi ini?" Addrian tampak gusar. Kenapa dia harus berada di dalam situasi rumit seperti ini.


Dokter memeriksa Citra dan Addrian menunggu di sana.


"Dok, bagaimana keadaan dia?"


"Apa dia istrimu? Tekanan darahnya sangat rendah dan itu yang menyebabkan dia pingsan. Jangan buat dia terlalu kecapekan atau memikirkan hal yang berat. Saya akan buatkan resep untuknya agar keadaanya lebih baik."


"Terima kasih, Dok."

__ADS_1


Citra tersenyum samar mendengar apa yang dokter itu katakan. Dia tidak benar-benar pingsan. Citra memanfaatkan tensinya yang memang rendah, tapi hal itu sudah biasa buatnya.


__ADS_2