Kamu Milikku

Kamu Milikku
Acara Pernikahan Dewa part 1


__ADS_3

Aira sampai di rumah Niana dan hal itu membuat hati Niana tampak lega.


"Kamu lama sekali, aku tadi takut Addrian menghubungiku dan bertanya soal kamu."


"Kamu bilang saja aku sedang di kamar mandi."


"Ih! Kamu itu sukanya membuat orang sport jantung saja. Memangnya kamu dari mana sih?"


"Aku sudah bilang kalau aku sedang membuat rencana kejutan untuk suamiku."


"Tidak percaya." Niana melihat dengan kedua mata menyipit.


"Ya sudah kalau tidak percaya. Aku mau masuk untuk bertemu dengan ibu kamu."


Aira malah melenggang dengan santainya. Dia sama sekali tidak sadar jika dari tadi Niana susah untuk bernapas takut suami Aira tiba-tiba menghubungi atau datang ke rumahnya.


Di ruang makan, Ibu Niana menyuruh Aira makan masakan buatannya.


"Masakan ibu memang enak. Pasti bakalan laris manis nanti kalau warung makannya buka, dan aku akan menjadi pelanggan tetap di warung makannya," puji Aira sambil terus mengunyah makanan.


"Jangan bicara dulu kalau makan, Aira, nanti tersedak."


Niana masih melihat kesal pada Aira. "Kamu itu bisa-bisanya masih menikmati dan memuji masakan ibuku. Apa kamu tidak tau kalau sampai sekarang jantungku masih berdegup kencang karena takut."


Aira malah terkekeh dengan senangnya. "Maaf, Na, lain kali tidak akan aku buat kamu seperti saat ini."


"Tidak ada lain kali. Ini yang terakhir."


"Iya. Putri ibu ini cerewet sekali. Aku jadi mikir dua kali mau menerima dia menjadi kakak iparku,' celetuk Aira.


"Aira!" Niana seketika mendelik pada Aira.


"Apa? Kakak ipar?" Ibu Niana langsung melihat ke arah putrinya.


Aira di sana juga bingung. Apa Niana tidak bercerita pada ibunya jika dia dan kakak laki-laki Aira sedang berpacaran?


"Em, Bu, jangan dengarkan Aira. Dia hanya bercanda. Aira memang suka sekali menjodohkan aku dengan Mas Arlan."


"Oh ... ibu kira kamu berpacaran dengan kakaknya Aira."


Aira sekarang tau jika Niana pun tidak menceritakan tentang hubungannya dengan kakaknya, tapi kenapa? Setahu Aira, Niana ini anaknya terbuka dengan ibunya. Bahkan kedekatan antara ibu dan anak di antara mereka jauh lebih erat dibanding dengan kedekatan antara Aira dan mamanya.


"Memangnya Ibu tidak suka jika Niana aku pasangkan dengan Mas Arlan?" tanya Aira. Niana yang mendengar hal itu tampak mendelikkan kedua matanya sekali lagi.

__ADS_1


"Bukannya tidak suka, Aira, tapi Ibu lebih baik mencari jodoh untuk Niana yang sesuai dengan keluarga kita dari segi status sosialnya."


"Ibu tidak boleh berpikiran begitu. Keluargaku tidak pernah membedakan tentang status sosialnya. Buktinya aku dan Niana dapat berteman baik dari kita masih sama-sama sekolah sampai mau lulus kuliah."


Wanita cantik itu tersenyum kecil. "Kalau soal pertemanan antara kamu dan Niana itu jelas berbeda dengan hubungan asmara, Aira."


"Ibuku pernah kecewa dengan adik iparnya Aira."


"Kecewa bagaimana?"


"Tanteku menikah dengan anak orang kaya. Pernikahannya selama tiga tahun berjalan lancar seolah tidak ada masalah. Lalu, suatu saat mereka ada masalah dan suami tanteku mengusir tanteku dari rumah. Tidak hanya diusir, tapi Tante dihina sedemikian rupa. Katanya tanteku anak orang miskin yang tidak tau diri. Sudah baik derajatnya diangkat oleh keluarganya, tapi ternyata tidak becus menjadi istri."


"Iya, Aira, dan kata+kata kasar itu masih terngiang di kepala Ibu sampai saat ini."


"Keterlaluan sekali."


"Adikku memang orang miskin, tapi bukan dia yang meminta untuk dipilih menjadi istrinya. Pria itu yang meminta adikku."


"Lalu, sekarang Tante kamu di mana?"


"Dia memilih tinggal di desa dan tidak mau menikah lagi seumur hidupnya."


"Makannya Ibuku tidak suka kalau aku dekat dengan anak dari orang kaya raya. Ibuku belum siap jika harus mendengar lagi penghinaan seperti apa yang tanteku alami."


"Kita tidak ada yang tau sifat seseorang dan keadaan ke depannya, Aira. Ibu berharap Niana bisa menata dulu masa depannya dan nanti soal jodoh biarlah berjalan sebagai mana mestinya, tapi tetap ibu berharap Niana menikah dengan pria yang sederhana dan mencintainya dengan tulus sampai kapanpun."


Aira hanya bisa tersenyum kecil. Ponsel Niana berdering dan ada nama Addrian di sana.


"Suami kamu, Ai." Ratna memberikan ponselnya ada Aira.


"Sayang, kamu masih lama di sana?"


"Ini sudah selesai, Mas, tadi aku mau menghubungi kamu. Kenapa? Kamu kangen sama aku?"


"Tentu saja, kalau bisa aku dekap, aku dekap terus kamu dalam pelukanku."


"Mas di mana? Kenapa terdengar suara bising?"


"Aku tadi menjemput Citra yang pulangnya juga agak siang karena dia ada pertemuan dengan dosen pembimbingnya kemudian dia mengajak aku makan salad di cafe dekat kampusnya sekalian menunggu kamu pulang."


"Jadi, Mas, berduaan dengan Citra?"


"Jangan cemburu, aku dengan Citra hanya makan salad dan aku cerita sama kamu."

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang Mas jemput aku di rumah Niana."


"Iya, Sayang, kamu tunggu aku ya?"


Mereka mengakhiri panggilannya. "Apa Aira sudah minta dijemput?"


"Iya, dia sudah selesai dan ingin pulang."


"Kalau begitu aku habiskan dulu saladnya. Saladnya enak tidak, Addrian?"


"Saladnya enak, sausnya juga juara."


"Coba salad sayur milikku, ini juga enak." Citra tiba-tiba menyodorkan garpu miliknya yang ada jagung dan seladanya pada mulut Addrian.


Addrian terdiam sejenak dan dia menggelengkan kepalanya. "Tidak usa, aku kalau mau bisa memesan sendiri. Citra habiskan salad sayur kamu dan kita segera menjemput istriku."


"Iya." Ada rasa marah dan benci pada hati Citra.


Di rumah Niana, Ibu Niana menasehati Aira agar tidak lagi membohongi suaminya walaupun itu untuk kebaikan, misal mempersiapkan kejutan.


"Iya, Ibu, aku tidak akan melakukannya lagi."


"Dengarkan itu, dan jangan membawa sahabat kamu dalam rencana yang membuat sahabat kamu panas dingin," omel Niana.


"Iya ... Niana yang comel."


Aira menunggu di depan rumah Niana dan tidak lama mobil Addrian tiba. Addrian berkenalan dengan ibu Niana beserta Citra. Kemudian mereka izin pulang karena malam ini mereka akan menghadiri undangan pernikahan Dewa dan Shelomitha.


Aira keluar dari dalam kamar dengan gaun berwarna hitam selutut dan ada belahan kecil pada paha sebelah kiri.


Aira tampak cantik dengan rambut digelung rapi.


"Cantik sekali. Apa lagi perut buncit kamu itu." Addrian menunduk mengecup perut Aira.


"Kamu juga tampan sekali," puji Aira pada suaminya.


Citra yang berada di sana pun terpesona melihat penampilan Addrian dengan setelah kemeja berwarna hitam tanpa suit, dan ada dasi berwarna merah panjang membuat Addrian terkesan cool.


"Citra, kamu tidak apa-apa, kan, kita tinggal sebentar di rumah?"


"Tidak apa-apa, Aira. Kalian berdua hati-hati di jalan." Citra tersenyum manis.


Aira dan Addrian pergi dari rumahnya. Citra yang melihat hal itu tampak tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2