
Musik berdentam kuat.
Suasana remang-remang.
Lama-lama Reva tidak tahan juga.
Dia keluar.
Duduk di pojokan tangga.
Tersembunyi.
Ternyata banyak pasangan-pasangan yang menyembunyikan diri di sini.
Ini private party.
Orang saling mengenal di sini.
Reva menarik dirinya makin ke pojok.
Berusaha menyembunyikan dirinya.
Dia malu kalau ketahuan sendirian di pojokan. Seakan sedang mengamati sekitarnya.
Tapi...
Rupanya tempat yang dia pilih adalah tempat untuk berkencan diam-diam.
Suara kecupan, desahan, lenguhan mengusik telinganya.
Reva membuka ponselnya.
Mengalihkan pikirannya.
Tadi siang sudah ada beberapa nilai yang dikirimkan.
Dia kembali menatap daftar nilai-nilai nya.
Dengan telapak tangan, Reva sedikit menutup ponselnya agar tidak bercahaya.
"Hhmm...
ehmmpphh..
hhhh...
ah.. Cin.."
Reva semakin menunduk.
Berkonsentrasi pada daftarnya.
"Cin..
Cindy..ahh..."
Cindy ?
Reva mengangkat muka.
"Ahh..Cin..
hhh..."
"sst..!!"
"Terusin Cindy..
Hh..."
Reva menjulurkan kepalanya sedikit.
Dia melihat rok mini hitam ketat berjongkok.
Rambut sepunggung berwarna kemerahan.
Reva memundurkan kepalanya.
Ingin mengetahui siapa pasangannya.
Dia tidak bisa melihat wajahnya.
Tapi melihat celana panjang kulit ketat bersandar di dinding dengan posisi kaki terbuka.
Reva penasaran.
Tapi tidak bisa melihat siapa laki-laki itu.
Cindy ?
Om Sandy ?!
Benak Reva berputar.
Tapi tadi dia memang tidak melihat Sandy.
Mungkin...
Mungkinkah mereka langsung ke sini ?
Tapi..hmm..
Om Sandy ngikutin mode juga ya..
Pake celana kulit ketat.
Matching sama pacarnya.
Reva tidak berani bergerak.
Dia malu bila ketahuan mendengar kencan diam-diam mereka.
Jadi Reva memutuskan tetap diam.
Dia mematikan ponselnya.
"Cindy..
kamu benar-benar luar biasa!"
"Sst..berisik !!
Nanti ketauan orang!" cekikik Cindy.
Reva mengerutkan kening.
Suara Om Sandy berubah ya?
Reva tetap diam.
Beberapa saat kemudian kedua orang itu keluar dari balik bayang-bayang.
Reva mengintip.
Rambut sepunggung, kemerahan.
Memang Cindy, pacar om Sandy.
Reva menjulurkan kepalanya.
Hanya melihat bagian belakang si laki-laki.
Kemeja kulit hitam ketat sama dengan celananya.
Reva tetap ditempatnya.
Dia masih ingin memeriksa daftar nilainya.
Reva kembali menyalakan ponselnya.
Pesan masuk.
__ADS_1
Va dimana ? Jim
Bentar aku kesana Jim balas Reva.
Reva lalu bangkit.
Sambil tetap mengamati ponselnya dia berjalan.
Satu nilainya tidak sesuai dengan yang di harapkan.
Keningnya berkerut.
Ini bakal jadi masalah..Kecuali dia menghubungi dosen bersangkutan.
Bertanya tentang nilainya.
Mungkin... mudah-mudahan sebuah kesalahan.
Brukk.
Kepalanya menabrak dada bidang.
"Aduh..
Maaf.." Reva meninta maaf lalu hendak terus berjalan.
Pergelangan tangannya ditarik.
Reva reflek memukul tangan yang menariknya.
"Aduh Va..!" suara Steven.
Reva mendongak.
"Steven !!
Ngapain disini ?" tukasnya.
"Lho, emang gak boleh ?" balas Steven.
Reva menatap Steven.
Lalu memalingkan wajahnya dan berjalan masuk ke pub.
Dia sudah ditunggu Jim.
Kausnya ditarik.
Reva terhenti.
Lalu berbalik dengan marah.
"Apa sih ?
Aku udah ditunggu !!"
"Sama siapa ?"
"Bukan urusan kamu !!"
Reva kembali berbalik.
Pinggang Reva ditarik.
Badannya di Pepet ke dinding.
Tangan Steven memagari tubuhnya.
Reva terkesiap.
Dia mendongak menatap Steven yang menunduk menatapnya.
"Kamu ini kenapa ?" tanya Steven pelan di atas bibir Reva.
Reva melengos.
"Gak kenapa-napa.
Aku ditungguin orang !" ketus Reva.
"Siapa?"
"Kamu pingin tau aja urusan orang !" ketus Reva.
Dia mendorong tangan Steven.
Steven makin mengukuhkan tangannya.
"Steven !!" jerit Reva.
drrt..drrrt..
ponsel Reva bergetar.
Reva mengusap ponselnya.
"Va ? kamu dimana?" tanya Jim.
Reva melirik Steven.
"Aku ditahan temen kamu !
Nih bicara sendiri !"
Reva dengan cemberut menyodorkan ponselnya pada Steven.
Steven menatap Reva sambil menerima ponsel lalu mendekatkan pada telinganya.
"Siapa ini ?" tanya Jim.
"Oh..kamu Jim." jawab Steven.
"Steven ?!
Ngapain kamu nahan Reva ?
Aku bentar lagi mau nyanyi sama dia !" kata Jim tak sabar.
"Ya udah aku antar dia." jawab Steven memutus hubungan.
Dia menyerahkan ponsel pada Reva.
"Ayo." katanya menarik tangan Reva.
Reva menarik balik tangannya.
"Ayo !!" desak Steven.
"Aku bisa sendiri kok." ketus Reva.
Steven mengamati Reva.
Lalu bibirnya tersenyum.
Anak kecil ini masih marah rupanya.
"Ya udah...
Gih sana." katanya tersenyum kecil.
Reva mendelik lalu berjalan meninggalkan Steven dengan menghentak-hentak.
Steven menatapnya dari belakang sambil tersenyum lebar.
Lalu mengikuti dari jauh.
Di dalam dia bertemu teman-teman nya.
Mereka mengelilingi meja bulat sambil minum-minum.
"Steve !
__ADS_1
Lagi seneng ya ?
Dari tadi senyum-senyum terus." kata Roger.
Josh mengamati Steven.
Tapi dia diam saja.
Beberapa saat kemudian di panggung muncul Jim.
Reva menyusul di belakangnya dan duduk dibangku. Tangannya memegang stik.
Steven memutar tubuhnya menghadap panggung.
Bibirnya tersenyum lebar.
Matanya menatap Reva.
Di panggung, Jim mengenalkan Reva.
Lalu memulai aksi mereka.
Lagu baru Jim punya beat cepat.
Diiring dengan kecepatan tabuhan Reva,
Penonton ikut menghentak-hentakkan diri mereka.
Reva sudah biasa tampil saat SMA bersama bandnya.
Jadi tampil di pub bersama Jim dan teman-temannya tidak membuatnya gugup.
Dia memberikan beberapa kali atraksi dengan stik.
Penonton bersorak dan bertepuk tangan.
Jim menyanyikan dua lagu.
Saat selesai, dia menggandeng Reva, membawanya ke depan dan mereka membungkuk bersama.
"Reva...!!" serunya merentangkan tangannya ke arah Reva.
Penonton kembali bertepuk tangan.
Puas dengan penampilan Mereka.
Musik kembali diambil alih DJ.
Steven memutar badannya, kembali menghadap meja.
Meraih botol bir dan meneguknya.
Reva berjalan menuju meja tempat pasangan Michael dan teman-temannya berkumpul.
Mereka bertepuk tangan saat di sampai di meja.
Reva tersenyum malu.
Tia menyodorkan botol minuman isotonik padanya.
"Va, nih..haus kan ?"
Reva mengangguk.
"Banget Tan.
Emang disini gak ada minuman yang biasa-biasa aja buat kita ya?"
Semua tertawa.
"Ada Va.
Tante udah minta disiapin buat kita.
Om Michael juga gak minum kok."
Reva menengok ke arah Michael.
Michael mengangguk.
"Om gak suka, Va."
Reva membuka tutup botolnya.
"Sandy juga jarang minum.
Kamu gak kuat ya Sayang ?" cetus Cindy.
Sambil minum, Reva menoleh pada Cindy.
Glek..
Glek..
Ahh..ya betul..
Yang tadi dia lihat memang Cindy.
Rok mini hitam ketat. Sepatu yang sama.
Glek..
Matanya berpindah pada Sandy lalu menatap ke bawah.
Sandy memakai celana jeans biru.
Glek..
Jeans biru..Bukan kulit hitam.
Jadi..
Brrr....
Minuman Reva tersembur keluar
Dia terbatuk-batuk hebat.
Uhuk..uhukkk...
"Ihh..."
Cindy mundur.
Reva menepuk-nepuk dadanya.
"Aduh Va... pelan-pelan minumnya." kata Tia sambil menepuk punggung Reva.
"Maaf..maaf..." terbata-bata Reva berkata.
Sandy menyodorkan tissue.
"Va.."
Reva yang mendengar suara Sandy lalu mengangkat wajahnya.
Menatap Sandy lama.
Lalu menatap Cindy yang juga sedang menatapnya.
Reva lalu menunduk.
Menerima tissue dari Sandy.
"Aku ke toilet dulu. " katanya.
Tanpa menunggu jawaban Reva berjalan cepat menuju toilet.
Pikirannya kacau.
Dia menabrak banyak orang.
__ADS_1
Tia yang melihatnya segera menyusul.