Kamu Milikku

Kamu Milikku
Tidak Marah


__ADS_3

Kamar Reva sudah dibersihkan.


Sandy masuk menyeret kopernya.


Dia menatap tempat tidur queen size dengan puas.


Ini tempat tidur double yang tidak terlalu lebar.


Bagus !


Sandy membuka kopernya, dia mengambil baju dan peralatan mandi lalu masuk ke kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi, Sandy merasa segar.


Reva sedang tiduran di kasur sambil menonton TV.


Sandy menutup sedikit gorden untuk menghalangi sinar matahari.


Dia berdiri sejenak menatap pantai di dekat jendela.


Sandy lalu membanting dirinya di kasur.


Di sebelah Reva.


"Aduh Om !!" protes Reva Yang pundaknya tertindih pundak Sandy.


Dia bergeser sedikit.


Tangan Sandy melingkari pinggangnya.


"Hmm....


Temenin tidur ya, Va.." katanya manja.


"Ini baru jam setengah sebelas, Om.


Oh iya..aku lupa.


Om semalaman gak tidur ya.."


Reva kembali bergeser menjauh.


Tangan Sandy mengerat.


Menariknya mendekat lagi.


"Jangan pergi, Va." kata Sandy pelan.


Penuh makna.


Reva menunduk.


Dia mengangguk sambil tersenyum.


Tangannya membelai dahi Sandy.


"Tidur, Om..." katanya lembut.


Sandy menghembuskan nafas.


Bibirnya tersenyum tipis.


Dia lega.


Sudah menemukan Reva dan yang paling penting, Reva tidak menghindar darinya.


Tadinya dia sudah menyiapkan rencana bila Reva menolak ditemani dan berkeras untuk sendiri.


Tapi ternyata Reva kelihatan senang bertemu dengannya.


Sandy menutup mata.


Menikmati belaian Reva di dahinya dan perlahan jatuh tertidur.


Reva masih terus menonton.


Sesekali dia melirik Sandy yang tertidur.


Setengah jam berbaring miring, Sandy mengubah posisi tidurnya. Telentang.


Kepalanya dimiringkan ke arah yang berlawanan dari Reva.


Tapi tangan Sandy tetap diletakkan di atas perut Reva.


Satu jam kemudian, Jerry menelpon.


Mereka berbicara lama tentang penelitian.


Lalu..


"Steven ?" kata Reva pelan.


Reva mendengarkan Jerry.


Reva lalu bangkit, dia berjalan ke balkon.


"Jerry...tolong jangan bilang apa-apa.


Aku ..aku belum siap ketemu dia.


Jangan sampai dia nemuin aku.


Please..."


Reva diam. Mendengarkan Jerry.


"Jerry, aku gak pernah pake nomor ini untuk telpon ke orang lain.


Cuma kamu aja."


Reva diam mendengarkan.


"Dia pinter banget Jer.


Dia pasti bisa nemuin aku.


Makanya aku gak bawa ponselku.


Jadi..nomor ini jangan sampe dia tau."


"Aku belum mau, Jer.


Pokoknya aku belum mau."


Di dalam, Sandy terbangun.


Dia tadi sayup-sayup saja mendengarkan telpon Reva dengan Jerry yang sedang membicarakan penelitian mereka.


Saat Reva bangkit, Sandy bangun sepenuhnya.


Memasang telinga.


Reva masih belum sembuh.


Reva kembali ke dalam kamar.


Dia menemukan Sandy sudah berganti posisi.


Berbalik membelakanginya.


Reva tersenyum kecil.


Dia berjalan memutari tempat tidur.


Menunduk menatap wajah Sandy yang masih pulas.


Perlahan tangannya menepiskan rambut yang menutupi dahi.


Reva mendekatkan kepalanya.


Matanya melembut.


Nafasnya berhembus pelan di tangan Sandy yang menumpu pipinya.


Mati-matian Sandy menahan matanya untuk tidak bergerak.


Dia mencoba untuk terlihat tertidur pulas.


Reva akhirnya mengangkat kepalanya.. Meninggalkan sisi Sandy.


Dia kembali ke balkon.


Berjalan perlahan ke taman yang menuju pantai.


Sandy menarik nafas lega.


Dia membuka mata.


Dia menginginkan Reva menjadi miliknya.


Tapi sekaligus kasihan dengan Steven dan Reva.


Dia memang berbeda dengan Michael.


Michael tidak peduli pada apapun..


Targetnya cuma satu. Tia jadi miliknya.


Sementara dia masih memikirkan perasaan saingannya.

__ADS_1


Sandy kembali menutup matanya.


Dia masih mengantuk.


...🎀...


Sorenya mereka berjalan-jalan di tepi pantai.


Bergandengan tangan.


Sandy yang menggandeng.


Untuk pertama kalinya, Reva merasa tenang.


Tenang dengan adanya orang yang dia kenal di sisinya.


Tenang dengan Sandy di sisinya.


Beberapa hari yang lalu, dia pasti merasa tidak nyaman.


Beberapa hari yang lalu dia hanya ingin sendiri.


Reva melirik tangannya.


Jemari mereka saling berkaitan.


Reva menghela nafas.


Untung bahwa dia bisa menahan hatinya.


Memaksa dirinya untuk tidak banyak berharap.


Jadi rasa sakit yang dirasakannya hanya sedikit.


Dan yang satu ini pun sama.


Dia tidak boleh...tidak boleh jatuh cinta.


Mereka semua jauh dari jangkauan nya.


"Mikir apa ?" tanya Sandy.


Tatapan mata Sandy tetap ke depan.


"Enggak, Om."


"Ngomong, Va.


Biar kamu lega." kata Sandy.


Diam sebentar.


"Dan supaya kita bisa lebih saling mengenal."


Reva menatap cakrawala.


"Om...


Om gak marah sama aku ?"


"Kenapa marah ?"


"Karena mencintai orang lain."


"Kenapa marah ?


Kan kamu menyukai dia duluan." kata Sandy.


"Maksud Om ?"


Sandy berhenti.


"Aku hadir di tengah kalian." katanya.


"Tapi Om gak berusaha misahin kami kok." bantah Reva.


Sandy tertawa.


"Coba tanyanya sama Steven.


jawaban dia pasti beda."


Reva tidak menjawab.


"Om..apa aku hadir di tengah Om dan Cindy ?"


Sandy menarik Reva menempel tubuhnya.


"Iya." jawabnya pendek.


"Hah ?!"


"Iyalah ..Aku gak percaya."


"Tapi itu yang terjadi, Va.


Entah kapan mulainya, tau-tau kamu hadir."


Reva memiringkan tubuhnya, menatap Sandy dalam.


"Tapi aku jauh banget dibandingin Cindy


aku hitam, gak cantik, gak terkenal.


Dia manja dan bisa bikin Om tergila-gila."


"Kenapa perempuan sukanya membandingkan dirinya dari wajah ?


Ada banyak hal yang kami pertimbangkan saat menjatuhkan pilihan pada seseorang.


Cantik, perlu.


Baik, juga.


Setia, wajib.


Pinter, iya.


Menyenangkan, juga."


Reva menatap Sandy.


"Dan Yang penting, berada di dekat kamu bikin aku tenang, Va."


"Yah...tetep aja, Om.


Aku jauh banget dibandingin sama mantan Om itu."


"Iya..jauh banget.


Sampe aku ninggalin dia buat ngejar kamu." kata Sandy.


"Om..!!


Yang bener aja."


"Lho.. kenyataannya begitu kok."


Mereka diam.


"Susah emang kalo ngomong sama perempuan.


Susah banget diyakinin." kata Sandy memecah keheningan.


"Tante dulu juga gitu ya, Om ?" tanya Reva.


"Iya. Kalian ini kok ya ngerepotin banget sih ?!" gerutu Sandy.


Reva tertawa.


"Om gak marah, aku pergi kayak gini ?"


Sandy menggeleng.


"Marah enggak.


Khawatir iya."


"Aku cuma lagi pingin sendiri, Om.


Ngatur pikiran."


"Tapi menghilang."


"Lho aku enggak menghilang..!


Buktinya Om bisa nemuin aku disini.


Aku juga enggak kepikiran bunuh diri.


Ihh..sori aja yaa..."


"Bunuh diri ?


Bodoh sekali !" cetus Sandy.


Sandy melirik Reva.


"Kamu harusnya dihukum karena bikin semua orang khawatir."

__ADS_1


"Dihukum apalagi Oom..?!


Kissmark dimana-mana lagi ?!


Gak mau !!"


"Dihukum kayak gini..!!"


Sandy tiba-tiba mengangkat tubuh Reva.


Dia berlari ke ombak yang menyambut.


Reva menjerit.


Saat ombak datang, Sandy melepaskan Reva.


Byuurr....


"Ooom..!!! hmmmpph !!" jerit Reva.


Tubuhnya basah kuyup.


Air masuk kedalam mulutnya.


"hmmrrr...ihh...huek.." Reva meludah-ludah.


Sandy menyaksikan sambil tertawa.


Reva bangkit berdiri.


Menatap Sandy dengan geram.


Lalu mendadak menerpanya jatuh.


Ombak kembali menerjang mereka.


Lalu surut.


Meninggalkan kedua insan itu tergeletak di pasir.


Keduanya tertawa.


Tangan Sandy memeluk pinggang Reva.


Wajah Reva berada di atas Sandy.


Reva menunduk.


Tertawa senang melihat Sandy jatuh dibawah dirinya.


Ombak kembali datang.


Tangan Sandy memeluk tubuh Reva.


Melindunginya.


Ombak surut.


Mereka saling berpandangan.


Perlahan, tangan Sandy naik ke kepala Reva memaksanya turun.


Sandy lalu menyambar bibir Reva.


Menciumnya dengan rakus.


Ombak datang.


Sandy melepaskan kepala Reva.


Ombak surut.


Sandy membalikkan posisinya.


Kini diatas.


Digendongnya Reva naik sedikit keatas pasir.


Reva memeluk leher Sandy.


Mata mereka bertautan.


Sandy menjatuhkan dirinya di pasir.


Dan kembali mencium Reva.


Dengan rakus.


Baju mereka yang basah menambah gairah.


Tubuh Reva tercetak jelas.


Sandy pun sama.


Reva mendesah saat Sandy turun ke lehernya.


Kakinya menekuk, memberi Sandy ruang untuk menyelipkan tubuhnya.


Tangan Sandy menyelip ke belakang punggung. Membuka kait bra.


Dengan cepat dia mengangkat keatas kaus Reva, lalu mulut mengatup di puncak dada.


Kepala Reva berkabut.


Saat lidah Sandy menggoda puncak dadanya, Reva mendesah.


Pikirannya kosong.


Rasa geli dan nikmat membanjiri seluruh saraf inderanya.


Sandy melepaskan bibirnya.


Tangannya membuka kausnya yang basah.


"Belai aku, Va." katanya sedikit keras.


Mengalahkan suara debur ombak.


Jemari Reva menjelajahi dada Sandy yang bidang.


Menggoda puncak dadanya.


Sandy melenguh.


Reva senang mendengarnya.


Lalu mencoba lagi.


Kali ini dengan kedua tangan nya.


Sandy memejamkan mata.


Menikmati belaian itu.


Belaian Reva begitu polos.


Tidak pernah dia menduga akan mendapat kan kesempatan itu disini.


Sandy membuka mata.


Mendapati mata Reva sedang menatapnya.


Tangan Reva terus mencari-cari.


Sandy tersenyum, kembali menunduk lalu mencium bibirnya.


Sementara jemarinya kembali menggoda puncak dada Reva.


Gairah Reva naik.


Sekarang dia tidak mau peduli.


Dia ingin menikmati Sandy.


Menikmatinya sekarang sebelum nanti keadaan menjadi terlarang lagi baginya.


Sandy mengangkat wajahnya.


Dia lalu duduk


Satu kaki ditekuk, satu lagi terjulur.


Reva diangkat lalu dipangku.


Tangan Reva langsung membelit leher Sandy.


Dia ingin ciuman dari Sandy.


Sandy memberikan nya dengan senang hati.


Tangannya membelit pinggang Reva yang ramping.


Dan mulai naik ke atas.


Membelai, menggoda dan meremas.


Reva melenguh.


Tubuh Keduanya sudah penuh dengan pasir.

__ADS_1


...☘️🎀🌴...


__ADS_2